
\=\= kepergian Fatih \=\=
Fatih memarkirkan motornya di halaman rumah Oma Shella.
" Susah banget sih ..." Raysa menggerutu saat membuka helm.
" Sini deh.." Fatih membantu Raysa membuka helm.
Raysa tak sengaja menatap manik mata Fatih, hingga membuatnya berdehem.
" Kenapa?"
" Hah? oh ... ekheem ... haus."
" Buseett, udah minum macem-macem es masih haus?"
" Panas Fat, ya hauslah." Kilah Raysa.
" Ya deh, iya ... Yang biasanya minum satu galon."
Raysa melototkan matanya.
" Nanti deh, kalo aku udah kerja, punya mobil sendiri, aku ajak kamu jalan-jalannya naik mobil."
" Hmm ... yaa ...ya ...ya ... terserah deh ... "
" Loh, kok masih di luar? Ayo masuk, Bunda masakin rendang jengkol."
" Waahh, Bunda tau aja kesukaan Fatih."
Fatih langsung turun dari motor dan melewati Raysa yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fatih.
" Dasar tukang makan. "
Mata Fatih berbinar saat melihat rendang jengkol yang tersaji di meja makan. Selama ini Fatih tak pernah memakan jengkol di rumahnya, karena Mami Mili yang memang tak suka dengan jengkol dan bau nya. Jadi, jika Oma Shella atau Bunda Sasa sudah memasak rendang jengkol atau jengkol balado atau jengkol Cleo, atau sate jengkol, atau apapun lah itu yang namanya jengkol, bisa di pastikan Papi Gilang dan Fatih langsung tancap gas ke rumah Oma Shella.
Oma Shella menggelengkan kepalanya di saat melihat Fatih mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Papi Gilang.
" Pi, eeuummm sedaaap nyaa ... " ujar Fatih dengan lebay nya.
" Sisain untuk Papi bilang sama Oma."
Terlihat Papi Gilang langsung bergegas bangkit dari tidur santainya, dan terdengar juga suara Mami Mili yang mengatakan untuk tidak tidur bersama.
Fatih dan Oma Shella pun tertawa terbahak-bahak. Kalo sudah namanya jengkol, Gilang tak Masalah jika semalam saja tak tidur dengan sang istri. Ha ... ha ... ha ...
" Tau ada Fatih, mending kamu masaknya banyak deh, Opa jadi gak kebagian tau." Rajuk Opa Roy.
" Duh Opa, Udah sepiring di bilang belum dapat."
" Mana ada sepiring, lihat, Opa cuma dapat 5 biji."
" Nih, yang di bawah nasi apa?" Ujar Oma Shella yang mengaduk nasi Opa Roy dan menampilkan tumpukan jengkol.
Opa Roy menyengir dan seolah-olah tak pernah menyembunyikan rendang jengkol di bawah nasi nya.
Bunda Sasa menggelengkan kepalanya, untung saja sang suami sudah duluan menikmati rendang jengkol buatannya, jika tidak, bisa di pastikan Fatih, Opa Roy, dan Daddy Bara akan berebutan makannya, seolah sedang memperebutkan piala emas.
" Assalamualaikum ..."
Tanpa ada yang membukakan pintu, Papi Gilang langsung menyelonong ke ruang makan.
" Waaah, Gak berubah-ubah ..." Tegur Oma Shella.
Papi Gilang hanya menyengir, kemudian ia menoyor kepala Fatih, yang mana saat Papi nya datang, Fatih langsung memasukkan empat sekaligus rendang jengkol kedalam mulutnya.
__ADS_1
" Mi, Dad, " Papi Gilang mencium punggung tangan Oma Shella dan Daddy Roy.
" Hai besan" Tegurnya kepada Sasa, yang mana Sasa hanya menggeleng dengan tersenyum Berbeda dengan Raysa yang memutar bola matanya malas.
" Gak boleh gitu, cinta mati entar sama Fatih baru tau rasa. Kayak Bunda kamu ke Daddy."
Bunda Sasa melototkan matanya kepada Papi Gilang. Hingga semua orang yang ada di ruangan tersebut tertawa terbahak-bahak.
*
Raysa ikut mengantarkan keberangkatan Fatih.
" Aku ragu kamu bakal lulus polwan." Ujar Fatih yang sudah berdiri di hadapan Raysa.
" Doain itu yang bagus Napa, udah mau pergi tetep aja ngeselin." Rajuk Raysa yang sudah melipat kedua tangannya di dada.
" Habisnya kamu pendek banget. Cuma sebahu aku."
" Iih, Nyebeliin ..."
Fatih terkekeh, kemudian ia mengacak rambut Raysa dengan gemes.
" Aku bakal rindu dengan wajah jutek ini. "
Raysa berdecak kesal sambil merapikan rambutnya yang kusut. Fatih memandang wajah Raysa, matanya bagaikan kamera yang menangkap keseluruhan wajah Raysa, merekam semua gerak gerik serta ekspresi wajah Raysa, dan menyimpannya dalam memori ingatan.
"Fatih, Ayoo!! "
Fatih tersenyum kepada Raysa, kemudian ia menarik tubuh Raysa kedalam pelukannya. Raysa terkejut, tapi ia tetap membiarkan Fatih memeluknya.
"Jangan lupain aku." Ujar Fatih sebelum ia merelaikan pelukannya.
"Dan aku gak akan membiarkan kamu melupakan aku." Sambung Fatih sambil mengedipkan matanya.
" Bun, jagain calon makmum Aku ya ..."
Bunda Sasa memukul bahu Fatih pelan. "Selesaikan dulu kuliahnya."
"Iya Bunda."
Setelah berpamitan dengan semua orang, Fatih melihat kearah Raysa lagi, kemudian ia menarik sedikit rambut Raysa sehingga Raysa menjerit kesakitan.
"Sakit Fatihh ..." Kesal nya sambil memukul bahu Fatih sehingga sang empu meringis kesakitan.
Fatih terkekeh kemudian ia berpamitan kembali dan mengucapkan salam. Fatih sengaja menggoda Raysa sebelum ia berangkat.
Raysa merasa mata nya memanas saat melihat Punggung Fatih kian menjauh, hingga menghilang di balik pintu kaca itu. Dengan cepat Raysa mengusap bulir bening yang hampir terjatuh secara mulus di pipi nya. Tanpa Raysa sadari, jika Bunda Sasa dan Mami Mili memperhatikan dirinya.
*
Pagi ini Raysa mulai berlatih bersama Arash untuk mempersiapkan diri mereka untuk mendaftar menjadi abdi negara.
Arash ini sebenarnya berbeda satu tahun dengan Raysa, namun karena kepintarannya membuat Arash mengikuti jejak sang Abang, yaitu Veer.
"Arash jemput kesini?"
"Iya Bun, habis lari mau sekalian ke Dojo."
"Ooh, yaudah ... Salam buat Om Jodi ya."
"Iya Bun, Kemarin juga Om Jodi tanyain Bunda. Udah lama Bunda gak ikut latihan."
"Iya sih, udah lama banget Bunda gak ke Dojo, rindu juga ..."
Terdengar suara derum mobil di depan rumah
__ADS_1
"Sepertinya Arash udah sampai."
Bunda Sasa dan Raysa pun berjalan keluar menyambut kedatangan Arash.
"Assalamualaikum, Bun."
"Walaikumsalam."
"Oma sama Opa mana?"
"Biasalah, lagi kepingin jalan berdua ke taman."
"Mbak, tunggu." Teriak Ibra dari dalam.
Ibra berlari menghampiri Bunda Sasa, Arash, dan Raysa yang berada di teras. Raysa mengernyitkan keningnya melihat Ibra udah siap dengan pakaian olahraganya.
"Ikuut." Ujar Ibra sambil bergelayut manja di lengan Raysa.
"Biasa aja dek cara minta ikutnya, malu tau sama badan gede gini." Raysa mencubit otot perut Ibra.
"Biarin, Ibra kan gak cari cewek yang seperti Mbak, Ibra mau cari yang seperti Bunda, Yang selalu manjai beruang madu nya."
Bunda Sasa menggelengkan kepalanya, seringnya Daddy Bara bergelayut manja di depan anak-anaknya, membuat sang anak juga ingin memiliki pendamping seperti dirinya, yang selalu bisa memanjai diri mereka. Bahkan Opa Roy pun juga melakukan hal yang sama kepada Oma Shella. Intinya, pria-pria yang berbadan besar yang tinggal di dalam rumah Oma Shella ini, adalah pria-pria manja. Termasuk Rayyan dan Febrian.
Terlihat seorang kurir pengantar bunga berhenti di depan rumah.
" Permisi, saya mau mengantarkan buket bunga untuk Nona Raysa."
"Ya, saya sendiri."
"Silahkan tanda tangan di bawah ini."
Raysa pun menaburkan tanda tangannya, kemudian ia meraih sebuket bunga merah yang indah.
"Dari siapa?" Tanya Bunda Sasa.
Tak hanya Bunda, Arash dan Ibra pun penasaran dengan siapa sipengirim bunga.
"Semangat terus latihannya. Fatih."
"Cie ... Cie ... Cie ... " Seru Bunda Sasa, Ibra, dan Arash bersamaan.
"Apaan sih, Biasa aja kali ..." Tak urung, Raysa menyimpan senyumnya di dalam hati.
Selama dua Minggu ini, Raysa dan Arash selalu melatih diri mereka, untuk mempersiapkan diri dan mental mereka menjadi abdi negara. Dan tiga hari sekali buket bunga pun selalu dikirimkan oleh Fatih, untuk menyemangati Raysa.
Dan, Hari ini adalah hari yang di tunggu - tunggu oleh Raysa dan Arash. Hari pengumuman kelulusan mereka sebagai abdi negara.
"Raysaaaa ..."
" Araashh ..."
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1