
Fatih terus berdehem seharian ini, seperti nya kondisi tubuhnya benar-benar kurang baik. Fatih menyesap kopi yang di berikan oleh Romi tadi. Rasa pahit dari kopi semakin pahit dengan kondisi lidah Fatih yang juga mulai terasa pahit.
Romi dan Azam saling memandang saat melihat sang Bos yang membuka tiga kancing kemejanya, menampilkan dada polos nya yang tak memakai apapun. Biasa nya Fatih selalu menggunakan baju kaos yang pas body. Tapi saat berada di Surabaya, Fatih tak memakainya, karena memang ia tak banyak membawa baju, dan menyuruh Romi untuk membeli nya pun tak ada waktu. Karena banyak pekerjaan mereka yang harus di kerjakan.
"Kayaknya bos gak enak badan deh." Ujar Azam berbisik.
"Iya, wajahnya juga memerah. Dari tadi berdehem terus."
"Di Surabaya emang nya bos gak tidur?"
"Cuma dua atau tiga jaman lah kalo gak salah. Tapi si bos benar-bentar minta es dingin. Katanya gerah dan panas."
"Hmm, dah sah lah tu. Demam si bos."
Baru saja Azam mengatakan jika bos nya itu demam, Fatih sudah menyandarkan tubuh di kursi kebesaran, dengan kening yang berkerut.
Azam pun berdiri dan menghampiri. "Maaf Bos." Azam memegang kening Fatih, benar saja, suhu tubuh Fatih meninggi.
"Apa sebaiknya Bos pulang dan istirahat? Kebetulan juga sudah mau masuk waktu nya pulang kerja, Bos."
Fatih menghela napasnya, ia membuka mata perlahan dan menatap Azam.
"Baiklah, Kamu tolong selesaikan pekerjaan Aku. Nanti kamu kirim laporannya melalui email. Romi, kamu antar aku pulang, setelah itu kamu temui Azam dan melanjutkan pekerjaan kalian."
"Siap Bos."
Fatih meraih ponsel dan dompetnya. Ia masukkan kedalam kantong dan berjalan duluan dengan di ikuti oleh Romi.
Azam membereskan pekerjaan bos nya, dan segera keluar dari ruangan tersebut. Mungkin Azam akan mencari cafe yang tenang untuk menyelesaikan pekerjaannya, dan mengirimkan lokasinya kepada Romi.
Seperti biasa, Fatih sudah menutup matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Fatih sudah mengatakan kepada kedua sekretarisnya untuk tak melaporkan hal ini kepada sang Mami.
Sesampainya di depan lobi apartemen, Fatih turun dengan di bantu oleh Romi.
"Sudah, aku gak papa. Kamu pergi susul Azam. bantu dia. Agar pekerjaan kita cepat selesai."
Romi pun mengangguk dan segera pamit. setelah kepergian Romi, Fatih berjalan menuju lift dengan kepala Yang sedikit pusing. Fatih pun memegangi kepalanya dan memicit nya sedikit.
"Kamu kenapa?"
Fatih terkejut saat melihat Raysa sudah berada di sebelahnya. Raysa.melihat wajah Fatih yang kuat dan sedikit memerah. Tangan Raysa naik keatas kening Fatih.
"Kamu demam. Pasti makan nya gak teratur." Ujar Raysa dengan nada kesal.
Fatih tak menjawab, ia lebih memilih masuk kedalam lift saat pintu lift teebuka. Raysa berdecak kesal dan juga ikut masuk kedalam lift.
Tak ada pembicaraan di antara mereka berdua, hening. Hingga Raysa melihat Fatih hoyong dan menyandarkan tubuhnya di dinding lift. Raysa refleks dan bergerak cepat untuk memegang Fatih.
"Kamu baik-baik aja?"
__ADS_1
"Kepala ku pusing. Pusing banget."
Raysa merasa kesal karena lift nya bergerak sangat lambat. Raysa terus memandangi angka yang terus saja bergerak naik itu, hingga akhirnya pintu lift terbuka di lantai apartemen mereka.
Raysa memapah Fatih keluar dari lift. Raysa juga mengantarkan Fatih hingga masuk kedalam apartemen nya.
Fatih langsung merebahkan dirinya di sofa dengan masih menggunakan sepatu. Raysa pun membuka sapatu Fatih dan juga kaos kaki nya. Raysa menyimpan sepatu Fatih di rak sepatu.
Raysa menghela napasnya, ia memegangi kening Fatih. Dan betapa panasnya kening Fatih saat ini.
Raysa meraih ponselnya, namun genggaman tangan Fatih membuat Raysa menoleh. Perlahan mata Fatih terbuka, dan Raysa pun berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan Fatih.
"Jangan telpon Mami, atau siapapun. Aku gak mereka khawatir. Kamu tau, Steva dan Sofi sedang mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan, aku gak mau konsentrasi mereka terpecah karena memikirkan aku." Ujar Fatih dengan suara serak nya dengan pelan.
"Aku gak akan telpon Mami. Aku hanya telpon Mbak Anggel untuk bertanya obat apa yang bagus untuk menurunkan panas." Ujar Raysa dengan wajah yang khawatir.
Fatih terkekeh, membuat Raysa menatap Fatih dengan kening berkerut.
"Kok ketawa?"
"Kamu lucu, masa obat penurun panas aja gak tau."
"Ya mana aku tau, aku bukan dokter. Lagi pula setiap aku sakit, Bunda yang selalu siapin obatnya. Ah, atau aku tanya Bunda aja ya?"
"Jangan," Fatih mendudukan tubuh, " Di lemari itu ada kotak obat, kamu bawa ke sini aja."
Raysa melihat arah tunjuk Fatih. kemudian ia berdiri dan mengambil kota obat yang di maksud oleh Fatih. Raysa membawa kota tersebut untuk di berikan kepada Fatih.
"Ini."
Fatih mengambil gelas yang Raysa ulurkan.
"Gak makan dulu baru minum obat?"
"Gak papa, kepala ku pusing banget."
Fatih hendak memasukkan obat kedalam mulutnya, mau. Raysa menahan tangannya.
"Yakin gak papa?"
"Iya Ca, gak papa. Lagian aku udah biasa kok sakit gini."
Raysa melepaskan tangannya, dan membiarkan Fatih meminum obatnya.
"Kamu pulang aja, istirahat. Kamu pasti capek juga kan baru pulang kerja."
"Kamu mau aku makan apa? ntar aku masakin buat makan malam."
"Nanti kalo lapar aku suruh Romi antar makanan ke sini aja, atau aku pesan delivery."
__ADS_1
"Gak boleh. Kamu lagi sakit. Pokoknya kamu harus makan makanan sehat. Titik. Aku pulang dulu, ganti baju, terus aku kesini lagi."
Fatih hanya diam tanpa merespon apapun. Kepalanya sangat pusing, namun sebenarnya ia hanya tak ingin Raysa di sini. Ia masih belum ingin berdekatan dengan Raysa untuk sementara waktu.
Dulu, Fatih sangat menyukai moment ini, bahkan Fatih berharap ia terus sakit agar mendapatkan perhatian dari Raysa. Tapi tidak dengan kali ini.
"Ca, aku ingin sendiri."
Ujar Fatih saat Raysa sudah melangkah menuju pintu. Raysa membalikkan. dirinya, ada rasa nyeri di dada nya saat Fatih mengatakan kalimat tersebut.
"Setidaknya kamu harus makan makanan yang bergizi. Aku akan memasaknya, dan mengantarkannya ke kamu." Ujar Raysa dengan keras kepalanya.
Fatih hanya menghela napasnya, bisakah sehari saja ia tak memikirkan tentang Raysa? Fatih kembali merebahkan tubuhnya, kepalanya sangat pusing sekali.
Di apartemennya, Raysa sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Ia pun mulai memasak bubur nasi untuk Fatih. Dengan cekatan Raysa menyiapkan segalanya.
Ponsel Raysa bergetar dan memunculkan nama Farhan di sana. Raysa tersenyum dan mengangkat panggilan telpon tersebut. Raysa menghidupkan speay karena dirinya tengah memasak.
"Assalamualaikum, Kak."
"walaikumsalam, lagi ngapain ca?"
"Lagi masak bubur,"
"kamu sakit?"
"Enggak, Fatih yang lagi sakit."
"Fatih sakit? sakit apa?'" Terdengar nada khawatir dari seberang sana.
"Fatih demam, seperti nya kelelahan. Fatih Barus aja pulang dari Surabaya."
"Ooh, Apa aku mengangguk kamu?"
"Tidak, Aku bisa memasak sambil mendengarkan Kak Farhan."
Dan mengalirlah sebuah obrolan seru di antar Farhan dan Raysa. Saat ini Raysa merasa perasaannya lebih baik dari sebelumnya. Tanpa sadar dan tanpa Raysa ketahui, sebenarnya perasaan 'lebih baik' itu di karena kan eh Fatih, Bukan Karena Farhan yang menghubungi nya.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....