
Raysa mencoba mendial nomor Fatih, namun tak bisa dinhubungi.
"Habis batrai kali yaa? ya udah lah ..." Raysa pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar apartemen nya untuk menghampiri Fatih.
Sudah tiga kali Raysa memencet bel, namun tak ada sahutan dari dalam.
"Ketiduran kali yaa?"
Raysa pun langsung menekan password Aparatemen Fatih. Saat pintu terbuka, Raysa melihat jika lampunya padam. Raysa mengambil ponselnya dan menghidupkan senter. Mencari di mana ceklekan lampunya.
Saat sudah menemukannya, Raysa menggeleng saat melihat meja di ruang TV penuh berserakan dengan kertas-kertas gambar sketsa milik Fatih. Rays tak ingin menyentuhnya, karena takutnya ia salah dna membuat pekerjaan Fatih menjadi semakin berantakan.
"Fatih ..."
Raysa memanggil Fatih, namun tak ada jawaban. Gak biasanya Fatih tertidur di saat habis magrib, kecuali jika dia kelelahan atau sakit.
Raysa langsung menoleh ke meja nakas. Di sana masih ada plastik obat yang di berikan oleh rumah sakit. Raysa pun mengambil plastik tersebut, dan mengeceknya.
"Kan bener, gak di minum."
Raysa mendengus kesal, ia pun mengetuk pintu kamar Fatih, namun tak ada jawaban. Raysa semakin khawatir, hingga akhirnya Raysa memberanikan diri untuk membuka pintu kamar tersebut. Saat pintu itu terbuka, keadaan kamar gelap, Raysa mencari skalarnya dan menghidupkan lampunya.
Kosong.
Tempat tidur itu masih rapi, dan dari kamar mandi juga tak terdengar suara gemericik air. Ke mana Fatih?
Raysa mencoba kembali menghubungi Fatih, namun tetap saja, ponselnya tak bisa di hubungi. Hingga akhirnya Raysa memilih kembali ke apartemen nya, sebelum cacing-cacingnya ikut kesal dengan dirinya.
*
"Ponsel Lo habis batre?" Tanya Tissa saat melihat ponsel Fatih tiba-tiba saja padam.
"Iya, lupa gue ngisi daya nya tadi."
Fatih semakin merasa tubuhnya tak enak, rasa panas dan gerah, juga rasa dingin dan menggigil. Fix, sepertinya Fatih benar-benar akan demam. Bahkan selera makan Fatih pun tak ada.
"Maaf, bisakah kita membahasnya lain kali? Saya merasa tak enak badan tiba-tiba." Ujar Fatih yang memang sudah terlihat pucat.
" eh, iya, tak apa. emm.. Mau saya antar?" Tawar Andini yang mencoba untuk mencari kesempatan.
"Gak papa, saya bisa pulang sendiri. Silahkan di lanjutkan saja makannya."
Tanpa menunggu lama lagi, Fatih berdiri.
"Beneran gak papa pulang sendiri? Mau gue antar?" Tanya Tissa.
"Gak papa, Lo lanjut aja makannya. Gue bisa naik taksi di depan kok."
"Gue antar sampai depan?" Tawar Tissa.
Fatih baru saja ingin menolak, namun Andini sudah duluan bersuara.
"Biar saya aja yang antar. Karena ini juga keslahan saya. Seharusnya membicarakan bisnis tidak di luar jam kantor, dan mengganggu waktu istirahat Tuan Fatih."
"Tak apa, tapi beneran, Nona Andini tak perlu mengantar saya__"
"Tak apa, saya sama sekali tidak keberatan kok. Mari ..." Andini berisi dan berjalan di depan Fatih.
Fatih yang memang mulai kehabisan tenaga pun akhirnya mengikuti langkah Andini. Tissa hanya memberikan senyuman kepada Fatih, sebelum sahabatnya itu pergi.
"Maaf kan saya Tuan Fatih."
Fatih yang memang sudah pusing hanya bisa tersenyum Rasanya ingin sekali ia menyuruh Andini untuk diam dan tak mengajaknya bicara. Kepala Fatih benar-benar pusing.
Sesampainya di lobi, untungnya Fatih tak perlu lama menunggu taksi, dan mendengarkan ocehan Andini yang memang tak di dengarkannya.
"Terima kasih atas undangan makan malamnya. Maaf jika saya berlaku tak sopan, tapi saya janji, saya akan mengundang Nina Andini untuk makan malam."
Seperti ada ribuan durian runtuh menghampiri, Andini tersenyum lebar dan rasanya ingin bersorak bahagia saat mendengar Fatih ingin mengajaknya makan malam.
"Baiklah, saya tunggu janji Tuan Fatih."
Fatih mengangguk dan naik kedalam taksi. Fatih tak lagi melihat keluar, karena kepalanya sudah sangat pusing. Bahkan Fatih tak membalas lambaian tangan Andini. Bukannya Fatih tak tau, jika Andini pasti menyukainya, namun memang Fatih saja yang malas meladeninnya. Fatih akan bicarakan ini dengan Tissa.
Setelah mengatakan alamatnya kepada sang supir, Fatih menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya. Fatih benar-benar lemas dan pusing. Mungkin ia terlalu memfostir tubuhnya untuk bekerja, dan melupakan kesehatan nya sendiri.
Sesampainya di apartemen, Fatih berjalan dengan terhuyung. Untungnya Fatih masih bisa menemukan kesadarannya.
"Pak Fatih baik-baik aja?" Tanya seorang satpam yang menghampri Fatih, saat melihat Fatih hampir saja terjatuh.
"Ya, saya baik-baik aja. Hanya sedikit pusing."
"Bapak terlihat pucat, mau saya antar hingga ke depan pintu apartemen?"
Fatih berfkir sejenak, itu bukan ide buruk, dari pada ia pingsan di dalam lift. Sebaiknya ia menerima bantuan dari satpam bernama Doyok tersebut.
"Baik pak, tolong antar saya."
Satpam bernama Doyok pun langsung memapah tubuh tegap Fatih yang besar tinggi. Sedikit kesulitan memang, tapi Pak Doyok yang sudah tua masih sanggup menahan tubuh Fatih.
Fatih mengerang saat kepalanya terasa semakin pusing.
"Sebentar lagi sampai pak." Ujar Pak Doyok.
Fatih hanya mengangguk tanpa mau membuka matanya.
Ting ...
__ADS_1
Pintu lift terbuka, Pak Doyok membantu Fatih keluar dari lift, hingga suara seorang wanita membuat Fatih berusaha membuka matanya, sebelum kesadarannya hilang.
*
Raysa menghela napas, ia pandangi wajah pucat Fatih. Untungnya ada Pak Doyok bersama Fatih, jadi Raysa tak harus mengeluarkan tenaganya untuk menggendong Fatih. Atau bisa jadi Raysa menyeretnya secara paksa.
"Terima kasih pak." Ujar Raysa kepada Pak Doyok yang sudah membantu dirinya untuk membawa Fatih kedalam kamar.
"Sama-sama neng. Oh ya, neng ini pacar nya yaa??"
"Bukan, saya adik nya."
"Ooh, saya fikir pacarnya. Adik gimnaa ya? setau saya, adik Pak Fatih kembar."
"Oh, saya adik sepupunya. Saya tinggal di apartemen sebelah."
"Ooh, Ini ya namanya Non Raysa."
Raysa mengerutkan keningnya.
"Pak Fatih pernah minta bantuan saya untuk membersihkan apartemen Non. Katanya apartemen itu mau ditempati oleh orang yang spesial di hatinya."
Raysa hanya tersenyum Kikuk, namun rasa kesal kembali menghampirinya. Harus ya Fatih bilang begitu kepada satpam di apartemen?
"Kalo gitu saya permisi dulu ya Non, harus kembali berjaga."
"Iya pak, makasih banyak. Em, ini pak, untuk beli kopi dan roti Bakar." Raysa memberikan uang kepada Pak Doyok sebesar 100rb.
"Eh, gak usah non. Saya iklas nolongnya."
"Gak papa pak, saya juga iklas ngasih nya."
"Ya sudah kalo Non Raysa maksa, terima kasih non." Ujar Pak Doyok sambil mengambil uang tersebut.
"Sama-sama pak."
Raysa mengantar pak Doyok hingga sampai pintu apartemen. Kemudian Raysa kembali kedalam kamar Fatih.
Tadinya Raysa ingin pergi ke supermarket, membeli pembalut tipis nya yang biasa dipakai sehari-hari. Saat keluar dari apartemen, Raysa melihat pintu lift terbuka dan bergegas menuju lift sebelum lift kembali tertutup. Namun, saat orang yang keluar dari lift adalah Fatih dan Lah Doyok, Raysa terkejut saat melihat wajah Fatih yang sangat pucat.
Raysa memegang kening Fatih, rasanya sangat panas sekali. Ini mungkin akibat Fatih tak meminum obatnya, dan juga kurangnya istirahat. Raysa beralih menuju apartemennya, untuk mengambil bahan yang bisa di buat bubur olehnya.
*
Raysa sudah siap membuat bubur di apartemen Fatih, namun Fatih belum juga bangun, padahal Raysa sudah mengompres tubuhnya, dan juga memberikan obat kepada Fatih.
Ekhem ... penasaran kan gimnaa cara Raysa memberikan obat kepada Fatih?
sssttt ... Pastinya cuma Raysa sendiri yang tahu ... hi .. hi .. hi..
Perlahan mata Fatih terbuka dan menatapnya dengan sayu. Fatih masih bisa tersenyum di saat sakit seperti ini, tapi untungnya demamnya sudah turun sedikit.
"Kamu di sini?" Tanya Fatih lemah.
Raysa mendengus kesal, tentu saja dia di sini. Lalu Fatih mengharapkan siapa? Tissa? cih ...
"Kenapa obatnya gak di minum? kamu demam karena kamu gak minum obatnya."
Fatih terkekeh, "Lupa."
Raysa memutar bola matanya malas.
"Mau aku telpon Mami? Biar Mami kesini dan ingatin kamu untuk minum obat?"
"Jangan, aku gak mau mami khawatir."
Raysa tau itu, makanya Raysa tak menghubungi Mami Mili untuk mengatakan jika Fatih sedang sakit. Raysa menghela napasnya pelan.
"Kamu dari mana? aku telponin kok gak nyambung?" Raysa akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada jamuan makan malam dengan klien, ponsel ku habis batre."
Raysa mendesah pelan, rasanya ia sia-sia saja memasak untuk Fatih. Jika tau Fatih akan makan malam di luar, mungkin Raysa gak akan perlu repot-repot memasak bubur.
Kriiuukk ..
Suara perut Fatih menjawab pertanya Raysa.
"Kamu belum makan"
"Belum, saat sedang pesan makanan, aku pamit pulang karena kepala ku pusing."
Raysa mengulum bibirnya, usahanya untuk memasak bubur ternyata tak sia-sia.
"Baiklah, tunggu di sini."
Raysa keluar dari kamar, kemudian ia mengambil bubur. Raysa pun kembali kedalam kamar bersama semangkuk. ubur, segelas air hangat, dan obat.
"Makan dulu." Ujar Raysa saat masuk kedalam kamar.
"Suapin." Ujar Fatih manja.
"Bawel."
Walaupun begitu, Raysa tetap juga menyuapi Fatih bubur. Fatih mengulum bibirnya, berkah Fatih berharap jika Raysa saat ini perhatian kepadanya bukan karena merasa bersalah?
Ya, Fatih tau. Jika Raysa baik kepada nya karena merasa bersalah. Bolehkan Fatih mengharap lebih?
__ADS_1
Satu mangkuk bubur habis, masakan Raysa membuat Fatih berselera makan. Bisakah Fatih berharap jika dirinya bisa terus makan masakan Raysa?
"Nih, obatnya. Biar cepat sembuh."
"Makasih .."
Fatih meraih obatnya dan meminumnya. Fatih yang merasa masih pusing pun memilih untuk menutup matanya sambil bersandar, karena dirinya baru saja makan.
"Masih pusing?" Tanya Raysa.
"Hmm."
Raysa memberikan bekas makan Fatih, kemudian ia membawanya kedapur untuk mencuci semua bekas makannya Fatih. Raysa kembali kedalam kamar Fatih, dan melihat Fatih sudah mendengkur halus. Sepertinya Fatih sudah tidur. Raysa menutup pintu kamar Fatih, namun tak rapat.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Raysa memilih menginap di apartemen Fatih. Ini semua hanya karena agar Raysa bisa memastikan jika Fatih benar-benar beristirahat dengan baik. Raysa memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Raysa yang tengah menonton film pun akhirnya ketiduran di sofa.
Fatih bangun karena merasa tak nyaman dengan tidurnya yang sambil terduduk dan bersandar. Fatih menoleh ke jam yang nagkirng dinding sudah seperti cicak. Sudah pukul 1 dini hari. Fatih teringat akan Raysa, mungkin saat ini Raysa sudah berada di dalam apartemen nya.
Fatih merasa haus, namun ia melihat tak ada gelas di atas nakasnya. Mungkin Raysa lupa meletakkannya, begitu fikir Fatih. Fatih pun mengumpulkan nyawanya, dan berusaha bangkit. Untung kepalanya tak sakit lagi setelah minum obat dan beristirahat.
Fatih terkejut saat mendapati Raysa tertidur di sofa. Fatih pun segera bergegas kembali untuk mengambil selimut dan guling untuk Raysa. Fatih sudah tau kebiasaan tidur Raysa, raysa akan lelap tidur jika dirinya memeluk guling.
Fatih selimuti tubuh Raysa agar tak merasa kedingian. Ingin rasanya Fatih menggendong Raysa ke dalam kamar, namun mengingat tangannya yang masih sakit, Fatih pun mengurungkan niatnya. Fatih kembali berjalan kedapur dan mengambil segelas air, lalu Fatih meminumnya.
Fatih merasa dirinya masih lelah, sebenarnya ia masih ingin mengerjakan sketsanya, namun ia tak ingin memaksakan dirinya. Karena sudah beberapa malam Fatih tak tidur, mungkin ini kode dari tubuhnya yang minta untuk di istirahatkan.
Fatih kembali kedalam kamar, mengambil bant dan selimut. Fatih letakkan bantal di bawah sofa, dan dengan beralaskan karpet bulu yang tebal, Fatih tidur menemai Raysa yang tertidur di sofa.
*
Raysa merengerjapkan matanya, kemudian ia merenggangkan otot-otot lengannya yang pegal, karena tidur di sofa. Raysa tersadar jika dirinya saat ini sedang memeluk guling dan memakai selimut. Raysa tau siapa orang yang memakaikannya, ya kalo bukan Fatih, siapa lagi coba. Gak mungkin kan penghuni yang lain?
Raysa bergidik ngeri saat mengingat jika ada penghuni lain di apartemen Fatih. Raysa pun menurunkan kakinya ke lantai.
"Aaw ..."
"Aaaaaaa ...."
Raysa kembali terjatuh ke atas sofa. Ia memeluk kakinya sambil membaca ayat kursi. Fatih duduk sambil meringis karena perutnya di pijak oleh Raysa. Raysa menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya sambil membaca doa dengan kuat.
"Ca, ini gue ...." Fatih menggoyangkan kaki Raysa.
Raysa terdiam, kemudian ia menarik sedikit selimut yang menutupi wajahnya. Raysa memekik kesal dan melempar guling kepada Fatih.
"Bikin kaget aja, ngapain juga kamu tidur di situ."
Fatih terkekeh, "Nemenin kamu tidur lah. Masa kamu tidur sendiri di luar? sedangkan aku enak-enakan tidur di dalam."
Raysa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Memang sudah kebiasaan Raysa bangun tidur seperti itu.
"Ilernya gak sekalian di lap?" Goda Fatih.
Raysa mendelik, namun tangannya tetap mengusap sudut bibirnya. Fatih terkekeh saat melihat tingkah Raysa yang lucu. Raysa kesal dan memukul lengan Fatih.
"Aawwh ....ssstt.." Fatih memekik sakit, ia mengusap lengannya yang di pukul oleh Raysa. Tepat di lengan kanannya.
Raysa menutup mulutnya dan langsung mengelus lengan Fatih.
"Maaf ... maaf ... gak sengaja ..." Ujar Raysa penuh dengan rasa bersalah.
Fatih tersenyum, melihat Raysa merasa khawatir kepadanya seperti ini, membuat hati Fatih merasa menghangat.
"Udah, gak papa kok." Fatih menghentikan yang. Raysa yang mengusap lengannya dengan lembut.
"Beneran?"
"Hmm ..." Mata Fatih menetap kedalam mata Raysa, begitupun sebaliknya. Fatih cepat menyadarkan dirinya sebelum setan membisikan sesuatu untuk menerkam bibir Raysa.
"Eem, jam brapa nih? Solat subuh dulu yuk .."
Fatih memutuskan kontak mata mereka, Fatih bangun dengan di bantu oleh Raysa.
"Aku solat di rumah ya, gak ada mukena juga kan di sini?"
"Mukena? ada, di kamar tamu. Mukena punya Mami."
Raysa yang fikirannya hampir ke mana-mana, langsung mengangguk. Ia lupa, jika Mami Mili sering berkunjung ke Bandung. Mengingat ada perusahaan yang di bawah kendali Mami Mili, yang terkadang juga sering Fatih yang mengambil andilnya.
"Ya udah, solat berjamaah aja."
" Iyaa, itung-itung belajar jadi imam dan makmum."
Raysa menghela napas, sepetinya ia mulai biasa dengan candaan yang Fatih berikan.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1