
Rara masuk kedalam ruangan Fatih dengan membawa nampan yang berisi pesanan makanan siang sang Bos.
"Terima kasih, Ra."
"Sama-sama Bos."
"Oh ya, kapan kamu mulai ambil cuti?"
"Bulan depan Bos."
"Kamu sudah menemukan pengganti kamu sementara?"
"Sudah Bos, Ratna."
"Ganti dengan yang laki-laki. Kamu tau kan kalo saya tak suka dengan bawahan yang tak profesional."
Fatih tau, jika Ratna sering menatapnya dengan memuja. Untuk itu, Fatih enggan menjadikan Ratna sekretaris nya, walaupun hanya sementara. Karena Rara yang akan cuti selama sebulan untuk mempersiapkan pernikahannya dan juga bulan madu nya. Jarang-jarang dapat Bos kasih cuti selama sebulan.
"Baik Bos, saya akan mencari kandidat baru."
" Hmm .."
Rara pun membungkukkan badan nya sedikit memberi hormat, kemudian ia keluar dari ruangan Fatih.
"Akhh .." Fatih meringis saat ia merenggangkan ototnya. Fatih lupa dengan cedera di tangannya.
Untungnya Rara sudah menyiapkan makananya di dalam piring, jadi Fatih tak harus bersusah payah untuk membuka bungkusannya.
Fatih makan menggunakan tangan kiri ya, dengan bersusah payah ia berusaha memasukkan segarpu mie kedalam mulutnya, hingga mie tersebut habis. Fatih meminum air putih nya, baru ia menyesap jus buah naga nya.
Di tempat lain, Raysa tengah menikmati makan siang nya bersama dengan teman-teman sekantornya. Mereka makan di sebuah cafe yang terkenal.
Bruugh ...
Tanpa sengaja Raysa menabrak seorang wanita cantik yang terlihat sangat tidak asing.
"Maaf ..." Ujar Raysa berbarengan dengan wanita itu.
"Aku yang salah, karena terlalu terburu-buru." Ujar wanita cantik kepada Raysa.
Raysa tersenyum, namun fikirannya seolah dipaksa mengingat di mana ia melihat wanita ini.
"Kamu gak papa kan?" Tanya nya lagi.
"Iya, saya gak papa."
"Kalo begitu aku permisi ya, Maaf sekali lagi." Wanita itu pun terlihat berjalan cepat dengan ponselnya yang terus berdering. Mungkin ia memang benar - benar sedang terburu.
"Kok gak asing ya? di mana?" Gumam Raysa.
"Raysa, ayo .." Panggil teman profesinya.
Wanita cantik itu menoleh, kemudian ia tersenyum saat baru menyadari siapa wanita yang di tabrak nya tadi.
"Ya ampun, ternyata Raysa. Pangling aku liatnya paket seragam. Makin cantik aja. Pantes aja Fatih kelepek-kelepek." Ujar Tissa, kemudian ia bergegas menuju mobilnya.
"Siapa? kamu kenal?" Tanya teman Raysa yang melihat Raysa masih memandang wanita yang di tabrak nya tadi.
"Gak kenal, tapi wajahnya gak asing."
"Mungkin kamu pernah lihat di mana gitu, sering lah terjadi itu di kota-kota besar."
"Tapi, sebagai seorang polisi, kita harus bisa mengingat dengan jelas setiap wajah orang lain."
"Yupss, kamu benar."
Terjadilah obrolan seputar wajah dan harus mengingatnya. Sedangkan Raysa hanya bisa tersenyum dan berfikir keras di mana ia pernah melihat wanita itu.
Raysa menghela napasnya saat ia gagal mengingat, lebih baik ia makan, mungkin setelah makan ia dapat mengingat siapa wanita itu.
*
Farhan merasa kesal, ia berencana akan melamar Raysa bulan depan, namun Papi Riko malah mengirimnya ke Rusia, untuk menjalin kerja sama di sana. Otomatis Rencana Farhan gagal total.
"Pi, apa gak bisa Papi aja yang pergi?" Farhan mencoba bernego dengan sang Papi.
"Papi harus mengerjakan proyek kita yang di China. ayo lah, hanya dua bulan."
"Tapi Pi, "
"Papi gak mau dengar alasan apapun. Kamu selesaikan pekerjaan kamu, lalu siap berangkat ke Rusia."
"Pi, Farhan berencana melamar Ica."
Tak ada sahutan dari Papi Riko, hanya helaan napas yang terdengar.
"Maaf, Papi gak tau. Tapi sebaiknya kamu menunda hal itu dulu. Nanti Papi akan membantu kamu memberikan kejutan."
"Papi serius?"
"Tentu, Mami kamu sudah sangat ingin menggendong bayi di sini."
Farhan tersenyum malu, walaupun sang Papi tak dapat melihatnya, namun Papi Riko tau jika saat ini Farhan tengah tersenyum - senyum.
"Lihatlah sekitar, jangan tersenyum seperti orang gila."
"Papi yang terbaik."
"Yaah, kalo begitu cepat selesaikan pekerjaan kamu."
"Ya Pi."
Farhan pun memutuskan panggilannya, namun senyimnya masih terus mengembang. Bahkan mungkin saat ini wajah Farhan sudah merah merona.
Mendapatkan dukungan dari keluarganya adalah hal yang terindah. Selama ini Papi dan Mami nya selalu berharap jika Farhan mendapatkan cintanya, yaitu Raysa. Sedari kecil, wanita yang ada di hidup Farhan hanya Raysa, tentunya selain Mami nya. Walaupun Farhan takut suatu saat Raysa akan berpaling. Tapi ketakutan Farhan seolah berkurang di saat Raysa mengatakan jika ia tak memilik rasa apapun dengan Fatih.
Bolehkah Farhan bernapas dengan lega? atau Farhan harus merasa semakin khawatir?
Farhan menatap foto Raysa dan dirinya yang ada di atas meja kerja nya.
"Aku harap, kamu tidak pernah berubah, Ca. Aku takut, jika kamu tau tentang kejadian itu. Kejadian yang mana bukan aku lah malaikat penyelamat kamu. Aku takut, jika kamu akan berpaling kepadanya. Aku takut, aku takut kehilangan kamu. Maafin aku, yang tetap diam akan hal itu. Maafin aku, ca. Maafin aku." Monolog Farhan sambil membelai foto Raysa.
*
Raysa tengah menyiapkan makan malam untuk dirinya, Fatih, dan Farhan. Dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya, Raysa dengan semangat menyiapkan semuanya.
"Senang banget kayaknya? senang karena makan malam bareng aku yaa?" Fatih menaik turunkan alisnya.
"Iih, GeEr banget. Kak Farhan mau ikut makan di sini, makanya aku senang." Ujar Raysa, yang sengaja memberi tahu Fatih bahwa dirinya menanti kehadiran Farhan.
Fatih menganggukkan kepalanya sambil tersenyum yang di paksakan. Ia tak ingin terlihat lemah di mata Raysa. Toh, bukan kali ini aja Fatih merasa sakit dan kalah, ini sudah jadi hal yang biasa bagi Fatih. Mungkin hanya waktu nya saja yang sudah berbeda.
Dulu mereka masih dalam umur yang bisa di katakan masih muda dan labil, hingga Fatih berharap Raysa akan berpaling kepadanya. Sepertinya Fatih salah, ternyata Farhan tidak menyerah dan ia juga tulus mencintai Raysa. Lagipula, mereka saling mencintai. Haruskah Fatih mengalah?
"Mau aku bantu?"
__ADS_1
"Tidak usah, kamu duduk saja di situ." Titah Raysa menunjuk kursi meja makan.
Fatih menurut, ia hanya memperhatikan Raysa tanpa berkedip. Biarlah Fatih menikmati momen-momen ini. Toh, dua Minggu lagi ia akan kembali ke Jakarta. Dan pastinya akan merindukan Layca nya.
Raysa sudah hampir selesai memasak, tak berapa lama bel apartemen Raysa pun berbunyi.
"Mungkin itu Farhan, biar aku aja yang buka." Ujar Fatih dan langsung berdiri.
Raysa hanya mengangguk dan merapikan pakaiannya.
Ceklek ...
Senyum Farhan yang mengembang pun pudar, saat melihat senyum Fatih yang mengembang.
"Kecewa bukan layca yang buka pintu?" Ledek Fatih.
"Sedikit." Ujar Farhan dan tersenyum.
"Bunga buat gue?"
"Ya gak lah, ini buat Ica. Emang Lo mau bunga? Kalo mau biar gue kirimin besok."
"Bunga tabungan sih gue mau."
Farhan dan Fatih pun tertawa.
"Gimana tangan Lo?"
"Lumayan, aku harap ini cepat sembuh. Pekerjaan ku sangat banyak."
"Aku harap juga begitu."
"Ayo masuk, Pujaan hati kita sedang memasak."
Farhan mengangguk. Lihatlah, mereka rival, tapi tetap akur. Boleh gak sih Raysa miliki dua-dua nya? 😁😁
Raysa tersenyum saat melihat Farhan datang dengan membawa bunga.
"Untuk kamu." Farhan memberikan buket mawar putih itu kepada Raysa.
"Makasih kak ..." Raysa mengambil buket tersebut dan menciumnya.
Senyum Raysa dan Farhan mengembang saat mata mereka saling beradu.
Hei, apa kalian mendengar sesuatu yang retak?
Aku mendengarnya. Ia berada di dalam sana, di dalam hati Fatih.
Fatih menarik napas dan mencoba untuk tersenyum.
"Apa sudah selesai masaknya?" Tanya Fatih memecahkan suasana romantis yang sedang terjadi.
"Hampir, tinggal di hidang saja."Jawab Raysa.
"Aku bantu."
"Boleh ."
Raysa dan Farhan pun berjalan bersama kedapur. Fatih pun terpaksa mengikuti mereka.
Oh Tuhan, kenapa Engkau letakkan Fatih di posisi yang menyakitkan ini? Bisakah Fatih merasakan bahagia juga? Bahagia bersama wanita yang di cintai nya? Fatih berharap hari itu akan segera tiba.
Farhan membantu Raysa menghidangkan makanan di atas meja. Pastinya dengan senyum yang mengembang.
Raysa menyendokan nasi keatas piring Farhan dan juga Fatih. Kemudian mereka mulai menikmati makananya dengan di pimpin oleh Fatih membaca Bismillah.
"Sini." Raysa mengambil alih sendok yang Fatih pegang.
"Tak apa, aku bisa makan sendiri."
"Ck, bawel banget. Udah dari pada Laper."
Farhan melihat mimik Raysa yang menatap Fatih. Entahlah, Farhan tak bisa mengartikannya, Raysa tak seperti yang dulu ia kenal. Tatapan Raysa kepada Fatih seolah berubah. Mungkinkah? Farham menggelengkan kepalanya, ia tak ingin hal itu terjadi. Sebaiknya ia benar- benar harus mempercepat niatnya untuk melamar Raysa.
"Mau nambah?" Tawar Raysa.
Fatih menggeleng, ia merasa tak enak dengan Farhan. Raysa pun bangkit dan kembali duduk di sebelah Farhan. Raysa baru sadar, jika Farhan belum menghabiskan makanannya.
"Gak enak ya?" Tanya Raysa.
"Enak kok."
"Lalu, kenapa belum habis.?
"Sengaja, nungguin kamu."
Raysa tersipu malu, dan itu dapat di tangkap oleh Fatih.
"Aku ke ruang Tv ya. Kalian lanjut aja makannya."
Farhan dan Raysa kompak menganggukkan kepala nya. Sebentar nya Fatih ingin pulang ke apartemen nya, namun ia tak mungkin meninggalkan Raysa dan Farhan berduaan di apartemen. Ia tak ingin mereka khilaf dan berbuat dosa.
Farhan dan Raysa sudah selesai dengan makan malamnya, begitupun dengan mencuci piring. Setelah itu Raysa dan Farhan pun menyusul Fatih yang tengah menonton berita bisnis.
"Apa yang lagi hangat?" Tanya Farhan dan duduk di sebelah Fatih.
"Oh, Group Moza akan memperkenalkan CEO baru mereka."
"Kamu pulang?"
"Tentu, Veer membutuhkan ku." Ujar Fatih bangga.
"Gaya mu."
"Kamu ikut pulang?"
"Aku gak bisa, Minggu ini giliran aku piket."
Fatih menganggukkan kepalanya.
"Lo dapat undangannya kan?" Tanya Fatih kepada Farhan.
"Dapat, tapi sepertinya hanya Mami yang akan datang."
"Kenapa? Lo mau kemana?"
"Rusia."
Seketika wajah Raysa berubah.
"Rusia?"
"Iya, ada proyek yang harus di kerjakan. Dan Papi menyuruh aku ke sana."
"Berapa lama?"
__ADS_1
"Mungkin dua bulan."
Terlihat wajah Raysa yang kecewa. Namun ia dengan cepat merubah ekspresi itu. Sedangkan Fatih, entah kenapa ia bernapas lega. Karena Farhan tak berada di sini selama ia juga tak ada di dekat Raysa.
*
Hari ini Fatih sudah bisa membuka gips yang ada di tangannya. Berkat makanan yang bergizi dan rutin minum obat, Tulang tangan Fatih yang retak cepat pulih. Namun Fatih masih belum boleh mengangkat yang berat-berat selama sebulan ini.
"Ingat Pak, jangan angkat yang berat-berat."
"Iya Dok, terima kasih."
Fatih pun berjabat tangan dengan dokter yang menangani nya sebelum ia pamit keluar. Tadi saat kerumah sakit, Fatih pergi menggunakan Ojek, dan sepertinya ia harus menggunakan Ojek kembali untuk pulang.
"Fatih?"
Fatih menoleh kebelakang saat mendengar suara yang sangat di kenalinya.
"Layca? Kamu ngapain di rumah sakit?"
"Oh, aku tadi ambil data korban kecelakaan."
Fatih mengangguk. Mata Raysa tetuju kepada tangan Fatih yang sudah tidak di gips lagi.
"Udah di buka gips nya? kapan?"
"Barusan."
"Kenapa gak bilang? kalo gak kan aku bisa temani kamu."
"Gak apa lah, lagian kamu juga kerja. Masa baru masuk udah main bolos-bolos aja." Fatih menyengir.
"Tetap aja, kamu begitu karena aku. Lagi pula selama ini aku bawa mobil kamu."
"Ya gak papa, kan bawa mobil calon suami gak salah."
Raysa memutar bola matanya.
"Jadi kamu ini mau ke mana?"
"Mau ke kantor sih, tapi aku Laper. bingung makan batagor."
"Lapar kok makan batagor."
Fatih pun terkekeh. Kemudian ia dan Raysa berjalan beriringan menuju mobil Fatih yang sudah beberapa hari ini Raysa yang membawanya.
"Di mana batagor yang enak?" Tanya Raysa saat mulai menjalankan mobilnya.
"Dekat kantor aku sih."
"Ya udah, sekalian aku antar kamu ke kantor kan ."
"Gak kejauhan kamu nya ntar?"
"Gak lah."
Setiba nya di warung penjual batagor, Fatih dan Raysa turun. Namun saat mereka ingin masuk, mereka bertemu dengan seorang wanita yang familiar di ingatan Raysa.
"Eh, udah sembuh Lo?" Tanya Tissa kepada Fatih yang melihat tangan Fatih sudah tak digendong seperti bayi.
"Udah dong. Dapat perawatan spesial."
Mata Tissa bertemu dengan Raysa, kemudian Tissa tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Hai, kita jumpa lagi. Maaf ya, aku gak bisa mengenali kamu waktu itu. Padahal Fatih sering banget cerita tentang kamu. bahkan ngasih lihat foto kamu ke kamu."
Raysa mengerjapkan matanya tak mengerti.
"Aku Tissa, sahabatnya Fatih."
'Tissa? ya, Tissa, jadi ini yang namanya Tissa? Lebih cantik dari dekat.' Batin Raysa.
"Raysa."
Raysa tersenyum, namun senyumannya tak sampai ke mata.
"Kalian mau makan?"
"Iya, Lo udah selesai? atau mau gabung ma kita?" Tawar Fatih.
"Gak deh, dah kenyang gue. Lagian ada lukisan yang mau gue kerjain."
Fatih menganggukkan kepalanya.
"Layca, lain kali kita makan bareng ya. Banyak yang mau aku ceritain dengan kamu tentang Fatih."
Raysa hanya tersenyum. Namun sebenarnya ia tak suka saat Tissa memanggilnya dengan sebutan Layca. Baginya, hanya Fatih saja yang boleh memanggilnya dengan sebutan 'Layca'.
"Gue duluan ya .."
Tissa berpamitan kepada Fatih dan Raysa.
"Pacar kamu?" Tanya Raysa dengan anda yang sedikit jutek.
Fatih tersenyum, bolehkah ia berharap Raysa saat ini sedang cemburu dengannya?
"Bukankah tadi Tissa sudah mengatakannya? Bahwa dia adalah sahabat ku."
"Oh .."
"Kok jutek, kamu cemburu?"
"Iih, siapa juga yang cemburu."
Fatih terkekeh, namun ekspresi Raysa saat bertemu Tissa memang langsung berubah. Katakan lah saat ini Raysa sedang cemburu, agar hati Fatih merasa senang.
"Kamu mau batagor?"
"Mau lah, udah sampai sini masa gak mau." Jawab Raysa masih dengan nada jutek ya.
Fatih terkekeh, kemudian ia memesan dua porsi batagor dan dua jus Mangga.
Ya, selain jus Naga, Fatih juga menyukai Jus mangga. Dan itu karena Raysa.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....