Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F 4


__ADS_3

\=\= Tak ada kabar \=\=


Sudah seminggu sejak Raysa keluar dari rumah sakit, namun Fatih belum juga menjumpai Raysa.


" Kok gak bisa di hubungi sih?" Gerutu Raysa dan terus menghubungi seseorang.php


" Kamu nelpon siapa?"


" Fatih, Bun."


" Kenapa Fatih?"


" Udah seminggu kok gak ada kabar yaa? biasanya langsung nongol aja dia tanpa di undang."


" Mungkin Fatih sedang sibuk, Bunda dengar sih dia mau lanjutin kuliah di Malaysia."


Raysa menolehkan kepalanya kepada sang Bunda.


" Bunda denger dari siapa?"


" Mama Kesya yang bilang."


Raysa terlihat kesal, Fatih benar-benar membuat Raysa kesal.


" Bunda, Ica izin ke rumah Fatih boleh gak?"


" Mau ngapain?"


" Mau marahi Fatih, kesal Ica, udah dia gak jengukin Ica, eh sekarang malah gak kasih ka at mau ke Malaysia."


" Ya udah, hati-hati ya.."


" Iya Bunda."


Raysa langsung bergerak melesat kedalam kamarnya, mengganti pakaiannya dan bergegas mengambil kunci motor sang Bunda.


" Ica pergi ya Bun." Tak lupa Raysa mengecup pipi sang bunda.


" Hati-hati berkendaranya, jangan lupa bawa surat-surat berkendara."


" Iya Bunda, udah Ica masukin semuanya kedalam tas "


Raysa melesatkan motor sang bunda dengan kecepatan sedang, bertepatan dengan mobil sang Daddy yang baru saja sampai di depan rumah.


" Mau kemana Ica?" Tanya Daddy Bara saat sudah turun dari mobil dan di sambut dengan Bunda Sasa.


" Assalamualaikum nya mana, Mas?"


" Walaikumsalam, " Daddy Bara pun mengecup kening Bunda Sasa, dan merengkuh pinggang Sasa. " Ica ke mana?"


" Oh, Ica ke rumah Fatih."


" Tumben, mau ngapain dia?"


" Fatih udah seminggu gak kasih kabar, gak jengukin dia, jadi kesal dia, lagipula tadi aku bilang kalo Fatih mau lanjutin kuliah di Malaysia."


" Ooh, ya udah lah. Lagian mereka dari kecil juga berantem dan selalu baikan lagi."


Daddy Bara dan Bunda Sasa pun masuk kedalam rumah dengan Daddy Bara merengkuh pinggang Bunda Sasa.


*


Mami Mili terkejut saat melihat kehadiran Raysa di depan pintu.


" Mami, Fatih ada?"


" Fatih? ada di dalam. Tumben Ica ke sini gak kasih kabar? Ayo masuk."

__ADS_1


Raysa pun mengikuti Mami Mili masuk kedalam rumah dan menuju ruang keluarga.


" Eyang putri sama Eyang kangkung mana?"


" Eyang kan pergi berlibur ke solo."


Raysa mengangguk-anggukan kepalanya.


" Mi, puding Abang mana?" Terdengar suara teriakan Fatih dari kamar nya.


Mami Mili ingin mengatakan jika Raysa berada di rumah, namun Raysa menahan ucapan Mami Mili.


" Iya sayang, Sebentar."


" Biar Ica yang antar boleh Mi? Ada yang mau Ica omongin sama Fatih."


" Ya udah, yuk kita ambil pudingnya di dapur "


Raysa menginjakkan kaki nya setapak demi setapak anak tangga, hingga langkah itu terhenti tepat di depan kamar Fatih yang memang tak tertutup rapat.


Raysa membuka pintu kamar semakin lebar. Mata Raysa langsung tertuju kepada gambar dua anak kecil yang sedang tersenyum. Raysa sangat mengenali wajah kedua anak kecil tersebut. Ya, itu adalah foto dirinya dan foto Fatih saat masih kecil. Mata Raysa tiba-tiba saja berkaca, hingga suara Fatih mengambil kembali atensi Raysa.


" Layca? Kamu di sini?" Fatih langsung bangkit dan menghampiri Raysa.


" Hei, kok malah bengong? " Fatih mengambil alih nampan yang ada di tangan Raysa, dan juga menarik tangan Raysa untuk duduk di sofa Yang ada di kamar Fatih.


" Tumben ke sini gak kasih kabar?"


Seolah kembali mendapatkan arwahnya, Raysa langsung menatap Fatih kesal.


" Kamu jahat banget sih, aku sakit gak jengukin, terus aku wa gak di read, aku telp gak di angkat, bahkan ponsel kamu gak aktif, terus kamu mau lanjutin kuliah di Malaysia gak ngasih kabar ke aku." Wajah Raysa sudah memerah karena meluapkan rasa kekesalannya.


Fatih tersenyum dan terkekeh, " Kamu tau dari siapa aku mau lanjutin kuliah di Malaysia?"


" Gak penting dari siapa tau, pokoknya aku marah sama kamu."


" Marah kok bilang-bilang sih, gemesin deh.."


Fatih makin terkekeh melihat Raysa semakin kesal.


" Nih, makan puding dulu biar adem."


Fatih menyodorkan sesendok puding, yang di sambut oleh Raysa dengan langsung membuka mulutnya.


" Enak?"


" Ya enak lah, buatan Mami."


Fatih kembali menyuapi Raysa puding, hingga habis setengah.


" Udah gak kesal lagi kan?"


" Sedikit."


" Kalo kamu tenang gini, baru akan jawab pertanyaan kamu."


" Ya udah, jawab."


" Aku minta maaf karena di Bandung aku gak jengukin kamu saat kamu udah sadar. Papi tiba-tiba ngasih kerjaan ke aku yang memang gak bisa aku tinggalkan. Dan Aku gak jumpai kamu seminggu ini karena aku lagi ngurus surat kepindahan aku ke Malaysia, Rencana nya aku mau bilang ke kamu besok, sekalian ngajakin malam mingguan."


Raysa mencebikkan bibirnya.


"Terus, kenapa telfon aku gak kamu angkat?"


" Oh itu.., Aku cuma pingin tau aja, kamu rindu aku atau enggak, dan ternyata, kamu rindu aku.."


" Iih, GeEr banget sih kamu."

__ADS_1


" Jadi, mau jalan-jalan sekarang? atau malam Minggu?"


" Siapa juga yang mau pergi dengan kamu."


" Yakinn? Lisa aku udah berangkat loh.."


" Kamu gak mau temenin aku latihan?"


" Ada Arash kan yang juga bakal masuk polisi."


" Iih, dasar gak setia kawan."


" Aku bukan kawan kamu, tapi calon suami kamu."


" Gak usah nyebelin deh. "


Fatih hanya terkekeh dengan memandang wajah Raysa yang cemberut.


*


" Fatih beneran mau sambung kuliah di Malaysia?" Tanya Oma Shella.


Saat ini Raysa tengah menikmati makan malam bersama keluarganya. Raysa benar-benar menolak ajakan Fatih untuk menemaninya malam Minggu, namun Raysa meminta Fatih untuk menemaninya satu harian di hari Minggu. Benar-benar seharian, dari pagi hingga malam, dan Fatih menyetujuinya.


" Iya Oma, nyebelin kan, masa Fatih gak bilang-bilang mau sambung kuliah ke sana."


" Mungkin Fatih punya alasannya sendiri."


" Ya walaupun.."


" Oma heran deh, kamu gak suka sama Fatih, sering kesal sama Fatih, tapi kalo Fatih menghilang tanpa kabar, pasti kamu nyariin."


Raysa tak menjawab ucapan Oma Shella, karena apa yang di katakan oleh Oma Shella memang tak salah, Raysa seakan sudah terbiasa dengan kehadiran Fatih yang selalu mengusik hidupnya.


" Apa sebenarnya kamu suka sama Fatih?"


" Hah? Ica? suka sama Fatih? Iih, enggak deh Oma. Fatih itu bukan tipe cowok ideal Ica "


" Oh yaa? Lalu, tipe cowok ideal Ica seperti apa? seperti Farhan?"


" Emm Itu.."


Tak perlu Raysa jawab, cukup dari wajah Raysa yang berubah merona sudah menjadi jawaban dari pertanyaan Oma Laura .


" Kalo menurut Daddy, Fatih bukan pria yang buruk, ya bukan berarti Farhan tidak baik. Kedua baik, kita juga sudah mengenal mereka sedari kecil hingga dewasa, bahkan keluarga mereka. Ya tergantung Raysa ntar nikahnya sama siapa."


" Iih Daddy, Ica belum ada fikiran ke sana, Ica mau mengejar cita-cita Ica dulu."


" Emangnya Daddy ada nyuruh Ica nikah sekarang?"


Wajah Raysa yang sudah memerah semakin memerah, Bunda Sasa memukul pelan bahu Daddy Bara karena suka sekali menggoda anak gadisnya. Suara tawa pun memenuhi meja makan.


" Udah-udah, jangan gangguin Ica terus. Ntar nangis lagi, mana Fatih mau berangkat ke Malaysia, gak ada deh yang bakal bujukin Ica kalo udah ngambek."


" Iih Opa, Ica gak cengeng yaa. "


Tawa pun kembali terdengar, Beginilah suasana meja makan Oma Shella, tak pernah sepi dari perbincangan dan tawa, selalu ramai walaupun sering terdengar perdebatan antara Raysa dan Ibra.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..

__ADS_1


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2