Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Raysa VS MR. F - 107


__ADS_3

Indonesia, tanah airku tercinta.


Raysa bernapas lega saat pesawat telah mendarat dengan mulus. Pasalnya saat di atas awan sana, sempat terjadi trouble yang mana membuat Raysa terus saja memeluk Fatih.


Raysa juga menangis hingga sesenggukan karena rasa takutnya. Tak hanya Raysa, Bunda Sasa juga merasakan hal yang sama.


"Lega?" tanya Fatih yang sedari turun dari pesawat enggan untuk melepaskan genggaman tangannya dari Raysa.


"Hmm, tapi masih gemeteran." ujar Raysa dengan suara yang bergetar.


Fatih tau, karena Fatih dapat merasakan pergerakan tangan dan tubuh Raysa yang bergetar. Untung saja Raysa tak sampai pingsan karena hal tersebut.


Supir pun datang untuk menjemput mereka. Raysa dan Fatih pun memilih untuk pulang kerumah Papi Gilang.


Daddy Bara merengut kesal, karena Raysa memilih untuk pulang kesana. Sebenarnya bukan tanpa alasan mereka memilih pulang kerumah Papi Gilang. Alasan yang utama adalah karena sikembar sedang sakit. Dan jika salah satu dari mereka sakit, maka yang satunya akan ikut sakit juga.


Fatih memilih pulang karena jika Fatih berada didekat mereka, maka sikembar pun akan cepat sembuh. Dan sudah bisa dipastikan, jika sikembar sakit karena merindukan Abang satu-satunya itu.


Dengan berat hati Daddy Bara melambaikan tangannya kedalam mobil Raysa dan Fatih. Barulah Daddy Bara masuk kedalam mobil jemputan mereka.


*


"Ayoo masuk, sekarang rumah ini juga rumah kamu," ujar mami Mili sambil merangkul lengan Raysa.


"Iya, Mi."


Raysa pun mengikuti langkah Mami Mili masuk kedalam rumah.


"Kalo mau langsung istirahat, langsung aja ya kekamar Fatih. tau kan kamarnya yang mana?" tanya Mami Mili.


Walaupun Raysa tak pernah masuk kedalam kamar Fatih, tetapi Raysa tahu yang mana kamar Fatih. Kamar Fatih terletak dilantai dua dan berada disebelah kiri dari tangga. Raysa tahu karena sering memerhatikan Fatih keluar dan masuk dari arah sana.


"Iya, Mi. tapi Ica mau tengokin sofi dan Stevan dulu boleh?"


"Sebaiknya bersih-bersih dulu ya, ganti baju dulu, kita kan baru dari luar negri. Takutnya bawa virus untuk mereka." ujar mami Mili dengan lembut.


"Oh iya, Ica lupa. Maaf Mi," Raysa pun menyengir dengan rasa bersalah.


"Gak papa, Mami tau kalo kamu khawatir dengan mereka."


Setelah kembali mendapatkan mandat dari sang Mami, Raysa pun naik kelantai dua menuju kamar Fatih.

__ADS_1


Sedangkan Fatih?


Fatih sedang mengeluarkan koper dan juga oleh-oleh yang mereka bawa bersama Papi Gilang.


Yah, walaupun ada asisten rumah tangga yang akan membawa barang-barang tersebut, tetap saja kan harus dipantau. karena ada barang pecah belah disalah satu bawaan mereka.


*


Jantung Raysa berdebar cepat saat sudah berdiri didepan pintu kamar Fatih. Wajahnya pun bergerak membentuk sebuah senyuman dibibirnya.


Dengan jantung yang masih berdegup kencang, Raysa mengulurkan tangannya untuk membuka pintu kamar Fatih.


Ceklek ...


Aroma maskulin yang khas mik Fatih pun langsung menyambut kehadiran Raysa. Raysa melangkahkan kakinya perlahan masuk kedalam kamar dan meneliti seluruh kamar Fatih.


Kamarnya sungguh luas, bahkan lebih luas dari dua kali kamar miliknya.


Mata Raysa begerlya melihat semua isi dan perabot kamar Fatih, sehingga mata Raysa berhenti menatap sebuah foto besar yang terpampang dengan jelas diatas tempat tidur yang berukuran king size tersebut.


Mata Raysa semakin berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika Fatih meletakkan foto tersebut diatas ranjang miliknya.


Foto yang sangat indah, foto masa kecil mereka yang mana Fatih menghapus air mata Raysa, dan Raysa tersenyum dengan sangat cantiknya disana. Foto favorit bagi Raysa, dan ternyata juga menjadi hal yang sama bagi Fatih. Bahkan Fatih membuat Foto itu semakin spesial, berbeda dengan dirinya yang hanya berani memandang foto itu secara diam-diam.


*


Fatih yang baru saja selesai menjadi mandor pun langsung bergegas berlari menuju kamarnya. Ia sudah bisa menebak jika sang istri pasti berada didalam kamarnya saat ini.


Saat Fatih sampai didekat kamrnya, Fatih mengernyit karena pintu kamarnya terbuka begitu saja, Fatih pun berjalan dengan perlahan dan mendapati Raysa yang sedang menatap foto masa kecil mereka.


Sudut bibir Fatih pun terangkat membentuk sebuah senyuman. Dengan perlahan Fatih berjalan mendekati Raysa, dan langsung memeluk Raysa dari belakang.


"Apa yang kamu lihat?" bisik Fatih ditelinga Raysa, yang mana membuat Raysa terkejut.


"Abang" seru Raysa.


"Kamu suka?" tanya Fatih yang juga sudah memandang kearah foto masa kecil mereka.


"Hmm, Fotonya sangat cantik."


"Orang yang didalam foto itu itu juga sangat cantik." ujar Fatih.

__ADS_1


"Dan laki-laki kecil menyebalkan itu juga terlihat sangat tampan."


Raysa dan Fatih pun terkekeh. Fatih membalikkan tubuh Raysa menghadap kearah nya. Fatih menghapus air mata Raysa Yang sudah membasahi pipi. Raysa pun tersenyum dan menggenggam tangan Fatih yang ada di wajahnya.


"I love you, Abang." bisik Raysa dan kemudian menempelkan bibir mereka.


Fatih pun dengan senang hati membalas ciuman Raysa dengan tak kalah panasnya. Tanpa mereka pedulikan jika pintu kamar itu tertutup atau terbuka, terkunci atau tidak. Mereka terus saja saling bersilat lidah seolah-olah menunjukan siapa yang paling jago dalam berciuman.


"Ya Allah, Fatih, Ica." pekik Mama Mili yang masuk kedalam kamar mereka.


Raysa dan Fatih pun langsung memisahkan diri mereka berdua cepat dengan napas yang ngos-ngosan.


"Mami, ke-kenapa main masuk-masuk aja sih ke kamar orang?" protes Fatih dengan napas yang masih ngos-ngosan.


"Kalian ini ya, kalo mau buat anak itu, pintunya tolong ditutup, kalo perlu dikunci. Gak tau apa kalo dirumah ini ada dua anak gadis Mami yang masih dibawah umur?" ujar Mami Mili yang mana dari perkataannya mewakili bahwa pintu kamar Fatih tak tertutup, maka dari itu Mami Mili bisa masuk dengan sangat mudah nya sehingga disuguhkan dengan pemandangan yang sangat aduhai.


"Eeh, eng .. itu ... Maaf Mi, khilaf.. kirain tadi pintunya bisa ketutup sendiri," ujar Fatih sambil menyengir.


Mami Mili pun memutar bola matanya malas mendengar jawaban Fatih.


"Ya sudah kalo begitu, lanjut lagi buat cucu untuk Mami, biar Mami yang tutup pintunya."


Dan detik selanjutnya Mami keluar dengan menutup pintu kamarnya. Raysa menghembuskan napas lega, wajahnya sudah memerah dan memanas karena kembali terpergok oleh sang mertua. Sungguh malu sekali rasanya.


Fatih yang melihat Raysa yang bernapas dengan lega pun, menyeringai kan senyumnya.


"Layca, sambung yang tadi yukk," ujarnya.


"Iih, Abang, dasar mesum,"


Raysa berkata dengan jutek, namun gerakannya yang berlari menuju kamar mandi seolah memberi kode kepada Fatih untuk menyusulnya.


Langsung saja Fatih membuka bajunya dan menyusul Raysa dengan langkah yang besar. Berendam bersama sepertinya tak masalahkan. Sekalian merendamkan adiknya Fatih kedalam goa. he... he... he...


**


Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.


Jangan lupa like and komen.


 Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA

__ADS_1


salam rindu Tissa dan Farhan


__ADS_2