Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 31 " Takut Khilaf"


__ADS_3

Wajah Bara semakin mendekat, Sasa sudah menahan napasnya. Hidung Bara sudah menyentuh hidung Sasa,


Bruukk..


Sasa menolak tubuh Bara kuat, hingga Bara terjungkal ke lantai.


" Kamu "


" Dasar mesum, sana pulang. Sudah numpang makan, enak aja Lo mau cium-cium gue. Lo fikir Lo siapa" Ujar Sasa yang sudah berdiri dan meletakkan tangannya di pinggang.


Bara menyeringai, dia berdiri dan mendekatkan bibirnya ke telinga Sasa.


" Aku ini calon imam kamu, calon suami kamu. Dan kamu calon is__ Aaww.. aww. sakit..aduh lepasin.."


Sasa melepaskan cubitan di pinggang Bara.


" Aduh mungil, belum nikah aja kamu udah KDRT. Tapi kalo udah nikah, jangan yaa sayang"


" Geer banget sih Lo. siapa juga yang mau nika dengan Lo. Udah sana pulang"


Dengan berat hati Bara harus meninggalkan mungilnya itu. Setidaknya untuk hari ini Bara sudah mendapatkan Moodbaster nya setelah bertemu mungil sang pujaan hati.


Sesampainya di rumah, Bara tersenyum lebar kepada sang Mami dan memeluknya.


" Lepasin ih, Mami gak mau di peluk sama Bara"


" Bara udah putusin Lia, Bara juga udah ngomong ke orang tuanya Lia, kalo Bara tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Mami jangan Marah lagi ya. Senyum dong"


Mami Shella mengulum senyumnya, dan menatap sang putra. " Mami masih kesal dengan kamu. Jadi jangan peluk-peluk" Ujar Mami Shella dan minggalkan Bara yang yang menatap Mami nya sendu.


Lagi-lagi Mami Shella mencium wangi parfum yang sama di tubuh Bara. Yang mana Mami Shella sudah tau siapa si pemilik parfum. Namun Mami Shella enggan untuk menerka-nerka, ada hubungan apa antara Bara dan si pemilik parfum.

__ADS_1


Kesya sering mengunjungi rumah Mami Shella, semenjak kejadian Mami Shella memergoki Lia selingkuh, Mami Shella terlihat sangat frustasi dan mendiami Bara. Untuk itu Kesya dan Vina menemani sang Mami jika sedang tidak sibuk.


Sudah seminggu Mami Shella mendiamkan Bara. Namun Bara tetap mencuri oerhatian sang Mami, berusaha membujuknya agar amarahnya mereda. Mami Shella kesal dengan Bara karena Bara menyembunyikan status Lia sebenarnya. Karena itu lah Mami Shella masih kesal dengan Bara, walaupun mereka sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Keluarga Lia juga sudah menghubungi Daddy Roy, dan memaklumi keputusan Bara yang mengatakan jika memutuskan pertunangan karena Lia yang selalu menolaknya untuk menikah.


Kesya dan Vina merencanakan untuk memberikan surprise untuk Mami Shella dan juga Daddy Roy. Untuk itu Bara sedikit di sibukkan dengan urusan tersebut, sehingga waktunya untuk bertemu dengan Mungil menjadi berkurang. Dibtambak lagi banyak kasus yang harus di kerjakan nya.


Malam ini Bara sangat merindukan mungilnya. Entahlah, Bara sangat ingin melihat mungilnya itu. Bara meraih kunci mobilnya, dan menuju apartemen Sasa.


Sudah berkali-kali Bara menekan bel, namun sepertinya tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Bara mencoba membuat panggilan dengan mungilnya. Namun tidak di angkat walaupun sudah yang ke 5 kali panggilannya.


" Apa dia keluar ya? Tapi tadi dia bilang di rumah kecapean." gumam Bara dan membuka pintu apartemen Sasa dengan password yang sudah di hafalnya di luar kepala.


Tit..tit.. tit...tit...tit.. ceklek.


Pintu terbuka dan Bara melangkahkan kakinya masuk. Bar mendengus kesal saat langsung di sambut oleh alunan musik yang sangat kuat. Bara mengecilkan volume musik yang sedang di putar oleh Sasa. Bara memanggil-manggil Sasa dan mencari keberadaannya.


"Aduuh."


Bara terkejut dan seakan mendapatkan kembali kesadarannya. Bara berusaha membuat Sasa tenang, namun entah kenapa Bara seakan kehilangan ilmu bela dirinya hingga tidak bisa melawan Sasa yang memang sedang tersulut amarah.


" Dasar mesum, Bara api sialaaaannn" Maki Sasa kuat dan masih memukul Bara secara membabi buta hingga ujung bibir Bara sudah mengeluarkan darah dan sudut matanya juga sudah lebam. Bisa di pastikan jika Bara harus mengambil cuti untuk menghilangkan lebam di wajahnya.


Bara mencoba berfikir jernih dan menarik dirinya yang telah terbang bersama bayangan tubuh Sasa yang terlihat eemm... yaah, begitu lah.. tubuhnya kecil, tapi memiliki pay***Ra yang besar dan terlihat kenyal. Belum lagi di tambah kulitnya yang mulus dan masih basah.


Dengan sekali gerakan Bara menggendong Sasa di bahunya, kemudian membawa Sasa ke tempat tidur. Sasa terus memberontak dan memukul punggung Bara. Di baringkannya tubuh Sasa dan kemudian ditindihnya, tangan Sasa sudah menahan bobot tubuh Bara yang akan menempel di tubuhnya.


" Pakai dulu baju mu, jika tidak ingin aku melihatnya kembali" Ujar Bara sambil melirik kearah dada Sasa yang sudah menampakkan sedikit gundukannya.


Sasa menyilang kedua tangannya menutupi dadanya. Bara menyeringai saat mendapati wajah Sasa yang memerah melebihi tomat masak. Bara bangkit dan langsung membelakangi Sasa. Bara keluar dari kamar Sasa.


" Cepat lah memakai baju mu, sebelum aku berubah fikiran" Ujar Bara sambil tersenyum jahil dan menutup pintu kamar Sasa.

__ADS_1


Sasa memegang dadanya, debaran jantungnya sungguh menggila saat ini di tambah rasa malunya yang tidak tau bagaimana lagi dia bilangnya. Bara adalah pria pertama yang melihat tubuh polosnya. Bara yang berada di luar kamar Sasa pun juga memegangi jantungnya yang ikut menggila.


" Mungil.. Bisa kamu benar-benar membuat aku hampor gila"


Sasa sudah berpakaian, dia menggunakan celana training panjang dan juga baju kaos yang menutup seluruh tubuhnya, dari leher hingga lengannya. Sasa berdehem saat melihat Bara tengah memejamkan matanya di sofa.


Bara melihat kearah Sasa, kemudian dia menahan senyumnya. Sasa benar-benar menutup seluruh tubuhnya. Akh, jika mengingat tubuh Sasa tanpa busana tadi, sepertinya Bara akan memulai permainan Solonya dari sekarang, karena sedari tadi juniornya masih saja merasa sesak di bawah sana.


" Ngapain Lo ke sini?" Ujar Sasa kesal.


" Aku kangen kamu mungil."


"Ya Tapi gak pake acara masuk ke apartemen orang tanpa permisi, apa lagi main masuk kekamar anak gadis. Gak sopan itu tau, lagian kamu sekolah tinggi-tinggi tapi masa gak ada etika sih" Kesal Sasa yang masih berdiri dan melipat kedua tangannya di dada.


" Maaf mungil, tadi aku udah memencet Bel berkali-kali, namun kamu tidak membukanya. Aku juga membuat panggilan telpon kepada kamu, namun juga tidak di angkat, jadi aku khawatir, takut terjadi apa-apa sama kamu. Saat aku masuk, telingaku suda di sambut dengan musim yang memekakkan, jadi aku kecilin deh, lalu tak berapa kamu aku mendengar suara seperti sesuatu terjatuh dari kamar, dengan cepat aku berlari takut kamu terluka, eh gak taunya Aku yang terluka. " Ujar Bara sambil menunjukkan luka di bibir dan matanya.


Sasa berdehem untuk membasah tenggorokannya.


" Yaa.. ya udah, tinggal kamu obati aja apa susah nya sih" Ujar Sasa gugup.


" Kamu obatin dong mungil, kan ini juga salah kamu"


Sasa berdecak kesal, Bara benar, itu salahnya. Tapi itu juga salah Bara kan?. Ah, sudah lah, jika berdebat dengan Bara api ini tidak akan pernah selesai. Lebih baik jika dirinya mengalah saja. Sasa beralih ke dapur, dan mengambil kotak P3K yang memanh di simpan di lemari dapur.


Sasa membersihkan luka yang berada di dekat mata Bara, pipi dan sudut bibirnya, kemudain memberikan salep di sana. Mata Bara tak lepas memandang wajah cantik nan teduh milik pujaan hatinya saat ini.


**** Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan sampai batal ya puasanya..

__ADS_1


salam SaBar ( Sasa Bara)


__ADS_2