Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 55


__ADS_3

Raysa sangat bersemangat hari ini karena Fatih dengan cepat membalas pesannya.


"Senyum-senyum terus, awas salah buat laporannya, yang ada bukan laporan kejadian, malah laporan surat cinta, ha ... ha ... ha ...." Goda Nanda.


"Iih, Sirik aja."


Nanda memberikan map yang berisi laporan yang harus Raysa kerjakan.


"Selamat bekerja, jangan lupa minum aq*a, biar gak gagal fokus." Nanda keluar sambil menertawakan Raysa.


Raysa mencebikkan bibirnya, kemudian ia tersenyum. Tak berapa lama pintu ruangan Raysa di ketuk, Raysa pun mempersilahkan masuk orang yang mengetuk ruangannya.


"Maaf buk, ada kiriman bunga."


Raysa mendongakkan kepalanya melihat seorang pria yang memakai baju kaos dan jaket yang sedang memegang sebuket bunga mawar berwarna merah yang bercampur kuning dan bintik-bintik putih.


Senyum Raysa mengembang, ia pun menerima Bunga tersebut dengan hati yang berdebar-debar.


Setelah kepergian kurir pengantaran bunga, Raysa mencium aroma bunga tersebut, ia tersenyum mengingat siapa si pengirim bunga cantik itu tanpa melihat nama pengirimnya.


Raysa berjalan kearah kursinya dan meraih ponselnya. Dengan tak sabaran Raysa mendial nomor Fatih dan melakukan panggilan video.


Terdengar nada sambung hingga wajah dan suara Fatih memenuhi layar ponsel Raysa.


"Hai ... Assalamualaikum," Ujar Raysa dengan senyum yang mengembang dan bunga mawar Yang ada di pelukannya.


"Walaikumsalam, tumben pagi-pagi dapat senyum merekah gitu. Lagi bahagia yaa?"


"Iyaa," Raysa kembali tersenyum dan mencium aroma bunganya. "Aku suka, bunga cantik." tambah Raysa.


"Iya, cantik, dari siapa?"


Raysa yang tengah menciumi bunga mawar tersebut pun langsung menoleh kepada ponselnya yang sedang memenuhi wajah Fatih.


Raysa menatap wajah Fatih dengan mengkerut, senyum yang indah tadi menghilang entah kemana dari wajah Fatih. Raysa menatap Fatih dengan bingung.


Tersungging senyum tipis miring di bibir Fatih. "Pasti dari Farhan ya. Romantis banget dia. Seharusnya kamu telpon dia, bukan aku." Ujar Fatih dengan tertawa hambar.


Raysa mengalihkan pandangannya kearah bunga. Dan di sana tertulis nama Farhan di sebuah kertas putih yang tersangkut di antara bunga. Raysa menatap kembali Fatih dengan perasaan bersalah dan ingin menjelaskan jika semuanya salah paham. Namun suara Fatih membuat Raysa tak bisa kembali bersuara.


"Udah dulu ya, aku mau rapat. Assalamualaikum."


Fatih pun memutuskan panggilannya, dan saat layar pipih milik ponsel Raysa berubah kembali ke gambar awal, bersamaan dengan itu Raysa menjatuhkan air matanya.


"Kamu salah faham Fat, Hikks ... Layca bodoh, kamu menyakiti nya lagi ... kamu menyakiti nya."


Raysa meletakkan bunga tersebut di atas meja, dan ia menelungkup kan wajahnya di atas meja, menumpahkan semua air mata nya, merasakan sakit yang Fatih rasakan.

__ADS_1


*


Fatih menatap miris kearah ponsel nyanyang baru saja di banting oleh nya. Ponsel itu telah tak berbentuk lagi, bahkan siapapun yang menghubungi nya tak akan bisa, karena ponsel itu sudah dalam keadaan tak berbaterai.


Doni masuk kedalam ruangan Fatih dengan jantung berdebar, karena mendengar suara teriakan geram dan barang yang di banting hingga pecah.


"Bos ..." Doni menatap bos nya dengan takut


Fatih menghela napasnya, wajahnya saat ini sungguh sangat gak terlihat ramah, Fatih yang sekarang sudah bagaikan mafia yang siap menerkam mangsa nya.


Fatih menatap Doni dengan dingin. "Batalkan janji hari ini." Titah Fatih dan berjalan meninggalkan Doni yang membungkukkan tubuhnya di saat Fatih melewatinya.


Fatih naik keatas atap gedungnya, membuka semua kancing kemejanya hingga menampilkan t-shirt pas body berwarna hitam di tubuh kekarnya.


Fatih mengeluarkan kotak rokok dan mancis di dalam kantongnya, ia mengambil satu batang rokok dan membakar ujungnya. Fatih menghisap rokok tersebut hingga pipinya mengempis dan mengeluarkan asap yang cukup banyak.


Fatih tertawa miris, ia menertawakan dirinya yang kembali berharap kepada Raysa. Dan saat dirinya mulai berharap dan berangan tinggi untuk hubungannya dengan Fatih, dengan gampangnya Raysa menjatuhkan dirinya kembali.


Fatih menatap ke arah langit, ia menatap langit biru itu dengan mata yang basah.


"Kenapa? kenapa aku gak boleh bahagia? kenapa aku gak bisa merasakan cinta dari dia? kenapa? KENAPAA????" teriak Fatih kencang sambil menatap kearah langit.


Fatih meluruhkan tubuhnya dan mulai terisak. "Apa karena aku terlahir dari perbuatan zina? maka dari itu kamu menghukum ku, Tuhan?" lirih nya yang terdengar pilu oleh siapapun.


*


"Hiks ... A-aku ... hikss ... Aku menyakiti hati nya ... hikss ... Aku melukai hati nya lagi ... hiikkss ..."


Nanda langsung memeluk tubuh Raysa, membiarkan Raysa menangis di dalam pelukannya.


Baru saja Raysa merasa ada hal baik dan manis di antar dirinya dan Fatih. Namun, dengan satu kesalahpahaman membuat semuanya hancur.


Raysa sedari tadi mencoba menghubungi Fatih, ingin menjelaskan kepada Fatih bahwa semuanya salah faham. Raysa ingin mengatakan jika bunga itu Raysa fikir adalah pemberian Fatih. Raysa ingin menjelaskan semuanya kepada Fatih. Namun sepertinya Fatih sulit untuk di hubungi saat ini.


Ingin rasanya Raysa berlari saat ini juga untuk menghampiri Fatih, ingin rasanya Raysa memohon maaf kepada Fatih secara langsung, ingin rasanya Raysa memeluk Fatih dan memohon pengampunan dari nya. Raysa ingin berada dekat Fatih, namun keadaan tak memungkinkan Raysa melakukan itu, Raysa punya tanggung jawab lain yang harus ia penuhi. Tanggung jawabnya sebagai abdi negara.


*


"Tumben Lo di sini?" Quin meletakkan sepotong cake belgian coklat kehadapan Fatih.


"Tengkiuuu." Ujar Fatih dengan bibir yang di majukan.


Quin menggelengkan kepalanya melihat tingkah ke kanak-kanakan sahabat sekaligus saudara nya itu.


Quin mengernyit saat mencium bau rokok yang sangat menyengat dari tubuh Fatih.


"Kamu merokok?" tanyanya sambil mengenduskan indera penciumannya ke dekat Fatih.

__ADS_1


"Hmm ... Biasa, kerjaan menumpuk banget."


Quin memperhatikan wajah sepupu nya itu. "Kamu nangis?" Ujar Quin sambil menghapus sisa air mata Yang ada di sudut mata Fatih.


Fatih menghentikan pergerakan tangannya untuk kembali menyuapi sepotong cake tersebut kedalam mulut nya.


"Hati aku sakit, Quin. Sakit banget. Nyesek banget di sini." Fatih menunjuk kearah dada nya.


Quin langsung merentangkan tangannya dan memeluk Fatih. Fatih tak menangis, namun Fatih menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Quin.


Sreeet .... buuggg ...


"Aakkhh ...." Fatih meringis saat seseorang memukul wajahnya, dan membuat sudut bibirnya terluka.


"Abi ..." Pekik Quin yang menatap tunangannya itu dengan marah.


"Quin, kamu__"


"Kamu kalo gak tau apa-apa, gak usah ikut campur dan main pukul orang deh." kesal Quin dan membantu Fatih untuk berdiri.


Abi mengerjapkan matanya, ia tak tahu kenapa bisa berbuat seperti itu. Seolah ia sangat takut jika seseorang mengambil Quin dari dirinya.


"Kamu gak papa?" Tanya Quin yang sudah membantu Fatih duduk di sofa.


"Hmm ... rasa sakit ini tak seberapa dengan rasa sakit di sini" Fatih menunjuk kearah bibirnya, kemudian menunjuk kearah dada nya.


Quin menghela napas, kemudian ia berdiri dan mengambil kota P3K untuk mengobati sudut bibir Fatih yang terluka akibat pukulan dari Abi.


Quin kembali menghela napas, saat ini ada dua pria yang wajah nya babak belur. Abi yang belum sembuh dengan sempurna, dan Fatih yang baru saja mendapatkan bogem mentah dari Abi.


"Jadi semua salah faham? maafkan aku." Ujar Abi dengan tulus.


"Gak apa, gue juga bakal lakukan hal yang sama kok." Fatih tersenyum manis, "Gue tenang sekarang, karena Quin berada di tangan orang yang mencintai nya."


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....

__ADS_1


__ADS_2