
"Abang ...." lirih Raysa saat dirinya mulai sadar.
"Ya sayang, Abang d sini." Fatih mengecup punggung tangan Raysa.
Raysa teringat akan perutnya yang sangat sakit saat, refleks Raysa menyentuh perutnya.
"Bang, anak Aku?" lirih Raysa dengan suara yang parau.
Fatih menggenggam tangan Raysa Yanga da diatas perutnya.
"Anak kita baik-baik saja, anak kita kuat seperti Maminya," bisik Fatih dan mengecup punggung tangan Raysa.
"A-anak kita beneran baik-baik aja?"
"Iya sayang, Anak kita baik-baik aja, tapi Kamu harus bedrest total. Gak boleh banyak gerak."
"Hikss, maafin Aku Bang. hikss ..." Raysa pun menangis tersedu-sedu.
Fatih langsung memeluk sang istri untuk menenangkannya. "Jangan Nangis, nangis juga bisa bikin kamu kelelahan. Yang terpenting, Kamu dan bayi kita baik-baik aja." ujar Fatih sambil mengelus punggung Raysa.
*
Daddy Bara dan Papi Gilang sudah menggunakan koneksinya untuk mengurus kepindahan Raysa ke Jakarta. Tak butuh waktu lama, surat pindah pun sudah keluar.
Jika kalian bertanya, kenapa gak dari awal aja sih pakai koneksi supaya pindahnya cepat. Ini karena Daddy Bara masih mengajarkan kepada sang putri, untuk meraih suatu kesuksesan dibutuhkan waktu yang sabar. Tapi, jika sudah begini, Daddy Bara dan Papi Gilang yang gak sabar. he..he..
Kalo soal pekejaan Fatih di Bandung, gampang mah itu. Bos kapan aja bisa pindah sesua jidadnya. ha ..ha..ha..
*
Bunda Sasa dan Mami Mili pun masuk keruang rawat inap Raysa.
"Bunda, Mami?" lirih Raysa melihat kedatangan kedua orang tuanya itu.
"Eh, udah bangun." Ujar bunda Sasa dan menghampiri Raysa. "Gimana keadaan kamu sayang? udah enakan?" tanya Bunda Sasa.
"Udah Bun, tadi dokter juga udah periksa." ujar Raysa dengan sedih.
"Kok sedih gitu? kenapa? apa ada masalah? tanya Bunda Sasa khawatir.
Raysa menggeleng, "Gak ada kok Bun, semua baik-baik aja," tapi... sambung Raysa dalam hati.
"Baik-baik aja kok sedih gitu mukanya?"
Raysa mencoba tersenyum. 'Tapi Ica gak boleh ***-*** dulu sama Abang Fatih," batin Raysa sambil menatap sendu Bunda Sasa dan melirik kearah Fatih yang sudah mengulum senyumnya.
Sebelum Bunda Sasa dan Mami Mili masuk kedalam kamar.
"Gimana keadaan istri dan anak saya, Dok?" tanya Fatih setelah dokter selesai memeriksa keadaan Raysa.
"Bayi bapak baik-baik saja, bayinya sangat kuat seperti ibunya, tapi.."
"Tapi apa dok?"
"Ibunya harus banyak istirahat, benar-benar istirahat. Dan, bapak sama Ibu gak boleh melakukan hubungan suami istri dulu, sampai keadaan ibu benar-benar dinyatakan baik-baik saja "
__ADS_1
"Masa gak boleh si dok? kalo suami saya kepingin gimana? kan dosa nolak keinginan suami dok?" tanya Raysa yang mana membuat Fatih merasa malu.
Dokter pun tersenyum penuh arti, " Ya bapaknya harus tahan dulu. Kan ini semua demi kebaikan ibu juga,"
Raysa mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya bukan Fatih yang kepingin, melainkan dirinya. Cuma Raysa sengaja menjual nama Fatih, biar gak malu-malu banget gitu.
Setelah dokter keluar, Raysa mulai merengek dengan Fatih.
"Bang, masa sih gak boleh begituan," rajuknya.
"Demi kesehatan Kamu dan bayi kita, asyaang."
"Tapi kalo pingin gimnaa? pingin Bangeet," rengeknya lagi.
"Ya harus sabar dong. Aku aja bisa sabar, masa kamu gak?"
"Iih Abang, mungkin aja ini bawaan bayi kita yang suka dikunjungi Papinya, kan biasanya orang hamil gitu. Napsunya besar."
"Lah, gak hamil aja napsu kamu besar, Layca" gumam Fatih yang masih didengar Raysa.
"Iih, Abaaaang..." rengek Raysa yang mana membuat Fatih terkikik geli.
*
Raysa sudah tertidur kembali setelah menghabiskan satu mangkuk bubur dan juga meminum obat.
"Ica kenapa murung gitu?" tanya Mami Mili, yang mana mereka saat ini tengah menikmati makan malam yang terbilang sedikit terlambat.
"Ooh, itu Mi, eemm.." Fatih pun bingung bagaimana menjelaskannya.
"Tap-tapk Mi.. emm, itu.. Layca pinginnya yang dilarang dokter."
"Oh yaa? apa itu?" tanya Bunda Sasa penasaran.
"Emng, itu Bun, Mi, Layca minta nganu-nganu?" cicit Fatih dengan wajah memerah dan tertunduk.
"Nganu-nganu? maksud kamu berhubungan badan gitu?" tanya Bunda Sasa terkejut.
Fatih pun menganggukkan kepalanya, yang mana membuat Bunda Sasa dan Mami Mili menggelengkan kepalanya.
"Anak Mbak persis nurun sifat Daddynya," bisik Mami Mili yang mana membuat kedua wanita paruh baya itu tertawa.
*
Raysa sudah diizinkan pulang, namun ia belum diizinkan untuk bekerja. Raysa pun akhirnya harus benar-benar mengistirahatkan dirinya dirumah.
"Abang gak kerja?" tanya Raysa saat melihat Fatih belum juga bersiap.
"Gak, Abang kerja dari rumah aja," ujar Fatih sambil mendekati Raysa yang berada diatas tempat tidur.
"Eh, Abang mau ngapain?" tanya Raysa saat Fatih mengulurkan tangannya dan mengangkat tubuhnya.
"Mau gendong Kami, bawa ke ruang makan."
"Aku bisa jalan sendiri,"
__ADS_1
"Aku gak izin kamu,"
"Tapi malu, masih ada Bunda, Mami, Daddy, Papi, Oma, dan Opa," cicit Raysa.
"Cium aku dulu didepan mereka, kamu gak Mali. Sekarang aku gendong kok kamu malu sih?" kekeh Fatih yang mana membuat Raysa mengerucutkan bibirnya.
Fatih mengecup bibir itu sekilas, sehingga membuat senyum Raysa pun mengembang disana.
*
Sudah dua hari Bunda, Mami, Oma, Opa, Papi, dan Daddy berada di Bandung untuk menemani Raysa, namun hari ini mereka harus segera kembali ke Jakarta. Pekerjaan Papi Gilang dan Daddy Bara tidak bisa ditinggal lama-lama.
"Padahal Ica masih kangen" rengek Raysa.
"Bulan depan Kamu juga akan pindah ke Jakarta," ujar Daddy Bara.
"Serius? secepat itu?"
"Iya, Pokoknya, Kamu harus tinggal sama Daddy,"
"Enak aja, tinggal sama Papi,"
"Dimana-mana, anak perempuan itu gak bisa tinggal jauh dari orang tuanya." ujar Daddy Bara.
"Dimana-mana, istri itu ikut suami," ujar Papi Gilang.
Dan, perdebatan tersebut pun terjadi selama 10 menit, yang sudah dipastikan tidak akan memiliki akhir yang jelas jika saja Mami Mili dan Bunda Sasa tidak menjadi penengah diantara keduanya.
*
Raysa menelan ludahnya saat melihat Fatih keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya saja, belum lagi air yang menetes dari rambutnya, membuat Fatih semakin terlihat seksi.
"Abang," rengek Raysa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya, sayang. Kenapa?" Fatih pun menghampiri Raysa yang duduk ditepi tempat tidur.
Raysa langsung saja melingkarkan tangannya ditubuh basah Fatih, bibirnya mengecup roti sobek yang ada diperut Fatih. Fatih pun memekik pelan merasakan geli yang membangunkan hasratnya.
"Layca, jangan," ujar Fatih sambil menahan kepala Raysa dan juga tangannya yang ingin membuka handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
Raysa mendongakkan kepalanya dan menatap Fatih dengan memohon.
"Maaf sayang, demi kebaikan Kamu dan juga anak kita," Bisik Fatih dan mencium bibir Raysa.
Ciuman itu pun berubah menjadi lumayan yang mana membuat Raysa menginginkan lebih, namun Fatih menahan hasratnya demi keselmatan Raysa dan juga bayi mereka.
**
Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.
Jangan lupa like and komen.
Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA
salam rindu Tissa dan Farhan
__ADS_1