Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 83


__ADS_3

Pernikahan Quin dan Anggel pun berjalan dengan meriah. Kejutan demi kejutan satu-satu muncul yang mana membuat seluruh bahagia bahagia melihat keturunan mereka tersenyum dan tertawa bersama.


Raysa tak bisa berlama-lama untuk berada di Jakarta, setelah pernikahan Quin dan Anggel, Raysa pun kembali ke Bandung,namun kali ini ia tidak kembali bersama Fatih, melainkan bersama dengan Farhan dan Tissa.


Ya Tissa juga di undang di pernikahan Quin dan Anggel, yang mana mereka juga memakai jasa lukisan dari Tissa untuk membuat sebuah foto yang indah dari hasil maha karya tangannya.


Raysa memperhatikan Tissa dan Farhan yang duduk di bangku depan, dengan Farhan yang mengemudi dan Tissa berada di sebelahnya. Mereka mengobrol sangat Asik, bahkan Farhan tak pernah seasik dan senyaman itu terlihat berbicara dengan Raysa. Pasti Farhan akan menunjukkan wajah malu-malunya.


‘Semoga mereka bisa berjodoh.’ Batin raysa sebelum ia menutup matanya.


“Ca, bangun. Kita makan dulu yuk.” Farhan membangunkan Raysa dengan menyentuh lutut Raysa.


Raysa mengerjapkan matanya dan melihat kesekeliling.


“Kita di mana?” tanya nya dengan saura yang khas baru bangun tidur.


“Di rumah makan, kita makan dulu yuk, sayang Tissa gak boleh telat makan.”


Raysa merenggangkan tubuhnya dan mengangguk. “Kak Tissa belum bangun?”


 “Iya, ini aku baru mau bangunin kok.”


 “Aku duluan turun ya, kebelet pipis.”


 Farhan pun menganggukkan kepalanya. Setelah kepergian Raysa, Farhan mencoba membangunkan Tissa, namun saat Tissa bergerak dan memalingkan wajahnya dari arah kiri menghadap ke arah kanan, Farhan dapat melihat dengan jelas bagaimana tenang dan cantiknya Tissa di saat tertidur.


 Pandangan Farhan pun turun ke bibir ranum Tissa, tangan Farhan reflek terangkat dan menyentuh bibir Tissa dengan lembut.


“Euung ...” Tissa melenguh karena tidurnya terusik.


 Farhan dengan cepat menarik tangannya. Jantungnya berdebar dengan cepat karena takut ketahuan dengan Tissa apa yang ia perbuat barusan.


Farhan menarik napasnya dan membuangnya lagi, Farhan melakukannya berkali-kali hingga debaran di dadanya pun berkurang. Farhan kembali menoleh ke arah Tissa yang masih terlelap dalam tidurnya.


 “Huff, fokus Han, Fokus.” Ujar Farhan kepada dirinya sendiri.


 Ceklek ...


 Farhan yang baru saja ingin membangunkan Tissa kembali terkejut dengan Raysa yang sudah kembali ke dalam mobil.


“Kak Tissa belum bangun?” tana Raysa seraya mengambil tas dan dompetnya.


 “Kamu aja yang bangunin.” Farhan dengan cepat turun dari mobil dan meninggalkan Raysa yang terbengong memandangnya.


“Aneh.”


Raysa pun mengguncang tubuh Tissa dan membangunkannya.


“Kak, bangun. Kita makan dulu yuk.”


 Tissa mengerjapkan matanya dan menguceknya sebentar, memastikan jika tak ada taik mata di sana. Tissa pun menoleh ke bangku pengemudi. Tak ada Farhan di sana dan yang membangunkan dirinya pun adalah Raysa. Bolehkan Tissa merasa kecewa?


“Yuk lah turun, perut aku juga udah terasa banget lapar.”


 Tissa mengambil tasnya dan membawanya turun. “Aku ke kamar mandi dulu ya.”


 Tissa pun melangkahkan kakinya tanpa menegur Farhan yang berdiri di dekat mobil. Tak tahukah Tissa, jika saat ini Farhan merasa jantungan dan merasa bersalah karena telah lancang menyentuh bibirnya tanpa ia ketahui?


“Yuk kak,” ajak Raysa yang melihat Farhan terbengong.


 Farhan pun mengangguk dan berjalan di belakang Raysa.


Berhubung mereka makan di rumah makan padang, maka pelayan pun menghidang menu makanan di atas meja. Jadi, pelanggan tinggal mengambil apa yang mereka inginkan.


“Huff, wangi banget menu-menu nya. Jadi pada demon ni yang di perut.” Ujar Tissa sambil mengusap perutnya.


 Farhan mengikuti gerak tanagn Tissa, namun mata nakalnya malah memandang ke arah dada Tissa yang mengembul di balik baju kaos yang ia kenakan. Farhan pun terbatuk karena ludahnya sendiri.


“Uhuk .. uhuk .. uhuk ..”


 “Kamu gak papa?” tanya Tissa sembari menyodorkan segelas iar mineral.


 Farhan menerima nya dan langsung meneguk air tersebut hingga setengah gelas.


“Makasih ya.”


 “Hmm, sama-sama.”


 Tissa pun duduk dan langsung membuka tas nya. Kebiasaan yang harus Tissa jaga saat ini adalaha, meminum obat maag sebelum makan dan setelah makan. Jika tidak ingin maag nya kembali kumat dan semakin parah.


“Huff, derita penyakit maag ya gini Raysa, mau makan aja harus minum obat, apalagi siap makan, aduhh, hidupnya bergantungan sama obat.” Tissa pun menuangkan obat kedalam cup kecil dan meminumnya.


“Tapi enaknya obat maag, obatnya selalu manis. Kaya kamu.” Ujar Tissa sambil mengedipkan matanya sebelah kearah Farhan yang mana membuat Farhan menjadi kiku.


Tissa terkikik melihat wajah lucu Farhan. “Nyantai, aku Cuma canda kok.” Ujar Tissa sambil menepuk bahu Farhan.

__ADS_1


Raysa yang memandang kearah Farhan dan Tissa pun merasa lucu melihat pasangan tersebut. Kak Tissa sungguh aktif, sedangkan Farhan adalah orang yang pendiam. Sangat cocok sekali.


 “Ayo makaaan ...” Ujar Tissa mengambil atensi Raysa dan Farhan.


 Tissa menikmati makanan tersebut tanpa takut maag nya akan kembali kumat. Asalkan ia rajin meminum obat dan makan yang teratus, insya allah maag nya tak akan kumat lagi. Namun satu yang Tissa tak bisa hindari, yaitu bergadang. Jika sedang banyak pesanan lukisan, maka Tissa akan bergadang sampai pagi, dan itu akan


membuat Maag nya kembali sakit. Untungnya asisten Tissa yang saat ini sangat memperdulikan kesehatan sang bos, sehingga Tissa berkali-kali di ingatkan untuk makan, minum obat, bahkan untuk tidur sekalipun.


Tissa sempat berfikir, jika asistennya tak lagi bekerja dengannya, siapa yang akan menjaga dan merawatnnya? Dulu ada Fatih yang akan setia menemaninya bergadang. Tapi sekarang? Tissa berharap jika hubungannya dengn Farhan bisa ke langkah selanjutnya, namun Farhan selalu mengatakan jika dirinya dan Tissa hanya teman,


dan tak akan bisa lebih dari itu.


Tissa jadi ingat saat pesta pernikahan Quin. Orang tua Farhan bertanya kapan Tissa akan di bawa ke rumah untuk makan malam. Namun Farhan mengatakan jika dirinya belum bisa move on dari Raysa. Dan hubungannya dengan Tissa hanya sekedar teman, tidak lebih.


 Sedih? Tentu saja. Tapi Tissa bisa apa? Bukankah cinta tidak bisa di paksakan? Atau memang Farhan bukan jodohnya. Maka dari itu, sebelum rasa cinta itu semakin membesar, Tissa mulai membiasakan perasaannya kepada Farhan sebagai seorang teman.


Tissa masih ingat, bagaimana cara Farhan memnadang ke arah Raysa, di saat pujaan hatinya itu bergandengan dengan pria yang ia cintai. Farhan juga memuji Raysa di depan Tissa dan mengatakan jika dari lubuk hatinya sedikit menyesal karena telah melepsa Raysa. Namun, Farhan masih berfikir logis, bahwa cinta tidak bisa di paksakan.


Farhan tak ingin kehidupan orang tuanya di alami oleh dirinya. Di mana sang Papi mencintai wanita lain yang berstatus istri orang, sedang kan sang Mami hanya bisa mencintai dalam diam tanpa bisa merasakan balasan cinta dari sang papi. Begitulah kehidupan orang tua Farhan. Untungnya Farhan memiliki Mami yang luar biasa setia kepada sang Papi.


 Mami nya hanya berpesan satu hal kepada Farhan, yaitu harus menikah dengan orang yang ia cintai dan juga mencintai dia. Maka dari itu, Farhan tak bisa menjalin hubungan serius dengan wanita mana pun karena hati dan cinta nya masih tertancap dengan Raysa.


 “Minum obat lagi ...” seru Tissa sambil tertawa.


 “Semangat kak minum obatnya, “ Ujar Raysa sambil mengangkat kedua tangannya yang terkepal.


 “Makanan padang emang gak ada dua nya.” Seru Raysa.


“Sa, kamu percaya gak kalo Farhan suka makan di warteg?” tanya Tissa tiba-tiba.


“Percaya, kak Farhan pernah video call aku dulu saat ia makan di warteg bareng asisten dan satpam kantornya.”


“Waah, aku jadi penasaran.” Tissa memandang Farhan sambil menaik turunkan alisnya.


Farhan merasa gugup. “Eng, nanti aku ajak kamu makan di sana.”


“Bohong banget, dari kemarin-kemarin katanya mau ajak, tapi gak di ajak-ajak.”


 *


 “Udah sampai? Jam brapa?”


Raysa menatap layar ponselnya yang di penuhi oleh wajah Fatih.


“Jam 3 tadi.”


“Iya, Kak Farhan nyantai bawa mobilnya. Gak lewat tol juga. Karena ada tempat yang ingin di datangi untuk makan siang. Abang ngapain? Kangeen.”


“Sabar .... Sabar ..” Fatih mengelus dada nya.


“Kok sabar? Kenapa? Abang gak kangen aku ya.” Rajuk Raysa dengan memajukan bibirnya.


“Duh, jangan gitu dong bibirnya, aku harus banyak nyetok sabar nih.”


 “Ih, gak nyambung.”


 “Ya nyambung dong, Sayang. Aku harus banyak sabar untuk menuju halalin kamu.”


 Raysa langsung tersenyum malu. Ia kembali mengingat di saat pernikahan Quin, tiba-tiba lampu mati di saat mereka tengah berdansa. Dan saat itu Fatih mencuri ciuman dibibirnya sambil berbisik kata cinta.


 Ahh, manis banget deh Abang Fatih.


 “Abang kapan ke sini?”


 “Gak dalam waktu dekat ini. Kerjaan aku numpuk banget. Mau ngumpulin cuan buat lamar kamu dan bikin pesta yang geudeeee banget.”


“Iih, gombal.”


“Serius, sayang.”


Di saat ada dua sejoli yang sedang jatuh cinta, di tempat lain ada Farhan yang tak bisa konsen bekerja karena terbayang gimana seksinya bibir Tissa.


 “Akkh, sial. Salah lagi nih.” Geram Farhan dan mendorong kursi kebesarannya menjauh dari meja kerjanya.


Farhan mer*mas rambutnya dengan Frustasi. Farhan memutar kursinya dan menatap ke arah luar jendela. Farhan membuka sedikit jendela nya agar dapar merasakan angin yang masuk ke dalam ruangannya. Perlahan, mata Farhan pun tertutup.


Farhan terbangun di saat seseorang masuk kedalam ruangannya, Farhan pun membalikkan kursi kebesarannya.


 “Tissa?”


 “Hai, lagi liatin apa?”


Tissa berjalan mendekati Farhan yang masih duduk di kursi kebersarannya.


“Wow, indah banget pemadangan di sini.”

__ADS_1


“Kamu suka?”


‘Kamu tau, aku sangat suka sekali ketinggian.”


Farhan tersenyum, gak menyangka kalo Tissa memiliki hal yang sama dengannya. Bisa nih lain kali di ajakin jump sambil berpelukan. Fatih pun tersenyum dengan apa yang ia fikirkan.


 “Kok senyum-senyum? Mikirin apa?”


 “Enggak mikir apa-apa kok.”


Tissa mengangguk dan kembali menatap keluar jendela. Angin yang berhembus membuat rambut Tissa berterbangan dan juga membentuk lekuk tubuh Tissa yang hanya menggunakan kemeja tipis.


Farhan meneguk ludahnya di saat melihat bertapa indah nya ciptaan Tuhan di hadapannya saat ini, Farhan pun berdiri dan mendekati Tissa.


Tissa terkesiap di saat Fatih tiba-tiba menyentuh wajahnya dan tanpa Aba-aba langsung menempelkan bibirnya ke bibir Tissa. Bagaikan gayung bersambut, saat Farhan menggerakkan bibrinya, Tissa pun membalasnya dengan irima yang sama.


Farhan menarik tubuh Tissa mengikuti dirinya yang kembali duduk di kursi kebesarannya, Farhan juga mendudukkan Tissa di atas pangkuannya. Perlahan, ciuman Tissa pun turun menuju pipi, rahang, dan berakhir di leher Farhan.


 “Sa, geli ... Ahh .. Sa ...”


 Nguung .... nguung .....


 “Sa, suara apa itu?”


Nguung ...


Farhan terkesiap di saat ada seekor lalat yang menggelitik hidungnya, sehingga membuat Farhan membuka matanya. Tak ada Tissa di sana. Belum lagi Farhan merasa sesuatu yang baru saja meledak dan berkedut di bawah sana.


Perlahan Farhan menurunkan pandangannya ke bagian bawah perutnya, dengan tangan bergetar, Farhan menyentuh bagian pusakanya yang terasa basah.


 “Sial ..” Farhan menggerutu karena apa yang di alaminya hanya mimpi. Belum lagi mimpi tersebut membuatnya harus keramas.


Farhan melihat kesekelilingnya, untung tak ada yang masuk. Dengan seegra Farhan berlari menuju ruangan rahasianya untuk membersihkan tubuhnya.


 *


Raysa terkiki geli saat medengar cerita Nanda yang mana Momol terus saja mengganggunya. Dari pagi, siang, hingga malam Momol terus saja mendatanginya. Seperti siang ini contohnya, Momol mengirimkan makan siang dari restoran mewah untuk Nanda, tak lupa setangkai mawar merah yang juga ada tulisan kata cinta di kartu yang bergelantung di tangkai bunga nya.


 “Udah, terima aja, Nan.”


“Ogah, ntar kalo gue udah cinta, terus keluarganya gak setuju gimana? Sakit hati lagi dong gue. Gue cari yang biasa-biasa aja lah. Takut patah hati lagi gue. Gak enak tau rasanya patah hati.”


Raysa mengangguk setuju, karena ia juga pernah merasakan yang namanya patah hati.


*


Waktu terus berlalu tanpa terasa. Hubungan Fatih dan Raysa pun seakan tak ada yang bisa memisahkan. Benih-benih cinta terus tumbuh di dalam hati mereka bersama.


 “Kamu bisa kan tolong aku?” Pinta Raysa kepada Romi.


 “Tapi Nona Bos, apa Bos bakal ke kantor saat ulang tahunnya?”


“Pasti, karena Abang Fatih udah janji untuk berada di Bandung saat dirinya ulang tahun.”


“Baik Buk Bos, kami bakal membuat kejutan tersebut.”


“Ingat, jangan sampai bocor.”


 “Siap Buk Bos.”


 Setelah menyampaikan niatnya, Raysa pun kembali melajukan mobilnya menuju apartemennya. Satu masalah selesai, sekarang tinggal menyiapkan segalanya untuk kejutan ulang tahun Fatih tercinta.


*


“Abang beneran banyak kerjaan hari ini?” rajuk Raysa dari panggilan telpon.


“Iya sayang, kerjaannya gak bisa aku tinggalin. Si Romi dadakan banget kasih kerjaannya. Jadi aku harus nyelesain semuanya hari ini. Biar besok bisa rayain ulang tahun aku sama kamu.”


 “Ya udah kalo gitu, kamu yang semangat ya kerjanya.”


“Iya sayang, kamu hati-hati ya kerja di lapangannya. Jangan kejar pencuri.”


 Raysa terkekeh, “Udah jadi kerjaan aku itu, Abang.”


 “Hmm, Ya Allah, lindungilah Layca ku di mana pun ia berada.”


“Amiin ...”


 Setelah panggilan terputus, Raysa menoleh pergelangan tangannya dan memandang jam yang berdetak di sana. Dua jam lagi waktunya pulang kerja, Raysa sudah meminta Nanda dan Momol untuk menemaninya ke kantor Fatih untuk memberikan kejutan. Ada Tissa dan Farhan juga yang ikut memberikan kejutan kepada Fatih. Raysa gak nyangka, jika ternyata banyak orang yang menyayangi Fatih nya.


**


Hai .. Hai .. Hai ..


Jangan lupa Like, komen, dan Vote ya ...

__ADS_1


Salam Sayang dari LAYCA n FATIH


__ADS_2