
Bara menatap ponselnya, tidak ada panggilan atau pun pesan dari Lia. Biarlah, setidaknya dia sudah mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Lia. Tapi yang Bara harapkan adalah, pesan yang dikirimkannya ke mungil. Sudah 1 jam dia mengirimkan pesan, tapi tidak ada balasan dari mungilnya.
" Apa dia sudah tidur ya?"
Bara memandang beberapa foto mungilnya yang pernah di ambilnya diam-diam dari ponsel Sasa.
" Mungil, baru saja berpisah, tapi aku kok udah rindu ya?" Gumamnya.
Bara menatap foto Sasa sambil berbaring di tempat tidur, tak berapa lama matanya pun tertutup.
Hari dan Minggu terus berlalu. Hubungan Bara dan Sasa pun belum ada kemajuan. Bara masih sering memaksa Sasa untuk menemaninya makan siang, atau pun Bara sering makan malam di apartemen Sasa, jangan heran jika Sasa pulang, Bara sudah berapa di dalam apartemen nya. Bara menghafal password apartemen Sasa setiap dirinya membuka pintu.
Sasa pernah mengganti password apartemen nya, Bara pun sangat kesal, namun sifat Bara yang Egois, dan juga dengan beribu alasan, akhirnya Sasa memberitahukan password nya. Pastinya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Sudah beberapa kali Sasa dan Bara memergoki Lia berjalan dengan orang lain. Dan ekspresi Bara tetap sama. Sasa pernah bertanya, kenapa Bara tidak bisa memutuskannya. Tapi Bara tidak menjawabnya, dan Sasa terus saja mengatakan jika Bara adalah seekor beruang. Kalian ingat film Marsya? Gadis mungil dan seekor beruang, menurut Sasa, Beruang itu terlalu bodoh karena selalu saja bisa bisa di bodohi oleh gadis kecil tersebut.
Seperti hari ini, Bara mendatangi Sasa dan mengajaknya mencari hadiah untuk Baby Zein. Bara berdiri di hadapan Sasa, dengan cara menghalangi jalan Sasa.
" Mau kemana?" Ujar Bara sambil memasukkan tangannya di kantong.
" Ya mau pulang lah, udah sana minggir"
" Temenin saya cari hadiah untuk Zein"
" Kenapa gak pergi sama tunangan Lo aja sih"
" Udah ayokk" Bara menarik Sasa masuk kedalam mobilnya.
" Mbak Lia mana? kenapa gak pergi sama dia aja?" Tanya Sasa lagi saat sudah berada di dalam mobil.
Jangan di tanya kenapa Sasa langsung menurut tanpa perlawanan, karena pernah sekali Sasa menolak untuk ikut, namun tiba-tiba saja si Bara api sialan alias Beruang coklat pait ini menggendongnya dan memasukan nya kedalam mobil.
Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bara ingin meniknati setiap waktu bersama Sasa. Saat ini mereka tengah menuju ke suatu mall untuk membeli hadiah turun tanah Baby Zein.
__ADS_1
" Dia lagi ada urusan"
Sasa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bara memarkirkan mobilnya di basemen. Tiba-tiba saja Bara menghentikan gerakan Sasa yang ingin membuka seatbelt, dan memegang tengkuk Sasa seolah menciumnya. Dengan gerakan cepat tangan Sasa sudah berada di leher Bara, untuk mencekik pria itu, tidak, bukannya ingin mencekik, tapi Sasa sudah mencekik leher Bara. Mata mereka bertemu, Entah detak jantung siapa yang saat ini berdetak dengan cepat.
Bara memejamkan matanya, seolah menahan amarah yang ingin meledak. Sasa merasakan itu, melonggarkan cengkraman tangannya yang berada di leher Bara, dan melihat kearah luar. Betapa terkejutnya Sasa saat melihat Lia sedang bergandengan tangan dengan mesra dengan seorang pria. Tidak hanya bergandengan tangan, tapi mereka juga berciuman.
Kalian tau, bukan cium di pipi atau kening, melainkan bibir ketemu bibir. Yaa, Lia bersama pria yang saat itu Sasa lihat di restorant. Sasa kembali melihat kearah Bara. Hanya satu kalimat yang di ucapkan Bara membuat Sasa merasa iba.
" Dia selingkuh. Perjuangan ku selama ini tidak berarti apapun di matanya" Ujar Bara sambil menatap mata Sasa dengan dalam.
Setelah melihat mobil yang di masuki oleh Lia dan selingkuhannya itu pergi, Sasa mendorong tubuh Bara dengan kuat. Hingga Bara kembali duduk di kursinya semula. Sasa menatap Bara dengan kesal. Bara meraih tangan Sasa, dan meletakkannya di dadanya.
" Sa, kamu bisa rasain kan?. Jantung ini berdetak lebih cepat saat aku bersama kamu. Aku gak tau kapan ini di mulai, tapi saat pertama kali aku melihat kamu di meja kasir, jantung aku terus berdebar, dan aku terus memikirkan kamu"
Sasa menatap Bara dengan kesal dan tajam. Di tepisnya tangan Bara yang masih menahan tangannya untuk menyentuh dadanya.
" Gue bukan tempat pelampiasan sakit hati Lo"
Bara mengerjapkan matanya, dia seolah salah mendengar apa yang di ucapkan oleh Sasa barusan. Apa? Sasa mengira jika dirinya adalah tempat pelarian?. Tidak, Bara tidak bermaksud menjadikan Sasa pelariannya.
Bara bergegas turun dan mengejar Sasa.
" Sa, dengerin aku" Teriak Bara.
Sasa semakin mempercepat langkahnya. Bara mengejar Sasa dan menarik lengannya hingga mereka berhadapan.
" Sa, aku gak bermaksud membuat kamu sebagai pelarian. Aku pernah bilang sama kamu, jika jantung aku berdetak 3 kali lebih cepat saat aku berada di dekat seorang wanita, dan wanita itu kamu" Ujar Bara sambil memegang wajah Sasa dan menatap matanya.
Sasa menepis tangan Bara, dan menjauh. Tapi gerakan Sasa kembali terhenti karena Bara kembali menahannya.
" Sa, Kasih aku waktu buat buktiinnya. Aku mohon" Bara memelas kepada Sasa.
__ADS_1
Sasa membuang wajahnya kearah lain. Kemudian dia kembali menatap Bara.
" Lo ke sini mau cari kado buat Zein kan?"
Bara langsung menganggu-anggukan kepalanya.
" Ya udah, yukk." Sasa berjalan duluan meninggalkan Bara, Bara tersenyum dan langsung mengejar langkah Sasa.
Sasa tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap Bara, dan Bara langsung menghentikan langkahnya.
" Ingat, gue cuma temenin Lo buat cari kado. Jadi Lo jangan mikir macem-macem ke gue. Dan ingat satu hal, jangan harap gue balas perasaan Lo" Setelah mengatakan itu, Sasa kembali melangkahkan kaki nya memasuki mall.
Kesya Sibuk dengan membuat kue dan cake cup untuk para tamu yang akan datang. Kesya ingin membuatnya sendiri, walaupun sudah ada beberapa kue yang di kirim dari tokonya. Kesya juga meminta tolong kepada Sasa untuk membantunya.
" Sa, kamu tolong mixer ini ya" Kesya memberikan bahan yang sudah di timbang dan di satukannya.
Sasa meraih wadah yang di berikan Kesya tadi, dan mulai memixer bahan tersebut.
" Aduuh, anak kecil kok main listrik sih" Goda Mami Shella kepada Sasa.
" Ih Tante, Sasa udah besar kali" Ujar Sasa sambil tersenyum.
"Masa sih? Tapi kok masih kecil gini? Kiki sama kamu aja masih tinggian Kiki" Goda Mami shella sambil mengukur tinggi Sasa.
" Ihh Tante, bisa aja dech.. Gak pa-pa Tante aku kecil, yang penting aku Gesit"
" Ya sih, kamu ini kecil-kecil cabe rawit. lincah, ramah, Mami suka, kalo saja Bara belum punya tunangan, udah Mami jodohi sama kamu." goda Mami Shella, namun memiliki arti untuk yang mendengarnya.
Uhukkk uhukkk uhukk...
**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
salam SaBar ( Sasa Bara)