Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 126


__ADS_3

"siapa yang gak punya saingan?" ujar Daddy Bara sambil masuk ke dalam kamar sang putri.


"Daddy lah, kan gak ada Papi," jawab Raysa.


"Oh, Iya. Tapi gak seru juga gak ada si Gilang. Gak ada kawan rebutan," ujar Daddy Bara dan menghampiri bunda Sasa untuk mendaratkan kecupan di keningnya, kemudian beralih kepada kedua cucunya.


"Stroller kembar kapan sampai?" tanya Bunda Sasa.


"Kalau gak besok, mungkin lusa," jawab Daddy Bara. "Ini Rayyan kayaknya pup deh, rada bau asem."


Kayla yang lainya dekat dengan si kembar pun, langsung memeriksa.


"Ini Reyhan, Daddy. Rayyan tuh, yang anteng," ujar Kayla dan menggendong Reyhan untuk di pindahkan ke atas tempat tidur dan di bersihkan.


"Bedanya di mana sih? Daddy kok gak bisa bedain ya? Itu lagi, si Arash sama Abash, Daddy juga gak bisa bedain. Untungnya aja udab besar mereka punya nada bicara yang berbeda. Jadi gampang bedainnya," ujar Daddy Bara dengan menatap wajah sang cucu.


"Masih belum bisa bedain, Dad?" tanya Raysa.


"Belum, di mana sih bedainnya?" tanya Daddy Bara.


"Itu loh, telinga kanan Rayyan ada tahi lalat ya


Coba di lihat baik-baik."


Daddy Bara pun memeriksa telinga kanan Rayyan, akhirnya senyum Daddy Bara pun mengembang saat menemukan tahi lalat tersebut. "Iya, ya, ada tahi lalatnya. Kok Daddy bisa gak perhatian ya?"


"Itu karena Mas terlalu fokus dengan mengingat wajahnya aja," ujar Bunda Sasa sambil terkekeh.


"Kamu juga, Mungil. Kenapa gak kasih tau aku sih. Kalau ada tahi lalatnya?" Rajuk Daddy Bara.


"Biar Mas makin jeli lihatnya. Masa cucu sendiri gak bisa bedain sih." Bunda Sasa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat wajah sang suami cemberut.


"Kayla, kamu rajin banget sih tiap pagi ke sini? Devan kok gak d bawa?" tanya Daddy Bara.


"Ila suka aroma param-ya, Dad. Khas banget dengan ibu-ibu baru siap melahirkan."


"Ya dong, biar kalian rasain gimana nikmatnya jadi ibu melahirkan pada jaman dulu," ujar Oma Shella yang baru saja masuk ke dalam kamar Raysa.


Raysa yang hanya menggunakan kemeja milik Fatih, kain sarung, kaos kaki dan juga di keningnya yang terdapat polisi pun, tersenyum. Bahkan, Raysa tak boleh duduk dengan kaki terlipat. Raysa harus duduk dengan kaki yang lurus. Agak ribet sih, tapi katanya ini agar otot-otot dan urat-urat pasca melahirkan bisa kembali sembuh dengan baik.


Sebagai anak yang baik, tentu saja Raysa menuruti semua perkataan sang Oma.


Zaman memang sudah canggih, akan tetapi Oma Shella, Bunda Sasa, dan Para Mama dan Mami sepakat untuk menjaga tradisi saat melahirkan. Tujuannya hanya untuk kebaikan si ibu saja.


*


"Assalamualaikum," Tissa dengan riangnya masuk ke dalam rumah Oma Shella.


Berhubung Tissa anak yang mudah akrab dan juga Oma Shella yang selalu welcome dengan orang-orang di sekitarnya, Tissa pun tak segan dan tak malu-malu.

__ADS_1


"Walaikumsalam. Lihat, siapa yang datang," ujar Oma Shella kepada Tissa.


"Waah, si kembar ganteng banget," puji Tissa untuk si kembar.


"Aww .... aww.. " Tissa meringis saat lengannya tiba-tiba di tarik. Bukan meringis karena sakit, tapi karena terkejut dengan kehadiran Fatih yang tiba-tiba saja menarik lengannya.


"Lo dari luar, cuci tangan dulu gih," ujar Fatih.


"Iih, Iya.. iya.. gue cuci tangan," kesal Tissa dan langsung melipir ke dapur untuk mencuci tangannya.


"Assalamualaikum, Oma," sapa Fatih dan mencium punggung tangan Oma Shella.


"Walaikumsalam, gimana kabar kamu?"


"Baik, Oma."


Fatih ingin membuka suara, tetapi, detik selanjutnya dia diam saat Farhan mengeluarkan hand sanitizer dari sakunya dan menyemprotkannya ke tangan.


"Waah, ganteng banget, ya," puji Farhan sambil menoel-noel pipi si kembar.


Dalam hati, Farhan berharap agar di segerakan di beri kepercayaan untuk merawat anak-anak mereka. Tak sabar rasanya sampai saat itu tiba.


"Pengobatannya gimana? Lancar?" tanya Oma Shella.


"Alhamdulillah, sejauh ini belum ada masalah dan kendala."


"Alhamdulillah, semoga di segerakan ya."


"Ah ya, ini hadiah dari Om dan Tante yaa, tampan," ujar Farhan sambil memberikan kado yang besar dan di letakkan di dekat Raysa duduk.


"Makasih, Om," ujar Raysa dengan menirukan suara anak kecil.


"Sama-sama. Gimana keadaan kamu?"


"Alhamdulillah, udah baik."


"Si Tissa cuci tangan apa mandi sih? lama banget?" gerutu Fatih.


Farhan pun menoleh ke arah dapur, istrinya belum juga terlihat batang hidungnya.


"Gue susulin dulu, takutnya pingsan tuh orang," ujar Fatih dan berjalan menuju dapur.


Sesampainya di dapur, Fatih mendengar tawa Tissa dan Bunda Sasa.


"Iih, Bunda. Aku kan jadi malu."


"Ngapain malu? Sama suami sendiri juga."


"Iya deh, Nanti aku coba ya, Bun."

__ADS_1


"Coba apa?" tanya Fatih uang baru datang.


"Mau tanya aja Lo," ledek Tissa sambil memeletkan lidahnya.


"Heem, kirain udah pingsan Lo di kamar mandi, rupanya malah ngemil di sini."


Tissa terkekeh. "Masakan Bunda sangat menggoda."


Saat Tissa ke dapur untuk mencuci tangan, Tissa tergoda dengan masakan Bunda Sasa, sehingga langkah Tissa pun berbelok kearah Bunda Sasa.


"Dasar, ya udah, gue ke depan lagi. Ingat, jangan lupa cuci tangan nanti," ujar Fatih sebelum meninggalkan Tissa bersama bunda Sasa di dapur.


"Iih, untuk gue aja di suruh cuci tangan. Untuk Farhan kagak," kesal Tissa.


"Farhan udah pake hand sanitizer, emang kayak Lo, jorok. Heran gue, kok mau Farhan sama Lo," ledek Fatih.


"Iih, Fatih nyebelin." kesal Tissa sambil berteriak.


Fatih terkekeh dan berlali ke depan sebelum Tissa mengejar dan menjambak rambutnya.


"Kenapa?" tanya Raysa saat melihat sang suami terkekeh.


"Tissa ngamuk," ujar Fatih sambil mendudukkan bokongnya di dekat Raysa.


"Ngamuk kenapa?" tanya Farhan.


"Ada deh," Fatih masih terkekeh dan tak akan memberitahu kepada Farhan atau Raysa apa yang dia katakan untuk Tissa. Bisa ngamuk Raysa jika Fatih menggoda Tissa dengan perkataan seperti itu.


Tak berapa lama Tissa datang dengan tangannya yang basah. Sisa air yang ada di tangannya dia percikkan ke wajah Fatih.


"Sialan Lo," ujar Fatih yang mana membuat Raysa mencubit pinggang Fatih.


"Sakit, Layca," rengek Fatih.


"Biarin, mulutnya gak di jaga. Ngomong depan anak kok gitu," kesal Raysa.


"Iyaa, maaf ya.." rayu Fatih sambil mengelus lengan Raysa.


Farhan dan Tissa pun tersenyum memandangnya. Tissa mengalihkan perhatiannya saat Farhan mengajak bicara bayi yang ada di gendongannya, senyum Tissa ikut mengembang, tetapi, sesaat kemudian senyum itu di paksa untuk tetap mengembang, ada rasa sakit di hati yang mengiris-iris hatinya.


'Kapan saat itu tiba?'


Mumpung Senin, Vote yukk...


**


Jangan lupa Vote ya setiap hari senin


Jangan lupa like and komen.

__ADS_1


Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA


salam rindu Tissa dan Farhan


__ADS_2