Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 113 " Anniversary"


__ADS_3

Semenjak Vina melahirkan, Zein jadi rewel. Tapi saat Sasa yang menggendong dan menidurkannya, Zein terlihat tenang.


" Zein malam ini tidur sama Bunda yaa.."


Bayi berumur satu tahun itu seolah mengerti dan menganggukkan kepalanya, sambil berucap " Nda..Nda.."


" Beneran nih? Gak ngerepotin Mbak?" Vina merasa sungkan.


" Ya gak dong.. Anak kamu kan anak aku juga.."


Vina tersenyum lebar, Dalam hati sangat bersyukur karena Bara mendapatkan seorang istri yang baik. Tidak bisa di bayangkan jika Bara menikah dengan Lia, mungkin tidak akan seperti ini. Bahkan mungkin Bara tidak akan tinggal bersama Mami Shella dan Daddy Roy.


" Waah, Zein jago banget makannya.." Sasa baru saja selesai menyuapi Zein makan.


" nak..nak..nak.."


" Enak?? Zein mau lagi?"


" Nak..uuu...u.." Mulut mungil zein membuat Sasa gemes.


Mami Shella yang melihat itu meneteskan air matanya.


" Mi.." Tegur Daddy Roy..


" Lihat Dad, Sasa sangat menyayangi Zein, Mami berharap, dengan zein selalu bersama Sasa, semoga Sasa cepat hamil.."


" Amiin... Mami jangan khawatir, lagian mereka menikah belum genap 1 tahun. Biarkan mereka pacaran dulu.."


Tidak hanya Zein, bahkan Anggel dan Kayla pun sangat dekat dengan Sasa dan Bara. Sehingga Tante Mega dan Tante Rosa merasa bingung, sebenarnya siapa ibu anak-anaknya, mereka atau Sasa?.


Hingga Kayla dan Anggel pun ikut memanggil Sasa dan Bara dengan sebutan Bunda dan Daddy.


" Mungil, keuntungan di Sabar lumayan beberapa bulan ini."


" Alhamdulillah Mas.." Sasa sedang menidurkan Zein, Kayla, dan Anggel di kamar mereka. Bara sampai membeli kasur lain untuk diletakkan di kamar mereka ,karena ketiga anak-anak itu sudah hampir setiap hari, bahkan setiap malam Sabtu dan Minggu tidur bersama Bara dan Sasa.


" Eemm, kamu masih ingat janji aku ke kamu waktu di Bali?"


Sasa mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat janji apa yang di lontarkan oleh Bara. " Apa ya mas? aku lupa.."


" Itu loh, bulan madu ke Maldives." Bara sudah duduk di sebelah Sasa.


" Ohh, iyaa.. tempat Leo dan Anggun berbulan madu yaa..?"


" Iyaa.. kamu mau kan?"


" Eemm, aku terserah kamu aja deh Mas."


Pipi Sasa sudah bersemu merah. Bagaimana tidak, sejak Zein tidur bersama mereka hampir tiap malam. Waktu Sasa dan Bara jadi berkurang, di tambah lagi saat Vina hamil dan ngidam tengah malam. Yang mana selalu ingin memakan masakan Bara. Dan tak jarang menganggu aktifitas bercocok tanam mereka.


Bukannya mereka tidak pernah melakukannya, mereka melakukannya, namun Sasa selalu teringat dengan Zein, jika Bara meminta jatahnya lebih dari satu kali. Karena Vina pernah bilang, Zein rewel saat Sasa ada acara di luar daerah, dan selalu ingin tidur dengan Bundanya.


" Ya udah, aku siapin semuanya yaa "


" Tapi Mas, gimana dengan Zein?"


" Iya juga yaa.. "


Bara jadi menimbang-nimbang, karena Zein pernah demam saat Sasa pergi ke luar kota selama 2 hari.


" Nanti coba kita fikirkan lagi yaa.."

__ADS_1


Dan akhirnya Bara mencoba untuk meminta pendapat dari Mami Shella.


" Hmm, kalo menurut Mami, jika kamu memang ingin pergi berbulan madu lagi dengan Sasa, gak masalah sih.. lagian kalo masalah Zein, masih ada Mami di sini."


" Iyaa, tapi Mami tau sendiri gimana Sasa sayangnya dengan Zein.."


" Rencananya kapan mau berangkat?"


" Rencananya sih setelah acara anniversary satu tahun Bara dan Sasa Mi."


" Berarti bulan depan yaa.."


" Iyaa, insya Allah kalo gak ada halangan Mi."


Setelah mendapatkan jalan keluarnya dengan Mami Shella, Bara pun mulai menyiapkan paspor Sasa, dan keperluan lainnya.


.


.


" Mas, kita mau ke mana?"


Sasa yang sudah berdandan cantik, di tambah gaun putih yang sangat pas ditubuhnya, memamerkan leher jenjang miliknya, dengan rambut yang di sanggul dan di gerli indah. Sasa harus menutup matanya atas permintaan Bara, dan mengikuti semua arahan Bara.


" Tenang aja. Ayooo.."


Bara kembali menuntun Sasa. Sasa merasakan sesuatu yang empuk saat bokongnya mendarat dan duduk di sebuah bantal. Bantal besar yang empuk. Bahkan terasa angin malam yang bertiup sedikit kencang.


" Maas..." Sasa mencoba meraih tangan Bara yang baru saja melepas kan diri dari tubuhnya.


" Iya Mungil, aku di sini."


Bara memberi kode kepada pelayan yang ikut membantunya dalam memberikan kejutan kepada Sasa. Setelah semuanya selesai, Bara menyuruh pergi pelayan tersebut.


" Iya sayang, aku di sini.." Bara memegang tangan Sasa.


" Ini di mana? kenapa banyak banget anginnya Mas?"


" Kamu tenang yaa.. sekarang, aku mau buka penutup mata kamu."


Bara melepaskan kaitan kain yang menutup mata Sasa.


" Sekarang perlahan Buka mata kamu" Bisik Bara dengan seksi.


" Mas.. ini.." Sasa sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ini sungguh luar biasa, dan Sasa benar-benar terkejut.


Tulisan happy anniversary 1st membuat air mata Sasa menggelinang di pelupuk matanya. Belum lagi cake ulang tahun yang sangat indah. Ada gambar mereka berdua di sana.


" Kamu suka?"


Sasa menganggukkan kepalanya. " Makasih Mas.."


" Cuma makasih aja?"


Sasa menangkup wajah Bara, dan menciumnya serta memberikan ******* kecil di sana. "Terima kasih Beruang madu ku. Pria mesum ku. Aku sangaat .. sangat mencintai kamu.."


" Aku juga.."


Bara kembali mendekatkan wajahnya, dan mencium bibir Sasa. Mencium dengan penuh hasrat dan gairah yang membuncah...


Krruuukkk....

__ADS_1


Bara menghentikan ciumannya, dan mereka pun tertawa.


" Kamu lapar?"


Sasa menganggukan kepalanya dengan wajah yang merona.


" Ayoo, sebelum dingin.."


Sasa dan Bara pun menikmati hidangan yang telah tersaji. Bara juga memotong kan daging steak milik Sasa, dan mereka pun makan dengan saling suap-suapan.


" Belepotan gini siih... Jadi terlihat menggoda tau.." Bara menghapus sisa bumbu steak di sudut bibir Sasa, dan menghisap jarinya dengan sensual.


Jantung Sasa berdegup kencang, seolah ini adalah kencan pertama mereka.


" Kamu suka?"


" Bangeet Mas.. Makasih yaaa... "


" Sama-sama sayang, asal service nya oke ntar malam.."


" iiihhh kamu ini, Dasar Mesum.."


Bara terkekeh melihat wajah Sasa yang memerah karena godaannya.


" Ayoo.."


" Ke mana?"


Tak urung, Sasa menyambut uluran tangan Bara. Bara mengajak Sasa melihat pemandangan kota dari atas gedung itu. Gedung pencakar langit, yang mana gedung ini salah satu Milik perusahaan Moza. Saat itu, Bara bingung ingin memberikan kejutan untuk Sasa, hingga Arka mengusulkan untuk makan malam romantis di rooftop, salah satu gedung miliknya. Lampu-lampu kendaraan yang melaju kencang, bagaikan meteor yang melintas. Seolah mereka berada di atas langit, dan melihat kerlipan bintang-bintang di bawah mereka.


" Ini sungguh indah Mas.."


" Kamu suka?"


" Tentu Mas, terima kasih.." Sasa memeluk tubuh Bara, dan kembali menikmati pemandangan kota di malam hari, yang sangat terlihat indah. Masih dengan posisi memeluk tubuh kekar Bara.


" Mungil.."


" Hmm?"


Sasa mendongakkan kepalanya, Bara menangkup wajah Sasa, perlahan matansasa tertutup, hingga bibir mereka bertemu. Bara mencium bibir Sasa dengan pelan, tetapi menuntut. Sasa juga membalas ciuman Bara tak kalah menuntutnya.


" Aku mencintai mu Mungil, Sangat" Ujar Bara di sela ciuman mereka.


Bara dan Sasa menikmati malam indah itu, dengan di temani semilirnya angin berhembus, bintang-bintang di langit yang indah, ditambah bulan purnama yang bersinar, seakan ikut merayakan 1 tahun pernikahan mereka yang penuh dengan cinta yang luar biasa.


" Mungil, aku tidak tahan..." Bisik Bara dan mengecup leher putih Sasa.


" Masshh... Ah.. Masshh.. jangan di sini..."


Dengan terengah, Bara menghentikan aksinya yang telah membuka resleting gaun Sasa hingga setengah. Dengan terpaksa, Bara kembali menaikkan lagi resleting baju Sasa.


" Ayoo. "


Bara menggendong Sasa dalam sekali gerakan. Membawa istri mungil tercintanya itu ke penthouses gedung itu.


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..

__ADS_1


Salam SaBar... (Sasa & Bara )


__ADS_2