
Daddy Bara memutar bola matanya malas di saat sudah melihat calon menantu nya yang lebay itu sudah berada di rumah nya pagi-pagi buta.
"Assalamualaikum Daddy mertua." Sapa Fatih sambil mencium punggung tangan Daddy Bara.
"Walaikumsalam, ngapain kamu pagi-pagi buta begini udah nongol di sini?"
"Biasalah, mau ngawal pujaan hati kembali ke Bandung."
"Ih, lebay banget kamu, Fat."
"Hasil dari ajaran Papi." Ujar Fatih yang mana membuat Bunda Sasa menggelengkan kepalanya.
Memang Papi Gilang tak pernah melihat situasi kondisi jika sudah merayu sang istri tercinta.
Loh, apa bedanya dengan Daddy Bara yang bucinnya sangat akut kepada Bunda Sasa. Pastinya para readers masih ingat dengan tepung bumbu serba guna kan?
"Yuk ..." ajak Raysa yang sudah turun dan membawa satu tas ransel di bahunya.
Fatih langsung menghampiri Raysa dan mengambil alih ransel tersebut.
"Loh, gak sarapan dulu?" Tanya Bunda Sasa.
"Kami sarapan di jalan Aja ya Bun, ngejar Abesin Ica."
"Oh, ya udah kalo gitu. Minum dulu kopi nya, udah Bunda buatin kok."
Fatih dan Raysa pun mengekori Bunda Sasa yang berjalan menuju dapur. Fatih menarik kursi untuk dirinya dan juga untuk raysa.
"Makasih, Abang." lirihnya yang mana membuat senyum Fatih semakin mengembang.
Bunda Sasa yang melihat interaksi antara dua insan yang sedang jatuh cinta itu pun ikut tersenyum. Dapat Bunda Sasa lihat jika Raysa bersama Fatih dapat menjadi dirinya sendiri, berbeda saat Raysa bersama Farhan dulu.
Setelah menghabiskan kopi dan juga biskuit yang bermerk mendunia dan viral karena ayah dalam keluarga kecil yang ada di foto kaleng tersebut telah kembali dan bersatu dengan keluarga yang lainnya. Fatih dan Raysa pun berpamitan kepada Bunda Sasa dan Oma Shella.
"Loh, berangkat sekarang? gak sarapan dulu?" Tanya Daddy Bara.
"Sarapan di jalan aja Dad, Ica ngejar absen."
"Oh, ya udah kalo gitu, hati-hati Fat nyetirnya. Jangan sampai lecet anak gadis Daddy." ujar Daddy Bara dengan penuh peringatan.
"Iya Dad, kalo lecet Fatih tetap masih mau dan akan bertanggung jawab kok atas Raysa."
"Kamu ini." Daddy Bara menyentil kening Fatih sehingga membuat Fatih meringis kesakitan.
Raysa dan Fatih pun berpamitan kepada Opa Roy yang sedang menghirup udara pagi yang sangat menyegarkan.
"Opa, kami berangkat dulu ya." Ujar Raysa dengan mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Opa Roy.
"Loh, kok pagi banget? Gak sarapan dulu?"
"Sarapan di jalan aja Opa, Ica ngejar Absen. Kalo jam seginikan masih belum padat kendaraan.
"Oh iya, ya udah kalo gitu, hati-hati ya di jalan."
__ADS_1
"Iya Opa, Ica pamit dulu ya." Raysa pun mencium punggung tangan Opa Roy.
"Fatih pamit juga ya Opa, antar Layca ke Bandung."
"Iya, hati-hati nyetirnya ya."
"Iya Opa, Assalamualaikum." Fatih mencium punggung tangan Opa Roy.
"Walaikumsalam."
Fatih membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Raysa, setelah Raysa naik dan duduk dengan nyaman, Fatih membuka pintu penumpang bagian belakang dan menaruh tas ransel milik Raysa. Kemudian Fatih berlari kecil dan duduk di kursi pengemudi.
"Udah di bawa semua barang-barangnya? apa ada yang ketinggalan lagi di dalam?" Tanya Fatih sebelum menjalankan mobilnya.
"Insya Allah udah semua,"
"Oke, kita berangkat sekarang ya."
Raysa pun menganggukkan kepalanya, dengan mengucapkan Bismillahirahmannirahim, Fatih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah berada di jalan utama, Fatih sedikit menambah kecepatan mobilnya karena jalanan masih terlihat lenggang.
Sepanjang perjalanan, Raysa mendengarkan cerita tentang bagaimana Tissa bisa menjadi sahabat Fatih. Secara garis besar Fatih juga menceritakan tentang keluarga dari Mama Tissa yang tak menyukai dirinya, maka dari itu lah Tissa melarikan diri untuk kuliah ke Malaysia dan membuka galeri seni nya di Bandung.
"Kasian banget Kak Tissa ya, tapi Ica salut deh dengan dia. Benar-benar berjuang demi cita-citanya walaupun di pandang remeh oleh keluarganya. Dan untungnya kak Tissa memiliki seorang Mama yang sangat sayang dan mendukungnya."
"Itu menandakan jika ibu tiri tak sekejam di film-film."
Raysa pun tertawa dan membenarkan apa yang Fatih katakan. Setelah menempuh waktu satu jam, mereka berhenti di rest area yang dimiliki oleh jalan tol. Ponsel Fatih berdering dan menampilkan nama Romi di sana.
"Oke, Abang mau aku pesanin apa?"
"Emm, lontong aja deh. pake telor dan pergedel ya."
"Iya Abang."
"Yang pedes."
"Nanti sakit perutnya makan pedas pagi-pagi."
"Ya udah, yang sedang sedikit pedas."
Rayssa menggelengkan kepalanya mendengar permintaan dari tunangannya itu. Raysa pun berjalan menuju cafe yang tersedia di rest area. Raysa memilih tempat duduk yang terbuka, karena ia tahu jika Fatih pasti juga ingin merokok.
Fatih menempelkan benda pipih itu di telinganya dan berbicara dengan sekretaris dadakannya itu.
"Baiklah, siapkan saja laporannya, aku juga sedang menuju ke Bandung sekarang."
Setelah mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Fatih pun memutuskan panggilanya dan menyimpan kembali ponselnya kedalam kantong celananya.
Fatih mengernyitkan kening di saat melihat sebuah mobil yang sangat familiar dan sangat ... sangat ia kenali.
"Tissa? sama Farhan? Waaahh, ada hiburan pagi ini." gumamnya dan sudah tersenyum lebar menanti kehadiran Tissa dan Farhan.
Seakan terpergok berpacaran dengan sang Ayah, Tissa langsung berwajah pucat dan gugup melihat Fatih yang sudah berdiri di sudut tangga. Farhan pun juga terlihat kikuk ketika menyadari keberadaaan Fatih di sana.
__ADS_1
"Gue dengar ada yang balik lusa, kok jadi balik hari ini ya?" ledeknya kepada Tissa
Memang sebelumya Fatih sudah menghubungi Tissa dan menanyakan kapan sahabatnya itu kembali ke Bandung.
"Itu, eng .. Gu-gue ada kerjaan yang harus di selesaikan." Ujar Tissa dengan gugup.
"Lo atau Farhan?" tanya Fatih
"Farhan, eh maksud Gue, gue yang punya urusan kerjaan."
"Suka-suka Lo lah."
"Ica mana?" Tanya Farhan yang ingin mengalihkan pembahasan tentang dirinya dan Tissa.
"Ngapain tanya-tanya tunangan Gue," Ujar Fatih dengan tatapan tak suka.
"Tanya aja, kangen Gue." Farhan pun melewati Fatih dan mencari di mana keberadaan Raysa.
"Kenapa bisa sama Farhan?" Tanya Fatih kepada Tissa.
"Semalam di ngajakin gue dinner, ngucapin makasih gitu karena udah bantu dia buat suksesin acara pertunangan lo dengan Raysa. Ya udah, dia nanya kapan gue balik ke Bandung, dan saat itu asisten gue nelpon dan bilang kalo ada lukisan yang robek karena ulah artis yang shooting di galeri gue dan dengan gatelnya nyentuh-nyentuh lukisan gue. Gue juga gak tau kenapa tu lukisan bisa robek. Tajem banget apa kukunya."
"Cari sensasi kali."
"Kata asisten gue sih gitu. Tuh artis kayak gak merasa bersalah gitu. Dia mau ganti rugi berapapun harganya, gue bilang aja, gak segampang itu berurusan sama gue. Biar jadi pelajaran buat tuh anak.
Fatih menganggukkan kepalanya mendengar curhatan kekesalan Tissa di pagi hari ini.
"Trus, kok bisa dengan Farhan?"
"Gue mau hubungi lo saat itu juga, tapi Farhan bilang dia juga ada urusan di Bandung. Makanya dia ngajikn balik bareng dan sengaja gak bolehi gue untuk hubungi lo. Takut ganggu waktu lo dengan Raysa."
Fatih mengangguk-anggukan kepalanya. Mungkin Farhan benar jika dirinya memang memiliki urusan di Bandung, tapi juga memiliki urusan dengan Tissa. Semoga saja Farhan bisa membuka hatinya untuk Tissa.
Fatih dan Tissa pun masuk kedalam cafe dan bergabung dengan Raysa dan Farhan yang terlihat sedang berbincang dengan seru.
"Biasa aja natapnya, calon binik gue ini." Ujar Fatih dan duduk di sebelah Raysa.
"Namanya juga masih cinta." jawab Farhan sekenanya saja, tanpa melihat perubahan ekspresi sesaat pada Tissa.
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1