
Pagi ini Fatih bangun dengan sangat segar dan bersemangat. Fatih akan menyelesaikan salah satu sketsa kliennya yang berada di Jakarta hari ini juga. Karena ia tak sabar untuk bertemu dengan Raysa. Setidaknya walaupun Fatih tak mendapatkan hati Raysa, sarapan nya pun jadi lah ... Ingat resep Daddy Bara yang turun temurun, Dari Lidah turun ke hati, dan menjadi rasa. Eyaaakkk ...
"Mi," Sapa Fatih saat sudah bergabung di meja makan dengan senyum yang mengembang.
"Cerah banget, ada kabar apa nih?"
Fatih hanya tersenyum sambil menyesap kopi nya.
"Pasti habis telponan sama Layca ya?" Tebak Mami Mili, yang mana mengundang reaksi dari Steva dan Sofi.
"Abang masih ngejar-ngejar Mbak Raysa?" Tanya Steva dengan nada tak suka.
"Abang gak ngejar kok. Lagian Mbak Layca gak lari, jadi ngapain di kejar?"
"Iih, nyebelin banget sih." Steva berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"Stev ..." Tegur Papi Gilang, namun Steva masih melanjutkan langkahnya menuju kamar. Tak berapa lama Steva kembali dengan membawa sebuah Map, dan memberikannya kepada Fatih.
Fatih menaikkan alisnya, sambil menatap Steva dengan tanya.
"Kalo Abang masih berharap dengan Mbak Raysa, Steva dan Sofi bakal kuliah ke London." Ancam Steva, dan sovi mengacungkan gelasnya untuk memberi semangat kepada sang kembaran.
"Walaupun kalian mengancam Abang, tetap saja keputusan Papi yang utama." Jawab Fatih dengan santai dan meletakkan kembali map tersebut di atas meja.
"Berarti Abang gak keberatan kan? Karena Papa menyerahkan semua keputusan dengan Abnag."
Fatih menatap sang Papi, sedangkan Papi Gilang menyesap kopi nya dengan santai.
"Pi ?" Seru Fatih bertanya.
"Kenapa? Kamu keberatan? lagian di sana kan ada Om Hans dan Tante Viola mu. Mereka akan tinggal di sana."
"Gak Pi, Fatih gak setuju."
"Papi sebenarnya juga gak setuju, Tapi mereka mengancam Papi."
Fatih mengerutkan keningnya, kemudian Fatih menoleh kearah Steva dan Sofi. Steva dan Sofi pun hanya memandangi kuku mereka yang baru saja di bersihkan.
Fatih menoleh kepada Mami Mili, dan Mami Mili hanya mengendurkan bahunya. Fatih menghela napasnya, sebelum ia bersuara.
"Fatih tau, ini pasti jebakan kan? Papi dan Mami ingin Fatih melupakan Raysa? Iya kan?"
Papi Gilang meletakkan kembali kopi nya. Kemudian ia pandangi anak laki-laki satu-satu nya itu.
"Kamu berhak bahagia, nak."
"Fatih bahagia kok Pi, Fatih tau apa yang Fatih lakukan dan rasakan. Fatih sudah berusaha untuk melupakan Layca, tapi hati ini gak mau bekerja sama dengan fikiran Fatih. Hati ini masih merindukan Layca Pi, Bahkan Papi tau, jika Fatih sengaja mengambil alih anak perusahaan Papi yang di Bandung. Itu karena apa? karena Layca Pi. Agar Fatih gak berada di kota yang sama dengan Layca. Tapi, nyata nya apa? Bahkan saat ini Layca tinggal di apartemen Fatih. Apa semua ini salah Fatih, Pi?"
Fatih menghela napasnya yang sudah memburu. Papi Gilang sudah menyatukan. semua jadi-jari nya di atas meja.
"Papi hanya tak ingin kamu terluka terlalu dalam Nak. Papi mungkin tidak pernah merasakannya, Tapi Mama kau pernah merasakannya, mencintai orang lain hanya menganggap dirinya sebagai adik. Dan itu sangat menyakitkan, Mami kamu gak mau itu terjadi kepada kamu."
Fatih mengusap wajahnya dengan kasar, Ia tak tau harus berkata apa-apa lagi. Fatih pun menghampiri Mami Mili dan memeluk ya. Tangis Mami Mili pecah di dada bidang Fatih. Fatih mengecup pucuk kepala Mami Mili.
"Abang Janji, Abang akan berhenti di saat Laysa menemukan orang yang tepat. Abang janji Mi. Kasih Abang sedikit lagi waktu."
Mami Mili menganggukkan kepalanya. "Abang harus janji, untuk tidak terlalu sakit, Nak. Hiks ..."
"Abang Janji."
"Apa yang Abang janjikan? Abang akan menjaga Mbak Raysa sampai dia menemukan pasangannya? Bagaimana dengan Abang? Apa Abang bahagia?"
"Stev, Kamu harus percaya sama Abang."
"Gak, pokoknya Steva tetap mau kuliah di London. Steva gak peduli Papj atau Abang gak setuju, Steva tetap pada pendirian Steva, Titik."
Steva pun meninggalkan meja makannya.
"Stev ..." Panggil Fatih.
"Sofi sayang Abang, tapi Sofi juga gak mau lihat Abang terlalu lemah menjadi laki-laki. Apa di dunia ini hanya ada Mbak Raysa? apa tidak ada lagi wanita cantik lainnya? Pokonya Sofi masih tetap dengan pendirian Sofi." Sofi pun ikut meninggalkaneja makan.
Fatih mengusap wajahnya dengan kasar dan menjambak rambutnya, Fatih sudah berjongkok sambil *******-***** rambutnya. Saat ini ia benar-benar berada di antar yang sulit.
Mami Mili menyentuh bahu Fatih, sehingga membuat Fatih mendongak.
"Maafin Mami. Mami akan mencoba bicara dengan mereka."
Fatih memaksakan senyimnya. Sepertinya Fatih harus meminta bantuan Quin. Hanya Quin yang bisa membujuk si kembar Steva dan Sofi.
*
Fatih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju toko kue milik Quin. Seperti biasa, Fatih masih menggunakan style nya yang konyol namun, ia merasa itu sudah cukup keren bagi nya.
Fatin datang dengan rambut kritingnya dan kemeja yang melambai karena kancingnya sengaja tidak di kancingkan. Dengan wajah tanpa senyumnya Fatih langsung menghampiri Quin dan yang lainnya.
" Gaya Lo, kayak anak ABG alay aja." Ujar Quin yang jengah melihat penampilan Fatih yang sealu acak-acakan.
" Pusing gue.." Ujar Fatih saat mendaratkan bokongnya di sofa.
"Kenapa?" Tanya Quin.
" Sikembar minta kuliah di luar negri."
" Lah trus?"
" Ya Lo tau sendiri kalo gue cuma punya 2 adik, dan itu kembar."
" Ya tau. Trus?"
" Ya gue gak mau lah jauh dari adik-adik gue."
__ADS_1
" Trus.?"
" Tras trus tras trus aja Lo dari tadi."
" Ya habis, aku harus bilang apa?"
" Hah, bujuk si kembar kek biar jangan ke luar negri. "
" Jaman udah canggih Bro, Lo bisa video call dan menghubungi mereka kapanpun. Dan Lo tinggal bilang ke Abash, untuk di buatkan pelacak yang dipasang ke adik Lo." Ujar Veer yang ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
" Bener juga ide Lo, ntar gue suruh Abash buat kalung. Jadi gue masih bisa mantau mereka. Pintar Lo Veer."
" Dari dulu kalee, Lo aja yang blok..blok"
Fatih hanya tersenyum, namun sebenarnya ia sedang memikirkan hal lain. Fatih butuh Quin, dan gak mungkin juga Fatih berbicara tentang masalahnya dengan Quin di depan yang lainnya. Fatih butuh waktu berdua dengan Quin.
Setelah jam makan siang usai, Anggel, Lana, dan Veer pun kembali kepada aktifitas mereka masing-masing, Namun Fatih mengurungkan niatnya untuk pergi, sehingga ia kembali dan menarik Quin duduk kembali ruangan Khusus tersebut. Fatih sengaja mengunci ruangan itu karena tak ingin Ada yang menggangu percakapannya dengan Quin.
"Kenapa? Biar aku tebak,? Masalahnya gak hanya karena Steva dan Sofi pergi keluar negri kan? Pasti ada hubungannya dengan Raysa.
Fatih mengenal napasnya di saat tebakan Quin benar.
"Kenapa lagi?"
"Ya itu, mereka mengancam jika aku tak berenti mengejar Layca, maka mereka akan menyambung kuliah di London."
"Lalu?"
"Quin !!!"
Quin terkekeh, "Oke ... oke ... baiklah. Jadi, kenapa kamu gak lepasin aja Ica? lagian Ica cintanya sama Farhan."
"Kamu yakin?"
Quin terdiam, sebenarnya Quin juga ragu dengan apa yang di ucapkanya tadi. Tapi melihat bagaimana tatapan Raysa kepada Farhan, semua orang juga akan mengatakan hal yang sama. Tapi berbeda di saat Quin melihat cara Raysa menatap mata Fatih. Seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di sana.
"Aku gak berani bilang apapun tentang perasaan Ica. Perasaanya hanya dianyang tahu. Aku juga gak mau terlalu ikut campur dengan Masalah kalian, karena posisi ku saat ini hampir sama dengan Raysa. Di cintai oleh pria yang sedari kecil aku kenal."
Fatih masih diam menatap dan mendengarkan Quin berbicara.
"Aku tau, posisi ku sedikit berbeda dengan Ica, tapi kamu harus tau Fat, kamu gak bisa memaksa Ica untuk mencintai kamu. Dan jika perasaan itu memang ada untuk kamu, suatu saat aku yakin, perasaan itu pasti akan menarik diri Ica untuk berlari kearah kamu. Percayalah ..."
Fatih tersenyum, itu lah hal yang Fatih harapkan saat ini. Raysa menyadari perasaannya dan berlari ke arahnya. Fatih belum tau, kenapa Raysa tak ingin menyadari perasaannya itu. Tapi Fatih bertekad, ia tidak akan menyerah untuk memperjuangkan perasaan yang hanya sebesar biji kacang hijau dan setinggi pohon toge tersebut.
"Aku tau ... Dan aku hanya meminta kepad kamu, untuk jelasin kepada Steva dan Sofi, tentang perasaan aku. Aku gak mau mereka membenci layca gara-gara aku."
Quin menggenggam tangan Fatih. "Akan aku usahakan."
Fatih membalas menggenggam tangan Quin. Quin dan Fatih saling membalas senyuman, hingga pintu kaca itu di gedor dari luar dengan tatapan yang menyalang dari si penggedor dan seakan memiliki laser dari matanya, seolah-olah dia adalah kembaran nya Superman. Yang mana membuat Quin dan Fatih sontak melepaskan genggaman tangan mereka dengan cepat.
Quin berdiri dan membuka pintu tersebut. Pria yang memiliki mata laser dalam khayalannya itu pun langsung menatap sinis Fatih, sedangkan Fatih tetap duduk santai dan tak merasa bersalah.
Toh, memang Fatih tak melakukan kesalahan apapaun.
Ya, pria bermata laser yang seakan dirinya adalah Superman itu adalah Lana, ia sudah menatap nyalang kepada Fatih sambil memasukkan kedua tangannya di dalam kantong.
"Lo, setelah Lo ngajak kencan Anggel, sekarang Lo mau ngajak kencan Quin lagi, Hah?" Ujar Lana dengan tak suka.
Fatih seolah mendapatkan ide untuk membuat sahabat nya itu jengkel.
"Ide bagus." Fatih menoleh kepada Quin. "Quin, kamu mau kencan sama aku entar malam?"
Quin terlihat berfikir, kemudian dia menganggukkan kepala nya.
"Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Aku tunggu ya sebelum jam makan malam."
"Baiklah, nanti aku hubungi lagi kamu saat Otw nanti." Fatih berdiri dan mengambil tabung gambarnya.
"Bye Lana, sampai nanti Quin." Ujar Fatih sambil mengejek kearah Lana.
Lana mengerutu kesal dan merengek kepada Quin.
"Aku ajak Dinner kamu gak mau, pas Fatih ngajak, kamu langsung mau ..."
"Fatih sekali-kali dia jumpa sama aku, sedangkan Kamu, udah bosen aku nya. Capek jumpa Sam kamu. Pagi, siang, malam, udah kaya obat tau gak." Quin keluar dari ruangan VIP tersebut dan meninggalkan Lana sendirian di dalam sana.
"Kok si Fatih jadi nyebelin gini ya .." Gerutu Lana, kemudian ia mengejar Quin karena ada hal yang harus di bahasnya bersama Quin.
*
Raysa tersenyum seharian ini, mengingat bagaimana wajah Fatih menahan kantuknya saat menemaninya makan tadi malam. Raysa juga merasa tidur nya sangat nyenyak tadi malam walaupun ia hanya tidur tiga jam saja. Namun, pagi ini mata Raysa sangat cerah dengan senyum yang terus menghiasi. Raysa juga gak tau kenapa dirinya sedari tadi terus saja tersenyum, dan terkadang tertawa sendiri mengingat kekonyolan Fatih.
Atensi Raysa teralihkan saat ponsel nya berdering sangat nyaring. Raysa pun meraih ponsel tersebut, seketika senyum Raysa sedikit meluntur dan di grandungin oleh rasa bersalah. Raysa menarik napasnya panjang, kemudian ia hembuskan secara perlahan. Raysa pun menggeser tombol hijau tersebut, dan dalam seketika layar datar tersebut di penuhi oleh wajah Farhan yang terlihat lelah namun masih bisa untuk tersenyum.
"Assalamualaikum, Ca."
"Walaikumsalam, kak. Maaf yaa, semalam aku udah tidur, jadi gak tau kalo kakak telpon aku."
Farhan tersenyum dalam diam, semalam yang di katakan oleh Raysa, sebenarnya Farhan sudah mendapatkan kabar dari Fatih jika Raysa baik-baik saja, dan dirinya baru saja makan omelet. Fatih memberikan laporan tersebut atas dasar Farhan yang meminta nya dengan memohon. Dan tanpa Raysa ketahui, itu juga lah alasan Fatih menghubungi nya tengah malam. Fatih tak tega dengan Farhan yang sampai khawatir seperti itu, dan juga Fatih menjadi khawatir setelah Farhan menghubungi nya.
"Ooh, iya ..." Hanya itu yang di jawab oleh Fatih.
"Kakak baru selesai kerja? Lembur lagi?"
Farhan tersenyum, kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Seperti nya aku harus banyak lembur, agar bisa pulang dan melamar kamu."
Seketika Farhan melihat rona wajah Raysa dan. senyum malu-malu nya.
"Ca .." Panggil Farhan saat tak mendapatkan jawaban dari Raysa.
__ADS_1
"Hmm ..." Raysa kembali fokuskan pandangannya ke ponsel nya.
"Aku mencintai kamu."
Sudut bibir Raysa tertarik membentuk kembali sebuah senyuman. Entah lah, Raysa sendiri tak tau mengapa dirinya tak bisa membalas ucapan Farhan. Padahal inilah yang di tunggu-tunggu oleh Raysa selama ini. Ungkapan yang sebenarnya.
"Ca .."
Ting ... tong ....
"Kak, seperti nya ada tamu. Aku buka pintu dulu ya ..."
"Pagi-pagi?"
"Hmmm ... Mana tau satpam apartemen ini." Ujar Raysa sembari berdiri dan membawa ponsel nya.
Raysa membuka pintu dan mengerutkan keningnya saat seorang kurir mengantarkan paperbag berukuran sedang dan juga setangkai mawar merah.
"Nona Raysa? ini kiriman dari Tuan Fatih." Ujar kurir tersebut sambil menyerahkan paperbag dan juga setangkai mawar.
"Terima kasih .." Ujar Raysa sambil mengambil pemberian kurir tersebut.
Raysa menutup kembali pintu nya setelah menanda tangani kertas tanda terima.
Farhan di seberang panggilan sana sebenarnya mendengar siapa si pengirim mawar yang di pegang oleh Raysa, hanya saja Farhan ingin mendengarnya dari mulut Raysa sendiri.
"Siapa Ca?"
Atensi Raysa kembali kepada ponsel nya. Sesaat ia lupa jika masih berkomunikasi dengan Farhan.
"Oh, Fatih .. dia kirimin aku setangkai mawar dan ..." Raysa meletakkan ponsel dengan posisi berdiri dan bersandar di kotak tisu. kemudian tangannya membuka isi paperbag tersebut.
"Bubur ayam." Ujar Raysa sambil menunjukkan makanan yang di kirimkan Fatih.
"so sweet banget si Fatih?"
Raysa tak menjawab, ia juga tak menyadari perubahan wajah Farhan.
"Kamu mau sarapan ya, ya udah aku matiin ya panggilannya, lagian aku juga mau istirahat, capek banget."
"Eh? Iya ... Kakak Jangan lupa solat nya itu ya ... Iya, insya Allah. Ini juga mau tunggu subuh dulu baru tidur sebentar."
"Alangkah bagus nya tidur dulu sebentar, baru bangun untuk solat subuh. Tidur habis subuh gak baik loh."
"Iya sih, tapi takut gak terbangun nanti."
"Nanti Ica bangunin deh, Ica telponin kakak sampai bangun."
Farhan tersenyum. "Baiklah, kakak matiin dulu ya.. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Raysa menghela napasnya, kemudian ia fokuskan pandangan nya kearah setangkai bunga mawar yang tergetak di atas meja.
"Tumben setangkai?" lirih Raysa kemudian ia tersenyum.
Raysa membuka kotak makan yang di kirimkan Fatih. Kemudian ia pun mulai menikmati sarapannya dengan perasaan yang campur aduk.
"Ca, kamu harus tetap kan hati kamu." bisik Raysa dari hati nya.
*
Tanpa Quin menghubungi Steva dan Sofi. Ternyata si kembar yang sangat di cintai dan di sayangi oleh Fatih pun sore ini meminta ketemuan dengan Quin. Quin menyuruh si kembar Steva dan Sofi untuk datang ke toko kue. Kebetulan, Quin baru saja mencoba membuat resep dari sang Mama tercinta.
Senyum Quin mengembang saat Steva dan Sofi masuk. Langsung saja Quin memberi kode kepada kedua wanita cantik yang masih duduk di bangku Sekolah menengah atas itu untuk tak menyebut panggilannya.
"Mbak, mau curhat." Ujar Sofi manja.
"Mau di rooftop atau di ruangan?"
"Rooftop aja deh, biar plong gak liatin wajah orang-orang."
Quin mengangguk. Sebelumnya Quin sudah menyiapkan pesanan minuman mereka, dan membawanya keatas bersama.
"Jadi, apa yang mau kalian ceritain?"
Steva menghela napasnya berat. "Abang Fatih keras kepala banget tau gak sih kak. Emangnya wanita cantik cuma Mbak Raysa aja apa di dunia?" Rajuk Steva dengan bibir yang cebikkan dan di kerucuti.
"Iya, padahal masih banyak tuh cewek-cewek cantik di sekeliling Abang. Masa gak da yang kecantol sih satu pun?" tambah Sofi.
" Lalu?"
"Nyebelin gak? masa Abang lebih milih mempertahankan cintanya dari pada menahan adik-adik nya yang cantik ini untuk tidak pergi kuliah keluar negeri?
"Bukannya itu yang kalian inginkan?"
Steva dan Sofi serentak mengangguk, namun detik selanjutnya mereka menggelengkan kepalanya. Quin menghela napas kemudian ia tersenyum.
Berbicara dengan Steva dan Sofi harus dengan mengikuti pemikiran mereka, bukan dengan pemikiran orang dewasa. Untungnya Quin memiliki sifat Mama Kesya yang selalu mengerti dan sabar menghadapi orang-orang yang berbeda karakter setiap hari nya.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....