
Fatih masuk ke warung lontong Yang ada di dekat apartemen nya.
"Lo mau makan?" Tanya Tissa.
"Enggak, masih kenyang gue."
"Ya udah, Sabirin yaa... gue Laper banget."
"Apaan Sabirin?"
"Sabar."
Fatih memutar bola matanya, kemudian ia kembali fokus kepada ponselnya, melihat berita apa yang menghangat saat ini.
"Yuukk ..." Ajak Tissa.
Fatih berdiri dan mengikuti Tissa di belakangnya. Fatih berjalan duluan saat Tissa membayar makanannya.
"Eh, biar gue aja yang nyetir " Ujar Tissa saat melihat Fatih ingin masuk kedalam kursi penumpang.
"Gak masalah, gue udah enakan kok."
"Yakin Lo?"
"Iya ..."
"Iya udah, kalo mau gantian bilang aja ya."
"Siip.."
Fatih mengemudikan mobil Tissa dengan kecepatan sedang. Sedangkan Tissa memainkan pinsil nya di atas kertas gambarnya.
" Gak pusing Lo?"
"Gak lah, dah biasa juga gue. Lagian bosan tau."
"Ya udah, ngobrol aja."
"Itu dia, mau ngobrolin apa?"
"Terserah, enaknya ngobrolin apa ya? selain bisnis pastinya "
Tissa terawa dan mengangguki perkataan Fatih. Walaupun Tissa sangat bersemangat untuk membicarakan pameran lukisannya yang beberapa bulan lagi akan di buka, namun rasanya sungguh bukan saat yang tepat, karena itu akan menjadi beban Fatih dalam merancang galeri lukis nya nanti.
Fatih menghentikan mobil nya di saat tepat lampu merah menyala, Fatih menoleh kearah Tissa dan melihat gambar yang sedang Tissa lukis. Dengan cepat Fatih menyambut kertas tersebut sehingga membuat Tissa terkejut.
"Ehh .."
Fatih memicingkan matanya menatap sketsa yang masih kasar, atau masih tahap awal pembentukan.
"Kayak kenal, tapi di mana ya?" Gumamnya kemudian menatap kearah Tissa.
Terlihat wajah Tissa menengang, kemudian ia menyambar kembali kertas gambarnya yang ada di tangan Fatih.
"Bukan siapa-siapa. Lagian Lo tau sendiri kan, gue kadang suka lukis sesuatu yang menurut gue menarik." Jawab Raysa dengan wajah memucat.
"Gue kayak pernah lihat, tapi di mana ya?"
"Cafe mungkin, bisa aja kan?"
__ADS_1
Fatih menganggukkan kepalanya, memang Tissa ini sungguh unik dan luar biasa. Jika dia suka dengan sesuatu objek, maka objek tersebut akan terekam dalam memori kepalanya dan melukis nya di kemudian hari.
Pernah suatu ketika Tissa melukis seorang pengamen jalanan, kemudian ia memainkan pensilnya di atas kertas, dan memberikan hasil lukisannya kepada pengamen tersebut, serta meminta izin kepada si pengamen apa Tissa boleh memakai gambarnya untuk karyanlukisnya. Pengamen sangat senang, tanpa di bayar dengan uang pun ia menyetujui permintaan Tissa. Namun Tissa tetap memberikannya uang atas dasar ucapan terima kasih.
"Lo bakal paket tu lukisan di pameran nanti?" Tanya Fatih penasaran.
"Ya gak lah, lagian gue belum dapat izin dari si empu nya. Gue cuma jadiin koleksi aja. Not for sale."
Fatih menganggukkan kepalanya. Karena Tissa juga banyak memiliki lukisan yang memang tidak untuk di jual atau dipamerkan.
Tak terasa sudah setengah perjalanan mereka tempuh, Fatih pun memberhentikan mobilnya di rest area yang berada dalam jalan tol.
"Istirahat dulu ya,."
"Oke, gue juga Laper."
"Buset, dua piring lontong masih buat lo laper?" Ujar Fatih berpura-pura terkejut.
"Biasa aja kali reaksi nya. Macem gak tau gue aja." Fatih dan Tissa pun tertawa, mereka memasuki sebuah cafe di sana dan memesan coklat hangat serta beberapa cemilan kentang goreng dan juga donat.
"Eskrim enak kayak ya." Ujar Tissa saat melihat seorang anak kecil memakan eskrim.
"Lagi di jalan, gak usah macem-macem.".
Bersahabat lumayan lama dengan Tissa, Fatih tau jika perut Tissa tak bisa menahan terlalu banyak minuman dingin, terutama eskrim. Karena perutnya akan mengulas dan membuat Tissa sakit perut.
"Nanti aja deh, Sampai di Jakarta."
"Hmmm, baguuss.."
Coklat hangat pesanan mereka pun tiba, bersama dengan kentang goreng pesanan Fatih.
"Gak tau, ikuti alur aja lah. Yang jelas gue gak akan nyerah Sampai seseorang yang tepat bisa membuat Layca bahagia."
"Menurut gue, kayaknya cuma Lo aja deh yang bisa buat Raysa bahagia."
Fatih tertawa pelan, "Lo gak kenal Farhan, jika Lo kenal dia, pasti Lo bakal bilang Raysa dan Farhan itu cocok. Mereka tampan dan cantik."
"Menurut gue Lo juga tampan, cuma rada nyebelin dan nyeleneh sih tampang Lo." Ujar Tissa yang mana membuat Fatih tertawa.
"Kalo Lo rapi aja, menurut gue Raysa pasti klepek-klepek."
"Gue mau dia terima gue apa adanya, seperti gue terima dia apa ada nya."
"Hah, kapan ya ada cowok yang bakal terima gue apa ada nya, bukan ada apa nya." Ujar Tissa dengan nada yang terdengar mendramatisir.
Fatih dan Tissa kemudian saling memandang, hingga mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang lucu, yang pasti mereka seolah bisa membaca fikiran satu sama lain.
*
"Gak mampir dulu?" Tawar Fatih, saat ini mereka telah sampai didepan rumah Fatih.
"Gak deh. Kelamaan sampai rumah ntar di omeli lagi sama nenek lampir dan kurcaci nya."
Fatih tertawa jika Tissa sudah mengomel tentang kakak dari Mama tirinya dan juga sepupu tiri nya itu.
"Oke deh, makasih ya."
"Sip, salam buat Tante Mili."
__ADS_1
"Iyaa," Fatih pun mengeluarkan barangnya dari mobil Tissa.
Fatih melambaikan tangannya kepada Tissa, saat mobil Tissa mulai menjauh dari perjalanan rumahnya. Fatih pun mulai memasuki pagar rumah nya di saat seorang satpam membuka pintu nya dan menyambutnya dengan hangat.
"Selamat datang Bos Fatih, waah, makin tampan aja lama gak liat."
Fatih terkekeh, "Bapak juga makin buncit aja. Pasti kebanyakan ngemil. Ha..ha.."
"Tau aja si Bos, habisnya Nyonya besar selalu buatin kue yang enak-enak."
"Jangan lupa olah raga pak, biar sanggung kejar maling tetangga."
"Siap bos." Ujar Satpam dengan memberi hormat.
Fatih terkekeh sambil melambaikan tangannya dan semakin melangkah jauh dari satpam tersebut.
"Assalamualaikum." Fatih masuk saat seorang pembantu membuka kan pintu.
"walaikumsalam, Bos Fatih. udah sampai? Nyonya besar sudah menunggu."
Fatih pun melangkahkan kaki nya semakin masuk kedalam rumahnya.
"Dasar anak nakal." Ujar Mami Mili saat melihat Fatih sudah mendekat ke arah Mami Mili.
"Mami," Fatih pun ingin memeluk Mami Mili, namun tatapan Mami Mili yang tajam membuatnya menelan ludah.
"Kenapa gak bilang kalo tulang kamu retak?" Ujar Mami Mili dengan melotot.
Fatih meringis dan menggaruk kepala nya yang tak gatal. Fatih lupa, jika sang Papi selalu mengawasi gerak gerik nya agar tak keluar batas dan membuat kesalahan seperti sang Papi. Kesalahan yang menjadi indah. Namun, alangkah baiknya jika keindahan itu di dapatkan dengan cara yang benar.
"Maaf Mi, Fatih cuma gak mau buat Mami khawatir."
Mami Mili pun merentangkan tangannya agar Fatih masuk kedalam pelukannya. Tanpa ragu, Fatih langsung memeluk sang Mami.
"Hah, syukurlah ada Raysa di sana. Pasti dia merawat kamu dengan baik kan?"
Fatih mengangguk dan tersenyum. kemudian Mami Mili merelai pelukan mereka, dan menangkup wajah Fatih.
"Kamu kurusan ya? kenapa? ada masalah?"
hai, nama aku Tissa Amora.
sahabatnya Fatih,
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1