Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 121


__ADS_3

"Hati-hati sayang," ujar Fatih saat mereka sedang menikmati jalan pagi bersama.


"Bang, ada yang aneh ya diwajah aku? kok orang-orang pada liatin aku sih?" ujar Raysa dengan bingung.


"Gak ada yang aneh, mungkin mereka lihatin kamu karena kamu itu cantik,"


Iih, dasar gombal. Aku serius tanyanya."


"Aku serius jawabnya,"


"Ica,"


Raysa pun menoleh kesumber suara, dan menemukan Kayla dan Zein yang tenagh kari pagi bersama anak mereka. Ah ya, Kayla juga sedang hamil saat ini, usia kandungannya sudah memasuki 3 bulan.


"Mbak Ila,"


"Udah lama" tanya Kayla.


"Baru aja, Kakak?"


"Udah sekali putaran sih. capek, mau makan dulu, laper." Kayla mengelus perutnya yang terlihat sudah mulai membesar.


"Ikutan kak, AKu juga lapar." ujar Raysa dan melepaskan pegangannya pada Fatih.


"Sayang, jalan dulu, baru makan," bujuk Fatih.


"Laper abang," rengek Rasya.


Fatih pun menggaruk alisnya, ia membiarkan Raysa makn bersama Kayla dan melanjutkan lari paginya bersama Zein.


*


Fatih telah selesai dengan lari paginya, ia pu menyusul bersama Zein untuk mengikuti saraoan bersama keluarga kecil mereka.


Fatih memesan lontong pagi, sedangkan Zein memesan bubur ayam.


"Bang, enak ya?" tanya Raysa yang merasa kembali lapar saat melihat Fatih makan.


"Mau?" tawar Fatih.


Raysa menganggukkan kepalanya, ia membuka mulutnya dan membiarkan Fatih menyuapinya.


"Enak," seru Raysa.


"Kamu mau? AKu pesanin lagi?"


"Abang yang suapin ya?" pinta Raysa dengan manja.


Zein dan Kayla saling panang, mereka ternganga melihat sifat Raysa yang sangat manja dengan Fatih. bahkan, saat ini Raysa memeluk lengan Fatih dan meminta fatih menyuapinya.


Dengan senang hati Fatih menyuapi isteri tercintanya itu tanpa merasa terganggu dengan perutnya yang jug aterasa lapar. Bagi Fatih, membuat Raysa merasa nyaman adalah hal yang paling penting dalam hidupnya.


"Ca, makan sendiri dong, Fatih pasti lapar juga," tegur Kayla.


"Abang lapar?" tanya Raysa.


"Luamya," ujar Fatih sambil terkekh.


"Kalo gitu abang makan juga." Raysa pun menyendokkan lontong kedalam mulut Fatih.


Kayla dan Zein hanya menggelengkan ekpalanya melihat sifat keduasejoli yang masih dimabuk cinta itu. Tanpa malu-malu, Raysa mengusap bibir Fatih yang belepotan, tentu saja Fatih senang dengan perlakuan Rasya yang sangat memanjakannya itu.


Kayla tersenyum tipis, siapa yang menyangka jiak si jutek Raysa bisa sebucin itu dengan Fatih. Bahkan tanpa merasa jijik, Raysa bergelayut manja ditubuh Fatih yang basah dengan keringat. Sedangkan dirinya saja terkadang rada malas berdekatan dengan Zein jika tubuh Xein dipenuhi dengan keringat seperti sat ini. Kecuali keringat saat mereka olah raga bersama.


*


"Abang," Rasya memanggil Fatih yang tak berada disampingnya saat dia terbangun dari tidur.

__ADS_1


"Aku disini," ujar Fatih dari arah balkon.


Raysa bernapas lega, ia pun turun dan menghampiri Fatih.


"Abang ngapain?" tanya Raysa sambil memeluk Fatih dari belakang.


"Lagi cari angin segar."


"Lagi banyak kerjaan ya?"


"Hmm, ad dua proyek yang bermasalah. Mereka meminta tim untuk merombak kembali sektsa gedungnya." ujar Fatih yang tak menutupi rasa kekesalannya.


"Terus?"


"Hmm, Mereka minta abang ke Bandung, besok."


"Besok?" tanya Raysa memastikan pendengarannya.


"Iya, makanya abang kesal. Padahal sudah abang bilang dari jauh hari. Abang tak akan ke Bandung saat kamu sedang hamil."


Raysa menyandarkan kepalanya di punggung Fatih. "Berapa hari?"


"Kalo cepat, mungkin abang bisa pulang hari. Tapi kalau banyak perubahan, kemungkinan bisa dua atau tiga hari."


"Lama banget,"


"Makanya, Abang kesal sama mereka. Padahal waktu rapat sama Abang, semuanya sudah deal dan tak ada perubahan apapun lagi. Tapisetelah sketsa dibuat dengan lebih detail dan halus, dengan seenak jidadnya saja mereka meminta perubahan."


"Harus banget Abang pergi?" tanya Raysa.


"Hmm, tapi abang akan bicarakan ini dulu dengan Romi."


"Kalau emang ini sangat penting, abang pergi aja. Gak papa, aku ntar tinggal dirumah Daddy aja."


Fatih membalikkan tubuhnya menghadap kearah Raysa.


"Aku udah janji, gak akan ninggalin kamu, disaat kamu sedang hamil. Aku ingin mendampingi kamu disetiap waktu yang berharga seperti ini."


"Haah, aku gak bisa jauh dari kamu," Fatih memeluk Raysa, namun, ia tak bisa memeluk Raysa dengan erat seperti dulu, karena perut Raysa yang semakin membesar. Bahkan, berjalan saja Raysa sudah kesulitan.


*


Tiga hari, bagi Fatih terasa seperti tiga tahun. Tak ada senyum ataupun canda yang biasa Fatih lontarkan. Ini semua karena pegawainya yang membuatnya jauh dari sang istri. Jadi, mereka harus terima konsekuensinya.


"Ada yang kurang jelas?" tanya Fatih.


"Jelas, Bos." seru timnya.


"Bagus, buat pertemuan dan yakinkan mereka untuk mengguankan sketsa ini. Jika kalian gagal, maka kalian harus menanggung akibatnya."


Buakn tanpa alasan Fatih berkata seperti itu. Sudah banyak uang yang keluar untuk menyukseskan proyek tersebut.


"Bos, ada telpon." ujar Romi sambil memberikan ponselnya.


Fatih mengerutkan keningnya saat melihat pengawal Raysa yang menghubungi Fatih, Fatih mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan oleh pengawalnya tersebut.


"Siapkan helikopter sekarang, kita kembali ke Jakarta." titah Fatih tanpa mau dibantah.


"Bos, rapatnya?" tanya salah satu timnya.


"Kamu urus sendiri, istri dan anak saya lebih penting dari proyek sialan ini," geram Fatih yang mana membuat semua karyawan takut.


Untuk pertama kalinya, mereka melihat Fatih marah.


*


Fatih berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan jantungyang berdebar kencang. Dibukanya pintu kamar inap yangmana terdapat Raysa didalamnya.

__ADS_1


"Abang?" ujar Raysa dengan terkejut.


Fatih langsung berlari dan memeluk sang istri yang sedang duduk sambil menikmati buah segarnya.


"Layca," lirih Fatih dengan lega.


"Abang? Kenapa bisa disini?" tanya Raysa dengan bingung. Seingatnya, ia sudah memperingatkan semua orang untuk tidak memberikan kabar kepada Fatih, perihal dirinya terpeleset diteras rumah, karena licin.


"Aku disini karena kamu," bisik Fatih dan mencium bibir Raysa.


"Ekheem.." Daddy Bara pun berdehem dengan tangan yang berlipat didada.


Fatih tersenyum kikuk, ia baru menyadari jika ada orang lain di dalam ruangan tersebut, Fokus Fatih terlanjur kepada Raysa.


"Kangen, Dad," cicit Bara.


"Kangen .. Kangen .. Gak pake cium-cium di depan orang tua juga dong," gerutu Daddy Bara.


"Yang ngomong gimana dulu?" ujar Oma Shella yang mana membuat Daddy Bara mati kutu.


Sepertinya saat ini Daddy Bara tengah mendapatkan karmanya karena sering membuat Oma Shella kesal akibat dari ulah mesumnya yang sesuka jidadnya menciumi Bunda Sasa.


*


"Siapa yang bilang kalo aku masuk rumah sakit?" tanya Raysa penasaran. Saat ini mereka tengah berdua didalam kamar.


"Gak penting siapa yang bilang, yang penting aku disini sekarang dan aku janji gak akan ninggalin kamu lagi. Apapun yang terjadi." ujar Fatih sambil mengecup punggung tangan Raysa.


Rapat yang diadakan di Bandung, yang seharusnya dihadiri oleh Fatih pun, megalami sedikit masalah. Romi menghubungi Fatih, namun dirinya malah di semprot oleh Fatih. Hingga akhirnya Papi Gilang mengetahui permasalahan tersebut dan ikut turun tangan.


Hanya satu kata dari Papi Gilang, 'putuskan kontrak kerja dan bayarkan semua denda', klien pun langsung menyetujui sketsa yang suah dirombak oleh tim.


Bagaimana tidak langsung disetujui. Perusahan kontruksi milik Papi Gilang sudah cukup terkenal. Bahkan, Arsitek yang bekerja di perusahaan tersebut bukanlah sembarangan. Mereka semua memilki kualitas yang cukup baik dan juga, siapapun yang sudah pernah bermasalah dengan perusahaan Papi Gilang yang saat ini dipegang oleh Fatih, maka harus siap-siap menanggup resikonya untuk tak dapat bekerja sama dengan perusahaan lain.


Apa lagi, di belakang perusahaan Papi Gilang, ada nama Group Moza.


*


Tak terasa, usia kandungan Raysa pun sudah memasuki 9 bulan. Raysa sudah semakin sulit bergerak karena perutnya yang sangat besar.


"Lelah?" tanya Fatih saat mereka sedang berjalan di taman rumah Mami Mili.


"Hmm, padahal baru beberapa langkah, tapi capek banget rasanya."


Fatih langsung menarik kursi lipat yang ia pegang sedari tadi. Kursi itu senagja Fatih bawa karena untuk Raysa duduki.


Fatih berjongkok didepan Raysa, dan memicit kaki Raysa dengan lembut.


"Enak?" tanya Fatih sambil mendongakkan kepalanya.


Raysa menganggukkan kepalanya, ia menangkup wajah Fatih dan menunduk untuk mencium bibir Fatih.


"Akkhh ..." Belum sempat bibir Raysa mendarat di bibir Fatih, dia sudah mersakan keram pada perutnya.


"Layca, kenapa, Sayang?" tanya Fatih panik.


"Sakit, akhh ..."


Fatih langsung berteriak untuk menyiapkan mobil. Teriakan Fatih sontaks aja membuat Papgi Gilang dan Mami Mili heboh. DI tambah Si kembar yang langsung membatalkan acara jalan-jalan mereka.


"Cepaaat..." pekik Fatih yang mana akhirnya mendapatkan pukulan dari raysa. Karena Fatih berteriak dekat dengan telinga Raysa.


**


Jangan lupa Vote ya setiap hari senin


Jangan lupa like and komen.

__ADS_1


Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA


salam rindu Tissa dan Farhan


__ADS_2