
Hari ini Bara mendapatkan kasus pembunuhan, yang mana dia harus memeriksa langsung ke TKP.
" Lapor Pak, menurut keterangan warga, korban adalah orang yang ramah dan tidak pernah memiliki masalah dengan siapapun." Ujar Andi memberikan laporan kepada Bara.
" Laporan di terima."
Andi memberikan hormat kepada Bara, dan melanjutkan tugasnya.
Bara dan Tim kembali ke kantor pada saat jam makan siang. Bara rasanya sangat pusing, kondisi tubuhnya belum benar-benar fit. Ah, jika sudah begini maka Bara sangat memerlukan mungilnya di samping, yang akan selalu menjadi Moodbaster dirinya.
Cekleek..
Bara terkejut saat melihat ada orang lain yang berada di dalam ruangannya.
" Ngapain kamu ke sini?" Ujar Bara dengan nada yang jelas-jelas tidak suka.
" Aku merindukan mu. Kamu sudah makan?, aku bawa makanan favorit kamu."
Bara melihat kearah makanan yang di bawa oleh wanita di hadapannya itu. Bara tersenyum miring, sebenarnya itu bukan makanan kesukaannya. Melainkan makanan kesukaan dari si wanita itu.
" Aku sudah kenyang." Bohong Bara.
" Aku menunggumu dari tadi, setidaknya temanilah aku makan."
" Maaf, Aku banyak kerjaan." Bara melewati wanita itu dan duduk di singgahsananya.
Wanita itu belum menyerah, dia mendekati Bara dan mengecup pipi Bara, saat Bara lengah.
" Apa yang kau lakukan?" Bentak Bara.
" Kenapa? Dulu kamu sangat suka jika aku cium." Wanita itu mencoba mencium bibir Bara dengan menangkup wajah Bara.
Bara menghentakkan kedua tangan wanita itu dan mendorongnya pelan.
" Lia, hubungan kita sudah berakhir. Dan aku sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap kami. Di hati aku hanya ada Sasa. Aku mencinta Sasa." Ujar Bara lantang.
Wanita itu adalah Lia. Lia berusaha mendekati Bara kembali, dan ingin membuat Bara kembali menjadi miliknya.
" Bara, aku tau kamu marah kepada aku. Dan aku tau, perasaan kamu itu hanya perasaan semu kepada Sasa. Dan aku yakin, Sasa hanya kamu jadikan pelarian."
" Kamu salah, Aku benar-benar mencintai Sasa. Jadi, sebaiknya kamu jangan pernah datang ke kantor ku, atau pun masuk dalan ruangan ku. Sebaiknya kamu pergi dari sini." Bara menunjuk kearah pintu.
" Kamu ngusir aku?"
" Ya, di antara kita sudah berakhir Lia. dan aku tidak akan pernah menikah dengan orang yang berani merendahkan wanita yang telah melahirkan aku."
" Baik lah, aku tau kamu saat ini sedang lelah. Lain kali kita membahasnya. Aku mencintai mu." Lia memberikan kecupan dari jauh.
Bara rasanya ingin muntah melihat tingkah Lia yang sangat murahan. Bara melihat keatas meja tamu nya. Makanan yang di bawa oleh Lia, masih ada di sana.
" Andi" Teriak Bara.
Andi dengan tergesa-gesa masuk kedalam ruangan Bara.
" Siap pak."
" Bawa semua makanan ini keluar."
" Mau di kemanain ini semua Pak?"
__ADS_1
" Terserah kamu. Mau kamu makan, kamu bagi-bagi, atau kamu buang sekali pun terserah kamu. Dan satu hal lagi, katakan kepada Dana untuk tidak membiarkan wanita itu masuk ke ruangan saya lagi." Titah Bara dengan amarahnya.
Andi merasa takut melihat kemarahan Bara, padahal kemarahannya tidak di tujukan kepadanya, akan tetapi aura Bara saat ini sangat menakutkan.
Andi dengan segera membawa keluar makanan yang di bawa oleh Lia. Dia melihat makanan itu, jika di buang sayang, lebih baik dia memakannya bersama teman-temannya. Toh, lagi pula Bara tidak peduli makanan itu mau di apain.
Ting..
Pesan masuk kedalam ponsel Bara. Bara yang tadinya kesal langsung tersenyum saat melihat siapa si pengirim pesan.
Mungil : Picture Nasi bakar.
Aku memasak ini tadi sebelum berangkat. Kamu mau?.
Me : Tentu mungil, rasanya perutku sudah tidak sabar untuk di isi oleh nasi bakar buatan mu.
Mungil : Aku kirim pake kurir ya.
Me : Aku akan ketempat mu. Tunggu di sana.
Mungil : Baiklah beruang madu ku. Aku menunggu mu. ♥️
Sasa menyematkan emo cinta. Membuat Bara tersenyum dan tergesa-gesa mengambil kunci mobilnya. Hingga membuat Bara melupakan Jaketnya.
Sasa menatap ponselnya sambil tersenyum.
" Cieee, yang baru kirim-kiriman pesan dengan pacaaar. " Goda Ara.
" Apaan sih kamu"
" Enak banget sih punya pacar. Gak kayak aku, jomblo." Ujar Ara sambil menatap Jodi yang tengah berbincang seru dengan Bela.
" Hah.. Tentu harus banyak sabar Mbak menghadapi manusia es itu. Pokoknya sebelum janur kuning melengkung, masih ada celah untuk Ara."
" Semangat pejuang cinta."
" Semangaatt"
" Apa nih yang semangat?" Bara menyampiri 2 gadis yang tengah memberikan semangat itu.
" Mas Bara." seru keduanya.
Sasa langsung memalingkan wajahnya saat melihat Bara. Bara mengerutkan keningnya, kemudian dia tersadar jika dirinya masih menggunakan seragam polisi.
" Maaf." cicit Bara.
Bara membuka seragamnya, dan menyisakan kaos pas body nya. Pelanggan wanita yang melihat tubuh sixpack Bara pun langsung menatap Bara dengan Lapar.
" Aku taruh bajuku ke mobil dulu ya"
Sasa menganggukkan kepalanya.
" Pusing Mbak?" Tanya Ara saat melihat Sasa memicit keningnya.
" Hmm. Sedikit"
Ara menuntun Sasa untuk duduk. Bara kembali dengan masih menggunakan kaos pas body nya.
" Waahh, mau pamer otot nih?" Goda Arka saat menuruni tangga.
__ADS_1
" Luka pake jaket."
Arka pun ber-o ria.
" Sasa mana?" Tanya Kesya.
Tak berapa lama Sasa keluar, dengan keadaan yang sedikit pucat.
"Sempat liat Mas pake seragam tadi" Ujar Bara saat melihat Kesya mengerutkan keningnya menatap Sasa
" Oohh"
" Mungil, mana nasi bakarnya?"
" Nasi Bakar?" Tanya Kesya.
Emang lah bumil ni, pantang dengar makanan langsung bereaksi perutnya.
" Iya Mbak, tadi aku sempatin masak nasi bakar. Mbak mau? kebetulan aku bawa lebih."
" Mau dong. Rejeki gak boleh di tolak." Ujar Kesya.
" Sayang, tapi katanya mau makan nasi Padang?" Ujar Arka.
" Lain kali aja deh Mas, aku penasaran dengan Nasi bakar buatan calon kakak ipar ku ini."
Bluusss...
Bos cantiknya ini bisa aja membuat Sasa jadi salah tingkah.
Arka, Kesya, Bara, Sasa, dan Ara pun makan bersama. Kesya langsung mengagumi aroma nasi bakar yang menguat saat Kesya membuka bungkus daun pisangnya.
" Wuaaahh... Nikmat mana yang kau dustakan"
Kesya menyendokkan nasi bakar tersebut.
" Eeeuummm, ini enak banget Mbak Sa. Kamu jago juga ya ternyata masaknya."
" Makasih Mbak pujiannya, tapi sebenarnya ada yang lebih jago dari aku sih."
" Siapa?" Tanya Ara dan Kesya serentak.
Sasa menunjuk Bara dengan matanya.
" Ooh, kalo Mas Bara sih emang jago dia masaknya. Mbak Vina aja kalah. Tapi, kalo urusan masak yang beginian, Mas Bara mana bisa." Jelas Kesya.
" Bisa, kalo di ajarin sama kamu mungil. Tapi, sebaiknya gak usah belajar deh. Biar kamu aja yang masak. Aku masak yang lain." Bara mencuil dagu Sasa.
" Iihh, So sweet banget sih. Nasib banget gue duduk di antara pria bucin ini. Ya Tuhaaan.. Jadikanlah Bang Jodi juga ikut Bucin kepada ku. Amiin.." Ujar Ara kuat-kuat agar Jodi juga mendengarnya. Tapi bukan Jodi namanya, jika memperdulikan ucapan Ara. Jodi hanya menganggap semuanya angin lalu.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..
salam SaBar ( Sasa Bara)
__ADS_1