
Fatih mengemudikan mobil nya, awalnya Raysa sudah menawarkan diri agar dirinya yang menyetir, namun Fatih menolaknya, dengan mengatakan jika dirinya baik-baik aja.
Fatih melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan sedang, hingga sampailah mereka di sebuah mall ternama di Bandung.
"Makan dulu yaa, Laper." Ajak Fatih, Raysa hanya menurut dan mengikuti kemana Fatih pergi.
Mereka pun makan di sebuah resto yang menyiapkan nasi bakar. Fatih memesan nasi bakar isi cumi ekstra pedas, sedangkan Raysa memesan nasi bakar isi ayam suwir.
"Rindu masakan Bunda." Lirih Fatih saat pelayan telah pergi dengan membawa buku menu dan juga pesanan mereka.
"Kenapa gak bilang, aku bisa masakin kok."
"Beda dong masakan kamu sama Bunda."
"Beda nya? semua resepnya juga sama, cara nya juga, lagian kamu pernah bilang kalo masakan aku seenak masakan Bunda."
"Jelas beda. Kalo Bunda masaknya pake cinta." Ujar Fatih tersenyum manis.
Raysa tak menjawab, ia lebih memilih melihat kearah lain. Jika sudah berbicara masalah cinta dengan Fatih, maka Raysa lebih milih menghindar untuk saat ini.
Pesanan mereka datang, Fatih menyambut makanannya dengan semangat.
"Wangi nya mantap." Ujar Fatih sambil membuka bungkusan pisang tersebut.
Raysa tersenyum melihat tingkah Fatih yang terlihat kekanak-kanakan. Ia pun ikut membuka bungkusan nasi bakar tersebut.
"Eem, enak, tapi tetap aja masakan Bunda lebih enak."
"Kalo kamu mau lagi, aku masakin deh besok."
"Pake cinta gak?"
"Pake, Cinta seorang adik kepada Abang nya."
Fatih tersenyum kecut, ia kembali memasukkan nasi bakar ke dalam mulutnya.
"Besok aku berangkat ke Jakarta."
Raysa menghentikan tangan nya yang bergerak untuk menyuapi sesendok nasi kedalam mulutnya.
"Besok?"
"Iya, Veer sudah menikah dan ingin mengenalkan istri nya kepada keluarga."
"Uhuukk ... uhuukk ..uhukk.."
Raysa tersedak, Fatih pun memberikan segelas air kepada Raysa. Raysa pun menghabiskan setengah air dari gelasnya.
"Menikah? kamu serius?" pekik Raysa.
Fatih meletakkan jari telunjuk nya di depan bibir, menyuruh Raysa untuk mengecilkan volume nya.
"Kata nya gitu, aku juga gak percaya sih."
Raysa teringat pesan yang di kirimkan oleh Tissa tadi, apa Fatih berangkat ke Jakarta bersama Tissa.
"Em, kamu sama siapa pergi ke Jakarta?"
"Sama Tissa, ibu nya sakit, jadi Tissa ingin menjenguknya." Jelas Fatih.
Seperti ada sesuatu yang menusuk di hati Raysa, entahlah, Raysa seakan tak menyukai kedekatan Tissa dan Fatih.
"Em, kalau boleh tau, kamu di mana kenal Kak Tissa?"
__ADS_1
"Tissa? ooh, di jodohi sama Mami.'
Raysa seakan ingin tersedak oleh ludah nya sendiri. Untungnya dia bisa menahan batuk nya.
"Di jodohi?" Lirih Raysa yang masih di dengar Fatih.
Fatih terkekeh. "Iya, pertemuan aku sama Tissa itu karena perjodohan, karena kami sepakat untuk memilih jalan persahabatan, maka dari itu kami bersahabat hingga sekarang."
"Benarkah? Sejak kapan?"
"Saat aku kuliah di Malaysia, Tissa juga mengambil jurusan seni di sana."
'Selama itu? dan aku gak tau kamu punya sahabat wanita, selain Mbak Quin, Kak Anggel, dan Mbak Kayla?' Batin Raysa.
Ponsel Fatih berdering, Fatih pun mengangkat panggilannya.
"Ya halo."
" ......"
"Oh, oke, kirim aja ke email ya, nanti aku periksa."
Fatih pun memutuskan panggilannya, kemudian ia melihat Raysa yang sedang melamun menatap makanannya.
"Layca, kenapa? kok melamun?"
"Hah? ooh ... enggak kok. Tiba-tiba rindu Bunda, kamu benar, ini enak, tapi masakan Bunda lebih enak."
Fatih menganggukkan kepalanya. Setelah menyelesaikan makannya, Fatih membayar nya dan mereka melanjutkan perjalannya untuk mencari kado yang cocok untuk Istri Veer, dan juga oleh-oleh untuk sinkembar Steva dan Sofi.
Fatih melihat-lihat gelang yang cantik , kemudian ia melihat penjepit rambut yang mencuri perhatiannya.
"Mbak, bisa lihat yang itu?" Fatih menunjuk jepit rambut tersebut.
Mbak penjual pun mengambilkannya, kemudian memberikanya kepada Fatih. Raysa masih terfokus kepada gelang-gelang yang unik di hadapannya.
Fatih memakaikan jepit rambut tersebut di rambut Raysa.
"Mbak nya cantik, sangat cocok buat Mbak nya yang berambut pendek. Mas nya pintar milihin."
Raysa hanya tersenyum menanggapi ucapan Mbak penjual tersebut. Raysa melihat penampilannya di cermin yang tersedia di atas etalase.
"Cantik, kamu suka?" Tanya Fatih masih menatap Raysa dengan tersenyum.
"Hmm, cantik. Pasti istri nya Mas Veer suka."
"Ini untuk kamu."
Raysa menoleh, menatap wajah Fatih Yang sedari tadi tak melepas tatapan matanya dari Fatih.
"Ini untuk kamu, anggap aja sebagai hadiah dari seorang Abang untuk adik nya."
Setelah mengatakan itu, Fatih mengalihkan perhatiannya, dan matanya melihat gelang yang cantik, yang mungkin cocok untuk Istri Veer.
"Mbak, bungkus gelang yang itu ya."
Mbak penjual pun mengangguk dan mulai membungkus gelang yang di inginkan Fatih. Fatih kembali menoleh kepada Raysa yang ingin melepaskan jepit rambut nya.
"Eh, kok di lepas sih? Cantik tau, udah, pake aja."
"Tapi ..."
"Udah ..."
__ADS_1
Raysa menurut, ia pun tetap memakai jepit rambut tersebut.
"Berapa semuanya Mbak? sekalian sama jepit rambutnya."
"Total semua nya 32 juta Mas." ujar Mbak penjual tersebut.
Fatih memberikan kartu hitamnya kepada mbak penjual. berbeda dengan Raysa yang membelalakkan matanya, jepit rambut dan gelang harganya sampai 32 juta? Raysa penasaran dengan harga jepit rambutnya.
"Mbak, jepit rambutnya berapa ya?" Tanya Raysa sedikit berbisik, takut jika Fatih mendengarnya.
"12 juta mbak."
"Du-dua belas juta?" pekik Raysa sehingga Fatih menoleh.
"Kenapa Layca?"
"Fay, i-ini kemahalan deh, aku gak mau__"
"Udah, pake aja, Atau aku bakal ngambek." ancam Fatih.
"Kamu serius? ini cuma jepit rambut, tapi harganya selangit." bisik Raysa.
"kamu benar, bintang letak nya memang di langit. Karena kamu bagaikan bintang di hati aku, dan tidak bisa digapai, seberapa pun usaha aku, tetap saja aku tak bisa menggapai kamu."
Raysa menatap Fatih dengan tatapan yang tak bisa di artikan, begitu dengan sebaliknya. Sehingga suara Mbak penjual mengalihkan atensi mereka.
"Maaf Mas, ini udah selesai, dan ini barang nya. Terima kasih telah berkunjung ke toko kami. Semoga hari anda menyenangkan."
"Terima kasih."
Fatih menggendeng tangan Raysa dan keluar dari toko tersebut. Kata-kata Fatih tadi seakan semakin menusuk hati Raysa. Apa yang harus Raysa lakukan? sedangkan ia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.
"Kamu mau beli apa untuk si kembar?"
Tak mendapatkan jawaban dari Raysa, Fatih menoleh dan melihat jika tatapan Raysa kosong. Bahkan Raysa tak menyadari jika tangan mereka masih bergandengan.
"Layca." Panggilnya lagi. Tak ada sahutan dari Raysa.
Fatih menghentikan langkahnya, sedang Raysa masih melanjutkan langkahnya, hingga akhirnya Raysa tersadar saat tangannya tertahan oleh Fatih yang masih berdiam diri di belakang Raysa.
"Kenapa?" Tanya Raysa saat sudah berbalik dan menatap Fatih.
"Kamu yang kenapa? sedari tadi aku ajak ngomong kamu tapi kamu nya malah melamun."
"Aku? melamun? masa sih?"
Fatih memajukan langkahnya, ia mengikis jarak hingga hanya tersisa satu langkah saja di antar mereka.
"Bahkan kamu sedari tadi tak menyadari jika aku menggenggam tangan mu. Biasanya kamu akan dengan cepat melepaskannya." Ujar Fatih sambil menunjukkan tangan mereka yang masih saling menggenggam.
Raysa terkejut dan ingin melepaskan tangannya, namun Fatih menggenggamnya dengan erat.
"Aku gak akan melepaskan genggaman ini, sampai seseorang yang aku anggap pantas menggantikan genggaman tangan ku ini. Dan aku sendiri yang akan mengantarkan kamu kepada laki-laki tersebut."
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....