
"Aku gak akan melepaskan genggaman ini, sampai seseorang yang aku anggap pantas menggantikan genggaman tangan ku ini. Dan aku sendiri yang akan mengantarkan kamu kepada laki-laki tersebut."
Suara Fatih terus terniang di telinga Raysa. Ia sedari tadi membolak-balikkan tubuhnya menghadap ke kiri dan ke kanan. Raysa mengangkat tangannya yang di genggam oleh Fatih tadi. Ia pandangi tangan itu, genggaman tangan Fatih yang besar dan hangat masih terasa di sana. Sudut bibir Raysa pun menaik membentuk lengkungan senyuman.
"Kenapa Ca? apa kamu mulai menyukai Fatih?" Batin nya.
Entah lah, Raysa tak bisa menjawabnya, ia sedikit ragu akan hal itu. Di sisi lain, ia masih mengharapkan Farhan melamarnya. Yaa, walaupun Raysa belum bisa menikah saat ini, karena masih dalam ikatan dinas yang mengharuskan dirinya mengabdi selama dua tahun penuh dengan status single nya.
*
Fatih tak bisa menghilangkan senyum nya sedari tadi. Ia terus saja mengingat wajah Raysa yang merona Daan menggemaskan. Belum lagi sepanjang malam mereka bergandengan tangan dan Raysa tak berusaha untuk melepaskannya.
"Ha..ha..ha.. gila udah kamu Fat."Ujar Fatih kepada dirinya sendiri.
Fatih memandang tangannya yang menggenggam tangan Raysa. Dikecupnya tangan itu seakan sedang mengecup tangan raysa.
"Aaa... pingin kecup beneran kan." Ujar Fatih dengan gemesnya.
*
Raysa terbangun dengan perasaan berdebar-debar, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa saat bertemu dengan Fatih nanti.
"Huuf, tenang Ca, bersikaplah seperti biasa, oke. kamu pasti bisa."
Setelah menyelesaikan ritual pagi nya, Raysa menuju dapur dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Fatih. Tak berapa lama bel di pintu apartemen nya berbunyi. Raysa pun mematikan kompor dan berjalan untuk membukakan pintu.
"Pagi.." Sapa Fatih ramah.
"Pagi ..."
Raysa menepi agar fatih bisa masuk kedalam. Fatih langsung menuju dapur dan mengambil jus yang ada di dalam kulsas, dan menuangkannya di dalam gelas.
"Pagi-pagi kok minum dingin-dingin?"
"Lagi pingin aja, pingin yang segar gitu."
"Duduk, aku udah siap masak nasi goreng teri."
"Waahh, tau aja kamu kesukaan aku."
"Ya tau lah, apa sih yang aku gak tau."
"Oh ya, coba katakan, apa aja yang aku suka."
"Eem, banyak. Nasi goreng Pete, nasi goreng teri, nasi bakar, rendang jengkol, sambal terasi, jus buah naga, jus jeruk, jus mangga, aduh, pokoknya banyak deh. Intinya itu kamu gak pilih-pilih makanan, yang penting cocok di lidah aja."
"Ada satu yang aku suka belum kamu sebut."
"Apa?"
"Aku suka kamu."
Raysa terdiam, ia hanya mampu mengedipkan matanya. Kemudian ia mencoba tertawa namun terdengar garing.
"Ha..ha.."
Raysa meraih air yang ada di dekatnya, dan menghabiskannya hingga setengah gelas.
"Kenapa? kok gugup gitu?" Goda Fatih.
__ADS_1
"Iih, si-siapa yang gugup. Orang haus kok. Capek berdiri lama, panas dekat kompor, jadi wajar dong haus." kilah Raysa.
Fatih menganggukkan kepalanya, yang penting ada alasan. Dan alasannya masuk akal. Terserah deh, yang penting Fatih gak akan berhenti, Sampai benar-benar ada pria yang akan menggantikan tangannya menggenggam tangan Raysa. Seperti yang Fatih katakan tadi malam.
Ya, walaupun Fatih sudah tau siapa orang nya, tapi tetap saja, Farhan belum melamar Raysa secara resmi. Dan jika itu terjadi, maka Fatih lah yang akan mengantar dan memberikan tangan Raysa kepada pria tersebut.
Fatih pun mulai menikmati nasi gorengnya saat Raysa sudah menghidangkannya di hadapannya.
"Jadi, kamu berangkat jam berapa sama Kak Tissa?" Tanya Raysa di tengah sarapan mereka.
"Tadi nya jam 9, tapi Tissa minta jam 8. Ya udah, aku ngikut aja." Fatih memasukkan kembali sesuap nasi goreng kedalam mulutnya.
"Oh ya, kamu bawa mobil aku aja. Lagian aku bakal lama kayaknya di Jakarta."
"Berapa lama?"
"Tergantung Tissa juga sih di sana berapa lama, tapi aku juga kebetulan ada kerjaan juga yang harus di kerjakan."
"Kamu di sana tunggu kak Tissa?"
"Ya bisa di bilang seperti itu, lagian kasian dia cewek harus nyetir mobil sendiri dari Jakarta ke Bandung."
"Jadi kamu pergi nya naik mobil kak Tissa?"
"Iya, kenapa?"
"Hah? gak papa sih."
Tak tau saja Raysa, jika saat ini Fatih sengaja membawa-bawa nama Tissa. Lagian, jika Tissa belum selesai dengan urusan keluarganya dan Fatih harus segera kembali ke Bandung, ya Fatih akan tetap ke Bandung tanpa Tissa, begitu pun sebaliknya. Fatih hanya ingin melihat reaksi Raysa. Dan itu sangat menggemaskan dimata Fatih. Semoga semua doa-doa Fatih di setiap sepertiga malamnya itu terkabul.
*
"Kamu hati-hati ya, kalo ada apa-apa hubungi aku." Ujar Fatih sebelum Raysa masuk kedalam mobilnya.
"Aku bisa minta sama Veer untuk meminjamkan pesawat pribadi dan juga Helikopter untuk bertemu sama kamu."
"Iiihh, lebay deh."
Fatih terkekeh, "Jangan lupa selalu kasih kabar. Kalo aku gak kirim pesan ke kamu, kamu jangan sampai menunggu pesan dari aku, kamu harus kirim pesan ke aku. Oke, jangan gengsi."
"iiih, apaan sih, siapa juga yang gengsi. Geer. Lagian aku udah pernah bilang, kalo kamu itu udah aku anggap Abang aku "
"Terserah sama kamu. Karena itu hati kamu, mau kamu ikuti kata hati oleh, gak ikuti juga gak papa. Tapi saran aku, kamu harus ikut i apa yang kata hati kamu katakan."
"Aoaan sih pembahasannya, udah ah. Aku pergi kerja dulu yaa.."
Raysa pun masuk kedalam mobil, Fatih hanya memandangnya dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam kantong.
"Hati-hati Layca, jaga diri kamu saat aku gak di sini."
"Iya, Bawel." ujar Raysa dan melajukan mobilnya menjauh dari Fatih.
"Gak papa Ca, aku bakal tetap di sisi kamu. Seperti janji aku ke kamu." Ujar Fatih sambil menatap mobilnya yang di bawa eh Raysa semakin menjauh dan menghilang.
tin... tin..
Fatih menoleh, dan ternyata sudah ada Tissa didekat dirinya.
"Gue kecepatan ya. Sory ya. Gue Laper, pingin lontong di dekat apartemen Lo. Lo udah sarapan?"
__ADS_1
"Udah dong."
"Trus, barang-barang Lo mana? masukin aja ke dalam mobil."
"Masih di atas."
"Lah, Lo ngapain di bawah."
"Habis antar layca.'
"Waah, so sweet banget. kemarin aja saling nyakiti. Sekarang !!! uughhh, gemesh gue dengan kalian berdua."
Fatih terkekeh menanggapi ucapan Tissa.
"Ya udah, Lo ambil barang-barang Lo, gue ke warung lontong dulu, lapeer." Tissa turun dari mobilnya dan memberikan kunci mobil kepada Fatih.
"Nih, ntar tinggal masukin barang kedalam mobil, terus Lo bawa ke depan warung lontongnya."
"Lo jalan kaki ke sana?"
"Iya, Deket doang kok. Sekalian olah raga pagi."
"Tumben."
"Mr.F hobi nya jalan pagi."
"Oh ya, siapa sih? penasaran gue jadi nya siapa Mr. F itu."
"Masih rahasia. Nanti saat yang tepat, gue kenali deh ke Lo."
"Gimana enak nya sama Lo aja."
Tissa pun berlalu dan meninggalkan Fatih yang harus menerima panggilan, karena ponselnya berdering.
"Ya Mi,"
"kamu pulang hari ini?"
"Iya, kenapa Mi? mami mau titip sesuatu?"
"Kamu pulang bareng Tissa kan?"
"Iya, kenapa Mi?"
"Gak papa, Mami cuma mastiin aja kok kalo kamu pulang nya bareng Tissa. Ya udah kalo gitu, hati-hati di jalan ya. assalamualaikum"
"Walaikumsalam."
Fatih pun menyimpan kembali ponselnya dan berjalan memasuki gedung apartemen nya. Mengambil barang-barang bawaannya dan tak lupa Hadiah untuk istri Veer yang masih belum ia ketahui siapa orang nya.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
__ADS_1
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....