
“Pulang yuk,” ajak Raysa yang mulai bosan dengan suasana yang seharusnya romantis dan
spesial tersebut.
“Oke, aku juga lelah banget hari ini rasanya.”
Fatih sengaja membuat Raysa semakin kesal.
“Aku bayar dulu ya.”
Baru saja Fatih berdiri, tiba-tiba seluruh lampu mati.
Kreeek ....
Terdengar suara kursi yang bergeser seperti di tarik.
“Abang, kamu di mana?”
Tak ada suara yang menyahut, Raysa mulai berdebar-debar.
Bugh ... Akh ....
Prang .....
“Abang ...” Pekik Raysa dalam kegelapan.
Raysa berdiri dan meraba kesekelilingnya. Jantungnya berdegup dengan kencang takut terjadi sesuatu kepada Fatih.
Braaakk ....
Terdengar suara benturan dari meja dan kursi. Raysa sudah merasa takut. Bukan takut karena hal buruk akan menimpanya, tetapi Raysa takut akan hal buruk terjadi kepada Fatih. Raysa memang sudah mengetahui jika Fatih jago beladiri. Namun jika berada di dalam kegelapan seperti ini, siapa yang bisa berkelahi? Raysa
pun tak bisa berkelahi di ruangan gelap gulita seperti ini.
Akkh .....
“Hiks ... Abang, kamu di mana? Hiks ..” Raysa mulai terisak di saat mendengar suara Fatih meringis.
“Hiks ... Abang ....” pekik Raysa kuat dan tiba-tiba saja sebuah lampu menyala di sudut sana.
Dalam keadaan remang-remang, Raysa menghapus air matanya dan menajamkan penglihatannya kearah siluet seorang pria yang tak asing bagi nya.
Jreng ...
Terdengar suara musik dari lagu lawas yang tak asing di telinganya.
Hari ini hari yang kau tunggu
Bertambah satu tahun usia mu,
bahagialah kamu
Yang ku beri bukan jam dan cincin
Bukan seikat bunga atau puisi juga kalung hati
(Raysa menutup mulutnya tak pecaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya. Daddy Bara sedang memainkan gitar dan bernyanyi untuknya dengan di sinari oleh lampu yang menyorot hanya ke arah Daddy Bara.)
“Kamu suka?” suara Fatih mengejutkanya, di tambah lagi saat ini Fatih memeluk nya dari belakang.
Raysa menganggukkan kepalanya. “Hiks ... Aku suka,”
Maaf, bukannya pelit
Atau nggak mau ngemodal dikit
Yang ingin aku beri padamu doa setulus hati
(Terdengar suara Bunda Sasa, Oma Shella, Opa Roy, Mami Vina, Papi Vano, dan juga Kayla, Si kembar Steva dan Sofi, serta Mami Mili dan Papi Gilang. Mereka pun bernyanyi bersama-sama dengan seiringnya lampu yang kembali terang.)
Semoga Tuhan melindungi kamu
Serta tercapai semua angan dan cita-cita mu
Mudah-mudahan di beri umur panjang
Sehat selama-lamanya ..
Selamat ulang tahun .....
Tangis Raysa pun pecah di saat melihat semua orang yang di sayanginya berada di sana untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 22 tahun.
“Selamat ulang tahun sayang. Ini hadiah yang bisa aku berikan untuk kamu.” Bisik Fatih di belakang telinga Raysa.
“Makasih, aku sangat menyukai kejutan seperti ini.”
Ya, Raysa memang sangat menyukai kejutan. Bukan emas, permata, atau pun berlian yang Raysa ingin kan di hari ulang tahunnya. Raysa hanya suka di berikan kejutan di setiap hari-hari spesialnya. Mungkin ini sudah mejadi kebiasaan Raysa sedari kecil karena Fatih yang selalu saja memberikan kejutan untuknya.
Raysa berlari ke arah Daddy Bara dan memeluknya. Menjadi putri satu-satunya Daddy Bara membuat Raysa selalu saja di limpahi kasih sayang dan di manjakan oleh seluruh anggota keluarganya. Bahkan Raysa menjadi keponakan kesaayangan yang selalu di manja oleh Mama Kesya dan Mami Vina.
__ADS_1
“Ica sungguh bahagia hari ini. Hiks ...”
“Bahagia kok nangis sih.” Bunda Sasa beralih memeluk Raysa, putri kesayangannya.
“Makasih, Bunda udah mau datang.”
“Bunda pasti datang. Cuma Fatih ngelarang Bunda untuk kasih kabar ke kamu. Katanya rencana kejutan yang ia siapkan terbongkar sama kamu.”
“Kok bisa?” tanya Mami Mili.
“Ica dengar sendiri saat Mami bilang mau pesan kalung ini.” Raysa menunjukkan kalung yang ia pakai.
“Ahh, jadi waktu itu kamu ada di kantornya abang Fatih?” Mami Mili dapat menembak kapan kejadian itu terjadi.
Raysa menganggukkan kepalanya dengan polos. Fatih sudah menepuk keningnya karena tunangannya itu membongkar sendiri rahasianya.
“Ngapain di kantor abang Fatih?” Tanya Mami Mili dengan nada menggoda.
“Eng, gak ngapa-ngapain kok, Cuma antar makan siang aja untuk Abang Fatih.” Jawab Raysa gugup.
“Jadi kenapa gak tegur Mami Mili kalo gak ngapa-ngapain?” Kali ini Mami Vina seakan sengaja memanas-manasi keadaaan.
“Engg itu, I-ica malu.”
“Malu kenapa? Ketawan ciuman di ruanganya Fatih?” tebak Papi Gilang.
Raysa menggelengkan kepalanya, namun ekspresi terkejutnya mengatakan iya. Mau seberapa besar usaha Raysa untuk berbohong, tetap saja mereka sudah ketangkap basah sekarang. Fatih sudah berwajah pucat, namun ia msih berusaha untuk tetap biasa saja seolah gak terjadi apa-apa.
“Fatih, ingat apa kata Daddy?” ujar Daddy Bara dengan nada dingin dan menatap tajam kearah Fatih.
“Hehhehe, khilaf Dad,” jawab Fatih sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan memamerkan sederet gigi putih nya yang rapi.
“Khilaf kok nagih.” Gerutu Daddy Bara.
“Aduh Bara, kayak kamu muda dulu gak aja.” Cerocos Oma Shella.
Daddy Bara langsung mati kutu jika sudah Oma Shella mengingatkan dirinya pada masa mudanya dulu. Ah... Daddy Bara waktu muda juga suka main nyosor aja. Hi .. hi ... hi .. Bunda Sasa sudah menahan tawa di saat sang suami malah bantah oleh Oma Shella.
Pelayan datang dan mempersilahkan seluruh keluarga duduk di meja yang sudah di siapkan. Daddy Bara menggenggam tangan Raysa seolah tak ingin kehilangannya. Daddy Bara merasa cemburu di saat melihat sang putri telah memiliki seorang kekasih yang sebentar lagi akan dimiliki oleh pria lain.
Bunda Sasa juga merasakan jika sang suami tengah melepaskan rindu dan juga takut kehilangan. Melihat bagaimana cara Daddy Bara menggenggam tangan Raysa dan memeluknya hingga sudut mata Daddy Bara menitikan air mata. Bunda Sasa menghapus air mata itu dan tersenyum kepada Daddy Bara.
“Makasih, Mungil.” Bisik Daddy Bara yanghanya di dengar oleh Bunda Sasa dan Raysa yang berada di dalam rangkulan Daddy Bara.
“Love you, Dad. Hiks ...” Raysa pun menangis di dalam pelukan Daddy Bara.
Raysa sungguh terharu dengan kejutan yang Fatih berikan untuknya hari ini. Ini benar-benar adalah hadiah terindah yang ia daptkan. Fatih yang melamarnya dan juga membawa keluarganya untuk merayakannya bersama.
“Iya Dad, Ibra juga udah ngucapin selamat ulang tahun kok. Katanya hadiahnya Ibra titip ke Daddy.”
“Iya, udah Daddy tarok semua di apartemen kamu.”
“Oh ya, ini hadiah dari Mama Kesya. Mama minta maaf karena gak bisa datang. Tau sendiri kan Quin baru aja di tinggal pergi sama empus, trus Keadaan Nafi yang juga belum stabil.” Ujar Bunda Sasa sambil memberikan sebuah kado berbentuk kotak kepada Raysa.
“Iya Mi, nanti Ica telfon Mama Kesya deh. Tapi ini apa Mi?”
“Buka aja deh, ntar kamu tau sendiri.”
Raysa pun membuka kado dari pemberian Mama Kesya, saat ia membuka penutup kotak tersbeut, Raysa menutup mulutnya yang ternganga dengan tangannya.
“Kunci mobil? Ini?”
“Iya, Mama Kesya beliin kamu mobil sebagai hadiah ulang tahun kamu.”
“Hah, seharusnya Mami yang beliin untuk kamu, tapi keduluan dengan Mama Kesya, jadi Mami ganti semua perabotan kamu dengan yang terbaru. Mulai dari tv, kulkas, sofa, tempat tidur, pokoknya segala kebutuhan kamu agar dapat menghilangkan kelelahan di saat lelahnya seharian bekerja.”
“Makasih banyak Mi,” Raysa pun memeluk Mami Vina.
“Buat anak Mami, apa sih yang gak, selagi Mami masih mampu.”
“Tapi itu terlalu berlebihan dan terlalu banyak Vin.” Ujar Bunda Sasa.
“Ih Mbak, belum juga total semuanya mencapai 1M, tuh si Kesya beliin mobil buat Ica hampir 1 M, Vina ya gak mau lah kasih untuk keponakan Vina yang cantik dan tersayang ini dengan harga yang biasa-biasa aja. Setidaknya mendekati lah dengan pemberian Kesya.
Begini lag Mami Vina dan Mama Kesya jika sudah menyangkut membelikan hadiah untuk Raysa. Pasti mereka berdua akan berebutan memberikan yang terbaik untuk Raysa.
“Iya, tapi itu terlalu mahal. Susah balasnya.”
Nah, maksud Bunda Sasa di sini adalah, saat ipar memberikan hadiah, contoh, Mama Vina memberikan hadiah yang banyak dan harganya mencapai 1 M, maka Bunda Sasa wajib membalasnya, setidaknya walaupun tak mendekati 1 M, tak terlalu jauh lah dengan apa yang di beri. Itu sudah menjadi tradisi di kampung Bunda Sasa.
“Kami gak minta di balas ya Mbak. Cukup Mbak sehat wal’afiat aja selalu itu sangat berarti buat kami. Bahagia Mbak bersama Mas Bara dan anak-anak, itu adalah balasan yang paling mahal untuk kami.” Jawab Mami Vina dengan tersenyum.
Bunda Sasa menghela napasnya, selalu begini jika Bunda Sasa sudah protes dengan apa yang selalu mereka berikan. Bukannya ingin menolak pemberian, tetapi hadiah yang di berikan terlalu mewah dan berlebihan.
“Mo-mobil hampir satu M Mi?” tanya Raysa dengan mata yang membesar dan ekspresi terkejutnya.
“Iya, pasti kamu suka deh dengan mobilnya,”
“Kemahalan itu MI,”
__ADS_1
“Namanya juga hadiah, terima aja lah.” Jawab Mami Vina santai.
Raysa menatap sang Bunda yang sudah pasrah dengan barang-barang mewah yang di berikan oleh Mama Kesya dan Mami Vina.
“Udah, terima aja.” Tambah Oma Shella yang betapa bahagia dan beruntungnya memiliki menantu kaya.
Hi ..hi ..hi .. bukannya karena Oma Shella matre, tapi siapapun pasti senang lah dengan barang-barang mewah dan mahal. Tapi ingat, jangan lupa bersedekah. Karena apa? Karena sebagian dari harta mu ada hak nya Fakir miskin dan anak yatim yang lebih membutuhkan. Oma Shella selalu mengingatkan kepada anak-anak dan cucu nya untuk tak lupa bersedekah.
“Mbak Ica, ini dari aku.” Steva memberikan sebuah hadiah boneka yang masih terbungkus di dalam plastik dengan kondisi plastik yang ter-press.
“Ini boneka yang lagi viral itu?”
“Iya Mbak, bukanya pas di rumah aja, karena ini besar banget. Aku udah beli yang samaan dengan Mbak.” Uajr Steva.
“Kalo ini dari aku Mbak.” Sofi memberikan sebuah kotak yang di bungkus rapi dengan kertas kado.
“Mbak buka ya.”
Raysa pun membuka koertas kado tersebut dan menampilkan sebuah kotak yang dari merk nya aja Raysa sudah bisa menebak jika harganya sampai jutaan.
“Ini?” Lagi, Raysa merasa terkejut hingga matanya kembali berkaca-kaca.
“Mbak suka?”
“Suka, tapi ini kan mahal? Kam gak habisin duit tabungan kamu kan?”
Sofi terkekeh, “gak semua sih Mbak, sebagian aku minta tambahi dengan Bang Fatih.”
“Makasih banyak ya Steva dan Sofi. Mbak sayang kalian.” Raysa merentangkan tangannya untuk di peluk oelh Steva dan Sofi.
“Kami sayang Mbak juga.”
Tahukah kalian, Sofi dan Steva benar-benar sangat bahagia hingga saking bahagianya mereka menangis, di saat Abang kesayangannya bertunangan dengan pujaan hatinya yang sedari bau kencur itu hingga menjadi ratu nya kencur. He ..he .. he..
Bahkan Steva dan Sofi menangis sampai detik ini setiap melihat senyum sang Abang tercinta yang terlihat sangat bahagia tanpa beban. Mereka juga mengucap syukur karena Allah telah mengabulkan doa-doa mereka.
“Ada satu lagi kejutan untuk kamu.” Ujar Fatih sambil tersenyum lembut kepada Raysa.
“Apa?” tanya Raysa sambil menghapus air matanya.
Fatih memutar tubuh Raysa dan memeluknya dari belakang. “Selamat ulang tahun, Layca ku sayang, calon istri ku dan ibu dari anak-anak ku.”
Seorang pelayan pun mendorong troli yang terdapat cake ulang tahun bertingkat tiga di dalamnya.
“Abang? Katanya gak ada kue?” rajuk Raysa.
Fatih terkekeh, mana mungkin ia melupakan hal ini. Di mana sang pujaan hatinya ini sangat menyukai kue, apalagi kue ulang tahun miliknya.
“Boleh makan banyak, tapi jangan lupa gosok gigi ya pas mau tidur.”
“Iya Abang.”
Acara potong kue pun di mulai. Raysa sangat menyukai kue yang berbau vanila. Fatih yang tak menyukai kue tersebut pun hanya melihat dan tersenyum di saat Raysa begitu menikmati kue ulang tahunnya.
“Yakin gak mau? Enak banget loh?” tawar Mami Mili kepada sang anak dan suami yang memang tak menyukai rasa Vanila.
“Gak makasih.” Jawabnya kompak.
“Heran gue Lang sama lo, lo gak suka susu kan?”
“Hmm, nape?”
“Kalo susu yang bergantung di sini lo doyan banget kayaknya.” Ujar Daddy Bara yang mana menyentuh dadanya sendiri.
“Kalo itu beda, ada gak ada ASI nya, gue tetap aja suka.”
Steva dan Sofi yang menyadari keaman arah pembicaraan pria dewasa itu pun langsung berteriak dengan serentak dan memekakkan telinga.
“DADDY, PAPI ... KAMI MASIH KECIL .....”
“Aww ... sakit Mungil.”
“Aww, sakit sayang.”
Daddy Bara dan Papi Gilang pun serentak meringis kesakitan di saat mendapatkan cubitan hangat dan menyengat dari istri masing-masing.
Fatih pun mengambil kesempatan untuk menggoda Raysa nya.
“Aku jadi penasaran sama rasanya.”
Raysa yang sedang menikmati kue nya pun tersedak kue hingga wajahnya memerah. Entah memerah karena tersedak entah karena malu dengan apa yang Fatih ucapkan kepadanya.
**
Hai .. hai ... Aku mau minta tolong dong.
Mampir ke Novel ku yang baru netas ya ..
Judulnya : Twins A and Miss Ceriwis.
__ADS_1
Jangan lupa di Favoritkan dan like nya ya ...