Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 71 " Menghadap"


__ADS_3

Sasa menatap berkas yang ada di hadapannya. Uang tabungannya di gunakan untuk membayar orang mencari informasi tentang Daddy Roy dan Bara.


Sasa menutup mulutnya, air matanya terus jatuh tanpa bisa dia cegah. Kenapa semua orang menutupi masalah ini. Lia benar, jika dirinya pembawa sial bagi keluarga Bara.


" Apa yang harus aku lakukan? hikss.."


Sasa mendengar pintu terbuka, dengan cepat Sasa menyembunyikan semau berkas di atas meja kebawah sofa.


" Mas"


" Kamu kenapa mungil?" Bara langsung melangkahkan kakinya besar dan memeluk Sasa.


" Kamu kenapa hmm? Kenapa menangis?" Bara menangkup pipi Sasa, dan menghapusnya.


" Hikss... " Sasa memeluk tubuh Bara. Perlahan tangan Sasa yang berada di punggung Bara memukul punggung Bara.


Bara terkejut saat Sasa memukul punggungnya.


" Kamu jahat.. hiikkss.. kamu bohongi aku..hikss..kamu jahaat.. hikks... kamu buat aku orang terjahat Mas.. hikksss"


Bara tidak mengerti apa yang di maksud Sasa.


" Mungil, kamu tenang yaa! Cerita sama Mas, mas salah apa?"


Sasa melerai pelukannya. " Mas bohongi aki. Mas bilang Mas cuti, tapi Mas di scors kan gara-gara aku. Kenapa Mas bohong? Kenapa Mas? Hiikkss.. " Sasa sudah berjongkok dan mengubur wajahnya di sela lututnya.


" Mungil.. Kamu.. kamu tau dari mana?" bara menyamakan tingginya, dan memegang pundak Sasa.


" Jawab jujur Mas. Apa keluarga Mas ijut terseret karena kesalahan aku?"


" Mungil, aku gak ngerti maksud kamu apa. sini, duduk sini." Bara membimbing Sasa untuk duduk di sofa, Sasa menurut.


" Siapa yang bilang Mas di scors?"


" Ada, Mas Gak perlu tau"


" Mungil"


" Jawab aja Mas pertanyaan aku. Kamu di scors gara-gara aku? Terus keluarga kamu juga ikut di curigai gara-gara aku? Dan Daddy Roy juga kenak imbasnya gara-gara aku? Hingga toko Kesya dan Mami Shella? Jawab Mas. Aku mau Mas jujur sama aku." Sasa menghapus Ari matanya dengan kasat saat kembali terjatuh.


Bara menatap wajah Sasa, ragu ingin menceritakan atau tidak. Tapi sepertinya Sasa sudah mengetahuinya. Tidak ada pilihan, Bara harus jujur.


" Mungil, Aku saat itu memang di scors, tapi bukan karena kamu. Karena salah aku sendiri, aku yang tidak mengikuti prosedur dan memukul salah satu oknum polisi."


" Tapi kamu memukul dia karena aku kan Mas?"


" Mungil, jangan salahi diri kamu. itu murni kesalahan aku. Saat itu aku khawatir sama kamu, fikiran ku buntu sebelum mendapatkan kabar kamu."


" Kenapa Mas Bohong?"


" Karena aku gak mau kamu semakin sedih waktu itu."


" Lalu, bagaimana dengan keluarga Mas? Mami, Kesya, Daddy?"


" Toko Kesya memang ada yang melempari dengan telor, tapi semua nya sudah clear. Dan masalah Daddy, itu juga salah paham. Itu sering terjadi jika ada orang yang gila dengan kedudukan dan pangkat. Nama Daddy juga sudah bersih, bahkan orang yang menyelundupkan uang pun sudah tertangkap."


" Lalu Mami?"


" Tidak ada seorang ibu yang tidak khawatir dengan keluarganya. Bagi Mami, kamu itu anaknya, calon menantunya. Jika kamu salah, maka Mami tidak akan membela, tapi karena kamu tidak bersalah, Mami akan membela kamu sampai kapanpun."


" Tapi keluarga Mas sudah mendapatkan Malu karena aku."


Bara kembali meraih tubuh Sasa. " Gak mungil, semua bukan salah kamu. Semua sudah suratan takdir. Jangan pernah menyalahkan diri kamu."


" Mas, hikkkss.. Aku gak pantas buat Mas, sebaiknya Mashhmmppp"


Bara membungkam mulut Sasa dengan ciumannya.


" Jangan pernah mengatakan jika kamu tidak pantas untuk aku. Aku yang lebih tau perssaan ku, jadi aku bisa menilai kamu pantas atau tidak nya. Jangan pernah dengarkan perkataan orang, kamu harus dengarkan katanhatinkamu mungil. kamu mencintai aku, dan aku mencintai kamu. Kita saling mencintai mungil, jangan pernah bilang kamu tidak pantas untuk aku. Jangan pernah." Bara mengubur kembali Sasa kedalam pelukannya.


Seperti biasa, Sasa masih aktif di toko Kesya, walaupun tak seaktif biasa karena sibuk mengurus pernikahannya yang di percepat oleh Bara.


" Mbak jadi ke kantor Mas Bara?"

__ADS_1


Sasa menoleh kearah Bos cantiknya yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya.


" Iya Mbak"


" Mbak gak pa-pa?"


" Nanti coba pakai kacamata hitam aja"


" Kapan terakhir Mbak Konsul?"


" Udah lama sih, sebelum kejadian__"


" Sayang" Arka datang dan menyapa sang istri.


" Mas, kok tumben cepet ke sininya?"


" Kebetulan rapat dekat sini, jadi Mampir aja. Ara Mana? udah pergi kursus?"


" Udah "


Tak berapa lama Bara datang.


" Ar, Key."


" Mau ke mana nih?" Tanya Arka.


" Mau bawa calon binik menghadap"


Arka pun ber-o ria.


" Udah siap mungil?"


Sasa menganggukan kepalanya. Entah kenapa Sasa tidak yakin dengan pernikahan ini, apa lagi saat dia mengetahui tentang Bara dan keluarganya yang mendapatkan masalah karena dirinya.


Sesampainya di kantor polisi, Sasa mengatur napasnya. Mengikuti saran dari dokter saat dirinya sedang terapi sebelum mereka tiba di kantor Bara.


" Kamu siap?" Tanya Bara lagi.


Bara menggenggam tangan Sasa dengan sayang, menyalurkan kekuatan dan ketenangan di sana.


" Pusing?" Tanya Bara saat melihat Sasa memicit sedikit keningnya saat Bara beberapa kali berpas-pasan dengan teman seangkatannya.


" Hmm, tapi gak apa kok" Sasa tersenyum agar tidak membuat Bara kecewa.


" Kalo kamu pusing, kita balik lain kali aja'


" Nanggung Mas, udah di sini jugaa"


Sasa meremas tangannya sendiri saat di hadapkan oleh komandan Bara. Komandan sudah mengetahui keadaan Sasa, jadi komandan sudah memakai jaket untuk berhadapan dengan Sasa.


" Jadi, kamu sudah tidak perawan lagi?"


Ya ampun, apalah ni komandan, kenapa harus pertanyaan itu pula yang keluar. Minta di cabe tu mulut.


Sasa menganggukkan kepalanya. Wajahnya sudah tertunduk.


" Gak masalah, ini bukan salah kamu. Baiklah, kamu tidak tamat SD? Apa kamu pernah sekolah?"


" Hanya sampai kelas 5, "


Komandan menganggukkan kepalanya, " Hobi kamu?"


" Memasak."


" Waah, kamu bisa ikut aktif di bhayangkari."


"insya Allah pak?"


Tidak hanya Bara dan Sasa yang ikut menghadap sebagai calon pengantin, tapi ada beberapa pasang calon pengantin lain.


" Bar, Lo kok mau sih bekas punya?" Seorang perwira polisi tertawa mengejek Bara.


" Apa urusannya dengan Lo? Kayak calon Lo masih utuh aja"

__ADS_1


Terlihat pria yang bernama Heri itu mengepalkan tangannya.


" Lo kalo ngomong gak usah asal nuduh" Terlihat pancaran emosi di wajah Heri.


" Lo jual, gue beli. Mau apa Lo. Kayak gue gak tau aja sepak terjang Lo dengan calon binik Lo"


" Brengsek Lo. Setidaknya cuma gue yang nyentuh dia. Dan Lo, malah bekas orang. Dan gue rasa bukan cuma sama satu pria, tapi banyak pria, secara dia mantan preman yang mungkin saja__"


Buuggh..


Satu pukulan mendarat di pipi Heri.


" Anjr***t Lo bangsat" Heri ingin membalas pukulan Bara, tapi gerakan Bara lebih cepat dari pada Heri.


" Mas, udah Mas" Sasa mencoba menahan lengan Bara, namun Tenaga Sasa tidak sekuat Bara. Sasa langsung memeluk tubuh Bara untuk menghentikannya.


" Cukup Mas, cukupp"


" Ada apa ini?" Suara bariton yang terdengar sangat tegas, dan Sasa baru saja bertemu dengan pemilik suara tersebut. Dia adalah komandan Bara.


" Kalian berdua, keruangan saya. Dan kamu Joko, masuk sebagai saksi."


Dengan wajah yang masih memendam amarah, Bara menatap tajam kearah Heri, begitu pun dengan Heri yang sudah babak belur.


" Jelaskan kepada saya" Tanya Komandan.


Bara dan Heri saling melirik. Kemudian Bara membuka suara, mengatakan jika Heri dualuan menghina calon istrinya.


Sedangkan di luar ruangan. Calon istri Hero menatap tajam kearah Sasa.


" Seharusnya Lo Malu, udah gak berpendidikan, bekas orang, sekarang malah berharap bisa menjadi istri seorang Perwira."


Sasa diam, tidak ingin menanggapi ucapan wanita itu yang entah siapa namanya.


" Hei, Lo tuli dan buta ya. Mendung gini Lo pake kacamata hitam segala, banyak gaya amat si lo. Dasar orang kampung dan tidak berpendidikan."


" Yuli, mulut Lo bisa di rem gak sih."


Sasa melirik kearah wanita yang sedari tadi duduk diam saat Bara dan pria bernama Heri tadi berantam.


" Apaan sih, gue gak ngomongin Lo"


" Lo bisa gak, kalo gak ngehina orang? Sombong banget sih Lo, Lo gak tau aja apa pangkat Bara. Jika Lo tau, diam dan kucur Lo"


" Gue tau, dan gue yakin ni cewek pasti merayu Bara dengan tubuhnya."


Sasa mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya dia melayangkan tinjunya.


" Alah, kayak Lo gak aja. Lo sendiri rela tidur sama Heri biar bisa hamil anaknya dan lo bisa kawin dengan dia"


Ya, hubungan Heri dan Yuli memang sudah terkenal di kalangan polisi, Bahkan Yuli dan Heri sering berlibur bersama dan menginap di kamar yang sama. Terlepas dari apapun profesi mereka, gak jauh-jauh dari yang namanya kebutuhan biologis. Hanya pria yang benar-benar menghargai wanita saja yang enggan untuk menyentuhnya lebih.


" Brengsek Lo"


Wanita yang bernama Yuli itu pun melayangkan tangannya kearah wanita yang membela Sasa tadi. Namun Yuli semakin kesal saat Sasa menahan tangan Yuli dan mengempaskannya dengan kuat hingga Yuli meringis kesakitan.


" Jangan main kasar, kalo Lo gak mau di kasari."


" Perempuan rendahan, murahan, dan gak berpendidikan kayak Lo lebih baik diem"


" Oh yaa, sesama perempuan murahan sebaiknya kamu juga diam. Dan jangan membuat aku marah dan melakukan sesuatu yang.. Yaahh, bisa dikatakan akan membuat sebuah kenangan di pipi Lo" Sasa mengucapkannya sambil berbisik di telinga Yuli.


Seketika Yuli bergetar dan merasa takut dengan ancaman Sasa, apalagi nada bicara Sasa terdengar sangat dingin dan menyeramkan.


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..


salam SaBar ( Sasa Bara)

__ADS_1


__ADS_2