Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 45 " Hati ke hati"


__ADS_3

Mami Shella mengajak Sasa mengobrol. Menceritakan tentang masa kecil Bara. Di mana Bara adalah anak yang manja dan cengeng.


" Masa sih Mi?"


" Heem, dulu luka dikit aja langsung nangis. Lihat darah langsung nangis. Untung besarnya jadi polisi, dan jago beladiri" Mami Shella membayangkan masa kecil Bara dulu.


" Bentar ya, Mami ambilin foto Bara yang lucu"


Mami Shella bangkit dan mengambil album foto yang berada di dalam kamarnya.


" Seru banget kayaknya gibahin aku sama Mami" bisik Bara.


" Iih, siapa yang gibahin sih. Mami yang ceritain tentang Lo kok. Gue kan cuma dengerin aja"


" Dengerin aja, tapi semangat 45 gitu."


Sasa membuang wajahnya, apa segampang itu mimik wajahnya terlihat bahagia mendengar cerita Mami Shella tentang masa kecil Bara?.


" Hei, bukan muhrim. Sana jauh-jauh" Usir Mami Shella saat melihat Bara yang duduk di sebelah Sasa dan mencondongkan tubuhnya kearah Sasa.


" Mi, biar cepat jadi muhrim gimana?" Tanya Bara berpura-pura polos.


" Ya kamu nikahin lah Sasa nya. Sah di mata hukum, negara, dan agama" tegas Mami Shella.


" Nikah yukk" Ajak Bara dan mengambil tangan Sasa.


" Heh, gak gitu juga kali Bara..Ada prosedur dan prosesnya. Lamaran dulu, minta persetujuan keluarga Sasa, urus hadap menghadap di kantor kamu, buat surat ke KUA, baru deh kamu nikah sama Sasa"


" Ya tadi kan cuma tes Mi, mana tau dia jawab iya, jadi langsung Bara bawa menghadap aja"


" Jadi kamu belum jawab Iya Sa?" Tanya Mami Shella.


Sasa yang di sudutkan meneguk ludahnya kasar. Kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


" Kenapa? "


" Eemm, gak pa-pa Mi"


" Coba deh sini lihat Mami" Mami Shella meraih dagu Sasa dan membawa wajahnya untuk menatap wajah Mami.


" Kamu suka sama Bara?"


Sasa melirik kearah Bara sebelum menjawab. Mami Shella melihat kegundahan di mata Sasa.


" Ikut Mami yuuk. Biar kita ngomongnya gak ada yang ganggu" Ajak Mami Shella sambil menarik tangan Sasa. Sasa pun ikut berdiri dan mengikuti langkah Mami Shella.


" Mi, mau kemana? Bara kan mau denger juga"


" Ini urusan perempuan. Kamu jangan ikut campur"


Bara hanya terdiam melihat kepergian dua wanita yang di sayangnya itu. Mami Shella membawa Sasa ke kamar tamu, dan mengunci pintunya .


" Sekarang coba kamu bilang sama Mami, gimana perasaan kamu ke Bara?"


Sasa semakin gugup, yang benar saja Mami Shella bertanya tentang perasaannya kepada anaknya.


" Sa"


" Eemm, Seb-sebenarnya Sasa mulai merasa nyaman sama kehadiran Bara. Tap-tapi__"


Sasa menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya sibuk memilin kain bajunya. Mami Shella tau, jika ada yang mengganjal di hati Sasa. Mami Shella pun memegang tangan Sasa, memberikannya kekuatan.


" Ngomong aja sama Mami. Mami gak akan paksa Sasa untuk suka sama Bara, ataupun menikah dengannya, jika memang Sasa tidak menginginkannya."


Sasa menarik napas dan membuangnya perlahan.


" Sasa merasa gak cocok aja sama Bara. Di tambah lagi Sasa belum yakin dengan perasaan Sasa sebenarnya. Perasaan yang Sasa rasakan, apa ini perasaan suka, atau hanya sekedar rasa nyaman. Di lain itu, Sasa juga belum yakin dengan perasaan Bara. Apa perasaannya benar-benar tulus kepada Sasa, atau hanya singgahan sesaat. Bara pernah bilang, jika dia pernah menjalin hubungan dengan wanita selain Lia, namun bayangan Lia tidak bisa di hapus oleh Bara. Sasa takut, jika itu akan berlaku hal yang sama kepada Sasa. Di mana saat Bara merasa jenuh, perasaan Bara akan kembali ke Lia"

__ADS_1


Sasa merasakan dadanya sesak saat berbicara kepada Mami Shella.


" Kamu suka sama Bara?" tanya Mami Shella.


Sasa tidak menjawab, matanya terasa panas, Sasa hanya mampu menundukkan wajahnya.


" Lihat mata Mami deh. "


Sasa perlahan mengangkat wajahnya, dan menatap mata Mami Shella.


" Kamu cinta sama Bara?" ulang Mami Shela.


Sasa menganggukkan kepalanya pelan. Mami Shella langsung tersenyum dan memeluk tubuh mungil Sasa. Pecahlah tangis Sasa di dalam pelukan Mami Shella.


" Kenapa nangis?"


Sasa menggelengkan kepalanya, ada perasaan lega di hatinya, namun juga masih terasa ada bongkahan batu yang mengganjal di hatinya. Sasa belum siap mengatakan siapa dirinya sebenarnya. Sasa takut akan penolakan dari Mami Shella. Biarlah Sasa menikmati waktu dan perasaan ini. Agar dia bisa menyimpannya rapat-rapat dan menjadikannya kenangan terindah, sebelum penolakan itu tiba.


" Kamu gak mau bilang ke Bara? Kalo kamu cinta dia?"


Sasa menggelengkan kepalanya. " Sasa belum siap"


" Kalo Bara menyerah dan melirik yang lain gimana?" pancing Mami Shella.


" Sasa akan terima jika dia tidak bisa menunggu Sasa. Itu tandanya kami memang tidak di takdirkan berjodoh"


" Kamu kok nyerah sih, di saat Bara berjuang?. Yang namanya menjalin hubungan itu, harus sama-sama berjuang"


" Beri Sasa waktu Mi, untuk yakini perasaan Sasa. Karena-- karena Bara.."


" Bara kenapa?"


" Jika memang perasaan yang Sasa rasakan ini benar perasaan cinta kepada Bara. Bara-- Bara adalah pria pertama yang berhasil mencuri hati Sasa"


" Jadi kamu selama ini gak pernah pacaran?" Tanya Mami Shella terkejut.


Sasa menggelengkan kepalanya.


" Fadil sudah seperti Abang bagi Sasa. Karena dia yang dulu nolongin Sasa"


" Ya udah, kamu sekarang harus benar-benar memantapkan hati kamu. Karena Menurut Mami, Bara tidak ingin menjadikan kamu pacarnya, melainkan istrinya. Jadi kamu harus persiapkan diri kamu untuk menjadi istri Bara. Okey"


" Tapi Mi_"


" Kenapa? kamu gak mau jadi istri Bara?"


" Bukan gitu, tapi Mami jangan bilang ya sama Bara, kalo Sasa cinta dia."


" kenapa gitu?"


" Pliiss Mi, Sasa belum siap buat ungkapin perasaan Sasa ke Bara"


" Ya udah, kalo masalah itu Mami gak akan ikut campur. Masalah kalian, biar kalian berdua yang menyelesaikannya. Tapi Mami cuma mau bilang ke Sasa. Bara itu tipe pria setia, jika dia sudah memilih siapa ratu hatinya, maka selamanya wanita itu akan menjadi ratu. Mami yakin, wanita itu pasti kamu. Karena cuma Kamu yang bisa buat Bara jadi dirinya sendiri, dan nyaman dalam menjalin hubungan."


" Iya Mi, Makasih banyak Ya Mi."


" Sama-sama sayang, " Mami Shella kembali memeluk Sasa.


" Kita keluar ya, Mami yakin pasti Bara sedang menguping"


" Masa sih Mi?"


Mami Shella mengangkat bahu nya. Mereka berjalan pelan dan mengendap, agar tidak terdengar langkah kakinya.


Ceklekk...


" Aawww".

__ADS_1


Benar saja, Bara sudah bersandar di pintu, dan saat Mami Shella membuka pintu, Bara pun terjatuh.


" Ngapain kamu?" Tanya Mami Shella pura-pura galak.


" Hee..hee..hee.. Periksa pintunya Mi, takutnya pintunya udah goyang"


" Yuk Sa, biarin aja dia periksa pintu. " Mami Shella menarik tangan Sasa, dan meninggalkan Bara di depan pintu kamar.


" Mungil, tunggu aku." Bara pun akhirnya mengekor Mami Shella dan Sasa.


Terlalu asik mengobrol dengan Mami Shella, sehingga Sasa tidak menyadari jam sudah menunjukkan pukul 11:25.


" Ya ampun Sa, keasyikan ngobrol sampai gak ingat waktu ya kita. Udah malam, kamu tidur sini aja yaa"


" Jangan Mi, Sasa besok kerja."


" Ooh, ya udah, kamu pulang di antar Jodi ya, Mami suruh Arka telpon dia dulu"


" Kenapa Jodi? Bara di sini Mi. Bara yang aka antar Sasa. Lagian Sasa ke sini kan sama Bara" Sungut Bara kesal. Bisa-bisanya Maminya ini ingin menyuruh Jodi mengantar Sasa, bisa babak belur tu Jodi jika sampai berani antar Sasa pulang.


" Kamu besok kerja, udah malam juga"


" Mi, pokoknya Sasa Bara yang antar. Ayo mungil. Assalamualaikum" Bara pun mencium pipi Mami Shella cepa.


" Sasa balik ya Mi, makasih atas makan malamnya" Sasa mencium punggung tangan Mami Shella.


" Sering-sering ke sini ya, Mami suka ngobrol sama kamu"


" Insya Allah Mi"


" Tenang aja Mi, kalo Sasa udah nikah sama Bara, Sasa bakal tinggal di sini" Tambah Bara.


" Pede banget kamu Sasa mau sama kamu. Sasa tu gak suka sama kamu"


" Masa sih Mi? Sasa bilang gitu? Kamu bilang gak suka sama aku mungil?" Tanya Bara kepada Sasa.


" Udah sana, antar Sasa. Udah malam, langsung pulang itu nanti siap antar Sasa"


" Iya Mi"


" Mau kemana Mas Bara?" Tanya Kesya yang baru saja turun dari tangga.


" Mau antar Sasa pulang"


" Langsung pulang itu Mas, jangan godain anak orang lagi. Udah Malam"


" Iya kekey"


Setelah berpamitan kepada Kesya, Bara dan Sasa meninggalkan rumah. Namun saat di tengah jalan, Ban mobil Bara tertusuk paku.


" Bocor mungil. Mana pakunya besar lagi"


" Gak ada ban cadangan?"


" Ada sih, tapi peralatan bongkarnya gak terbawa. Kemarin aku bersihi mobil, jadi aku keluarin deh peralatannya. "


" Jadi gimana?"


" Bentar, aku telpon Arka ya. Suruh dia kirim montir ke sini"


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan lupa beramal ya, seperti beramal gift gitu untuk cerita ini..

__ADS_1


salam SaBar ( Sasa Bara)


__ADS_2