
Kesya dan Arka tengah menghadiri undangan dari klien Arka. Disana juga terlihat mantannya Lia, Nando, pengusaha Furniture yang baru saja menikah dengan seorang keturunan dari pengusaha Batu Bara.
" Mas, kita cari tempat yang gak terlalu berisik yukk." Ujar Kesya.
Arka pun menggandeng tangan Kesya untuk kesudut tempat, di mana terdapat cemilan makanan.
" Kita duduk di sana aja yaa.."
Mereka pun duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari prasmanan cemilan.
" Ndo, kamu gak bisa giniin aku. Tega banget kamu Ndo. Aku udah kasih semua di diri aku ke kamu. Tapi kamu malah nikah sama orang lain."
" Lia, kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Lagian aku tidak pernah memaksa kamu melakukan itu bersama ku."
" Apa arti aku bagi kamu Ndo?"
Pembicaraan antar Lia dan Nando itu sampai terdengar di telinga Kesya dan Bara. Mungkin mereka tidak menyadari jika ada orang lain di sana.
" Aku hanya kamu sebatas teman kencan. Jujur Lia, aku memang suka dan cinta sama kamu. Tapi aku juga tidak bisa membuang kesempatan aku untuk menolak pernikahan ini. Ini jalan untuk aku, agar perusahaan aku semakin besar dan kuat."
" Tapi gak dengan nikahi dia Ndo."
" Aku harus nikahi dia, karena dia satu-satunya keturunan Batu Bara dari keluarga Lemos."
" Apa aku tidak berarti buat mu?"
" Maaf Lia, mungkin saat ini aku belum mencintai dia, tapi bukankah cinta akan hadir dengan berjalannya waktu?. Aku rasa cukup sampai disini aja hubungan kita. Aku harap kamu jangan pernah mencari aku lagi. lebih baik kamu kembali bersama mantan tunangan Mu itu."
Selepas mengatakan itu, Nando pergi meninggalkan Lia sendiri. Lia berteriak tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya.
" Mas mendengarnya kan?. Mereka sudah putus."
" Lalu, itu bukan urusan kita sayang."
" Tapi aku merasa akan ada hal yang tidak baik akan terjadi. Entah lah, mungkin hanya perasaanku saja."
" Udah, kamu jangan mikir yang macem-macem ya.. Ingat kamu lagi hamil, jadi kamu gak boleh banyak fikiran. Yaa sayang.." Arka menggenggam tangan Kesya.
" Iya sayang."
Walau hari sudah berganti, Kesya masih saja kefikiran dengan apa yang menjadi percakapan Lia dan kekasihnya itu. Eem, bisa di bilang mantan kekasih nya.
" Mbak kesya lamunin apa sih?" Sasa tiba-tiba saja datang dengan membawa jus buah naga untuk Kesya dan dirinya, dan menyodorkannya kepada Kesya.
" Makasih Mbak Sa." Kesya meminum jus yang di bawa oleh Sasa tadi.
" Lagi ada fikiran? cerita deh, mana tau aku bisa bantu. Kalo pun tidak, setidaknya Mbak Kesya ada tempat berbagi."
Kesya memainkan sedotan yang ada di gelasnya. " Mbak, kemarin malam aku liat Lia berdebat dengan kekasih nya. Emm, lebih tepatnya mantan kekasih nya."
Sasa masih setia mendengarkan. " Aku memiliki firasat buruk tentang putusnya hubungan dia dengan kekasihnya itu."
" Firasat buruk gimana?"
" Eem, aku takut dia akan mengganggu hubungan Mbak Sa dengan Mas Bara."
Sasa menggenggam tangan Bos cantiknya itu.
" Mbak tenang aja. Jika memang aku berjodoh dengan Mas Bara, kemana pun kami berpisah, pasti akan tetap bersatu juga."
" Mbak janji ya, untuk selalu percaya dengan Mas Bara. Dan apapun yang terjadi, Mbak jangan pernah tinggalin Mas Bara." Kesya menggenggam Tangan Sasa dengan erat.
__ADS_1
" Iyaa, Aku gak akan meninggalkan Bara. Dan akan selalu percaya dengannya."
" Makasih Mbak" Kesya berdiri dan memeluk Sasa.
" Benar-benar mungil, tapi terasa hangat. Pantes aja Mas Bara betah meluknya."
" Iih, mbak Kesya.. kan jadi malu aku nya.."
Kesya dan Sasa terkekeh bersama.
Di tempat lain, Bara benar-benar jenuh karena Lia lagi-lagi datang kekantornya dan menerobos masuk.
" Maaf Pak" Andi langsung meminta Maaf sebelum atasannya itu memarahinya.
" Kamu bisa keluar"
Andi menganggukkan kepalanya, dan memberi hormat.
" Bara, aku ingin bicara dengan kamu."
" Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."
" Bara, aku masih sayang sama kamu. Dan aku ingin kita kembali bersama sepeti dulu. Aku akan meminta maaf kepada Tante Shella atas kesalahan ku waktu itu. Aku mohon, beri aku kesempatan."
Bara tersenyum miring mengejek Lia. Kesempatan kedua?. Bahkan Bara sudah memberikan kesempatan ketiga, keempat, bahkan sudah puluhan kali Bara memberikan kesempatan kepada Lia, akan tetapi Lia masih tidak juga berubah.
" Maaf Lia, aku gak bisa "
" Bara, aku mohon."
" Lia, sebaiknya kamu keluar dari sini secara terhormat, atau aku akan menyuruh anak buahku untuk mengusirmu dengan paksa."
" Aku tidak akan pergi, sebelum kamu mendengarkan penjelasan aku."
" Hiikkss.."
Bara menoleh saat mendengar Isak tangis dari liat. ' Jangan goyah Bara'. Bara mengingatkan dirinya sendiri.
" Kamu tau, aku sengaja meminta putus dari Nando, karena saat aku kehilangan kamu, hati aku merasa hampa. hiikkss.."
' CK, udah macem lirik lagu aja' batin Bara.
" Nando sudah mengajak aku menikah, dan seharusnya aku yang berada di pelaminan itu bersamanya, tapi hati aku menolak untuk hidup dengannya. Hati ku mengatakan jika aku mencintai mu. Sangat mencintai mu Bara. hiksks"
' Ntah iya pun'
" Jadi, hiikss.. aku mohon, berikan aku kesempatan kedua.. hikksss.."
' Akkhh, benar-benar lirik lagu.. Gini nih, kalo yang hobi nya karoke, semua lirik lagu di jadikan gombalan' batin Bara.
" Aku hanya bisa memberikan kesempatan kepada mu hanya sebatas teman, tidak lebih. Karena aku juga akan segera menikah"
" Ap--apa? Kamu akan menikah? kapan?"
" Secepatnya, jadi aku hanya bisa menganggap kamu sebagai teman. Dan satu lagi, jangan pernah membahas tentang perasaan mu kepada ku lagi. Karena semua itu sudha terlambat." Bara kembali fokus pada pekerjaannya.
" Aah, satu lagi. aku rasa kamu boleh pergi. Aku banyak pekerjaan."
Dan kali ini Bara benar-benar fokus dengan pekerjaannya. Lia sudah mengepalkan tangannya mendengar ucapan Bara. Rasanya dia sudah sangat di permalukan. Padahal Lia sudah merendahkan harga dirinya.
' cih, lihat saja, aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan perempuan sampah itu.' Batin Lia.
__ADS_1
" Bara, aku pulang. "
" Hmm.."
Tanpa menoleh ke arah Lia, Bara melanjutkan pekerjaannya. Hah, mood Bara kembali rusak karena kehadiran Lia. Bara meraih ponselnya, dan membuat panggilan video Dengan mungilnya.
" Hai.."
" Tumben, kenapa?"
" Aku butuh Moodbaster ku"
" Hah? apaan tu?"
" Moodbaster sayang."
Terlihat Lena membisikkan arti Moodbaster dengan Sasa.
" Ooh, kenapa emangnya? Lagi banyak kasus yaa?"
" Hhmm, begitu lah" Bara tidak sepenuhnya bohong. Memang lagi banyak kasus kejahatan yang terjadi di kota besar ini. Tapi yang membuatnya semakin tidak bersemangat adalah kehadiran Lia.
" Eemm, Apa yang harus aku lakukan untuk membuat beruang madu ku kembali bersemangat?"
" Berikan aku kecupan."
" Dasar mesum.."
" Kamu pulang jam brapa?"
" Yakin kamu gak tau jam pulang kerja aku?"
" Tau dong, aku hanya basa basi. Nanti aku jemput ya.."
" Tapi aku sudah janji dengan Lena, Ica dan Bela untuk makan Mie balap"
" Ngapain balap-balap makan mie? Nanti nabrak."
" Ha..ha..ha.., kan helm."
" Ntar aku Razia yaa.."
" Mau banget kalo kamu yang razia aku"
" Yakiinn? Nanti pusing.."
" Kan ada kamu yang Gendong."
" Heem, dulu aja, sok malu di gendong di depan umum Sekarang malah minta gendong."
" Iih, pake di ingetin. eeh.. Ada pelanggan, aku kerja dulu yaa.. selamat bekerja beruang madu ku." Sasa memberikan lambang hati yang terbuat dari jari lentiknya.
Kan bener, Mood Bara kembali bagus. Memang obat ampuh untuk menaikkan mood nya hanyalah Sasa, mungilnya.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..
__ADS_1
salam SaBar ( Sasa Bara)