
Sasa merenung hingga tanpa di sadari olehnya jika air liurnya sampai menetes.
" Eh,... ya ampun.. " Sasa melap air liurnya dengan tisu.
" Kenapa Sa?" tanya Mami Shella yang melihat Sasa sedang membersihkan bibirnya.
" Ini Mi, tadi Sasa melamun, kefikiran sama buah cempedak, sampai gak sadar kalo Sasa encesan."
" Ya ampun, segitu pinginnya yaa?"
" Iyaa Mi. Gak tau kenapa, padahal Sa kurang suka sih buahnya."
Mami Shella menghela napasnya, kemudian mencoba menghubungi Daddy Roy, untuk mencari buah cempedak tersebut.
.
.
Bara berjalan gontai, karena tidak mendapatkan apa yang di inginkan oleh mungilnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Bara sengaja sepulang kerja, dirinya menyempatkan untuk mencari buah cempedak tersebut.
" Assalamualaikum."
" Walaikumsalam," Sasa menyambut kepulangan sang suami. Tak lupa pula Sasa mengecup punggung tangan Bara.
" Maaf ya mungil, tadi aku udah cari lagi buahnya, tapi kata penjualnya gak ada. Karena bukan musimnya."
Mata Sasa langsung berkaca-kaca, tapi Sasa bertahan agar tidak menjatuhkan air mata tersebut. Tidak ingin membuat sang suami merasa kecewa karena tak berhasil mendapatkan apa yang di inginkan Sasa.
" Gak papa Mas."
" Gak papa kok mau nangis gini sih? " Bara menangkup wajah Sasa dan mencium kedua matanya.
" Hikkss, maaf yaa. buat kamu susah Mas. hIks.." Sasa langsung memeluk tubun Bara.
" Iya sayang, gak papa kok. "
" Wah, mesra-mesraan gak liat tempat." Ujar Daddy Roy yang juga baru saja pulang kerja.
" Daddy kok telat pulangnya?" Tanya Bara yang sudah merelaikan pelukannya dengan Sasa.
" Iya, menantu Daddy ini masih ngidam cempedak yaa. Tadi Mami suruh Daddy buat cariin, tapi Maaf ya, Daddy gak menemukan buah tersebut.'
" Hikkss, Daddy ikutan nyari buah cempedak?" Tanya Sasa.
" Iya sayang, demi cucu Daddy." Daddy Roy membelai kepala Sasa.
" Makasih Daddy."
" Iya sayang, besok kita cari lagi yaa.."
" Cari apa?" Vina yang menggendong Zein pun ikut nimbrung.
Zein langsung meminta untuk di gendong oleh Sasa. Sasa pun langsung mengambil alih Zein dari gendongan Vina.
" Mbak Sa kok nangis? kenapa?"
" Ini, Sasa lagi ngidam buah cempedak. Daddy sama Mas mu ini sudah keliling cari buah tersebut, tapi gak ketemu juga."
" Kan gak musimnya."
" Nah itu dia.. "
" Ya udah, ntar aku minta Mas Vano buat bantu nyariin."
" Ehh, jangan, ntar malah nyusahin."
"Aduuh, kayak siapa aja sih. Lagian waktu aku hamil Naya, aku juga sering nyusahi Mbak dan Mas Bara kok. Namanya juga kita saudara, harus saling tolong menolong."
Sasa merasa hatinya menghangat, betapa beruntungnya Ia berada dalam lingkaran keluarga yang sangat baik dan harmonis.
__ADS_1
.
.
Berita ngidamnya Sasa sampai ke telinga Arka dan Kesya, Leo dan Anggun, Fadil dan Puput, Gilang dan Mili, juga Om Nazar dan Tante Rosa. Bahkan Kakek Farel pun juga ikut mencari di mana keberadaan buah cempedak tersebut.
" Hiikkss, Sa gak nyangka deh. Semoa orang baik banget Mas. Sampai rela bantuin nyari buah tersebut." Sasa terharu saat mendengar Kakek Farel mengutus orang suruhannya untuk mencari buah cempedak.
Sasa merasa dirinya bukan siapa-siapa, sehingga sangat terkejut dan terharu di perlakukan sedemikian spesial oleh semua orang.
" Itu pertanda bahwa kami semua sayang sama kamu, mungil ku.."
" Iya Sa, kami sayang kamu. Seperti halnya kamu menyayangi kami dengan tulus."
" Hikkss, makasih Mi, Dad, Key, Vin, Om, Tante, dan semuanya.. hikss.. Sasa benar-benar sangat beruntung berada di kelilingi orang baik seperti kalian semua."
" Iyaa, udah dong.. Jangan nangis lagi, ntar dedek bayinya cengeng loh.."
" hIks, Sa gak mau nangis, tapi air matanya keluar sendiri. Sa gak bisa tahan air matanya buat gak keluar.. Huaa..."
Semua orang tersenyum melihat keunyuan Sasa yang seperti anak kecil. Dan melihat betapa siaganya Bara menjadi seorang suami dan juga calon ayah dari buah hati mereka.
.
.
Sudah 4 hari sejak Kakek Farel mengutus orang-orangnya, hingga sebuah keluarga yang berada di Kalimantan mengatakan jika di rumahnya ada pohon cempedak yang sedang berbuah. Keluarga Kharda pun memberikan 7 buah cempedak, karena memang hanya satu pohon yang berbuah, dan buah nya tidak terlalu banyak. Di karenakan memang bukan musimnya.
" Mungil, Ada kabar baik?"
" Apa Mas?"
" Kakek Farel menemukan buah cempedaknya din alimantan. Di pohon yang tumbuh di halaman keluarga Kharda."
" Benarkah? "
" Iya, saat mereka mendengar kamu mengidam buah cempedak hingga berhari-hari, mereka langsung memberikan buah tersebut."
" Amin.."
.
.
Sasa tidak sabar lagi menunggu kedatangan buah cempedak tersebut. Ara yang sedang berkunjung kerumah Daddy Roy pun sampai menggelengkan kepalanya.
" Mbak, duduk aja nape?"
" Iyaa, tapi Mbak beneran gak sabar Ra, kok nyampenya lama banget ya?"
Ara memutar bola matanya, baru 3 menit yang lalu orang suruhan Kakek Farel mengatakan jika mereka baru saja tiba di bandara, dan butuh waktu sekitar 2 jam untuk tiba di rumah Daddy Roy.
"Masih lama Mbak sampeknya, udah sini.."
Sasa pun akhirnya menurut dan duduk di sebelah Ara.
" Kamu gimana? udah isi?" Tanya Sasa.
" Belum mbak, lagian Bang Jodi maunya aku fokus dulu kekursus aku. Bentar lagi kan ada lomba karya desain baju gitu Mbak, jadi aku ikut."
" Mbak yakin, pasti kamu menang."
Tak berapa lama Bara pulang, "Assalamualaikum"
Sasa yang berfikiran jika itu adalah orang suruhan Kakek Farel langsung bersemangat untuk menyambutnya.
" Walaikumsalam, " Wajah Sasa langsung berubah sendu. " Kirain buah cempedaknya.."
" Jadi kedatangan Mas gak membuat kamu bahagia? hmm?" Bara mencuil hidung Sasa.
__ADS_1
" Gak gitu Mas, tapi kan aku dari tadi nungguin loh.."
" Baru 20 menit yang lalu di kabari jika mereka sampai di bandara Mas." Adu Ara.
" Ooh, masih lama itu sayang, sabar yaa.."
" Iya Mas."
" Kamu tumben di sini? Jodi Mana?"
" Bang Jodi ntar kan ke sini bareng Mas Arka dan Mbak Kesya. Jadi ntar aku pulangnya bareng suami aku dong. Lagian aku juga pingin makan buah cempedak. Bolehkan mbak Sa?'
" Iya boleh."
.
.
Buah yang Sasa tunggu-tunggu pun tiba, Sasa bersorak gembira melihat buah cempedak tersebut.
" Mas, enak banget wanginya."
Bara menahan mualnya, aroma buah cmeoedak menusuk indera penciumannya, Bara gak suka.
" Waah, ini pasti manis banget."
" Buah cempedak memang gini ya Mbak?" Tanya Ara.
" Iya, kamu gak pernah makan?"
" Gak pernah, bahkan ini pertama kalinya aku lihat buah cempedak loh.."
" Cicipi deh, enak banget."
Sasa mengambil satu biji buah cempedak, dan memasukkannya kedalam mulut.
" Emm, manis banget."
" Mirip buah nangka, tapi beda ya Mbak, rasanya juga beda. Enak"
Sasa dan Ara mencomot buah tersebut, sedangkan Mami Shella, Daddy Roy, Arka, Kesya, Vina, Vano, Om Bram, Tante Mega, Tante Rosa, om Nazar, Jodi, dan juga Duda melihat dua wanita yang umur dan tingginya berbeda, namun terlihat seakan mereka berada di usia yang sama.
Jika kalian bertanya dimana Bara? Setelah membukakan buah cempedak itu untuk istri tercinta, Bara langsung berlari ke kamar mandi, memuntahkan apa yang ada di dalam sana. Bara mual mencium bau cempedak, padahal dulu Bara biasa aja dengan aroma yang kuat dari buah cempedak tersebut.
" Nikmat banget kayaknya." Ujar Vina.
" Iyaa, yukk nimbrung.." ajak Kesya.
Arka yang memang tidak suka dengan buah yang mengeluarkan aroma bau, langsung saja memilih tempat aman. Setidaknya Cempedak tak sebau Durian, yang sangat menyengat.
Dalam sekejap pun, buah tersebut ludes habis dan hanya menyisakan biji dan kulitnya, karena di makan secara bersama-sama.
Leo dan Anggun yang datang terlambat pun juga dapat mencicipi Buah tersebut.
" Eh, bijinya jangan di buang.." Ujar Sasa.
" Untuk apa?"
Semua menatap Sasa heran, namun Sasa hanya tersenyum manis.
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA...
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....