Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 28


__ADS_3

Berbicara dengan Steva dan Sofi harus dengan mengikuti pemikiran mereka, bukan dengan pemikiran orang dewasa. Untungnya Quin memiliki sifat Mama Kesya yang selalu mengerti dan sabar menghadapi orang-orang yang berbeda karakter setiap hari nya.


"Begini, sebelumnya Mbak mau tanya sama kamu, Sofi." Quin perhatikan adik dari sahabatnya itu, yang juga sudah di anggapnya sebagai adik nya sendiri.


"Kamu masih suka sama Zaki?"


Seketika Sofi terdiam, wajahnya sedikit memerah. Ia malu untuk mengatakan ia atau pun tidak. Namun, tanpa Sofi menjawabnya pun, Quin tahu jika Sofi masih menyukai Zaki.


Ngomong-ngomong, Zaki itu adalah anak kandung pertama dari Mama Puput dan Papa Fadil. Otomatis Zaki adalah adiknya Lana.


"Kamu masih suka sama Zaki? si pria nyebelin itu?" Ujar Steva kepada sang kembaran.


"Steva." Tegur Quin saat Steva mulai meninggikan suaranya kepada Sofi.


"Mungkin di sini jika Mbak jelas kan, Sofi akan lebih memahami posisi Dan perasaan Abang Fatih. Tapi kamu akan sulit mengerti jika kamu belum pernah mengenal apa itu cinta." Ujar Quin kepada Steva dengan lembut.


"Kamu masih nge-fans sama Taehyun?" Tanya Quin kepada Steva. Taehyun adalah salah satu vokalis boy band yang sangat terkenal di Korea.


"Suka lah Mbak, Ganteng dan imut gitu." ujar Steva sambil membayangi Taehyun.


"Alasannya?"


"Ya karena ganteng?" Jawab Steva pede.


"Lalu?"


"Imut?"


"Lalu?"


"Suaranya bagus." Ujar Steva dengan nada yang mulai sedikit melemah.


"Lalu?"


"Dia lucu?"


"Lalu?"


Steva terdiam, ia tak tau harus menjawab apa lagi.


"Sekarang Mbak tanya, gimana Mbak Raysa?"


Steva dan Sofi kompak saling memandang, kemudian mereka terdiam tanpa mau mengeluarkan sepatah kata pun.


"Buang dulu ego nya, luapkan perasaan Abang Fatih untuk kak Raysa, dan katakan, apa kekurangan Kak Raysa dan kelebihan kak Raysa."


Setelah menunggu sekitar dua menit, akhirnya Sofi membuka suaranya.


"Mbak Raysa cantik, tinggi, mandiri, pande bela diri, pintar masak, penyanyang, gak pelit, Mbak Raysa suka menolong orang yang kesusahan. Namun juteknya hanya sama Abang Fatih aja." Ujar Sofi lesu di akhir kalimatnya.


"Kenapa? Kenapa Mbak Raysa jutek sama Abang Fatih?"


"Karena Abang nyebelin." jawab Sofi lagi.


Steva hanya diam dan mendengarkan.


"Kalo menurut Steva gimana?" Tanya Quin. yang sudah menatap Steva.


Steva masih diam dan tak ingin menjawab. Sebenarnya dalam hati Steva, apa yang di katakan oleh Sofi semua nya benar. Mbak Raysa selalu memberikan mereka coklat atau pun boneka saat Mbak Raysa amin kerumah ataupun mereka yang main ke rumah nya.


Mbak Raysa juga sering mengajarkan mereka cara menahan emosi agar tidak mudah terpancing dengan ejekan teman-teman sekitar yang Sirik dengan mereka. Bahkan Mbak Raysa juga mengajarkan teknik yang mudah untuk melumpuhkan pergerakan lawan yang ingin memukul Steva dan Sofi.


"Steva." Panggil Quin.


"Steva benci sama Mbak Raysa, hiks ... apa sih yang kurang dari Abang? Abang tampan, baik, lucu. Emang sih, kalo di bandingin dengan kak Farhan, Abang emang kalah ganteng dan rapi. Tapi kalo Abang udah rapi, Cha Eun wo mah lewat." Ujar Steva sambil mengusap air matanya yang mengalir dengan sedikit kasar.


"Jadi Steva kesal karena Mbak Raysa nolak cinta nya Abang Fatih?"


Steva menganggukkan kepala nya. Mereka tak benci dengan Raysa, hanya saja mereka kesal dengan Raysa yang terus saja jutek dan tak melihat kearah sang Abang.


"Steva tau? gimana kesalnya Mbak sama Kak Lana?"


Steva dan Sofi kompak menggelengkan kepalanya.


"Kak Lana itu nyebelin, ngeselin, bahkan Mbak udah menganggap dia sebagai benalu dan plagiat Mas Veer. Bahkan sudah berkali-kali Mbak tolak Kak Lana, tapi Kak Lana udah sama seperti plankton yang tanpa mengenal lelah dan kata menyerah untuk berjuang. Kita gak pernah tau kedepannya apa Mbak akhirnya bisa luluh dengan perjuangan dan usaha Kak Lana. Tapi, yang jelas untuk saat ini, Hati Kakak belum tergerak untuk Kak Lana. Mungkin alasannya karena kami besar bersama."


Steva dan Sofi seperti nya mulai memahami apa yang Quin sampaikan.


"Sekarang gini, Gimana kalo Steva selalu saja di ganggu oleh Zaki. Kesal gak?"


"Ya kesal lah."


"Nah, gitu juga Mbak Raysa. Yang di lihat oleh Mbak Raysa saat ini bukan cinta nya Abang Fatih, melainkan kejahilan Abang Fatih. Cinta nya Abang udah ketutup sama kejahilan yang selalu saja Abang lakukan. Makanya Mbak Raysa tak melihat cinta tulus Abang. Menurut Mbak sih, Mbar Raysa mungkin gak yakin dengan cinta nya Abang Fatih yang tulus. dan kalian tau kan karena apa?"


"Karena sifat Abang yang ngeselin." Jawab Steva dan Sofi hampir berbarengan.


Quin mengacungkan dua jempolnya. Setidaknya mereka mengerti posisi Fatih dan juga Raysa. Jadi di sini tidak ada yang salah kan?

__ADS_1


"Jadi, jika kalian mau Abang kalian bahagia dengan wanita yang selama ini di idam-idamkan nya. Kalian juga perlu membantu Abang Fatih."


"Caranya? apa yang harus kami lakukan untuk Abang?"


"Kalian cukup berdoa untuk mempersatukan cintanya Abang Fatih dengan Mbak Raysa. Dan jika memang Mbak Raysa bukan jodoh Abang, minta sama Allah untuk jadi kan Abang orang yang kuat, dan kirimkan bidadari cantik untuk Abang Fatih."


Steva dan Sofi saling memandang. Mereka menganggukkan kepalanya serentak. Sekarang yang hanya perlu mereka lakukan adalah berdoa untuk Abang tercinta nya. Agar segala sesuatunya di permudahkan dan jika memang Abang Fatih nya tidak berjodoh dengan Mbak Raysa, maka mereka meminta kepada Allah untuk menghapuskan Mbak Raysa dari dalam hati Abang Fatih.


"Mbak, makasih banyak ya.. Setidaknya saat ini kami mengerti apa yang Abang rasakan dan Mbak Raysa rasakan." Ujar Sofi dengan sendu.


Quin menganggukkan kepala nya dan merentangkan tangan nya. Steva dan Sofi menghambu kedalam pelukan Quin. Ini lah kakak mereka, sosok kakak yang juga mereka dapatkan dari Raysa.


Ingatan kebersamaan Steva dan Sofi bersama Raysa pun seolah kembali bagaikan film yang sedang di putar. Steva dan Sofi yang menangis karena di marahi Abang Fatih karena ketahuan cabut dari sekolah dan bermain ke mall bersama teman-temannya. Raysa lah yang memeluk mereka berdua, dan menasehati mereka dengan lembut.


Steva dan Sofi tanpa sadar menangis dalam pelukan Quin. Quin yang juga memiliki sifat penyayang pun membelai rambut keduanya dengan cinta. Membiarkan mereka menangis di dalam pelukannya. Quin tau, Raysa lah yang selalu memeluk mereka selain dirinya.


*


Fatih benar-benar menepati janjinya kepada Quin. Saat ini Fatih sudah menjemput Quin di rumah nya.


"Tumben Fatih ngajak Quin dinner?" Tanya Mama Kesya.


Fatih hanya menggaruk kepalanya. Namun suara dari arah belakang membuat Fatih semakin menyengir lebar.


"Kasih cemburu Lana dia Ma. Sengaja dia ngajak Quin dinner di depan Lana." Ujar Quin yang sudah rapi dengan pakaian casual nya.


"Mau Dinner di mana nih?" Tanya Mama Kesya kepo.


"Mau di restoran mewah, Yanga da steak nya gitu." Ujar Fatih dengan jenaka.


Seketika tawa Mama Kesya pecah. Bagaimana tidak tertawa, lihatlah penampilan Fatih dan Quin. Yang lebih cocok makan di pinggir jalan dari pada makan di restoran mewah. Tapi, Mama Kesya tidak akan pernah ragu kepada keduanya. Karena Fatih dan Quin akan benar-benar makan di restoran mewah.


Ingat, jangan menilai seseorang dari penampilannya. Begitulah kira-kira.


"Kalo begitu kami pergi dulu ya Ma. Assalamualaikum" Fatih mencium punggung tangan Mama Kesya. begitupun dengan Quin.


"Walaikumsalam, hati-hati di jalan ya "


"Iya Ma." Jawab Quin dan Fatih berbarengan.


*


"Jadi, kita mau makan di mana?" Tanya Quin yang sudah masuk kedalam mobil.


"Ya restoran mewah lah. Kamu tau kan restoran yang baru di buka. Kita kesana yuk..."


"Kenapa? kamu takut?"


"Ya gak sih, cuma ntar yang ada kita jadinousat perhatian tau .."


"Biarin aja. Biar mereka belajar bagaimana caranya agar tidak memandang remeh orang biasa."


Quin setuju dengan Fatih. Baiklah, sepertinya tidak ada salah nya pergi dengan pakaian casual seperti ini. Lagi pula tampang mereka kan cantik dan ganteng. Yang penting duit tebal cuuy ...


Fatih yang mengendarai Lamborghini nya pun membelah jalanan sambil bersenda gurau dengan Quin. Mereka selalu cocok dalam segala hal, Tapi tidak dengan perasaan mereka.


Mobil Fatih berhenti tepat di depan lobi. Pelayan yang berdiri di sana membukakan pintu untu Quin, namun senyumnya yang mengembang sedikit luntur saat melihat penampilan Quin, di tambah lagi penampilan Fatih yang benar-benar tak terlihat seperti seorang yang berduit tanpa nomor seri.


Fatih memberikan kunci mobilnya untuk di parkiran, dengan senyum tipis pelayan itu mengambil kunci mobil Fatih untuk di parkiran di parkiran khusus pelanggan VIP.


"Gaya banget makan di sini, paling mobilnya pinjam punya." gerutu si pelayan.


Fatih dan Quin sudah mengulum senyumnya.


"Gimana kalo aku bawa mobil butut ya?" Ujar nya kepada Quin, dan Quin terkekeh mendengar ucapan Fatih.


Bisa Quin bayangkan jika mereka akan di pandang sebelah mata oleh para pelayan dan tamu undangan yang lainnya. Begitulah manusia, hanya memandang orang lain dari penampilan nya saja. Andai mereka lebih teliti dengan berapa harga baju, celana, dan sepatu yang di gunakan oleh Quin dan Fatih saat ini, mungkin mereka semua akan terdiam.


Fatih menarik kursi untuk Quin, setelah memastikan Quin duduk dengan nyaman, Fatih pun menarik kursi untuk dirinya sendiri.


Pelayan datang memberikan buku menu. Karena tatapan yang kurang ramah di berikan oleh pelayan, Fatih merasa kesal dan mengatakan memesan makanan termahal di sini. Dan si pelayan menjawab.


"Apa anda yakin tuan?"


"Tentu, apa kamu tidak dengar?" Jawab Fatih dengan sombong.


"Boleh saya memberi saran? Jika anda tidak keberatan Tuan, saya sarankan memesan menu ini yang ini saja."


Pelayan tersebut menunjuk sebuah menu daging dengan kualitas biasa dan tanpa bumbu spesialnya. Quin sudah mengulum senyum nya di saat melihat wajah Fatih yang mulai kesal dan menjengkelkan.


"Apa kamu punya uang?" Tanya Fatih.


Pelayan tersebut mengedipkan mata nya, kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Maka bekerjalah dengan keras agar kamu bisa membeli menu pilihan mu. Dan Aku bekerja keras untuk memilih menu pilihanku. Lagi pula aku tidak meminta uang mu untuk membayarnya bukan?"


Suara Fatih yang sedikit keras membuat para pengunjung lain melihat kearah mereka. Bahkan manager restoran sampai menyamperin meja mereka.

__ADS_1


Manager restoran tersebut yang mengetahui siapa Fatih pun langsung meminta maaf. Sebagai gantinya, manager tersebut ingin memecat sipelayan. Namun Fatih melarang nya, Fatih meminta si pelayan untuk bertugas membuka dan menutup pintu di setiap pelanggan datang, dan juga membungkukkan tubuhnya kepada siapapun yang datang dan pergi. Manager setuju.


Pelayan tersebut mengucapakan terima kasih kepada Fatih, dan meminta maaf atas tindakannya yang sangat tidak sopan.


"Hah, padahal foto aku ada di sana, tapi sepertinya mereka tidak memperhatikannya."


Quin menunjuk arah foto yang Fatih maksud, benar saja, ada Fatih yang ikut berdiri di sana dengan si pemilik restoran. Quin baru ingat, restoran ini adalah hasil dari karya nya. Pantas saja dia sombong. Quin mencebikkan bibirnya.


"Mau pamer nih ceritanya? Kalo kamu yang buat design restoran ini?"


"Aku gak bilang gitu, tapi secara tak langsung." Fatih terkekeh. " Karena kamu sudah mengetahuinya, bagaimana? bagus gak?" Fatih menanyakan pendapat Quin.


"Banget, seharusnya kamu ucapin makasih ke Papi Gilang "


"Kenapa ke Papi Gilang?"


"Ya dong, karena bakat Papi Gilang menurun di kamu."


"Yaa, karena aku anaknya." Ujar Fatih sambil memutar bola matanya.


Quin dan Fatih pun tertawa dan mengobrol ngalir ngidul hingga pesanan mereka pun tiba. Fatih mengambil steak milik Quin, dan memotongkan nya menjadi kecil, agar mempermudah Quin untuk memakan nya.


Mereka makan sambil bercerita. Quin mendengarkam cerita Fatih tentang Raysa. Quin terkejut saat mengetahui jika lengan Fatih pernah retak saat menolong Raysa hampir ketabrak.


"Jadi Mami dan Papi gak tau?" Tanya Quin terkejut.


"Iya, dan jangan sampai mereka tau. Kamu tau sendiri kan gimana bakal hebohnya Mami?"


Quin mengangguk setuju, Mami Mili akan sangat heboh dan panik bukan main jika tau anak-anak mereka sedang sakit. Bahkan saat Veer jatuh dari motor saja, Mami sampai menyuruh menjual atau mengibahkan saja motor itu karena sudah di anggap membawa sial.


"Aku penasaran, pasti kamu sangat bahagia sekali saat Ica menyuapi dan memberikan perhatian."


"Jangan di tanya, rasanya aku ingin mengurungnya seharian di kamar."


Plak ...


"Aww, sakit Quin .." Fatih meringis saat kepalanya di pukul oleh Quin dengan menggunakan sendok.


"Aku aduin sama Daddy, biar habis kamu bonyok."


"Ya jangan dong. Lagian kamu tau aku Quin. Aku gak akan melakukan hal itu. Aku punya dua adik perempuan, dan aku tak ingin adik ku rusak karena kesalahan aku. Papi mengajarkan aku untuk menghargai perempuan. Ya bukan berarti Papi tidak pernah melakukan keslahaan. dan Kamu tau kesalahan itu Quin." Ujar Fatih sendiri di akhir kalimatnya.


Quin menggenggam tangan Fatih yang ada di atas meja. Fatih pun tersenyum, tak ingin Quin merasa bersalah dengan perkataannya.


"Itu hanya kecelakaan, semua sudah jadi takdir yang di gariskan. Gak ada yang salah. Dan kamu juga gak salah." Quin berkata untuk menenangkan Fatih.


"Mau jadi pacar ku?" Tanya Fatih tiba-tiba, yang mana membuat Quin tertawa terbahak-bahak.


Bagaimana tidak? Fatih mengambil satu kelopak bunga dan memberikan nya kepada Quin sambil mengajak nya berpacaran.


"Hanya satu kelopak bunga?" Tanya Quin menggoda.


"Karena bunga nya sudah aku kirimkan kepada Layca."


Quin mencibir dan menarik tangannya. "Lamar aku dengan bunga tabungan."


"Waah, sepertinya aku menyerah. Bunga tabungan ku hanya cukup untuk membeli sampho Empus saja." Quin dan Fatih pun tertawa bersama.


Selesai makan, Fatih memberikan kartu nya kepada pelayan. Pelayan tersebut sampai menelan ludahnya di saat melihat kartu berwarna hitam itu di atas nampan kecil nya.


"Gila, tajir bener, gaya gak mencerminkan dompetnya." Bisik pelayan tersebut kepada pelayan yang lainnya.


"Mau ke mana habis ini?" Tanya Fatih lembut kepada Quin.


"Emm, ke mana ya? Ah ... jalan-jalan ketaman aja yuukk ... mumpung malam Minggu."


"Gak masalah, yuukk ..."


Fatih memberikan lengannya kepada Quin, dan Quin menerimanya sambil tertawa. Waah, jika Lana melihat ini sudah di pastikan bisa nangis sambil guling-guling dia.


"Jadi kapan kamu rencana kembali ke Bandung?" Tanya Quin saat mereka sudah kembali berada di dalam mobil.


Fatih hanya tersenyum dan membayangkan wajah Raysa yang pastinya kesal saat menyambut kedatangan dirinya.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....

__ADS_1


__ADS_2