
Cup..
Pipi Sasa mengenai Bibir Bara, dan itu membuat geraka refleks Sasa menolak tubuh Bara, namun tangan Bara cepat menarik Sasa hingga mereka jatuh berdua, dengan Sasa berada di atas Bara, dan bibir mereka saling menempel.
" Aaakkhhhhh, Dasar Mesum" Teriak Sasa dan memukul Bara, kemudian Sasa berusaha untuk bangun dari tubuh Bara, namun karena tubuh Bara yang masih basah, tangan Sasa terpelintir saat memegang bahunya, dan membuat Sasa kembali terjatuh di atas tubuh Bara. Dengan posisi Sasa mencium dada Bara.
Bara mengerjapkan Mata nya, tiba-tiba saja ada yang terbangun di bawah sana. Bara menghentikan gerakan Sasa yang ingin kembali bangkit. Sasa menahan bobot tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya di dada Bara. Mata Sasa sedari tak henti-hentinya mengerjap dan membuat bulu matanya menggelitik kulit Bara. Bara menutup Matanya, memeluk pinggang Sasa, dan dalam sekali gerakan posisi mereka sudah berpindah. Bara merasakan lilitan di pinggangnya sedikit mengendur.
" Emm, Bi-bi-bisa kamu menutup mata"
" Untuk apa?"
" Lilitan handukku mengedur" Bisik Bara.
Sasa menggigit bibirnya, pipinya terasa panas, Sasa mengarahkan tangannya untuk menutup wajahnya yang mungkin saat ini sudah terlihat memerah.
Bara bangkit dan membenarkan lilitan handuk di pinggangnya.
" Sudah"
Sasa bangkit, dan kemudian membelakangi Bara. " Cepat pakai baju nya".
Setelah mengatakan itu, Sasa melangkahkan kakinya keluar, sebelum Sasa menekan kenop pintu, Sasa kembali mendengar permintaan Bara. Sasa mendengus kesal, yang benar saja si Bara api sialan ini. Bisa-bisanya dia sudah numpang mandi, kemudian melupakan pakaiannya. Akhh, nyebelin...
Sasa meraih kunci mobil Bara yang berada di meja ruang tv. Dengan masih perasaan kesal, Sasa melangkahkan kakinya hingga sampai ke basemen.
Tit..tit..
Sasa membuka pintu penumpang bagian belakang, karena Bara meletakkan bajunya di sana.
Sasa menatap ke arah kursi pengemudi dan kursi penumpang di sebelahnya. Kilasan Bara menciumnya terlintas di fikiran Sasa. Sasa menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
" Gak..gak.. Jangan Baper Sa, ingat. Dia sudah punya tunangan." Sasa kembali menutup pintu mobil setelah mengambil tas ransel milik Bara.
Di kamar Sasa, Bara sedang memegang jantungnya yang berdetak 5 kali lebih cepat dari sebelumnya. Bara menatap ke arah juniornya, lalu Bara tersenyum. Entah apa yang Bara fikirkan. Bara menatap kesekeliling kamar Sasa. Padahal bukan kali ini dia memasuki kamar Sasa, namun Bara merasa tidak pernah bosan untuk melihat keseluruhan kamar si pemilik hatinya itu.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka, dan menampilkan Sasa yang membawa tas ranselnya.
Lagi-lagi bayangan saat Sasa terjatuh dan mencium Bara terlintas di benak fikiran Sasa. Sasa meredakan tenggorokannya.
" Ekheem, i-ini tas nya. Cepat ganti, dan keluar." Ujar Sasa tanpa menatap tubuh Bara yang masih bertelanjang dada.
Bara meraih tas yang di berikan Sasa. " Terima kasih mungil"
Sasa keluar dari kamar, dan memegang jantungnya yang seakan ingin melompat keluar. Sasa menarik napas dan membuangnya, berkali-kali Sasa melakukan itu, guna untuk menetralkan detak jantungnya. Sepertinya Sasa membutuhkan air minum untuk menetralkan detak jantungnya.
Bara keluar dari kamar dan mencari keberadaan mungilnya. Tak berapa lama terdengar suara Sasa seperti sedang berbicara dengan seseorang.
__ADS_1
" Iya nek, nanti kalo libur Sa pasti pulang"
"......"
" Iya nek, Tapi Sasa belum mau kawin"
"......"
" Hmm, ya udah, salam buat pakde dan bukde di sana. Pokoknya jangan di terima lamaran itu. Assalamualaikum nek"
Sasa menggenggam ponselnya, kemudian dia berbalik badan.
"Aaakkmpp"
Buukk.. Ponsel Sasa terjatuh.
" Apaan sih loh, ngagetin aja" Sasa mengambil ponselnya yang terjatuh.
Bara masih memperhatikan Sasa dengan melipat tangannya di atas dada. Sasa yang di lihat intens oleh Bara pun merasa salah tingkah.
" Kenapa?" Tanya Sasa dengan nada yang terdengar? eemmm...
Karena tidak ada jawaban dari Sasa, akhirnya Sasa melangkah dan meninggalkan Bara, namun Bara memblokir jalan Sasa.
" Siapa yang mau dilamar?" Akhirnya Bara membuka suara.
" Gak Boleh" Pekik Bara, membuat Sasa terkejut karena mendengar suara Bara yang meninggi.
" Apaan sih Lo, bikin kaget aja. Awas." Sasa mendorong Tubuh tegap Bara.
Bara menahan tangan Sasa yang mendorong tubuhnya. Dibawanya tangan Sasa ke dadanya bagian kiri, di mana terdapat jantungnya yang sedang berdetak dengan cepat.
Sasa merasakan detak jantung Bara yang menggila. Sasa menggigit bibir bagian dalamnya, Entah apa maksud Bara meletakkan tangannya di dada nya. Bara menurunkan tangan Sasa dan menarik tengkuk Sasa. Di tempelkannya telinga Sasa di dadanya.
" Kamu dengar? Detak jantung ini berdetak sangat cepat, dan menggila. Itu semua karena kamu"
Sasa tidak bergeming, dia masih berdiri dan menerima semua perlakuan Bara.
" Percayalah, aku benar-benar jatuh cinta dengan mu, dan tidak pernah sekalipun aku menjadikanmu sebagai pelarian. Kamu harus percaya, jika kamu bukan pelakor, kamu tidak pernah merebut diriku dari siapapun. Tapi aku yang akan merebut kamu dari orang lain. Tidak ada yang boleh memiliki mu, Kamu hanya milikku. Hanya milikku. Jadi, jangan pernah berfikir untuk menerima lamaran dari orang lain, dan kamu hanya boleh menerima lamaran ku. "
Sasa mendengarkan semua perkataan Bara, dan juga merasakan detak jantung Bara yang terdengar gila.
Bara masih setia memeluk tubuh Sasa, dengan kepala Sasa yang masih menempel di dadanya.
" Jadi, aku mohon sama kamu, bersabarlah. Tunggu aku, aku akan menyelesaikan masalahku. Setelah semuanya berakhir, aku mau kamu menerima cinta ku. Tidak, tapi kamu harus menerima lamaran ku, dan bersedia menjadi istri ku"
Bara merenggangkan jarak mereka, di rangkum nya wajah Sasa, dan menatap manik mata Sasa. Mata mereka saling mengunci, Sasa mencari kebohongan dari mata Bara, tapi yang terlihat hanya ada ketulusan.
" Percayalah kepadaku. Dan kumohon, tunggu lah sebentar lagi. Hanya sebentar, Dan aku akan berlari sepenuhnya kepadamu.?" Ujar Bara dengan menatap manik mata Sasa.
__ADS_1
Bara mendekatkan wajah ke wajah Sasa secara perlahan. Hembusan napas Bara terasa di wajah Sasa. Sasa menatap bibir Bara yang terbuka sedikit dan siap mencecap bibirnya.
" Gue siap-siap dulu." Ujar Sasa dan menjauh dari Bara.
Bara hanya bisa pasrah saat dirinya yang ingin mencium Sasa, namun Sasa malah menghindar dan meninggalkannya di depan pintu balkon apartemen.
Sasa memang jantungnya yang berdetak dengan cepat, seperti detak jantung Bara yang terdengar seakan ingin keluar dari sarangnya.
" Apa aku mulai menyukainya?" Gumam Sasa.
Sasa memegang bibirnya, Rasa manisnya bibir Bara masih terasa di bibirnya.
" Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta dengan nya. Tidak boleh. aku begini karena dia telah mencuri ciumanku. Yaa, karena itu, makanya jantungku berdetak cepat seperti ini." Sasa bergumam sendiri di dalam kamar sambil mondar mandir.
" Jantung, diam lah. Biarkan aku bernapas dan berfikir jernih" Ujar Sasa masih mondar mandir di dalam kamarnya.
Drrtt.... Drrt...
Ponsel Sasa kembali bergetar, menampilkan pesan yang baru saja masuk.
B' Jodi : ' Lo jadi gue jemput atau enggak?'
Sasa menimang ponselnya, ' jika meminta Jodi menjemput, otomatis Bara akan mengusir Jodi dan memaksanya. Dan mereka akan tau jika Bara mengunjungi apartemen nya. Tidak..tidak.. tidak... sebaiknya aku menolak tawaran Jodi.' Batin Sasa.
To : B' Jodi
Enggak suah bang, nanti gue naik Ojol aja
Send.
Ddrtt... drrtt..
B' Jodi : Ok.
Sasa menghela napasnya pelan. Sasa memang akrab dengan Jodi dan Duda. Karena mereka sering berlatih beladiri bersama. Dan Jodi menganggap Sasa sebagai adiknya. Tidak lebih.
Sasa menyimpan ponselnya, dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak butuh waktu lama, Sasa sudah siap dan rapi dalam waktu 30 menit.
Sasa membuka pintu kamarnya. Dan pandangan pertama yang dilihatnya adalah, Bara yang tengah tertidur di sofa. Sasa mendekatinya, dan di sejajarkan tubuhnya dengan wajah Bara.
Sasa menatap wajah Bara dengan intens. Rahang yang tercetak keras, hidung yang tegak, Bibir yang, Ah sudahlah. Cukup Sasa saja lah yang tau.
Tanpa Sasa sadari, dia menggerakkan tangannya dan menyentuh bulu mata Bara. Sasa mengangkat sudut Bibirmya. Sasa menatap bibir Bara, dan kembali teringat dengan ciuman mereka saat di dalam mobil. Sasa menyadarkan dirinya, kemudian dia berdiri dan berdehem kuat hingga Bara terbangun dari tidurnya.
**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
salam SaBar ( Sasa Bara)
__ADS_1