
Sudah sejak Raysa menunggu telfon dari Fatih. Sedari tadi Raysa tak melepas ponselnya untuk mendapatkan kabar dari Fatih.
"Lama banget ya?" Gumamnya sambil menatap kearah ponsel nya, dan sesekali melihat kearah jam yang ada di ponselnya.
"Huuff, sabar Ca, perjuangan Fatih lebih besar dari yang akan kamu lakukan."
Raysa berusaha menyemangati dirinya sendiri. Namun, beberapa saat kemudian Raysa merasa perutnya melilit.
"Aduuh, sakit banget."
Raysa memegang perutnya, karena tak tahan, Raysa pun bangkit dan menuju kamar mandi. Namun, saat baru lima langkah, Raysa kembali berbalik karena mendengar ponselnya berdering.
"Aduuh, Fatih ... Gimana ni?"
Raysa akhirnya memutuskan untuk menahan sakit perutnya dan mengangkat panggilan dari Fatih Yang sedari tadi di tunggu nya.
"Halo ..." Ujar Raysa dengan menahan sakit perutnya.
"Assalamualaikum, Layca." ujar Fatih dengan nada mengingat kan.
"Walaikumsalam." Ujar Raysa dengan menahan sakit yang semakin menjadi-jadi.
"Kamu kenapa? sakit?"
"Fatih, aku gak tahan." Ujar Raysa dengan meremas perutnya sambil merintih.
"Layca, kamu kenapa? jangan buat aku khawatir." ujar Fatih dengan nada panik.
Raysa tersenyum saat mendengar Fatih mengkhawatirkannya. Namun Raysa tak ingin membuat Fatih khawatir terlalu lama, Raysa pun mengatakan yang sebenarnya.
"Aku sakit perut, gak tahan lagi ... Fatih ... nanti aku telpon kamu."
Tanpa mematikan panggilannya, Raysa meletakkan sembarang ponselnya yang tanpa sengaja tertekan tombol speaker.
"Layca ...." panggil Fatih dari seberang panggilan.
Namun Fatih hanya mendengar suara pintu terbuka, kemudian benturan benda yang sedikit keras, lalu tak berapa lama Fatih mendengar suara air.
Fatih terkekeh, karena Fatih tau itu air dari mana. Yaitu air dari closet. Dengan setia Fatih menunggu Raysa hingga selesai.
"Huuff ..." Raysa mengusap dahi nya yang berkeringat dan masih memegang perutnya yang masih sedikit mules.
"Ya ampun, perih banget kolong **k aku. kapok deh makan cabe benc*ng." gerutu Raysa yang masih mengelus perutnya.
"Aahh, mau duduk aja susah. Udah kayak orang sakit ambiyen mereng gini duduk nya. Perih banget, ampun dah, gak lagi makan level 10 deh pake cabe benc*ng."
Tanpa Raysa sadari, jika ponselnya masih terhubung dengan dengan Fatih.
Di seberang sana, Fatih menahan senyum dan tawa nya. Ia sudah memegang perutnya yang keram karena menahan tawa.
"Huuff, muleeess Bangeet ... Mana besok apel pagi lagi. Mudah-mudahan aja gak keringat dingin." Raysa membaringkan tubuhnya dengan posisi miring, karena masih merasa perih bagian bokong nya.
"Layca, kamu baik-baik aja kan?" Fatih bertanya dengan menahan tawanya.
Raysa langsung terduduk dan meringis karena bokongnya masih terasa perih.
"Aaw ..."
"Kenapa Layca?"
"Ka-kamu denger semua nya?" Tanya Raysa dengan wajah yang memucat.
__ADS_1
"Hmmm, aku denger. Bwahahahhaa ...." Pecahlah tawa Fatih Yang sedari tadi di tahannya.
"Iiihh, nyebelin banget deh. Kenapa gak di matiin sih telponnya?" Kesal Raysa.
"Biarin aja, mungkin jika aku ada di sana, aku akan langsung ke apartemen kamu, dan mengelus perut kamu yang sakit."
"Serius?"
"Hmm, tapi aku yakin, kamu pasti bakal nolak aku."
"Gak kok, aku mau ..." Ujar Raysa dengan wajah yang merona.
Fatih sampai terdiam mendengar jawaban Raysa, kemudian Fatih menggelengkan kepalanya dan mengenyahkan fikiran yang akan menjerumuskan dirinya kembali untuk tak bisa lepas dalam melupakan Raysa.
Raysa ikut terdiam, karena tak mendengar lagi suara Fatih.
"Fat ..." panggil Raysa dengan pelan.
"Hmm? perut nya gimana? masih sakit?"
"Sedikit."
"Ya udah, kamu tidur ya ..."
"Iyaa ..."
"Aku matiin ya?"
"Kalo aku bilang jangan?"
"Aku gak akan matiin."
"Kenapa?"
"A-aku ..."
"Fat, buruan yukk ... udah di tunggu Abash." teriak Lana.
"Kamu mau pergi?"
"Hmm, Abash lagi periksa semua cctv di dekat kejadian, jadi kami ingin melihat nya."
"Ya udah kalo gitu, kamu hati-hati ya, jangan sampai terluka."
Bolehkah Fatih meraskan berbunga-bunga mendengar ucapan Raysa? Fatih tersenyum miris, ia kemudian mengatakan kepada hatinya untuk terpancing dengan perkataan Raysa. Bisa aja Raysa saat ini sedang ingin membuatnya Geer.
"Kamu tidur terus, kalo masih sakit perut, minum air garam sama gula ya." Ujar Fatih mengingatkan.
"Iya."
Setelah memutuskan panggilannya, Fatih menghela napasnya berat. Jantungnya berdetak cepat setiap berhubungan dengan Raysa, namun tak bereaksi kepada wanita mana pun.
Raysa pun tersenyum di kala merasa perhatian Fatih masih sama kepadanya. Raysa beranjak dari sofa dan menghampiri kasur empuknya. Raysa akan tidur nyenyak malam ini.
Bagaikan remaja ABG, Raysa kembali jatuh cinta.
"Telpon siapa? cewek seksi yang dan sama Lo." Tanya Lana saat Fatih sudah masuk kedalam mobilnya.
"Seksi dari mana? terbuka juga enggak baju nya. Cuma bagian belakangnya aja yang bolong."
"Ya Ela, dada nya montok gitu, pinggulnya aduhai. Beeuuh, kenal di mana?"
__ADS_1
"Gue cuma temenan sama dia. Udah deh, gak usah fikiran yang macem-macem."
"Habis nya baru kali ini gue lihat Lo Deket sama cewek. Eh, sekalinya deket malah seksi plus montok gitu."
Fatih malas mendengar ucapan Lana, ia memilih melipat kedua tangannya di dada dan menutup matanya.
"Ya Ela, tidur dia. Woy ... Lo kira gue supir?" Kesal Lana.
Fatih seolah tuli dan sekalipun tak berniat membuka matanya.
*
Pagi ini Raysa bangun dengan perasaan bahagia. Beberapa hari lagi akan ada pesta pernikahan Veer dan Nafi. Jadi Raysa sudah meminta izin untuk libur beberapa hari. Apa lagi Raysa termasuk anggota keluarga Moza, sudah di pastikan jika komandan nya akan memberikan izin. Jika tidak, maka Papa Arka yang akan datang dan memberi perintah, belum lagi pangkat Daddy Bara yang sudah sangat di segani.
Dengan perasaan yang masih berbunga, Raysa pun masak omelet kesukaan Fatih, ia makan sambil tersenyum-senyum mengingat saat Fatih menikmati masakannya.
"Bentar lagi kamu bakal aku masakin apapun yang kamu mau." Ujar Raysa berbicara kepada omelet, seolah-olah ia sedang berbicara kepada Fatih.
Setelah selesai makan, masih dengan perasaan yang bahagia, Raysa melangkahkan kakinya munuju lift, kemudian ke baseman dan masuk kedalam mobil Fatih.
Yaa, selama ini Raysa masih membawa mobil Fatih, karena pesan Fatih yang seperti itu. Dan awalnya Raysa juga gak tau kenapa ia dengan mudah nya menurut, tapi sekarang ia punya alasan, karena dirinya adalah cintanya Fatih, begitu pun sebaliknya.
Sesampainya di kantor, Raysa menyapa semua orang dengan senyum yang mengembang.
"Pagi semua."
"Pagi ...."
Nanda yang baru tiba langsung meleper mendekati Raysa.
"Bahagia banget? pasti habis pacaran sama Mr.F1 semalam, iya kan?"
Raysa melepaskan tangannya dari rangkulan Nanda.
"Mau tau aja ... wwekk..." Raysa berlari keruangan nya dengan di ikuti Nanda.
"Iihh curang, cerita dong."
Dengan wajah merona, Raysa pun menceritakan kejadian tadi malam, termasuk saat panggilan telpon masih tersambung dan Raysa menggerutu karena perutnya sakit.
Pecahlah tawa Nanda di dalam ruangan Raysa.
"Gilaa, kalo gue udah malu tujuh turunan itu."
"Biarin, gue emang lagi tergila-gila kok sama dia."
Nanda hanya menggelengkan kepalanya, seingatnya baru beberapa hari lalu ia melihat Raysa murung dan tak bersemangat. Nanda ikut senang melihat Raysa yang ceria seperti ini. Memang ya, efek orang jatuh cinta itu sungguh luar biasa.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....
__ADS_1