Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 2


__ADS_3

" Donor Darah"


Dengan Telaten Raysa membungkus tangan Fatih dengan menggunakan kain kasa. Setelah selesai mengobati tangan Fatih, Raysa pun menyimpan perlengkapan P3K tersebut. Namun, saat Raysa bangkit, Fatih menahan tangan Raysa, di genggamnya tangan yang mungil itu.


" Tak bisa kah kamu memberi ku peluang?" Tanya nya dengan wajah sendu.


Raysa tak melepaskan tangan nya dari genggaman tangan Fatih. Ia memandang wajah Fatih dengan intens.


Fatih berdiri, kemudia ia menatap wajah Raya, sehingga Raysa juga ikut menatap kedalam matanya. Raysa tak menemukan satu kebohongan pun di mata Fatih. Ia benar-benar melihat bagaimana Fatih tulus menyukainya.


" Jangan jawab sekarang, Lagi pula, Aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan hati kamu. Aku gak akan pernah menyerah."


Fatih mengacak rambut Raysa, kemudian ia berlalu untuk membantu Lana, Veer, dan yang lainnya. Raysa terdiam di tempatnya, Apa ia sejahat itu kepada Fatih? Padahal selama ini Raysa tak pernah memberikan harapan apapun kepada Fatih, lalu kenapa Fatih begitu mencintai dirinya? Padahal semua orang tau, siapa yang ada di hati Raysa. Raysa menghela napasnya, dan kembali melanjutkan pekerjaannya, tanpa Raysa sadari, jika ada sepasang mata yang memperhatikannya sedari tadi.


*


Raysa sedang mengepakkan pakaiannya untuk di bawa ke Bandung, di saat Bunda Sasa mengetuk dan masuk kedalam kamar nya.


" Apa Bunda mengganggu kamu?"


" Tidak, Masuk Bunda.."


Sasa pun masuk kedalam kamar Raysa.


" Bagaimana? Apa sudah selesai packing nya?"


" Sudah Bunda. Hanya tinggal masukin yang kecil-kecil aja."


Bunda Sasa meraih tangan Raysa, di genggamnya tangan halus itu.


" Kamu harus ingat semua pesan bunda dan Daddy. Jangan buat Bunda dan Daddy kecewa, Bunda dan Daddy sudah menaruh kepercayaan yang besar kepada kamu, jangan sia-sia kan itu. Oke?"


" Iya Bunda, Insya Allah Ica bakal jaga diri dan tidak keluar dari jalurnya."


Bunda Sasa tersenyum, dan memeluk tubuh Raysa.


" Oh ya, Bunda dengar Fatih juga ikut ke Bandung?"


" Iya, Kak Farhan juga mengajak Fatih semalam."


" Kamu gak suka jika Fatih ikut?" Ujar Bunda Sasa saat melihat wajah sang putri sedikit murung.


" Bukan begitu, Ica hanya tak ingin melihat Fatih semakin terluka, dengan melihat kedekatan Ica dan Kak Farhan."


" Fatih tidak akan terluka, lagi pula Itu adalah pilihannya sendiri."


Raysa tak menjawab ucapan Bunda Sasa, ia lebih memilih menunduk dan memilin bajunnya. Mungkin Bunda Sasa benar, Jika Fatih tidak akan terluka, namun saat kejadian semalam, Raysa merasa tak tega melihat Fatih terus berharap kepadanya. Raysa ingin Fatih berhenti menyukainya, tapi bagaimana caranya?


*


Raysa sungguh senang saat mengetahui jika Farhan membawa mereka ke Villa milik keluarganya. Sudah lama sekali Raysa ingin ke sini, karena mendengar cerita dari Farhan. Di villa ini, Raysa bisa keindahan alam yang jauh dari polusi udara, serta udara segar dan dingin yang menusuk kulitnya.


Raysa memeluk tubuhnya, hingga sebuah jaket menghangatkan dirinya. Raysa menatap punggung pria yang berlalu meninggalkannya setelah menyampaikan jaket miliknya untuk Raysa.


Raysa menghela napasnya, kemudian ia eratkan jaket itu ke tubuhnya.


" Kak Farhan bisa masak?" Tanya Desi yang berbinar menatap Farhan menunjukkan aksinya.


" Hanya beberapa menu saja." Ujarnya sambil tersenyum.

__ADS_1


" Ini masakan Kesukaan Ica, Aku yakin Kak Farhan pasti berusaha keras untuk memasaknya." Puji Desi, Raysa hanya tersenyum menanggapi ucapan Desi.


" Hanya merebus macaroni, apa susahnya." Gumam Fatih yang masih di dengar oleh lainnya.


" Sirik Lo, goreng telur aja gak bisa" Celetuk Desi yang juga akrab dengan Fatih.


Fatih hanya mencibir kemudia ia berlalu. Di keratkannya kain sarung yang ada di tubuhnya menutupi bagian atas tubuhnya.


Raysa menghela napasnya pelan, ia kemudian bangkit dan mengikuti Fatih. Fatih menoleh saat sebuah jaket menutupi tubuhnya.


" Kamu sendiri kedinginan, ngapain kasih aku jaket kamu?"


Fatih tersenyum dan mengembalikan jaket tersebut ke tubuh Raysa.


" Aku gak papa, Asal kamu gak kenapa-napa."


" Apaan sih, kamu bakal nyakiti diri kamu sendiri jika begini terus."


" Gak masalah, karena aku gak akan berhenti berjuang dan melindungi kamu. Aaw.." Fatih meringis saat perutnya di tonjok oleh Raysa.


" Kena pukulan gitu aja kamu udah kesakitan." Raysa berdecak kesal.


Fatih hanya menyengir sambil mengelus perutnya yang terasa eem... bisa dikatakan sakit, atau tidak. Hanya Fatih yang tau.


Raysa tak mengembalikan jaket yang di sampirkan oleh Fatih ke tubuhnya, karena itu akan menjadi perbuatan sia-sia, Karena Fatih pasti akan mengembalikannya lagi kepada Raysa.


" Ca, udah siap nih.. cepetan sini.." Panggil Desi.


" Masuk yuukk, mumpung masih hangat."


Raysa dan Fatih pun masuk kedalam rumah, dan ikut menikmati macaroni buatan Farhan bersama yang lainnya.


" Cobain deh.." Ujar Farhan kepada Raysa sambil menyodorkan buah asam manis tersebut.


" Gimana?"


" Seger, enak.."


Mereka pun bercengkrama tanpa memperdulikan sekitar. Yaah, orang jatuh cinta mah begitu, serasa dunia milik berdua, gak liat tetangga sedang merasa sakit di dada.


Setelah ke kebun strawberry, Farhan mengajak ke kebun teh, Farhan juga meminta Raysa mengunyah pucuk daun teh yang masih muda.


Tanpa terasa mendung pun tiba, hingga hujan membasahi mereka, dan membuat mereka terjebak di tengah kebun teh. Untungnya ada pondok di sana yang dapat menampung mereka semua.


" Gimana nih?" Keluh salah satu teman Farhan yang mulai ketakutan, karena hari pun semakin gelap dan hujan semakin deras.


" Tenang, jangan panik." Ujar Farhan.


Namun, gadis bernama Fera itu semakin panik saat terdengar suara Guntur. Ia refleks berlari sambil menutup telinganya, menghantam tetesan hujan yang membasahi bumi.


Raysa pun mengejar gadis bernama Fera itu, karena Raysa tau, jika Fera takut dengan suara Guntur dan akan berlari tanpa arah hingga dirinya merasa aman. Fatih dan Farhan langsung menyusul Raysa yang mengejar Fera.


" Aaaa..."


"Layca..." teriak Fatih


" Raysaaa.."


Fatih dan Farhan bersamaan mengejar Raysa yang tergelincir. Sedangkan yang lain tetap mengejar Fera DNA mencoba menenangkannya.

__ADS_1


" Layca...." Fatih memangku kepala Raysa yang sudah berlumur darah, karena kepala Raysa membentur batu dengan kuat.


" Layca.. bangun.." Teriak Fatih dengan air mata yang sudah bersatu dengan hujan.


*


Tit..tit..tit..


Hanya suara mesin yang terdengar di ruangan itu. Daddy Bara dan Bunda Sasa juga sudah berada di sana.


" Maaf Bunda, Fatih gagal jagain Ica." Fatih menundukkan kepalanya.


" Bukan salah kamu, pengorbanan kamu untuk menyelamatkan nyawa Raysa juga sudah sangat besar."


Fatih hanya tersenyum tipis, namun tetap saja dia merasa bersalah karena telah gagal menjaga Raysa untuk tetap baik-baik saja.


Gerakan tangan Raysa terlihat oleh Daddy Bara. Bunda Sasa langsung menggenggam tangan putri kesayangannya itu.


" Sayang, Bunda di sini."


" Bun-da." Lirihnya.


Raysa perlahan membuka matanya, di lihatnya satu-satu orang yang ada di ruangan tersebut. Ada Fatih dan Farhan juga di sana. Raysa mengalihkan perhatiannya kepada tiang infus. Terdapat kantong darah di sana, sepertinya Raysa mendapatkan donor darah.


Raysa alihkan pandangannya kepada Farhan.


" Terima kasih." Lirih nya.


semua yang ada di ruangan itu langsung diam membeku, Bunda Sasa langsung melirik kearah Fatih.


Fatih tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Bunda Sasa dan Daddy Bara serentak menghembuskan napasnya. Farhan melirik kearah Fatih, merasa tak enak dengan apa maksud tujuan Raysa.


Ya, Raysa berfikir jika Farhan lah yang mendonorkan darahnya untuk Raysa, karena Farhan memiliki golongan darah yang sama dengan Raysa. Maka dari itu, Raysa berfikir jika Farhan lah yang mendonorkan darahnya, tanpa Raysa tau kebenarannya.


*


" Fat, gue bakal bilang kalo Lo yang donorin darah untuk Raysa." Ujar Farhan kepada Fatih, di saat mereka sudah berada di taman.


" Jangan, gue gak mau Raysa merasa berhutang Budi karena gue donorin darah gue, untuk mendapatkan donor darah untuk nya."


" Tapi ini salah, gue gak mau bohongi raysa."


" Terserah sama Lo, yang jelas jangan katakan jika gue yang mendonorkan darah." Ujar Fatih dengan tatapan tajam dan dingin.


Fatih meninggalkan Farhan sendiri di taman, dengan kegalauan nya saat ini.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....

__ADS_1


__ADS_2