
Seluruh keluarga telah berkumpul di rumah sakit, saat mendapatkan kabar jika Raysa telah mengalami kontraksi.
Daddy Bara mondar mandir di depan ruang persalinan sambil merem*s-rem*s jari jemarinya.
"Mas, duduk dulu," tegur Bunda Sasa.
Bukannya Bunda Sasa tak panik, tentu saja Bunda Sasa ikut panik, karena kehamilan Raysa berbeda dari kehamilan wanita pada umumnya.
Anggel keluar dari ruang persalinan yang mana kehadiran Anggel langsung disambut oleh seluruh keluarga.
"An, gimana Ica?" tanya Daddy Bara.
"Daddy tenang ya, Ica baik-baik saja. Hanya saja___"
"Hanya saja kenapa An?"
"Ica harus oprasi Caesar."
Daddy Bara mengusap wajahnya dengan kasar. "Ya Allah, Ica," ujar Daddy Bara dengan frustasi.
"Daddy tenang aja, semua akan baik-baik aja, kok." Anggel tersenyum seolah menyampaikan jika tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Oprasi ini dilakukan demi menyelamatkan Raysa dan bayi-bayinya.
"An, aku ingin ikut proses persalinannya, boleh?" tanya Fatih kepada Anggel yang sudah bersiap dengan pakaian hijaunya.
"Tentu, tapi kamu yakin sanggup kan? Karena sebagian orang ada yang gak sanggup saat melihat proses melahirkan secara Caesar."
"Demi Layca, aku sanggup. Aku gak mau biarin Layca berjuang sendiri."
"Oke, bersiaplah. Di sana ruang gantinya." Anggel menunjuk kearah ruang ganti para dokter dan suster yang bersiap untuk melakukan operasi.
Suster yang sudah mengetahui siapa Fatih pun, langsung mempersilahkan Fatih masuk dan memberikan baju operasi berwarna biru. Fatih ikut masuk keruang operasi bersama Anggel, Mami Anggun, dan tim lainnya.
"Siapkan darah untuk Ica," titah Leo kepada perawat.
Perawat langsung menyiapkan darah yang memang sudah di sediakan sejak lama untuk Raysa.
Daddy Bara tak henti-hentinya mengucap dan merapalkan doa agar putri dan cucu-cucunya baik-baik saja.
*
"Hai, semua akan baik-baik saja," ujar Fatih saat sudah berada di samping Raysa.
"Abang.." Raysa merasa terharu, karena Fatih ikut menemaninya di ruang operasi.
Sungguh, Raysa sangat takut berada di ruang operasi, tapi, ketakutannya saat ini perlahan menguap, Raysa seakan memiliki kekuatan dengan kedatangan Fatih.
"Ca, duduk dulu ya, biar di bius dulu." ujar Anggel dan membantu Raysa untuk duduk.
Perawat anastesi yang sudah ahli pun langsung menyuntikkan bius di pinggang Raysa. Sakit, nyeri, dan rasa tak nyaman bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak, Rays amerasa sekaan tulangnya yang sedang di tusuk oleh jarum, rasa sakit yang sungguh sangat sulit sekali Raysa jabarkan.
__ADS_1
Fatih membantu Raysa kembali berbaring. Penutup dari dada hingga kebawah pun mulai di geser. Fatih menggenggam tangan Raysa, mengalurkan kekuatan kepada sang istri tercinta.
"Ca, coba angkat kakinya. Yang tinggi ya.." ujar Anggel ingin melihat apakah biusnya sudah berjalan atau belum.
Raysa mengangkat kakinya sesuai perintah Anggel.
"Yang tinggi Ca,"
Raysa mengangkat kembali kakinya.
"Tinggi lagi, setinggi yang kamu bisa." titah Anggel.
Raysa merasa sudah mengangkat kaki nya sangat tinggi. "Udah, kak."
"Iya, udah tinggi banget kamu angkat kakinya. sekarang turunin ya."
Anggel tersenyum kemudian memberi kode kepada Mami Anggun jika biusnya sudah bereaksi. Sebenarnya Raysa tak bisa lagi mengangkat kakinya tinggi, itu hanya kamuflase yang dibuat agar mengetahui jika bisu sudah mulai bereaksi.
"Ca, kita mulai ya. Bismillah," ujar Mami Anggun yang memimpin operasi kali ini.
Raysa memiliki tekanan darah tinggi, maka dari itu Mami Anggun sedari awal kehamilan Raysa ,sudah ikut turun tangan, agar tak terjadi masalah pada kehamilannya.
"Udah ada nama belum untuk bayi-bayinya?" tanya Mami Anggun kepada Fatih.
"Udah, Mi."
"Seneng banget ya, bisa langsung dapat kembar, langsung rame. Hmm, Mami gak tau nih kapan bisa gendong cucu dari Lucas." ujar mami Anggun sambil melakukan pekerjaannya menyayat perut Raysa.
"Doakan saja Mi, agar Lucas bisa cinta sama istrinya."
Fatih pun mengajak Raysa ngobrol, hingga tak terasa mereka mendengar tangisan bayi.
"Ya Allah, anak aku, Bang. Hiks ... Alhamdulillah." Raysa terisak saat mendengar suara tangis bayinya.
"Selamat Ica, si Abang ganteng banget." ujar Anggel sambil memberikan bayi berjenis laki-laki kepada Raysa.
Anggel meletakkan di dada Raysa, agar sang bayi bisa mengenali susu alaminya. selang lima menit kemudian.
Oweek ... owek ...
Raysa kembali terisak dan mengucap syukur, bayi kedua mereka pun berhasil di lahirkan.
"Waah, si adek gak kalah gantengnya." seru Anggel dan memberikan bayi berjenis laki-laki itu kepada Raysa.
"Alhamdulillah, anak kita udah lahir," seru Fatih yang juga ikut terisak.
Sebenarnya, di pertengahan jalannya operasi, Fatih sudah hampir jatuh tumbang, namun ia menguatkan dirinya dengan mensugesti jika semua baik-baik saja. Jika Raysa sanggup menghadapinya, maka dia juga harus kuat. Fatih membuktikan jika kekuatan cinta memang sangat berpengaruh pada dirinya.
Fatih mengazani kedua putranya, tak lupa Fatih juga memberikan nama yang indah untuk kedua putranya.
*
__ADS_1
Anggel keluar dari ruangan operasi dan menemui seluruh keluarga.
"Gimana, An?" tanya Daddy Bara.
Anggel tersenyum, "Alhamdulillah, bayinya sehat, ibunya sehat. si kembar sehat."
"Alhamdulillah, ya Allah, terima kasih ya Allah.." ucap Daddy Bara dan Papi Gilang yang langsung bersujud syukur.
"Alhamdulillah, Mbak. Kita punya cucu," seru Mami Mili kepada Bunda Sasa.
Bunda Sasa dan Mami Mili pun berpelukan dan menangis terharu.
"Cewek atau cowok?" tanya Quin yang juga ikut hadir menunggu persalinan selesai.
"Cowok."
"Wooww, seru nih... ada dua jagoan di rumah " seru Steva dan Sofia sambil berloncat-loncatan.
Raysa sudah dipindahkan ke ruang inap. Begitu pun dengan bayi kembarnya.
"Iih, ganteng banget. lucu.. mungil..." seru Steva yang ingin mencuil pipi bayi kembar itu.
"Eeits, udah cuci tangan belum?" tanya Fatih menahan tangan adiknya itu agar tak menyentuh pipi anaknya.
"Belum." Steva menyengir dan langsung ngacir kedalam kamar mandi, yang mana di susul oleh Sofia.
"Cucuku," seru Daddy Bara dan langsung menggendong salah satu bayi yang ada di dalam box tersebut.
"Ooh, cucuku yang tampan," seru Papi Gilang dan menggendong bayi satunya lagi.
Mami Mili dan Bunda Sasa bernapas lega. Untuk pertama kalinya mereka tak melihat para suami berebutan sesuatu yang berkaitan dengan Raysa.
"Ca, untung kamu lahirin dua bayi. Kalau gak? duuh, pening Oma denger mereka berebutan," seru Oma Shella yang mana membuat seluruh anggota keluarga tertawa.
Daddy Bara dan Papi Gilang pun hanya melirik satu sama lain, kemudian mereka kembali fokus kepada bayi yang ada didalam gendongannya.
"Papi sama Daddy udah cuci tangan belum?" tanya Fatih yang entah kenapa tiba-tiba menjadi Lucas yang menyebabkan soal kebersihan.
"Udah dong. Tuh, di depan pintu kamar kamu ada hand sanitizer."
Tak tahu saja Fatih, jika Daddy Bara dan Papi Gilang sempat berebutan untuk memakai hand sanitizer itu.
* haii haii... Layca dan Fatih udah punya baby kembar tuh. cuma aku bingung mau kasih nama siapa.
yukk komen, nama yang menarik akan di pakai untuk menjadi putra-putranya Fatih dan Layca ya...
**
Jangan lupa Vote ya setiap hari senin
Jangan lupa like and komen.
__ADS_1
Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA
salam rindu Tissa dan Farhan