
Raysa menghapus kasar setiap air mata yang mengalir ke pipinya. Ia semakin yakin jika Fatih memiliki hubungan dengan Tissa.
Raysa tak bisa menahan lagi Isak tangisnya, hingga akhirnya Raysa mengeluarkan suara nya yang terisak karena menangis. Supir taksi yang membawa Raysa menuju apartemen nya melihat Raysa dari kaca spion, sehingga tak melihat lagi ke depan jika ada motor yang menyelip taksi tersebut, hingga terjadi nya kecelakaan lalu lintas.
Braaak ....
Seluruh warga yang berada di sekitar kejadian langsung membantu para korban.
*
Fatih berlari dengan kencang di koridor rumah sakit saat Bunda Sasa menghubungi nya dan mengatakan jika Raysa mengalami kecelakaan.
Fatih membuka gorden hijau yang menjadi pembatas antar pasien.
Sreek ....
Pemandangan yang sangat me-ngilu kan hati langsung tersaji di mata Fatih. Di mana Farhan sedang mengecup punggung tangan Raysa.
Raysa yang terkejut dengan kedatangan Fatih langsung menarik tangannya dari genggaman Farhan.
"Fa-fatih? ka-kamu di sini?"
Jelas saja Raysa gugup, karena seakan merasa sedang tertangkap basah selingkuh.
Fatih tersenyum miring, entah apa yang ia fikir dan rasakan saat ini. Antara menyesal atau merasa lega karena Raysa baik-baik saja.
"Bunda telpon aku. Bilang kamu kecelakaan."
Raysa tersenyum, jantungnya berdebar saat mengetahui jika Fatih langsung berlari ke sini saat mendengar kecelakaannya. Bahkan Raysa masih mendengar deru napas Fatih yang memburu.
"Mi-minum dulu." Raysa meraih gelas yang ada di atas nakas dan menyodorkannya kepada Fatih. Fatih pun meraih gelas tersebut dan meminumnya hingga tandas. Raysa tersenyum, tanpa Raysa tahu apa yang ada di hati Fatih saat ini.
Farhan yang melihat sepertinya telah terjadi sesuatu di antara Raysa dan Fatih pun, memberikan waktu untuk mereka berdua.
"Aku keluar dulu ya." Pamit Farhan.
Fatih mengangguk dan tersenyum simpul. Fatih alihkan alihkan pandanganya kepada Raysa. Sejauh mata Fatih memandang bagian atas tubuh Raysa, tak ada luka berat yang Fatih lihat. Hanya kening yang memar seperti terkena benturan.
"Kamu gak papa kan?" Tanya Fatih akhirnya.
"Hmm, Hanya terkilir di bagian bahu. Dan ini." Raysa menunjuk keningnya dengan menggunakan tangan kirinya.
Tak berapa lama perawat datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Maaf ya lama Mbak, soalnya tadi orang yang jaga di bagian peralatan cuma satu orang, dan pasien lagi banyak."
"Gak papa Sus."
"Saya pasang terus ya mbak."
"Iya ..."
Suster pun membantu Raysa untuk memasang perban bahu yang simple. Dan juga mengajarkannya untuk bagaimana bisa memakainya sendiri.
Fatih masih di sana, menatap Raysa dengan tatapan yang tak bisa di baca. Suster pun undur diri setelah selesai membantu Raysa memasang perban bahu nya.
"Kamu udah makan?" Tanya Fatih.
"Belum, gak selera."
"Ya walaupun gak selera pun tetap juga harus di paksain buat makan."
Raysa tak menjawab, ia memandang wajah Fatih, kemudian pandangannya turun ke pergelangan tangannya, yang mana Fatih menggunakan jam tangan couple milik dirinya dan Tissa. Ada rasa kecewa di dalam hati Raysa.
"Layca, kenapa bisa kecelakaan?"
Suara Fatih mengambil atensi Raysa.
"Ada motor nyelip taksi yang aku kendarai."
"Terus? kenapa bisa sampai terluka?"
"Nyungsep ke depan pas supirnya nge-rem, kepala aku juga terbentur dan lengan aku terkilir."
__ADS_1
Fatih hanya menatap kearah bahubm Raysa, kemudian ia menghela napasnya.
"Fatih, aku sakit." lirih Raysa dengan matabyang berkaca-kaca.
"Mau aku panggil dokter?"
Raysa menggeleng, kemudian air matanya jatuh begitu saja. Fatih mendekat dan memeriksa bahu Raysa.
"Sakit banget?"
Raysa menggeleng tapi juga menganggukkan kepalanya. Fatih kembali menghela napas. Ia menarik tubuh Raysa pelan dan menempelkan wajah Raysa di dada nya.
Farhan yang ingin masuk, melihat adegan tersebut mengehentikan langkahnha. Mungkinkah Ica nya telah berpindah ke lain hati?
Raysa sudah tertidur setelah di paksa makan oleh Fatih. Dan juga meminum obat nya. Fatih keluar dari ruangan Raysa, dan menemui Farhan yang duduk di kursi tunggu yang ada di luar IGD.
"Han," pangg Fatih.
Farhan menoleh dan tersenyum.
"Ica udah tidur?"
"Hmm,"
Hening, tak ada pembicaraan. Hingga Farhan membuka suaranya lagi.
"Aku kebetulan berada di lokasi kejadian saat Raysa kecelakaan."
Fatih menoleh kearah Farhan. Fatih tersenyum tipis saat mengetahui jika bukan Raysa yang menghubungi Farhan. Hanya sebuah kebetulan saja.
"Bunda dan Daddy sedang menuju ke sini. Mungkin sekitar tiga jam lagi sampai, karena hujan di perjalanan." Jelas Fatih.
"Iya."
Fatih menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, yang mana membuat kepalanya mengenai dinding. Fatih melipat kedua tangannya di dada dan menutup matanya.
"Aku akan tunggu di sini, kamu masuklah dan temani Layca." Titah Fatih.
*
"Fatih," tegur Bunda Sasa yang sudah berada dirumah sakit.
"Layca gak papa kok Bun, cuma bahu nya aja yang terkilir." Ujar Fatih.
"Makasih ya, kamu udah mau tungguin Ica."
Fatih tersenyum. "Makasih sama Farhan juga Bun, karena Farhan yang membawa layca ke rumah sakit."
"Iya," Bunda Sasa mengelus wajah Fatih sebelum masuk IGD dab melihat Raysa.
"Kamu gak papa?" Tanya Daddy Bara.
Fatih tau ke mana arah tujuan pertanyaan Daddy Bara. Fatih tersenyum dan mengangguk.
"Fatih sudah mantapi diri untuk menganggap Layca sebagai adik Fatih. Seperti halnya layca menganggap Fatih sebagai Abang."
Daddy Bara menepuk bahu Fatih. "Kalo jodoh gak akan ke mana. Daddy selalu berdoa untik yang terbaik bagi anak-anak nya."
"Terima kasih, Dad."
Farhan yang melihat itu merasa hatinya sedikit cemburu. Daddy Bara tak pernah memperlakukan dirinya seperti itu. Emabg sih, Daddy Bara baik kepada Farhan, dan hanya jutek kepada sang Papi. Tapi tetap aja, Farhan ingin merasakan kehangatan dari calon Mertua nya itu.
*
Keadaan Raysa yang tak terlalu parah, sehingga dokter langsung mengizinkan Raysa untuk pulang saat Daddy Bara memintanya.
"Kamu gak boleh banyak gerak dulu. Daddy udah bicara sama komandan kamu."
"Iya, Dad."
"Mas, coba telpon Fatih. Dia jadi sarapan di sini kan?"
Raysa yang mendengar nama Fatih di sebut pun langsung menoleh. Jantungnya berdebar dengan cepat. Raysa berdiri dan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Mau ke mana?" Tanya Daddy Bara.
"Ke kamar sebentar."
Raysa menatap pantulan dirinya di depan kaca. Ia memoles bibirnya dengan lipbalm warna pink soft, kemudian ia menyisir sedikit rambutnya agar terlihat rapi.
"Aww ...." Raysa meringis saat merasakan ngilu di bahunya.
Raysa keluar dari kamar bertepatan dengan seseorang yang membunyikan bel.
"Biar Ica aja yang buka, Dad." ..Daddy Bara kembali duduk dan menoleh kepada ponselnya.
Raysa mengembangkan senyumnya saat ia membuka pintu.
Cekleek ....
"Pagi, Ica." Sapa Farhan sambil membawa sebuket bunga mawar merah.
Senyum Raysa sedikit mengendur, karena orang yang datang bukanlah orang yang diharapkannya saat ini.
"Pagi. Masuk kak ...."
"Buat kamu." Farhan memberikan buket tersebut.
"Makasih." Raysa mengambilnya dan menciumi aroma bunga tersebut.
Raysa memang sangat menyukai bunga mawar. Tanpa Raysa dan Farhan sadari, jika Fatih melihatnya.
Fatih tersenyum miring. Bukankah ia sudah menyiapkan hati nya untuk ini?
Fatih berjalan mendekati dua sejoli yang berdiam diri di depan pintu.
"Apa aku boleh masuk?"
Suara Fatih mengambil atensi Raysa dan Farhan.
"Tentu." Ujar Farhan sambil menepikan tubuhnya agar Fatih bisa melewatinya.
Tanpa menoleh arah Raysa, Fatih langsung masuk dan menyapa Bunda Sasa.
"Waaahh, peliharaan Fatih bisa sehat wal'afiat nih makan masakan Bunda."
"Kamu ini," Bunda Sasa memukul pelan lengan Fatih, namun pria manja ini seolah pukulan bunda Sasa sangat kuat dan Fatih pun meringis kesakitan.
Farhan dan Raysa pun masuk setelah Fatih masuk kedalam rumah.
"Farhan, kirain kamu gak jadi datang." Ujar Bunda Sasa.
"Gak bisa nolak kalo masakan Bunda." Ujarnya malu-malu.
Fatih menarik kursi di dekat Bunda Sasa. Fatih sengaja duduk di sana, karena tak ingin berada di samping Raysa.
"Mas, yukk gabung. Anak-anak udah pada laapr loh ...."
"Iya sebentar." sahut Daddy Bara.
"Daddy, ayo makan ...." rengek Fatih.
Bunda Sasa hanya menggelengkan kepalanya mendengar nada manja Fatih.
"Dasar manja." Bunda Sasa mengelus rambut ikal Fatih.
Farhan yang melihat itu pun merasa cemburu. Ia merasa seolah Fatih adalah calon menantu mereka, bukan dirinya.
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1