Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 59


__ADS_3

'Aku gak mau jadi adik kamu. Aku cinta kamu, aku cinta sama kamu.'


Raysa sangat ingin mengatakan hal itu, namun suaranya seakan tertahan di tenggorokan. Tanpa sepengetahuan Fatih, Raysa meneteskan air matanya.


Fatih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tanpa menoleh lagi kearah Raysa, di tambah lagi suara musik yang mengalun membuat Fatih tak mendengarkan Isak tangis Raysa yang tertahan.


Mobil Fatih berhenti setelah ia memarkirkan mobilnya di baseman apartemen nya. Raysa membuka seatbel nya dengan terburu-buru. Untunga tak macet seperti tadi lagi. Fatih mengerutkan keningnya di saat mendengar Raysa seakan menangis.


"Layca, kamu nangis?" Fatih menahan lengan Raysa, namun Raysa menepisnya dan dengan cepat membuka pintu dan turun dari mobil.


"Layca, tunggu."


Fatih pun mengejar Raysa dan langsung menarik lengan Raysa untuk kembali berhadapan dengan dirinya. Wajah Raysa sudah basah dengan penuh air mata.


"Hei, kamu kok nangis? kenapa? aku ada salah? atau?"


Fatih terkejut saat Raysa tiba-tiba saja memeluknya. Raysa menangis dan semakin mempererat pelukannya. Fatih membiarkan Raysa menangis di dalam pelukannya. Setelah Raysa tenang, Fatih merenggangkan pelukannya dengan Raysa. Fatih menangkuo wajah Raysa dan menghapus air mata di pipi mulus Raysa.


"Sekarang bilang, kamu kenapa?"


Raysa menatap wajah Fatih, ia sangat malu dengan apa yng ingin di katakan nya, mana tempatnya kurang romantis lagi. Tapi itu gak penting, yang penting adalah perasaan Raysa kepada Fatih.


"A-aku ...."


"Hmm?"


"A-aku ...." Raysa menundukkan wajahnya, kemudian ia menundukkan wajahnya. "Aku cinta ...." baru saja Raysa menyatakan cintanya, namun saat Raysa menengadah wajahnya dan melihat kearah lain, Raysa melihat sosok Farhan. "Kak Farhan!"


Fatih yang tadinya sudah merasakan jantungnya berdegup kencang dengan kata cinta yang Raysa ucapkan, seketika kembali hancur. Lagi-lagi Raysa menghancurkan perasaanya.


"Kamu cinta Farhan?" tanya Fatih dengan nada kecewa.


Raysa sudah mau menggelengkan kepalanya, namun suara bariton yang ada di belakang Fatih membuat Fatih membalikkan tubuhnya.


"Ica, Fatih?"


Fatih menoleh, sedikit terkejut mendapati Farhan berada di Indonesia. Fatih tersenyum dengan terpaksa. Kenapa momentnya sangat pas sekali? Farhan datang tepat di saat Raysa mengatakan jika dirinya mencintai Farhan!


"Hai bro, apa kabar? kapan Lo balik?" Tanya Fatih sambil bersalaman ala pria.


"Tadi sore. Dan gue langsung ke sini karena rindu sama Ica." Ujar Farhan sambil menatap Ica dengan penuh kerinduan.


"Pas banget, seperti nya Layca juga lagi rondu Lo." Fatih melirik kearah Raysa yang diam membeku seperti patung.


"Kalo gitu gue titip layca ya. Gue ada urusan lagi di luar."


Farhan menganggukkan kepalanya smabil mengacungkan jempolnya.


Tanpa menoleh lagi ke arah Raysa, Fatih kembali berjalan menuju mobilnya.


Raysa?


Raysa hanya mampu terdiam membeku menatap kepergian Fatih. Mobil Fatih pun melaju melewati Raysa dan Farhan yang masih berdiri di tempatnya semula. Raysa kembali menjatuhkan air matanya.


"Fatih, aku cinta kamu." batinnya sambil menatap kepergian Fatih.


*


"Kamu gak papa?" tanya Farhan.


Saat ini mereka sudah berada di apartemen Raysa.


"Hmm, hanya kelelahan aja."


"Aku ganggu ya?"


Raysa tak menjawab. Dari situ Farhan tau jika Raysa butuh waktu untuk sendiri.

__ADS_1


"Aku pulang ya, kamu istirahat aja. Besok aku jemput kamu makan siang di kantor ya?"


Raysa masih menatap kosong kearah gelas yang ada di hadapannya itu.


"Ica ...." Panggil Farhan, namun tak ada respon.


"Ca?" Panggil Farhan lagi sambil menyentuh tangan Raysa.


"Hah? ya?" Tanya nya bingung.


Farhan tersenyum. "Aku pulang, kamu istirahat ya. Aku juga masih sangat kelelahan. Masih terasa jet lag juga. Karena kangen kamu, maka nya aku langsung kesini."


Raysa merasa tak enak hati, tapi dirinya juga merasa lelah karena terlalu memikirkan perasaannya sendiri.


"Maaf ya kak," Ujar Raysa menyesal.


"Gak masalah. Yang penting kesehatan kamu. Oh ya, coklatnya jangan terlalu banyak di makan saat mau tidur ya."


Raysa hanya menganggukan kepalanya. Raysa pun mengantarkan Farhan hingga pintu apartemen nya.


Sakin terfokus fikirannya kepada Fatih, Raysa sampai tak menanyakan kenapa Farhan sudah ada di Indonesia, padahal baru satu bulan lebih dia meninggalkan Indonesia.


Tapi itu bukan hal yang perlu Raysa fikirkan. Saat ini yang memenuhi fikirannya adalah Fatih. Ya, Fatih nya, pria menyebalkan ya yang sudah berhasil meluluh lantakkan hati nya.


*


"Kenapa Lo? murung banget sih?"


Tissa memberikan minuman soda kepada Fatih.


"Masih minuum soda Lo?"


"Dari pada alcohol?"


"Sama aja, gak baik untuk kesehatan usus Lo."


"Air putih rasa nya hambar tau gak."


"Sialan Lo."


Tissa menggoyang-goyangkan kaleng minuman soda yang ada di tangannya.


"Raysa kayak nya beneran cinta sama Lo deh." Ujar Tissa setelah di Landa keheningan beberapa puluh menit yang lalu.


"Hah, gue gak mau percaya. Yang ada gue makin sakit hati."


"Gue serius. Gue bisa rasain jika dia cinta sama Lo. Cara dia natao Lo, dan cara dia gak suka lihat gue."


"Nah, tu dia. Karena dia gak suka liat Lo makanya Lo ambil kesimpulan gitu kan?"


"Bukan karena itu, gue serius!"


"Hah, udah lah. Lagian gue udah bilang ke dia, kalo gue bakal jadi abang yang baik untuk dia."


Tissa memandang sahabatnya itu. Terlihat wajah lelah di garis tegas wajahnya, namun Fatih selalu berusaha untuk tak terlihat lelah.


*


Hubungan Raysa dan Fatih pun kembali merenggang. Seringnya Farhan menjemput Raysa di apartemen, membuat Fatih merasa tak nyaman, hingga dirinya memilih untuk menyewa apartemen yang berada di dekat kantor. Fatih akan beralasan sering lembur saat Raysa menanyakn kenapa dirinya tak pulang ke apartemen.


"Gak pulang lagi Lo?" Tanya Tissa.


Saat ini Fatih berada di galeri milik Tissa yang 90% sudah selesai. Seperti janjinya, Fatih membantu Tissa untuk membuka pameran galeri nya.


"Hmm, gue gak mau hati gue kembali sakit setiap layca bersama Farhan."


Tissa hanya menganggukan kepalanya. Kemudian ia tersenyum saat mendapatkan notif pesan di ponselnya, dan itu tak luput dari penglihatan Fatih.

__ADS_1


"Bahagia banget? nape Lo?"


"Hah? oh? ini, emm ... Mr. F berada di Indonesia, dan aku senang banget saat dia bilang akan hadir ke pameran lukisan aku." Ujar Tissa dengan wajah merona.


"Waah, selamat ya ... gue doain semoga cepat nikah Lo. Udah tua."


"Sialan Lo, Lo juga udah tua."


"Gue cowok, umur 30 pun masih banyak yang ngejar. Ibarat kata ya, makin tua makin berkarisma tau gak!"


"Iih, tapi gue rasa gak berlaku buat Lo."


"Sirik aja Lo."


"Biarin, week ..."


Tanpa mereka sadari, jika di luar gedung galeri milik Tissa, Raysa melihat mereka dari kejauhan.


Gimana bisa Raysa berada di dekatbgedung Tissa?


Tentu bisa, karena Raysa hari ini mendapatkan dinas malam, jadi pagi ini Raysa off, sehingga Raysa ingin mengantarkan makanan kepada Fatih. Namun saat Raysa berada di kantor Fatih, Satpam di sana mengatakan jika Bos mereka tak berada di tempat. Padahal Raysa baru saja berkirim pesan kepada Fatih, dan menanyakan di mana pria itu. Fatih pun menjawab bahwa dirinya berada di kantor.


Raysa kembali mengeluarkan ponselnya, ia mendial nomor Fatih, hingga akhirnya Fatih mengangkat panggilan tersebut.


"Kamu di mana?" Tanya Raysa langsung.


"Di kantor."


"Oh,"


"Kenapa?"


"Gak papa, berarti aku salah lihat orang."


"Kamu di mana?" Tanya Fatih yang merasa jika suara Raysa mulai serak.


"Aku, aku di cafe, dengan temanku."


"Makan siang?"


"Hmm,"


"Ya udah, jangan bersisa makannya ya. Biar kamu gak terlihat kurus."


"Hmm, udah dulu ya, assalamualaikum." Raysa mematikan panggilannya secara sepihak, tanpa mendengar jawaban salam Fatih.


Air mata Raysa menetes begitu saja, Raysa pun membalikan tubuhnya dan segera menghentikan taksi yang lewat.


Fatih memandang ponselnya dengan kening berkerut.


"Napa?" Tanya Tissa.


"Gak tau, kok perasaan gue gak enak ya?"


"Udah sana, Lo liat dulu keadaan Raysa. Mana tau dia butuh Lo saat ini."


"Gak lah, kalo ada apa-apa pasti Layca hubungi Farhan."


"Pulang sana Lo, temui Layca Lo itu."


Fatih menyesap minuman soda Yanga da di atas meja, tanpa mau mendengarkan ucapan Tissa. Sehingga membuat Tissa kesal dan meninggalkan Fatih sendirian. Lebih baik ia menyelesiakan lukisan sang pujaan hati dari pada duduk di depan pria yang lagi memasang mode keras kepalanya.


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2