Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 96


__ADS_3

Fatih menggenggam tangan Raysa saat mereka berada di dalam lift menuju kamar pengantin mereka.


Raysa terus tersenyum sambil menatap wajah sang suami tercinta nya itu. Wajah Fatih terlihat sedikit gusar dan tak sabaran. Lihatlah, ia sampai mengetuk-ngetuk sepatunya di lantai.


"Tenanglah Bang, sebentar lagi kita juga akan sampai."


Fatih menoleh kearah Raysa. Sungguh tak sabar, bibir itu terus saja menggoda Fatih sedari tadi. Langsung saja Fatih menyambar bibir Raysa.


Raysa terkesiap dan menahan tubuh Fatih, namun tenaga Fatih ternyata lebih kuat dari dugaannya. Fatih yang sekarang bukanlah Fatih yang selalu mengalah karenanya. Fatih yang sekarang adalah Fatih yang kuat, yang akan selalu melindunginya.


"Bang, ini masih di lift." lirih Raysa di sela ciuman mereka.


Fatih melepaskan ciuman nya dan mengusap bibir Raysa dengan lembut.


"Maaf, aku sungguh tak bisa menahannya."


"Aku tau."


Ting ...


Suara pintu lift yang terbuka pun mengambil atensi Raysa dan Fatih. Dengan gerakan cepat, Fatih menggendong tubuh Raysa ala bridal style dan membawanya ke kamar pengantin mereka.


Raysa membuka pintu kamar tersebut, setelah mereka masuk, Fatih mendorong kuat pintu kamar dengan menggunakan kakinya.


Fatih menurunkan Raysa dan langsung mencium bibir Raysa rakus. Raysa membalaa ciuman itu dengan sama gak sabarannya. Tangan Raysa pun mulai membuka kancing jas yang di pakai Fatih dan melepasnya dan melepaskannya tanpa memisahkan bibir mereka.


Raysa terengah saat Fatih mulai menurunkan ciumannya ke leher, memberikan tanda kepemilikan disana yang mana membuat Raysa harus memekik tertahan.


"Bang, ap-apa gak sebaiknya kita mandi dulu?"


Raysa akhrinya berhasil menahan kepala Fatih untuk melanjutkan kembali aksinya.


"Ide bagus, bagaimana jika kita mandi bareng." Fatih menatap Raysa dengan menggoda.


"A-aku tidak mau. Aku malu."


"Dulu kita sering mandi bersama."


"Itu saat kita masih kecil, Aku mohon, izinkan aku mandi sendiri. Bolehkan?"


"Baiklah, tapi nanti jangan beri aku alasan datang bulan setelah mandi, karena aku tahu jadwal datang bulan mu."


Raysa menelan ludahnya kasar, baru saja ia kefikiran untuk melakukan hal itu, tapi Fatih sudah duluan mengetahui rencananya.


"Ka-kalau begitu aku mandi dulu."


Raysa berlari menuju kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandinya sebelum Fatih melanggar janjinya.


Raysa bernapas lega, ia menatap lehernya yang terdapat satu tanda merah keunguan di sana.


"Sakit, tapi kenapa begitu nikmat rasanya?" Raysa membelai bekas gigitan cinta dari Fatih.


"Duh, gimana lepasinnya sih?"


Raysa menggerutu karena susah meraih resleting gaunnya untuk di buka. Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu. Sudha jelas sekali siapa orang yang mengetuknya. Tidak ada orang lain di kamarnya selain Fatih.


"Ya ...," teriak Raysa dari luar.


"Apa perlu bantuan ku untuk membuka gaunmu?"


"Aku bisa sendiri."


"Benarkah?"


"Yaa, Abang jangan khawatir."


"Baiklah kalo begitu. Jika perlu bantuan katakan saja."


"Iya ...."


Raysa kembali berusaha membuka gaun yang terasa ngepas membalut tubuhnya.


Sreet ....


"Huuff ...." Raysa bernafas lega saat berhasil menarik tali resletingnya.


"Hhhaaah ... lega banget rasanya."


Akhirnya, Raysa sudah melepaskan pakaian yang menjepit tubuhnya itu. Raysa pun mulai masuk kedalam bathup yang sudah di isi dengan air hangat dan di beri aroma terapi bunga mawar.


Raysa menikmati hangatnya air dengan wangi mawar yang membuat tubuhnya semakin rileks.


Sudah tiga puluh menit Raysa berendam, hingga akhirnya terdengar suara ketukan pintu dari dalam kamar mandi. Raysa yanh tadinya mau terlelap tidur pun terkejut dan kembali menyadarkan dirinya.


"Layca, apa kamu baik-baik saja di dalam?" Fatih bertanya dari luar kamar mandi sambil mengetuk pintu.


"Yaa, aku baik-baik saja."


Raysa pun dengan segera menyelesaikan kegiatan mandi nya. Tak ingin membuat Fatih merasa khawatir karena ia terlalu lama di dalam kamar mandi.


15 menit kemudian.


Ceklek ...


Raysa terkejut saat melihat Fatih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"A-abang ngapain berdiri di sini?"


"Ngupingin kamu di kamar mandi. Kamu gak papa kan?"


Raysa merapatkan handuk kimononya saat Fatih meneliti tubuhnya.

__ADS_1


"A-aku gak papa."


"Hmm, jadi kenapa lama di kamar mandi?"


Raysa menyengir. " Hampir ketiduran."


"Ya ampun, Layca. Ya udah, kamu sekarang ganti baju ya. Aku mau mandi dulu."


Raysa menganggukkan kepalanya dan berjalan melewati Fatih. Namun baru selangkah, Raysa sudah berbalik menghadap Fatih, karena pria itu menahan lengannya.


"Ada ap--hmmpp ...."


Fatih mencium bibir Raysa dengan lembut. Hanya sesaat, lalu Fatih melepaskan ciumannya.


"Biar badan kamu gak terlalu dingin."


"Maksudnya?"


"Aku baru kirim sinyal kehangatan untuk Kamu."


Bluushhh ....


Pipi Raysa langsung memerah bagaikan tomat.


"Gemesin banget sih, mau lagi?" tanya Fatih kepada Raysa yang masih diam membeku di tempatnya.


Raysa menggeleng dan langsung berlari menjauhi Fatih saat pria itu ingin menciumnya kembali.


"Abang mandi dulu, biar seger," pekik Raysa saat setelah menjauh dari Fatih.


Fatih terkekeh dan masuk kedalam kamar mandi. Layca nya sungguh lucu dan menggoda.


"Ingat, jangan tidur sebelum aku selesai mandi. Aku gak ingin kehilangan moment malam pertama kita," ujar Fatih di depan pintu kamar mandi kemudian ia menutup pintu itu rapat-rapat.


Raysa menghembuskan napasnya setelah Fatih benar-benar masuk kedalam kamar mandi. Raysa pun berjalan menuju koper mereka berada.


Raysa membuka koper miliknya, betapa terkejutnya Raysa saat melihat hanya baju kurang bahan yang ada di dalam koper. Seingatnya, ia telah memasukkan piyama tidurnya ke dalam koper, bukan baju kurang bahan begini.


"Pasti ini kerjaan Mbak Quin, Kak Kayla, dan Kak Anggel," geram Raysa dan menutup kembali kopernya.


Bahkan tak ada satu pun pakaian daaalam di dalam kopernya, kecuali celana jaring laba-laba yang sedikitpun tak ada rasa nyaman saat di pakai


Raysa beralih ke koper Fatih, ia mengambil satu Boxer Fatih dan baju kaos milik Fatih yang berwarna hitam.


"Ini lebih baik dari pada tidak memakai apapun," gerutunya dengan kesal.


Pinggang Fatih yang lebih besar dari Raysa pun membuat boxer itu kedodoran dengan nya. Tak kehabisan akal, Raysa mengambil karet rambut dari bahan silikon yang memang selalu ia bawa ke mana-mana dalam tasnya. Raysa pun mengikat ujung kiri celana tersebut hingga ketat, dan menyelipkannya kedalam celana.


Raysa duduk di sofa sambil memainkan ponselnya agar ia tak tertidur. Ia ingat pesan suaminya untuk tidak tidur duluan dan menunggunya. Bukankah istri yang baik harus mendengarkan apa kata suaminya?


Rasa kantuk yang amat berat membuat Raysa tak sanggup menahan matanya untuk tidak tertutup. Hingga akhirnya Raysa menutup matanya dengan memegang ponsel yang masih menyala.


Fatih keluar dari dalam kamar mandi, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Raysa yang sudah tertidur di sofa dengan ponsel yang masih menyala.


Fatih meraih ponsel Raysa dan mematikannya. Perlahan Fatih mengangkat tubuh Raysa dan memindahkannya. Sedikitpun Raysa tak terganggu saat Fatih memindahkannya.


Bukankah Author pernah mengatakan jika Raysa tak akan lernah terbangun jika Daddy Bara dan Fatih yang memindahkannya!


Fatih pandangani wajah Layca yang telah resmi menjadi istri nya. Ia kecup kening Raysa dengan sayang, dan di peluknya tubuh Raysa.


Fatih pun mencoba ikut terlelap dalam tidurnya. Ah, nyaman sekali rasanya. Raysa adlaah guling terbaik bagi Fatih.


*


Raysa merasa jika dirinya tertimpa oleh sesuatu yang berat. Ia pun menggeliat dan mencoba memindahkan sesuatu yang menimpa perutnya.


Raysa terpekik kecil saat sesuatu yang ia ingin pindahkan dari perutnya semakin menariknya dan membelitnya dengan erat. Perlahan Raysa membuka matanya dan mendapati sebuah tangan yang telah melingkar di perut nya.


Raysa bernafas lega, ia takut jika tiba-tiba saja ada ular yang masuk dan melilitnya. Gak lucu kan kalo malam pertama di lilit ular, kecuali di masuki ular yang tak berbisa milik Fatih. Mungkin Raysa akan berteriak mesra.


Raysa tersenyum malu saat mengingat jika dirinya telah sah menjadi istri Fatih. Apalagi ini pertama kalinya Raysa tidur dalam pelukan seorang pria. Kecuali Daddy Bara pastinya.


Perlahan Raysa membalikkan tubuhnya menghadap Fatih. Ia tersenyum sambil memandang wajah Fatih yang tenang bagaikan bayi. Tangan Raysa naik menyentuh alis Fatih, turun ke hidung, kemudian ke bibirnya.


"Kenapa gak d bangunin sih tadi malam? udah di tungguin, eh malah di angkat aja ke tempat tidur." gerutu Raysa pelan, persis seperti berbisik.


Namun, Raysa tak tahu jika Fatih sudah terbangun sejak ia ingin memindahkan tangan Fatih dari perutnya. Fatih sengaja pura-pura tidur karena ingin tau apa yang akan Raysa lakukan.


"Wajahnya lebih halus dari wajah aku, bisa banget deh perawatannya. Ya bisa lah, wong dia nya aja pemilik perusahaan kosmetik. Pasti harus bersih berseri kan wajahnya. lagian mainnya di kantor doang. ke lapangannya jarang-jarang. Gak kaya aku yang sering kelapangan di jemur di bawah matahari."


Tangan Raysa pun terus saja membelai lembut wajah Fatih.


"Bisa panjang banget gini bulu matanya, ngidam apa sih Mami Mili ampe bisa panjang gini. Coba aja lentik, pasti lucu banget. Eh, gak deng, kalo lentik ntar gak garang lagi wajahnya, jadi pria cantik."


Raysa terkekeh kecil membayangkan wajah Fatih yang cantik dengan bulu mata yang lentik.


"Ni bibir kok bisa merah gini yaa? di tato kali yaa? biar merah alami gitu?"


Raysa pun meraba bibir Fatih yang terasa kenyal. Jantung Raysa tiba-tiba berdegup kencang hanya karena menyentuh bibir Fatih.


Pandangan Raysa naik ke mata Fatih, si empu nya masih menutup matanya dengan rapat. Perlahan, Raysa dekatkan wajahnya ke wajah Fatih, di kecupnya sekilas bibir kenyal milik Fatih.


Raysa terkesiap saat sebuah tangan menahan tengkuknya, walaupun bibir mereka tak lagi menempel.


Raysa mengerjapkan matanya bersamaan dengan Fatih yang membuka matanya perlahan.


"Jadi ada yang berharap aku bangunin tadi malam?"


"Hah?"


"Kalo wajah aku cantik, aku takut kamu salah saing cantiknya dengan aku."

__ADS_1


Raysa mengerjapkan matanya.


"Dan ini, aku akan laporkan kamu ke polisi karena telah mencuri morning kiss ku."


"Hah?" Raysa membelalakkan matanya.


"Eh, tapi kamu polisi kan ya? gimana kalo aku masuki kamu aja? gak usah masuk ke kantor polisi lagi? mau kan?"


Raysa mengerutkan keningnya, ia tak mengerti apa yang Fatih maksudkan.


"Lucu banget sih kamu? jadi, kamu udah siap? tapi aku hanya mau mendengar kata siap, karena menikah dengan ku artinya kamu sudah siap dengan segala hal."


"Mak-maksud Abang?"


"Aku mau ini." Fatih menunjuk kening Raysa.


"Mau ini." Fatih menunjuk mata Raysa.


"Ini." Fatih menunjuk hidung Raysa.


"Ini." Fatih membelai bibir Raysa dengan lembut.


Perlahan tangan Fatih masuk kedalam selimut, dan memegang gundukan empuk di sana sambil menekannya dengan lembut.


"Juga ini." ujar Fatih dengan suara beratnya yang di hiasi dengan pekikkan kecil dari mulut Raysa.


Tangan Fatih membelai turun perut menuju bagian bawah Raysa yang sensitif.


"Dan ini."


"Hmmpp ...." Raysa memekik sambil mengulum bibirnya. Ia pejamkan matanya karena malu, kemudian ia membuka perlahan matanya di saat tangan Fatih tak berada lagi di bagian inti bawahnya.


"Kamu siap memberikan apa yang aku inginkan tadi?"


Raysa menggigit bibirnya dan menganggukkan kepalanya.


Fatih pun mulai memposisikan tubuhnya di atas Raysa. Fatih kecup kening Raysa, mata, hidung dan bibirnya sekilas.


Tak lupa Fatih bisikkan doa di telinga Raysa sebelum mereka melakukan nya.


*


"Abang iih, turunin aku, aku malu tau ...Aku bisa jalan sendiri."


"Tadi bilangnya sakit, lagian kan aku udah liat semuanya tadi?"


"Iyaa, tapi kan aku masih malu."


"Aku tutup mata deh."


"Gak mau, ntar Abang ngintip."


"Ngapain ngintip, lagian aku udah cicipi semuanya sampai kamu memekik nikmat."


"Abaaang ...." kesal Raysa sambil menggoyangkan kakinya.


Tubuh Raysa yang terbalut selimut pun membuat Raysa tak bisa memukul punggung Fatih.


Fatih terkekeh dan tetap membawa Raysa kedalam kamar mandi. Fatih dudukkan Raysa di pinggir Bathtub, ia pun menampung air hangat untuk Raysa berendam. Raysa hanya memperhatikan apa yang Fatih kerjakan.


"Udah, ayo masuk."


Raysa menggelengkan kepalanya. "Abang keluar, aku malu."


"Ya udah, jangan lama ya. Biar kita solat subuh bersama."


Raysa menganggukkan kepalanya. Setelah Fatih menghilang dari balik pintu, Raysa pun membuka lilitan badcover di tubuhnha. Tak lupa ia berlari kedekat pintu dan menguncinya, ia takut jika Fatih akan masuk kedalam kamar mandi dan melakukannya lagi.


Ukhh ... perihnya aja belum hilang. Ya kali baru buka segel udah nambah Ampe dua kali. Mana durasinya lama lagi. Huufff ....


*


Fatih terkekeh saat mendengar suara pintu kamar mandi terkunci. Fatih rebahkan kembali dirinya di tempat tidur, ia memejamkan matanya sambil mengingat kembali kejadian menjelang subuh tadi. Di mana Raysa terus menjerit dengan seksi dan memanggil namanya.


"Alhamdulillah, akhirnya aku miliki kamu seutuhnya, Layca."


Fatih menoleh kearah pintu saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Fatih pun bangkit dan berjalan menuju pintu.


"Maaf tuan mengganggu, ini titipan dari Nyonya besar."


Fatih mengangguk dan menyuruh pelayan itu pergi. Fatih sudah bisa menebak apa isi nya, tentu saja baju Raysa. Karena dalam koper Raysa hanya ada baju haram dan halal jika Raysa pakai di depannya.


Pintu kamar mandi terbuka dna menampilkan Raysa yang hanya terbalut handuk kimono.


"Ini baju dari Mami." Fatih memberikan papaerbag yang dipegangnya kepada Raysa.


"Tarok situ aja, aku udah ambil wudhu."


"Oke."


Fatih meletakkan papaerbag tersebut di atas tempat tidur, kemudian ia berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Raysa dengan cepat mengeluarkan baju yang ada di dalam paperbag tersebut. Ia bernapas lega karena model baju yang berikan menutup lehernya.


Mami Mili memang benar-benar pengertian. Tau aja anaknya ganas. Raysa menatap kembali lehernya yang sudah bagaikan terkena ruam. Hampir seluruh lehernya di beri tanda oleh Fatih.


"Seharusnya aku juga memberi tanda yang banyak di lehernya." gerutu Raysa sambil menatap tajam kearah kamar mandi.


**


 Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.

__ADS_1


Jangan lupa like and komen.


 Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA


__ADS_2