
Sasa memasukkan plastik ikan dan ayam kedalam baskom yang di belinya tadi. Bara hanya memperhatikan gerakan Sasa aja. Hingga Bara tau untuk apa baskom tersebut.
" Biar gak tembus darah ikannya."
" Pakein yang sayap atau yang malam aja kalo gak, jadi kan gak tembus" Goda Bara.
" Apaan sih, gak jelas banget"
Bara mengulum senyumnya melihat wajah Sasa yang memerah karena Malu. Bara duluan meraih gagang pintu saat melihat Sasa ingin menarik gagang pintu mobil.
" Silahkan masuk mungil"
Bara kembali mengulum senyumnya, melihat Sasa yang tiba-tiba Sasa salah tingkah.
" Apaan sih tu orang, bikin berdebar aja" Gumam Sasa yang melihat Bara berjalan menuju pintu kemudi.
" Sekarang kemana lagi nih?"
" Eemm,, makan nasi Padang yuk."
" Kok makan di luar? Kan udah belanja?"
" Capek, lagian kalo udah Sampek apartemen, rasanya gak ada tenaga lagi buat masak. Keburu Laper"
" Kamu ini, Laper dikit gak tahan ternyata ya" Ujar Bara sambil mengacak rambut Sasa.
Sasa hanya melihat kearah Bara, entah apa yang difikirkan nya saat ini. Yang jelas mata mereka saling mengunci dan memandang satu sama lain. Perlahan wajah Bara mendekat, dan Sasa memejamkan matanya.
Sasa tidak merasakan apapun pada bibirnya. Namun, sedetik kemudian dia mendengar suara Bara yang membuatnya kesal.
" Kamu bau amis ikan"
Sasa spontan membuka matanya , dan menatap Bara kesal. Sasa mengalihkan wajahnya kearah lain, namun tangan Bara dengan cepat menahannya kepala Sasa, dan langsung mencium bibir Sasa.
Sasa terkesiap dan melototkan matanya. Bara Hanya menempelkan bibirnya, namun itu mampu membuat Sasa menahan napasnya. kemudian dia menyatukan kening mereka.
" Aku hanya bercanda. Mau kamu bau amis ikan, bau ayam, bahkan kamu gak mandi dan bau ketiak pun, aku akan tetap mencium kamu"
Sasa mengerucutkan bibirnya. " Ketiak gue gak bau ya. Walaupun gue gak mandi" Ujar Sasa pelan di akhir kalimatnya.
" Kalo kamu malas mandi, bilang ke aku ya, biar aku mandiin"
" Iih, dasar mesum. Gue bisa mandi sendiri kali"
" Tapi kalo kita udah nikah, kita bakal sering mandi bareng"
" Idiihh.. siapa juga yang mau nikah sama Lo"
" Kamu. Kamu Marisa. Sasa, Mungil ku"
" Pede banget sih Lo"
" Harus dong. Jadi, mau langsung pulang apa cari makan?"
" Cari makan, keburu Laper tau"
" Oke mungil. Sesuai permintaan kamu"
Sasa sudah menahan rasa yang bergejolak di dalam hatinya, saat Bara menciumnya tadi. Tapi dia tidak ingin terlihat di depan Bara jika dia mulai memiliki hati dengan Bara. Sasa masih butuh waktu untuk meyakinkan dirinya.
Sasa sangat menikmati makanan yang tersaji di hadapan mereka. Bara tidak jadi membawa Sasa ke rumah makan Padang pinggir jalan, melainkan di sebuah cafe yang baru saja buka.
" Bara? Sasa?"
__ADS_1
Suara yang sangat familiar memaksa Bara DNA Sasa mengangkat kepala mereka dan memandang sumber suara.
" Lia?"
" Hai, ya ampun. Ternyata kalian berdua??!!"
" Kami cuma temen kok mbak" Jawab Sasa cepat.
" Oh ya? Masa sih? atau jangan-jangan kamu mutusin aku karena dia?" Tunjuk Lia ke arah Sasa dengan pandangan meremehkan.
Bara memandang tak suka kepada Lia yang seperti merendahkan Sasa. Begitupun juga kepada teman-teman Lia yang ikut memandang Sasa dengan remeh.
" Saat ini memang kami belum memiliki hubungan, tapi aku yakin, suatu saat nanti Sasa akan menjadi kekasih ku. Tidak, tapi dia akan menjadi istri ku" Ucap Bara tegas.
" Kamu gak salah Bar? Dari Lia ke wanita yang kumuh itu?"
Bara sudah mengepalkan tangannya, jika saja yang di hadapannya ini bukan seorang wanita, mungkin Bara sudah melayangkan tinjunya.
" Jaga ucapan anda"
" Uppsss, Bara.. Bara.. gara-gara di tolak nikah sama Lia, Lo malah cari perempuan yang levelnya sangat jauh dari Lia. Ya kalo Lo kamar dia, jelas aja lah di terima. Ha..ha..haa" Tawa pun terdengar memenuhi Indra pendengaran Sasa dan Bara.
Sasa diam, karena dia tidak ingin semakin memperkeruh keadaan. Dengan dia melawan, itu tandanya Sasa membuktikan jika dia adalah orang ketiga di antara rusaknya hubungan Lia dan Bara.
Brakk..
Lia dan beserta ketiga temannya pun langsung terdiam saat Bara menggebrak meja. Sasa yang berada di hadapan Bara pun juga ikut terkejut. Tidak hanya mereka, tapi pengunjung yang berada di dekat meja mereka juga ikut terkejut. Bahkan gelas yang berada di atas meja sampai terjatuh dan pecah. Membuktikan jika pukulan Bara ke atas meja sangat lah kuat.
Bara berdiri dan menatap keempat perempuan yang menurutnya sangat menjijikkan. Bara pun sampai heran, kenapa dia bisa sangat mencintai salah satu wanita itu dulu.
" Saya peringatkan kepada kalian, jika di antara kalian ada yang berani menghina Sasa, maka saya tidak akan segan-segan membuat perkara untuk kalian"
Setelah mengucapkan itu dengan tatapan yang sangat menakutkan, Bara meraih tangan Sasa, dan menariknya lembut. Sasa terkesiap dan langsung mengikuti langkah Bara.
Sedari tadi Bara memperhatikan jika mungilnya menjadi pendiam.
" Hmm? Gue gak pa-pa"
" Trus, kok diem aja?"
" Gue masih Laper" Hanya itu yang bisa Sasa ucapkan, padahal selera makan saja Sasa sudah tidak memilikinya lagi.
" Kamu masih Laper? Ya udah, nanti aku masakin deh. kamu mau apa?"
" Terserah Lo aja. Yang penting enak"
Bara tau, jika Sasa saat ini sudah tidak lagi mood untuk apa pun. Dia hanya mengalihkan perhatiannya kepada perutnya saja. Bahkan perutnya saja sudah tidak ingin menikmati makanan apapun lagi.
Sasa menyimpan barang belanjaannya di kulkas, sedangkan Bara sedang menyiapkan bahan untuk di masaknya. Bara akan berusaha memasak masakan yang enak agar mood Sasa bisa kembali.
" Masak apa?" Tanya Sasa saat melihat Bara mensuir-suir ayam yang sudah di rebus.
" Kamu lihat aja, aku jamin pasti kamu suka"
" Yakin banget sih? Awas aja kalo gak enak"
Bara hanya mengedipkan matanya sebelah. Sasa terus saja memperhatikan Bara yang berbadan besar tinggi itu, memakai celemek bergambar kelinci dan berwarna pink. Sudut bibir Sasa pun tersungging membentuk sebuah senyuman.
Drrttt... Ddrrrtt...
Dering ponsel Sasa memutuskan pandangannya yang sedari tadi memperhatikan Bara.
" Assalamualaikum nek"
__ADS_1
"....."
" Iya nek, Sa di sini sehat kok. Nenek gimana?"
"....."
" Iya, nanti kalo ada libur Sa pulang nek"
"...."
" Iya, nenek baik-baik di sana ya. Pokoknya lamaran itu jangan di terima, Sa gak mau nikah sama dia nek. Kalo nenek diam-diam Nerima lamarannya, Sa gak mau pulang-pulang lagi kesana."
"....."
" Makanya, nenek harus tolak itu lamaran."
" ...."
" Iyaa, nenek jaga kesehatan ya. Assalamualaikum"
Sasa memutuskan panggilannya setelah mendengar salam dari sang nenek.
" Siapa?"
Sasa terkejut dan hampir saja jatuh dari kursi. Wajah Bara yang sangat dekat membuat dia terkejut. Bara dengan cepat menangkap pinggang Sasa, dan mau tak mau Sasa memegang bahu Bara.
Sasa menolak tubuh Bara pelan ketika merasa jika dirinya aman dan tidak akan terjatuh lagi.
" Apaan sih, ngejutin aja" ujar Sasa yang gugup.
" Maaf mungil. Tapi tadi siapa?"
" Nenek"
" Minta kamu kawin?"
" Apaan sih. Kan pernah gue bilang kalo ada yang mau lamar di kampung, cuma gue nya gak mau."
" Beneran kan kamu gak mau?"
" Ya iyalah, siapa juga yang mau sama akik-akik."
" Huuff, bagus deh."
" Lo udah siap masak?"
" Oh ya, lupa" Bara menghidangkan nasi goreng buatannya. Beserta ayam suwir yang dimasak dengan bumbu yang Bara racik tadi.
" Wangi nya enak" Sasa mengambil sendok dan menyendokkan sesendok penuh nasi goreng, beserta ayam suwir.
" Eemm, beneran enak. Emang deh Lo bener-bener jago masaknya" Sasa melanjutkan makannya, hingga dia terlupakan dengan oerasaannya yang tengah gundah karena ucapan Lia dan temannya tadi. Di tambah neneknya yang selalu memaksanya untuk menikah.
Bara tersenyum puas melihat wajah Sasa yang kembali seperti semula. Mami Shella dan Daddy Roy benar, Cinta itu dari mata, turun kemulut, dan bakal jatuh ke hati. Seperti ayah Nazar yang jatuh cinta dengan mendiang istrinya. Arka yang jatuh cinta dengan kue buatan Kesya. Begitupun dengan Daddy Roy, yang jatuh cinta dengan masakan Mami Shella. Termasuk Vano yang juga jatuh cinta dengan masakan Vina. Dan saat ini, Bara yakin jika Sasa bakal jatuh cinta kepada dirinya, karena indera perasanya sudah di manjakan dengan masakannya. Semoga saja waktu itu cepat datangnya.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untun cerita ini..
salam SaBar ( Sasa Bara)
__ADS_1