
Montir yang di kirimkan Arka sepertinya terjebak hujan lebat. Entah kenapa malam yang penuh bintang tiba-tiba saja mendung dan tak berapa lama angin berhembus sedikit kencang, dan disusul oleh hujan yang deras.
Sasa dan Bara pun memutuskan untuk masuk kedalam mobil. Entah kenapa suasana mobil menjadi sangat dingin dan membuat Bara merasa canggung.
" Aku idupin musik ya, biar gak sepi"
Sasa hanya menganggukkan kepalanya. Alunan musik pun menemani suasana sepi yang tercipta. Mereka pun menikmati lagu yang di putar, sesekali Bara dan Sasa mengikuti lirik lagi yang mereka dengar. Hingga sebuah lagu yang mana mewakili perasaan Bara saat ini. Bara pun mengikuti lirik lagunya.
Tergetar aku tepat di hadapanmu
Debar jantungku berdetak saat kugenggam tanganmu
Beruntung aku kini dapatkan cintamu
Yang tercantik di hatiku
sejak awal ku bertemu
Janji padaku, jangan kau lukai
hati Seperti kisah yang lalu
( Bara meraih tangan Sasa, dan menggenggamnya. Di bawanya tangan Sasa ke Dada nya.)
Kau bukan cinta pertamaku
Namun aku berharap
Mulai hari ini, saat ini
Engkau cintanya aku
Yang kurasakan denganmu semua berbeda
Kekasih yang baik hati kini ada di sampingku
Janji padaku, jangan ada lagi
Hati yang lain selain aku (ooh)
Kau bukan cinta pertamaku
Namun aku berharap
Mulai hari ini, saat ini
Engkau cintanya aku
( Seolah terhipnotis, Sasa ikut menyanyikan liriknya.)
Jangan pernah ragukan kesetiaan hatiku (ooh)
Ku tak inginkan bila ini terbagi, cinta, woo
Engkau cintanya aku
Kau bukan cinta pertamaku (ooh)
Namun aku berharap
Mulai hari ini, saat ini
Engkau cintanya aku
Kau bukan cinta pertamaku
Namun aku berharap
Mulai hari ini, saat ini
Engkau cintanya aku
Mulai hari ini, saat ini
__ADS_1
Engkau cintanya aku
Hmm-mm
Satu untuk selamanya
Ho, ho, ho.
Mata mereka saling menatap, saling mengunci. Perlahan tangan Bara yang bebas meraih wajah Sasa, Sasa memejamkan matanya saat merasakan kehangatan tangan Bara. Sasa ikut memegang tangan Bara yang sudah berada di wajahnya, Sasa membuka matanya perlahan, dan menatap lekat ke arah Bara. Perlahan wajah Bara mendekat, hingga hembusan napas Bara menyapu wajah Sasa. Sasa memejamkan kembali matanya Sasa hidung bara sudah menyentuh hidungnya.
Drrtt....Drrrtt... Ddrrrtt..
Suara ponsel yang berisik memaksa Sasa membuka matanya. Dan menghentikan pergerakan sasa. Mereka pun saling memandang dan tertawa.
" Di jawab telponnya" Ujar Sasa dengan wajah yang merona.
" Iya " Wajah Bara pun juga sudah merona. Bara sudah mengumpat dalam hati, karena telah mengganggu adegan romantisnya.
Bara mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau setelah melihat siapa yang memanggilnya.
" Ya, Ar "
"......"
" Okee... gak masalah."
"....."
" Walaikumsalam"
" Siapa?" tanya Sasa.
" Arka, Dia bilang montirnya terjebak hujan lebat. Jadi mereka berteduh"
" Ooooo" Sasa melihat kearah luar jendela, hujannya memang sangat lebat. Jarak pandang pun sudah terbatas.
" Mungil "
" Emm, itu.. Yang tadi.. "
" Kenapa?"
" lanjutin yang tadi ketunda?"
Sasa mengerjap-ngerjapkan matanya. Bara perlahan kembali mendekatkan wajahnya, Sasa sudah menahan napasnya, Bara semakin mendekat, namun Sasa menahan Dada bidang Bara sehingga Bara menghentikan pergerakannya.
" Maaf " ujar Sasa sambil menunduk.
Bara tersenyum, kemudian dia mengecup kening Sasa lama. kemudian Bara meraih tubuh mungil Sasa dan memeluknya.
" Hah "
" Kenapa?" Tanya Sasa saat merasakan Bara menghela napasnya kuat.
" Aku gak yakin bisa menahannya terlalu lama mungil. Jadi, persiapkan diri kamu dari sekarang mungil, untuk mendampingi aku seumur hidup kamu"
Sasa tidak menjawab pertanyaan Bara. Dia lebih memilih diam dan menikmati hangatnya tubuh Bara yang mendekap tubuh mungilnya. Bara menanti jawaban Sasa, namun sepertinya Sasa enggan untuk membuka suara.
" Mungil?"
" Hmm?"
" Kamu tidur?" Bara merenggangkan pelukannya, namun Sasa malah menyusupkan tangannya kedalam jaket Bara, dan memeluk tubuhnya, sehingga membuat Bara mengurungkan niat untuk merelai pelukannya.
" Biar begini dulu, Gue kedinginan"
Bara tersenyum, kemudian Bara semakin erat memeluk tubuh Sasa.
' Ya Allah, andai saja waktu ini bisa di hentikan, tolong untuk saat ini hentikanlah waktu. Aku hanya ingin memeluk tubuhnya. Agar aku bisa menyimpan kehangatannya, di saat aku dan dia tidak bisa bersama' Batin Sasa.
Sasa merelaikan pelukannya. Hening, tidak ada yang membuka percakapan. Mereka sibuk dengan fikirannya masing-masing.
tok..tok..tok..
__ADS_1
Bara menoleh kearah jendela yang di ketok, terlihat dua pria yang memakai baju jaket. Bara menurunkan sedikit kacanya mobilnya.
" Maaf Pak, kami dari montir gaspol. Utusannya Tuan Arka." Ujar Pria tersebut sedikit berteriak, karena suara hujan yang mengguyur.
" Ah ya, silahkan"
Setelah menundukkan sedikit badannya, pria tersebut langsung saja mengganti Ban mobil yang kempes.
Bara menoleh kearah Sasa, dan melihat Sasa memejamkan matanya sambil memeluk dirinya. Bara membuka jaketnya, dan menutupi tubuh Sasa. Sasa membuka matanya saat Bara menyelimutinya dengan jaket.
" Biar kamu gak kedinginan mungil"
Sasa membenarkan duduk nya. Diurungkannya untuk tidur. Tak ada percakapan, Sasa hanya melirik ke arah Bara yang tengah sibuk dengan ponselnya. Seakan tau jika Sasa memperhatikannya, Bara menoleh kearah Sasa dan memberitahu jika dia sedang memberi kabar kepada Arka.
" Kamu kalo ngantuk tidur aja mungil"
" Kasian Lo sendiri nungguinnya"
" Ya kalo kamu kasian sama aku, kita nikah aja yuk.. Jadi aku kan gak sendirian?"
" Iih, gak nyambung deh"
Kembalilah terjadi perdebatan kecil di antara mereka, yang mana membuat suasana yang dingin menjadi hangat.
Tok..tok.tok.
Bara kembali membuka jendela kaca tanya setengah.
" Sudah selesai ya pak"
Bara mengeluarkan uang, dan memberikannya kepada montir tersebut.
" Ini"
" Sudah Pak, sudah di bayar dengan Tuan Arka. Kami hanya menjalankan tugas saja"
" Ya sudah, kalo begitu ambil saja ini untuk kalian. Buat yang minum kopi"
" Wah, kebanyakan ini pak"
" Gak pa-pa, rezeki hujan-hujan."
" Kalo begitu terima kasih ya pak"
" Sama-sama"
Bara kembali menutup jendelanya. Kemudian dia menoleh kearah Sasa. Bara terkekeh, saat melihat Sasa yang sudah terlelap dalam tidurnya. Padahal Mereka baru saja mengobrol. Sasa.. Sasa.. di mana bisa sandarkan kepala, pasti langsung terlelap.
Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hujan sudah tak selebar tadi, namun masih gerimis membasahi bumi. Sesampainya di basemen apartemen Sasa. Bara tidak langsung membangunkan Sasa, tapi dia ikut merebahkan tubuhnya di kursi. Rasa kantuk tiba-tiba saja menghampirinya. Bara pun memejamkan matanya.
Sasa tersentak dan terbangun dari tidurnya. Dia menoleh kesekeliling, ternyata dia masih di dalam mobil. Sasa melihat kearah Bara yang terlelap dalam tidurnya. Tersungging senyum di bibir Sasa. Sasa melihat kearah luar, Sasa mengenali tempat ini, ini adalah basemen apartemen nya.
Sasa memperhatikan wajah Bara yang terlihat tenang. Sasa mengangkat tangannya, jari telunjuknya menyusuri lekuk rahang Bara, Hidungnya, alisnya, dan bibirnya. Entah apa yang mendorong Sasa untuk mendekatkan wajahnya kepada Bara.
Cup.
Sasa mencium bibir Bara, dalam keadaan Bara tertidur. Sasa cepat menjauhkan dirinya saat sadar jika dia telah mencium Bara. Sasa melirik kearah Bara, berharap Bara tidak terbangun karena ulahnya, bisa mati kutu Sasa jika sampai ketahuan dengan Bara.
Sasa bernapas lega, karena Bara masih terlelap dalam tidurnya. Sasa melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. Sudah menunjukkan pukul 3:48 menit. Sasa pun memberanikan diri untuk membangunkan Bara.
" Heii... bangun.." Sasa menggoyangkan bahu Bara.
Tidak susah memang membangunkan Bara, sedikit guncangan saja Bara langsung terbangun.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..
salam SaBar ( Sasa Bara)
__ADS_1