
"Waah, jadi kamu dan Tissa berpacaran?"
Saat ini Fatih, Raysa, Tissa, dan Farhan sudah duduk di ruang pribadi milik Tissa. Acara pameran lukisan sudah berakhir dari 30 menit lalu.
Seperti biasa, Tissa menyediakan minuman soda kaleng kepada para tamu nya.
Fatih hanya tertawa menanggapi ucapan Farhan, tapi tidak dengan Tissa yang melirik kearah Raysa. Yang mana terlihat sangat jelas jika dirinya sangat membenci Tissa.
"Kami ga__"
"Iya, kami udah resmi pacaran." Fatih menunjukan jam couple yang ada di tangan dirinya dan Tissa.
"Selamat yaa," ujar Farhan dengan tulus.
Tak berapa lama pegawai Tissa datang dnegan membawa dua kota pizza.
"Makasih ya,"
"Iya buk, sama-sama."
Fatih membukakan kotak tersebut dan mempersilahkan Farhan dan Raysa untuk memakannya.
Raysa mengambil dua potong pizza sekaligus dan menjadikanya satu. Dengan membuka mulutnya besar, Raysa menggigit pizza itu.
"Pelan-pelan, Ca." Ujar Farhan.
"Laper." Jawab Raysa dengan mulut yang penuh.
Fatih hanya memandang Raysa, namun enggan untuk menegurnya agar tidak memasukan makanan terlalu banyak ke dalam mulut.
*
"Lo antar Layca kan?" Tanya Fatih.
Saat ini Mereka sedang berjalan ke arah luar, karena Raysa sudah ingin pulang dan begitupun dengan Farhan.
"Iya, Lo tenang aja, Ica aman sama gue."
"Gue tau, gue percaya sama Lo." Fatih menepuk punggung Farhan pelan.
Farhan tahu, jika saat ini Fatih telah berbohong dengan statusnya, dan Farhan tau, pria yang ada di lukisan itu bukanlah Fatih.
"Makasih ya Raysa, Farhan. Kalian udah mau datang ke pameran lukisan ku."
"Sama, aku harap bisa mendapatkan lukisan itu, tapi aku kalah cepat." Ujar Farhan membahas tentang sebuah lukisan yang menarik perhatiannya, namun iankalah cepat karena sudah ada orang lain yang mengambil lukisan tersebut.
"Katakan saja jika kamu ingin lukisan seperti apa, aku akan buatkan."
"Tentu, nanti aku akan hubungi kamu. Oke."
Tissa tersenyum, ia melirik kearah Raysa yang sedari tadi memasang wajah dinginnya.
"Makasih sekali lagi ya, Raysa."
"Sama-sama Kak, Aku duluan ya." Tanpa menyapa Fatih, Raysa langsung membalikan tubuhnya dan berjalan menuju mobil nya.
Farhan pun kembali berpamitan dengan Tissa dan Fatih, lalu ia menyusul Raysa.
"Kamu sadar gak? kalo Raysa aneh banget malam ini?" Tanya Tissa kepada Fatih.
"Lagi PMS mungkin." Fatih pun masuk kembali kedalam galeri Tissa, meninggalkan Tissa sendiri.
Tissa menghela napasnya sambil memandang punggung Fatih, kemudian ia kembali melihat ke arah mobil Raysa, yang di kemudikan oleh Farhan.
"Kenapa harus kamu sih Han? Hmm, sekalinya jatuh cinta langsung patah hati." Gumam Tissa, dan masuk menyusul Fatih.
Di dalam mobil, Raysa terus saja memandang kearah Fatih. Farhan yang berada di sebelahnya pun ikut merasakan aura dingin yang terpancar dari Raysa. Farhan tak berani membuka suaranya, karena Raysa yang mode dingin ini sangat berbahaya.
__ADS_1
*
"Jadi Mr. F itu Farhan?" Fatih terkekeh.
"Ya mana gue tau kalo Farhan yang Lo sering ceritain adalah Farhan yang sama. Lagian Lo gak pernah bilang Farhan itu pemilik perusahaan IT."
"Lo gak tanya."
Tissa mencebikkan bibirnya. Fatih pun semakin terkekeh melihat Tissa cemberut.
"Lo yakin gak mau bilang yang sejujurnya dengan Raysa?" Tanya Tissa yang saat ini sudah berada di hadapan Fatih.
"Buat apa? lagian keputusan gue udah bulat. Gue bakal anggap dia adik gue."
"Gue berani taruhan, Lo gak akan bisa lupain Raysa."
"Lo menang, karena gue memang gak bisa lupain cinta gue ke Layca. Tapi gue bakal belajar buat melupakan perasaan gue kepada nya. Gak mungkin kan gue bakal melajang seumur hidup? dan istri gue pasti bakal sedih kali gue masih mencintai orang lain."
"Hmm, terserah Lo deh. Males ngomong sama orang keras kepala. Kalo Layca Lo udah jadi milik orang, ntar baru Lo nyesal." Kesal Tissa dan meninggalkan Fatih sendirian.
*
"Layca ...."
Sudah seminggu lebih semenjak pameran lukisan milik Tissa berlalu. Raysa pun seakan menghindari Fatih. Dan saat ini kebetulan sekali Fatih dan Raysa bertemu di saat Raysa sedang menunggu lift.
Raysa menghela napasnya, padahal Raysa sengaja pergi pagi-pagi sekali agar tak bertemu dengan Fatih. Tapi rasa nya pagi ini sia-sia saja. Lagi pula Raysa mengatakan pada Fatih jika dirinya tak sempat membuat sarapan karena saat ini jadwal Raysa apel pagi.
"Pagi banget?" Fatih melirik kearah jam tangannya.
"Apel pagi."
"Ooh ..."
Raysa melirik kearah Fatih. Fatih membawa tas ransel yang besar. Apa ia akan melakukan perjalanan ke luar Kota?
Ting ....
"Kamu mau ke mana?" Tanya Raysa yang sudah gatal ingin tahu ke aman Fatih akan pergi.
" Ke Jakarta."
"Berapa lama?" Tanya Raysa masih dengan nada juteknya.
"Sampai Quin menikah, jika tidak ada pekerjaan yang mengharuskan aku kembali ke sini."
"Berarti selama dua bulan?"
"Hmm, kamu pulang kan saat Veer pesta?"
"Tentu, lagi pula kak Farhan ingin bertemu dengan Bunda dan Daddy."
Hening, Fatih tak menanggapi ucapan Raysa, membuat Raysa sedikit kesal.
"Kak Fatih akan melamar aku, dan kami akan bertunangan."
"Aku tahu."
Raysa menoleh kearah Fatih, menatapnya dengan penuh benci. Tak bisakah ia mengatakan untuk menolak lamaran dari Farhan? Raysa kembali menatap kearah pintu besi tersebut. Berharap pintu itu cepat terbuka dan pergi jauh dari Fatih. Raysa benar-benar membenci Fatih.
Raysa benar-benar benci kepada Fatih. Ingatan Raysa kembali kepada malam di mana pameran lukisan Tissa.
Malam itu, Raysa sengaja menunggu Fatih di lobi hingga pukul setengah satu malam. Entah kemana Fatih pulang hingga larut malam. Raysa langsung menghampiri Fatih saat melihat pria itu sedang berjalan dengan pakaian tak se-rapi tadi dan rambutnya yang terlihat kusut.
"Fatih ...."
Fatih menghentikan langkahnya, dan terkejut mendapati Raysa yang sedang berjalan cepat ke arahnya.
__ADS_1
"Aku mau bicara." ujar Raysa saat sudah berada di depan Fatih.
Fatih melirik ke jam tangannya. "Udah malam Layca, besok aja ya."
"Aku mau sekarang."
"Udah malam Layca. Lagian gak pantas aku masuk ke apartemen kamu di jam segini, begitu pun sebaliknya."
"Kalo begitu kita bicara di sini."
Fatih melihat kesekeliking nya. Ia mendapati satpam dan resepsionis yang sedang menatap kearah mereka.
"Hmm, Kita ngomong di apartemen."
Raysa mengikuti langkah Fatih yang sudah berjalan meninggalkan dirinya. Sesampainya di depan pintu apartemen, Raysa langsung membuka pintu apartemen nya.
"Mau ngomong apa?" Tanya Fatih saat mereka sudah berada di dalam apartemen Raysa.
"Kamu bercanda kan tentang hubungan kamu dan Kak Tissa."
Fatih menaikkan alisnya sebelah. "Kenapa? Apa aku terlihat bercanda?" ujar Fatih dingin.
"Ca, aku udah lelah dengan perasaan aku ke kamu. Dan gak ada salahnya kan jika aku belajar untuk menyukai Tissa."
Raysa mengepal tangannya untuk menahan menahan amarahnya, "Kamu benar-benar brengsek ya."
"Aku brengsek? Lebih brengsek mana aku sama kamu Ca? Kamu kasih harapan ke aku, tapi kamu jatuhin harapan itu sesuka hati kamu. Kamu anggap aku sebagai Abang kamu, padahal kamu tau jika aku mencintai kamu."
"Kalo kamu cinta sama aku, kenapa kamu pacaran sama kak Tissa?" Pekik Raysa.
"Karena aku juga ingin bahagia."
Hening, hanya napas yang saling memburu yang terdengar.
"Sudah malam, istirahat lah."
Fatih membuka pintu dan menutup nya. Raysa langsung meluruh di lantai bersamaan dengan air matanya yang mengalir.
"Aku benci kamu Fatih, Aku benci kamu ...." Pekiknya.
Ting ....
Suara lift mengembalikan Raysa dari lamunannya. Raysa menatap punggung Fatih yang sudah keluar duluan dari lift.
"Kamu gak mau keluar?" Tanya Fatih yang membalikkan tubuhnya saat menyadari Raysa tak berada di belakangnya.
Raysa menghela napasnya dan berjalan melewati Fatih. Fatih berjalan di belakang Raysa menuju baseman di mana mobil mereka terparkir.
"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Fatih saat Raysa ingin membuka pintu mobil nya.
"Gak ada alasan aku buat marah sama kamu."
"Maaf, jika aku berkata kasar malam itu. Aku hanya ingin kamu mengerti, jika aku jugabingin bahagia. Dan kebahagiaan aku ada bersama Tissa."
"Aku tahu, dan aku gak akan jadi penghalang dalam hubungan kamu dan Kak Tissa.".
"Layca, apa kamu menyukai ku?" Tanya Fatih tiba-tiba saat Raysa sudah membuka pintu mobilnya.
"Tidak." Jawab Raysa tanpa menoleh kepada Fatih dan masuk kedalam mobilnya.
Fatih hanya memandang Raysa hingga mobilnya menjauh dari pandangannya. Fatih pun menghela napasnya dan berjalan menuju mobilnya. Fatih harus segera sampai di Jakarta sebelum adik-adik kesayangannya pulang sekolah.
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....