
" Mi, Perut ku gak sakit lagi." Ujar Sasa saat di depan pintu rumah.
" Kamu yakin?"
" Iyaa Mi, tadi nya sakit banget, tapi sekarang udah gak papa lagi kok."
Mami Shella menghela napas dan mengelus perut sang menantu mungil nya.
" Baby mungil, kamu ngerjain Daddy dan Oma yaa.." Ujar Mami Shella berbicara Dengan bayi yang ada di perut Sasa.
" Mi, Mungil, kenapa berdiri di depan pintu? ayo cepat.." Bara masih panik dan gemes melihat Sasa Dan Mami Shella yang malah tersenyum kepadanya.
" Hanya kontraksi palsu sepertinya Bar."
" Bisa aja mau lahiran beneran Mi. Ayo.. cepetan, lebih baik periksa aja deh, dari pada napa-napa."
" Ya udah ayuukk.."
Mami Shella dan Sasa hanya menurut saja, Om Nazar, Tante Rosa, Vina, dan Tante Mega sudah berada di halaman rumah Mami Shella.
Daddy Roy sudah siap menjadi supir, Bara duduk di bangku penumpang bagian belakang bersama Mami Shella dan Sasa yang berada di tengah-tengah mereka.
Daddy Roy membawa mobil dengan kecepatan sedang, namun Bara yang cerewetnya ngalahin Mami Shella, terpaksa Daddy Roy menambah kecepatannya. Untung saja Daddy Roy sempat melewati lampi rambu berwarna hijau yang masih menunjukkan 2 detik lagi, sebelum berubah menjadi warna merah.
Sesampainya di rumah sakit, tim dokter yang di minta oleh Bara sudah siap sedia menyambut kedatangan mereka, Anggun juga berada di sana.
" Masih sakit Mbak?" Tanya Anggun saat melihat Sasa hanya tersenyum kikuk tanpa menahan rasa sakit.
" Seb-sebenarnya udah gak lagi sih dari rumah tadi, tapi Mas Bara ngotot tetap ke rumah sakit." Saa merasa tak enak, karena dirinya beberapa perawat terpaksa di hebohkan dengan kehadiran dirinya yang bukan siapa-siapa.
" Ayo naik, biar di dorong pake brankar aja."
" Aku masih bisa jalan kok Mbak Anggun." Sasa merasa tak enak.
" Udah prosedur Mbak, udah gak papa."
Dengan terpaksa dan bujukan dari Bara, Sasa akhirnya naik ke atas brankar dan di dorong ke ruang tindakan untuk memeriksa kehamilannya.
Anggun tersenyum saat mendapatkan hasil pemeriksaannya.
" Mas Bara tenang aja, ini hanya kontraksi palsu, insya Allah dua Minggu lagi masuk hati perkiraan lahirnya. Jadi, nanti jika ada kontraksi seperti ini lagi, jangan panik dulu. Di lihat dulu, berapa lama kontraksi terjadi, dan apakah kembali terjadi setelah kontraksi berhenti, jika masih terjadi, berapa lama jarak waktu nya antara kontraksi pertama dan kontraksi kedua. Intinya jangan panik."
Bara hanya bisa menghela napasnya, sebenarnya Bara tak tahan lagi ingin melihat buah hati mereka, memeluk nya, menciumnya, dan mengazani nya.
" Mas.."
__ADS_1
" Hah? Ahh, iyaa.. "
Sasa tau, jika sang suami sudah tak sabar untuk menimang buah hati mereka. Setiap Bara menyentuh perut Sasa, bayi nya selalu memberi respon dengan menendang perut Sasa, dan itu adalah momen bahagia bagi Bara dan juga Sasa.
Bahkan setiap bangun tidur dan sebelum tidur, Bara selalu berbicara dengan buah hati mereka yang masih di dalam perut Sasa, bahkan mencium perut Sasa dan membelainya penuh cinta. Siapa yang tak semakin cinta kepada suami seperti Bara, cinta Sasa sudah sangat menggunung, bahkan gunung tertinggi di dunia pun tak mampu mengalahkan tingginya cinta Sasa. Sasa hanya berdoa kepada Allah, agar hanya maut yang memisahkan mereka, bukan karena pihak ketiga.
.
.
Bara mengecup perut Sasa berkali-kali, dan mengajak dedek bayi yang ada di perut berbicara.
" Ngerjain Daddy ya.. Pinter banget sih? "
Sasa hanya tersenyum dan membelai rambut hitam pekat dan lembut milik Bara.
" Aku gak sabar deh buat gendong baby kita."
" Iya Mas, aku tau. Aku juga gak sabar lihat Mas mengazani dan mencurahkan semua rasa kasih sayang Mas kepada anak kita."
" Aku akan mencurahkan semua cinta ku peada kamu, dan juga anak-anak kita. "
Wajah Sasa memerah saat mendengar kata 'Anak-anak kita.' Bara menyadari akan hal itu.
" Kenapa? kok merona gitu?"
" Yaa, aku tak ingin memiliki satu atau dua anak, aku ingin memiliki banyak keturunan yang lahir dari rahim kamu." Bara merapikan rambut Sasa yang mengenai wajahnya, dan menyelipkannya kebelakang telinga.
" Mungkin 5, atau 10 anak. aku menginginkannya." Ujar Bara sambil mengecup bibir Sasa.
Mata Sasa membelalak saat mendengar 10 anak yang Bara inginkan, yang benar saja, apa Sasa mampu melahirkan dan menjaga anak-anak mereka dengan kasih sayang yang adil? Sasa takut jika ia tak bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya.
Bara terkekeh, " Jangan takut, aku tak mungkin memaksa kamu melahirkan anak kita sampai sebanyak itu. Aku akan siap memberikan benih ku ke rahim kamu, di saat kamu siap untuk kembali mengandung anak kita."
Kali ini Bara tak hanya mengecup bibir Sasa, namun Bara sudah ******* bibir itu, bahkan Bara sudah memperdalam ciumannya, membuat ciuman itu menjadi panas.
Napas kedua berburu kala Bara melepaskan ciumannya.
" Bolehkah?" Pintanya dengan mata yang sayu karena hasrat yang sudah menggebu.
Sasa mencium bibir Bara dengan sensual. " Lakukan dengan perlahan dan dengan cinta." Bisiknya di depan bibir Bara.
Bara menyeringai dan langsung kembali menyerbu bibir Sasa yang akan selalu menjadi candunya.
Yaa, Bara sangat mencintai istrinya ini. Sampai kapan pun Bara tak ingin melepaskannya, apapun yang terjadi, Bara akan tetap mempertahankan Sasa untuk tetap berada di sisinya, hingga maut memisahkan mereka berdua, dan kembali bersatu di Jannah -Nya.
__ADS_1
.
.
Bara memandang wajah Sasa yang tengah tertidur lelap di dalam pelukannya. Mungilnya, yang berwajah biasa saja, dan jauh dari kriteria wanita idealnya, mampu membuat hatinya bergejolak, dan selalu ingin bersama nya.
Bara mengingat kembali saat pertama kali mereka bertemu, wajah Sasa yang polos membuat Bara terpesona, dan gaya cueknya membuat Bara tertarik. Belum lagi saat Bara melihat Sasa membantu seorang nenek-nenek menyebrang, Bara yakin, Sasa sengaja menghentikan motornya hanya untuk membantu nenek tersebut.
Hingga Bara merasa sedih ketika mengetahui jika Sasa trauma dengan polisi, bahkan seragam polisi pun membuat Sasa mual. Bara pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan jaketnya setiap saat, demi bisa bertemu dengan mungilnya. walaupun saat itu Bara masih berstatus tunangan orang lain, tapi entah kenapa Bara merasa ada sesuatu yang menarik dirinya untuk semakin mengenal sosok mungilnya.
Siapa yang menyangka, usahanya selama ini membuahkan hasil yang sangat indah, perjuangannya untuk meluluhkan hati Sasa, perjuangannya yang menunggu Sasa nya kembali, hingga perjuangannya untuk memiliki buah hati bersama mungilnya. Semua cobaan dan kenangan itu di lalui nya demi memperjuangkan mungilnya.
Bahkan Bara terkekeh kala mengingat dirinya di cium oleh wanita yang sedang sakit jiwa, dan Sasa marah akan hal itu. Wajar sih, wanita mana yang tak akan cemburu jika melihat suaminya di cium oleh perempuan lain.
" Enghh.." Sasa melenguh saat mendengar kekehan Bara.
" Mash.." Suara serak Sasa terdengar menggoda di telinga Bara.
" Hmm..?" Bara merapikan rambut Sasa.
" Kamu ketawain aku yaa, apa aku ileran?" Sasa mengusao bibirnya, memastikan jika Taka da cairan yang keluar dari bibirnya.
" Enggak kok, aku sedang bahagia mengingat semua perjuanganku untuk memiliki kamu. "
" Dasar gombal." Sasa kembali menelusupkan wajahnya di dada bidang Bara.
" Jangan mancing mungil ."
" Aku gak mancing kok."
Perkataan Sasa dan tindakannya sangat bertolak belakang. Lihatlah, Sasa saat ini tengah mengecup dada bidang Bara, bahkan memberikan tanda kecupannya di sana.
Hah, sepertinya hormon kehamilan Sasa membuatnya juga ikut mesum seperti sang suami. Jadi, jangan salahkan Bara jika ada ronde kedua.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA...
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....