Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 25


__ADS_3

Fatih masuk sambil menenteng papaerbag yang di titip oleh Raysa.


"Waah, gue kira Lo lupa jalan ke sini." Ujar Lana


"Iya, kirain udah belok balik ke Bandung." Tambah Quin.


Tawa pun kembali pecah, seperti biasa, Fatih selalu cuek dengan ledekan yang mereka berikan.


"Rencananya gitu, tapi dari pada gue gak di kasih pinjaman modal usaha dengan CEO muda kita, ya mau gimana lagi. Gue terpaksa ke sini." Fatih berjalan mendekati Veer.


"Dan ini, dari kekasih pujaan hati ku. Dianminta maaf karena gak bisa datang. Nanti deh, saat Lo kawin dia datang." Ujar Fatih sambil memberikan papaerbag kepada Veer.


"Thanks, nanti gue hubungi Raysa."


Fatih memberikan jempolnya. Fatih pun memilih duduk di sebelah Anggel, dan mencoba untuk menggoda Anggel.


"Cantik, jadi pacar Abang mau gak?"


Belum lagi Anggel menjawab, kaki Fatih sudah di seoak oleh Lana, dan mengenai tulang keringnya.


"Sakit nyong." Ujar Fatih kesal.


"Lo sih kegatelan." Jawab Lana tak kalah sewot.


"Loh, Lo kok marah gue goda Anggel, lagian Anggel jomblo kan?"


"Anggel udah punya pacar."


"Kok Lo yang sewot? Anggel aja nyantai. Ya kan An."


Anggel memutar bola matanya, ia malas meladeni dua pria gak waras ini.


"Quin, kita ke kamar aja yuk. Males sama buaya-buaya di sini."


"Eh, aku termasuk dong?" Tunjuk Veer kepada dirinya.


"Au ah gelap." Anggel menarik tangan Quin, dan mereka pun beranjak dari sana.


"An, besok gue jemput ya, Dinner kita." Teriak Fatih.


"Gue tunggu besok, awal Lo kalo dah balik ke Bandung." Tantang Anggel.


"Waaah ..." Seolah mendapatkan angin segar, Fatih meledek Lana dengan menaik turunkan alisnya. Sedangkan Lana sudah memutar bola matanya malas.


Veer yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. Gini nih, kalo buaya ketemu buaya, buntungkan?


Eh, berati veer ikut jadi buaya dong? sepertinya Veer harus meralat kata - katanya sendiri.


*


Fatih menepati janjinya dengan Anggel. Ia menjemput Anggel dan mengajaknya makan malam di sebuah restoran mewah. Tak lupa Fatih mengambil foto dan mengirimnya kepada Lana.


Tak berapa lama ponsel Anggel berdering, namun Fatih dengan cepat merebutnya.


"Biarin aja, biar pusing tujuh keliling dia nyariin nih tempat."


Fatih terkekeh kala mengingat wajah Lana yang pastinya sudah sangat kesal.


Tak berapa lama ponsel Fatih berdering, dan menampilkan nama Lana. Fatih tak menghiraukannya. Hingga tak berapa lama Lana mengirim pesan screenshot nya dengan Raysa, yang mana mengatakan jika dirinya sedang makan malam romantis dengan Anggel.


Fatih sempat terdiam melihat isi pesan tersebut, kemudian ia membiarkannya. Lagi pula mana mungkin Raysa peduli dengannya. Seharusnya Raysa senang kan jika Fatih bisa membuka hati untuk orang lain?


"Hei, kenapa?" Tanya Anggel.


Fatih menyimpan kembali ponselnya, kemudian ia menatap kemata Anggel.


"An, sakit gak sih menyimpan perasaan cinta sendiri?"


"Maksdunya?"


"Berpura-pura mencintai orang lain, tetapi sebenarnya kamu mencintai orang lain?"


"Fatih, aku gak ngerti maksud kamu?" Ujar Anggel dengan gugup.


Selain Quin, Fatih termasuk orang yang cepat menyadari situasi. Dan Fatih menyadari situasi Anggel saat ini.


"Aku tau kamu mencintai Lana."


Mata Anggel langsung membola. Ia tak percaya jika Fatih akan berkata seperti itu kepada dirinya.


"Fatih, kamu?"


"Aku berkata seperti ini hanya demi kebaikan kamu. Jangan kejar yang tak pasti, kejarlah yang benar - benar mencintai kamu."


"Fatih, aku .."


Pelayan datang dengan membawakan pesanan makanan mereka, yang sebelumnya sudah dipesan.


Fatih tersenyum ramah kepada pelayan dan mengucapkan terima kasih.


"Lupakan, sebaiknya kita makan dulu. Karena banyak hal yang akan kita bicarakan."


Anggel menghela napasnya, sebenarnya ia sudah tak berselera lagi karena cinta rahasianya di ketahui oleh Fatih. Namun Anggel bisa mempercayai Fatih, jika Fatih taknakan mengatakan apapun kepada Lana. Begitu lah Fatih, ia pintar menjaga hati orang lain, Namun ia tak pintar menjaga hati nya sendiri.


Setelah makan malam, Fatih mengajak Anggel untuk bermain bowling. Anggel memang tak pintar bermain bowling, tapi ia bisa bermain karena Fatih sering mengajaknya, bahkan Lana juga pernah mengajari nya.


"Kamu tau, kenapa aku lebih suka bowling dari pada basket?" Tanya Fatih kepada Anggel.


"Kenapa?"


"Karena permainan ini hanya membutuhkan pemikiran dan usaha ku sendiri. Aku gak butuh sorakan orang lain untuk menyemangati ku, aku hanya perlu ketenangan untuk memfokuskan fikiran ku kepada pin - pin yang tersusun di sana." Fatih menunjuk kearah 10 anak pin yang sudah tersusun rapi.


"Aku hanya perlu memfokuskan nya tepat di tengah dan menjatuhkan semuanya."


Fatih pun mulai menggelindingkan bola bowling hingga bola tersebut menabrak 10 pin tersebut dan menjatuhkannya, hingga tersisa 1.


"Kamu lihat, aku hanya perlu fokus. Dan selanjutnya, aku harus memfokuskan bagaimana cara menjatuhkan yang satu itu."


Anggel memperhatikan Fatih, Anggel menangkap sesuatu yang lain dari Fatih. Fatih seolah -olah ingin menyampaikan sesuatu, tapi entah itu untuk dirinya sendiri atau untuk Anggel.


Fatih kembali menggelindingkan bola dan kemudian ..


Prang ...


Fatih berhasil menjatuhkan pin yang tersisa satu itu. Fatih tersenyum menang dan menoleh kepada Anggel.


"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Anggel to the point.


Fatih duduk di sebelah Anggel, sebelum ia berbicara, ia menarik napasnya dalam-dalam.


"Jangan lepasin Lana."


Anggel mengerutkan keningnya, "Maksud kamu?"

__ADS_1


"Bagaimana jika aku katakan bahwa Lana juga menyukai kamu?"


Mata Fatih menatap ke dalam mata Anggel. Lama mereka bersitatap sehingga Anggel menggelengkan kepalanya.


"Kamu ingin aku mempercayainya?"


"Tidak, tapi aku hanya katakan jangan pernah lepaskan Lana."


"Apa kamu ingin membuat aku menjadi orang bodoh seperti dirimu dan Lana? yang mengejar cinta seseorang tanpa berharap balasan?"


"Tidak, Aku tak ingin kamu terlihat bodoh. Tapi aku mau kamu memberikan pelajaran kepada Lana."


"Fatih, aku gak ngerti apa maksud kamu."


"Tetaplah mencintai Lana, dan saat rasa itu sakit, katakan pada ku. Aku akan mengatakan sebuah rahasia kepada mu. Kamu akan melihat betapa besarnya perjuangan Lana untuk kamu. Bahkan lebih besar dari yang pernah ia berikan kepada Quin."


"Kamu ngaco ... Apa Raysa membuat kamu sekecewa ini?"


"Tidak, "


"Lalu?"


" Aku hanya sudah muak dengan Lana yang terus menyembunyikan perasaannya." Fatih menatap jauh kesudut ruangan. Entah apa yang di fikirkannya saat ini.


Anggel berdiri dan mengambil satu bola bowling.


"Bagaimana jika Lana tak mencintai ku?"


Fatih menatap kearah Anggel, kemudian ia menaikkan alisnya sebelah.


"Kamu mau mencoba menjalin hubungan dengan ku?"


Anggel menatap mata Fatih, kemudian Ian mencebikkan bibirnya.


"Kita lihat, jika aku berhasil menjatuhkan setidaknya 5 pin, maka aku akan menerima tawaran mu."


Fatih mengedipkan matanya tanda setuju. Anggel mulai memfokuskan bola bowling, kemudian ia melemparkannya.


Prang ...


Siapa yang sangka, jika Anggel menjatuhkan 8 Pin. Dan itu artinya Anggel masuk kepermainan Fatih. Anggel tak menyangka jika dirinya bisa menjatuhkan pin - pin tersebut. Selama ini ia selalu tak berhasil melakukannya.


"See, kamu memfokuskan fikiran kamu ke Lana. Dan Kamu berhasil."


Anggel menatap Fatih dengan menaikkan alisnya sebelah.


"Kenapa? Kamu gak yakin?"


Anggel masih belum yakin dengan apa yang Fatih katakan. Apa benar Lana menyukainya?


"Baiklah, ayo, kita lihat, berapa waktu yang ia butuhkan untuk menuju ke sini."


Fatih mengambil ponselnya, kemudian ia bersedia dengan Anggel, dan kali ini sengaja menunjukkan tempat di mana mereka berada.


Fatih sengaja memasang status di status pesan yang berwana hijau. Tak butuh waktu lama, orang yang pertama melihat status Fatih adalah Raysa?


Fatih mengernyitkan keningnya.


"Kenapa?" Tanya Angel yang melihat kerutan dikening Fatih.


"Hah? Gak papa."


Fatih juga melihat status Raysa, yang menuliskan 'Berbahagialah.' Setelah status itu di lihat oleh Fatih, tiba-tiba saja status itu menghilang. Fatih melihat ada orang lain yang melihat statusnya, yaitu Lana. Senyum Fatih pun langsung mengembang.


"Kita lihat, berapa waktu yang ia butuhkan."


"Biarkan saja, setidaknya kita menghabiskan waktu kita bersama di sini."


"Ngapain?"


"Main bowling lah, ya mau ngapain lagi coba."


"Yee, itu sih kamu nya aja yang senang."


Fatih terkekeh melihat wajah Anggel yang cemberut.


Sudah 15 menit berlalu, Lana juga belum datang. sedangkan Anggel sudah merasa bosan dan mengantuk.


"Fatih, pulang yuk ..."


"Sekarang?"


"Hmm, aku ngantuk."


"Okey ..."


Fatih pun melempar bola bowling untuk terkahir kali, kemudian ia berjalan kearah Anggel.


"Ayo ..."


Anggel meraih tas nya dan berjalan berdampingan dengan Fatih. Saat berada di pintu, Anggel dan Fatih berpas-pasan dengan Lana yang tiba-tiba saja masuk dengan napas yang ngos-ngosan.


"Napa Lo?"


Lana menarik napasnya panjang, kemudian ia menelan ludahnya yang terasa pahit.


"Kebetulan gue di dekat sini. Mobil gue mogok, jadi ya gak ada salahnya kan gue nebeng?" Ujar Lana dengan napas tersenggal?


"Kayak gak ada modal aja Lo nebeng sama gue."


"Ya kan gak ada salahnya. Searah juga."


"Searah pala Lo, sejarah iya."


Fatih menarik tangan Anggel, dan Anggel hanya diam dan mengikuti. Anggel masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Benarkah Lana menyukainya?


Fatih membuka pintu penumpang bagian depan, namun Lana dengan cepat masuk sebelum Anggel masuk.


"Hah, capek banget gue." Ujar Lana sambil mengibas-ngibaskan bajunya.


Fatih menutup pintu mobil dengan kuat, bisa di pastikan jika Lana saat ini sedang mengumpati dirinya.


"Silahkan masuk tuan putri." Ujar Fatih lembut mempersilahkan Anggel untuk duduk di bangku penumpang bagian belakang.


"Makasih pangeran." Balas Anggel, yang mana Lana langsung menoleh kebelakang dan memberikan tatapan tak suka kepada Anggel dan Fatih.


Fatih masuk kedalam kursi pengemudi, ia hidupkan mesin, kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Fatih aku tiba-tiba lapar." Ujar Anggel.


"Kok bisa lapar sih An, bukannya udah makan ya sama Fatih di restoran.?" Tanya Lana dengan nada sindirnya.


"Oh iya, Fatih baik banget ngajakin aku makan di sana. Cuma habis bermain bowling dengan Fatih, aku kembali merasa lapar. Fatih sangat pintar mengajarkan aku bermain bowling." Ujar Anggel yang melirik kearah Fatih.

__ADS_1


Fatih tersenyum miring, ternyata Anggel ini benar-benar wanita yang cerdas. Anggel pintar memerankan perannya dan pastinya tepat sasaran. Padahal kan yang main bowling hanya Fatih, sedangkan Anggel hanya menonton saja sambil memakan cemilan yang tersedia.


"Mau makan di mana?" Tanya Fatih.


"Makan pisang bakar aja yuk, udah lama juga kan kita gak makan pisang bakar."


"Okey ..."


Lana hanya memandang Fatih dan Anggel bergantian, bolehkan Lana saat ini kesal dan ingin menenggelamkan Fatih? Awas aja, Lana akan balas si Fatih ini. Eh, tapi si Raysa mah susah banget di ajak kompromi nya. Mana si Fatih orangnya gak cemburuan lagi. Hah, nyebelin banget sih.. Loh, kok kayak perempuan PMS sih Lana. ha ..ha..ha..


Fatih memarkirkan mobilnya, kemudian mereka bertiga turun dari mobil. Ponsel Fatih berbunhi, menandakan jika ada pesan yang masuk. Fatih pun mengambil ponselnya, dan melihat siapa si pengirim pesan.


Tissa : Waaah ... gebetan baru nih ...


Fatih hanya tersenyum menanggapi ucapan Tissa, selama ini memang Fatih tak banyak menceritakan tentang pribadi nya dengan Tissa. Fatih hanya menceritakan tentang Raysa kepada Tissa. Wajar saja jika Tissa tak mengenal Anggel, lagi pula Anggel juga jarang di sorot kamera, kecuali Zein dan Lucas.


Cling ...


kembali ada pesan masuk saat Fatih ingin membalas pesan dari Tissa. Yaitu dari Raysa.


Layca❤️ : Salam buat kak Anggel ya. Aku rindu ...


Fatih membaca pesan itu dengan lama dan berulang. Bolehkah Fatih berharap jika kata rindu itu untuk nya?


Suara Lana yang besarnya kata toak yang harus di ganti pun mengembalikan atensi Fatih. Fatih menyimpan ponselnya Tampa membalas kedua pesan tersebut.


"Pesan apa Lo?" Tanya Lana kepada Fatih.


"Pisang lah."


"Masa pisang makan pisang!" Ledek Lana, DNA mendapatkan cubitan dari Anggel.


"Depan makanan gak boleh gitu ngomongnya. Yang sopan. Ntar aku jijk gimana?" Anggel melototkan matanya yang indah itu kepada Lana.


"Iya Maaf, jangan KDRT dong, Atut buat ngamarnya ntar."


"Lamar dulu blo'on, baru ngamar. Mesum aja otak Lo." Fatih menoyor kepala Lana.


"Itu maksud gue, ntah ni si otor ngetiknya salah-salah aja dia. Belum makan dia kali karena kejar target akhir bulan." ngeles Lana.


"Alasan Lo aja nyalah-nyalahin orang, dah otak Lo yang mesum."


"Sssttt ... Bisa diem gak sih?" Anggel menjadi penengah antara Fatih dan Lana.


"Siap tuan putri."


"Siap malaikat."


Ujar Lana dan Fatih berbarengan.


Pesanan mereka pun datang tepat di saat ponsel Anggel berdering. Memunculkan nama Raysa yang membuat panggilan Video. Tanpa ragu Anggel mengangkat panggilan tersebut.


"Hai Ica ..." Sapa Anggel dengan riang.


Fatih hampir tersedak saat nama Raysa di sebut, Lana sudah tersenyum miring dan berniat mengerjai Fatih.


"Ca, Fatih selingkuh di sini." Teriak Lana DNA mendapatkan pukulan dari Anggel.


Anggel arahkan ponselnya kepada Lana, dan Raysa pun melambaikan tangannya.


"Oh ada kak Lana juga? Kirain cuma kak anggel dan Fatih aja."


'oh, ada kak Lana juga? kirain cuma kak anggel dan Fatih aja' Suara Raysa terniang di telinga Fatih. Apa itu? Kenapa nadanya seolah merasa lega jika ada Lana di antar mereka berdua?


"Kamu apa kabar?" Anggel mengambil alih lagi ponselnya, iantak membiarkan Lana kembali mengompori Raysa.


"Baik kak, kakak gimana? kangen deh."


"Makanya, minta pindah ke sini aja."


Raysa terkekeh, "Baru juga kerja di sini kak, masa udah di suruh pindah aja."


"Habisnya rindu tau."


"Kakak kapan ke sini?"


Fatih mendengarkan pembicaraan Raysa dan Anggel. Kenapa Raysa tak membalas kata rindu dari Anggel? bukannya ia tadi mengatakan jika diri merindukan Anggel?


"Nanti kalo ada waktu senggang kakak main-main deh kesana. Kamu tinggal di satu apartemen dengan Fatih kan?"


"Ya gak satu apartemen kak, hanya satu gedung aja."


"Ya itu lah maksud kakak."


Terjadilah obrolan seru antara Anggel dan Raysa. Sedangkan Fatih dan Lana hanya mendengarkan sambil menikmati pisang bakar yang sudah tersaji.


"Ya udah kalo gitu, aku tutup dulu ya kak."


"Oke deh, selamat malam ca, mimpi indah."


"Malam kak, assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Anggel menyimpan ponselnya kembali kedalam tas dengan senyum yang mengembang, namun sesaat senyum itu lunttur dan di gantikan dengan tatapan tajamnya kepada Fatih dan Lana.


Lana tersenyum kikuk kepada Anggel, ia meraih tangan Anggel dan menengakannya.


"Kita pesan lagi ya.. jangan ngambek, entar jelek loh.."


"Iiih, jahat banget sih.. Aku yang pingin kenaoa kalian yang habisin?" rengek Anggel.


"Eehh, jangan nangis." Lana langsung meraih tubuh Anggel dan memeluk ya.


"Kalo habiskan bisa di pesan lagi. Lagian kita masih di sini, Jangan nangis yaa.."


"Nyebelin deh ..."


"Hah, modus Lo Na." ejek Fatih yang melihat Lana memeluk Anggel.


"Iya nih, modus banget meluk-melik, apaan sih. sana." Anggel mendorong tubuh Lana.


"Biar anget aja gitu." Ujar Lana sambil menggeser kembali kursi nya untuk memberi jarak antara dirinya dan Anggel.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2