Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F - 92


__ADS_3

Paris, dua bulan lalu


Tissa memandang dinding putih bersih yang masih kosong. “Baiklah, mari kita mulai.”


Tissa membentang perlengkapan lukisnya di atas lantai. Sebelumnya Tissa sudah meminta untuk seseorang membawakan pewarna dinding. Sebelum menuangkan hasil karyanya, Tissa membersihkan dulu dinding tersbeut agar tak terdapat debu bandel yang menempel. Ini bertujuan untuk mempermudah Tissa mengaplikasikan warna nantinya.


Tissa mulai membuat sketsa dasar di dinding. Ia merasa lelah karena seharian ini banyak mengeluarkan tenaga. Tidak terlalu sibuk memang, tapi Tissa banyak menghabiskan waktunya untuk berjalan kaki menikmati kota Paris. Apalagi pekerjaan Tissa bersama Paul sudah berakhir. Hanya tinggal menunggu pameran lukisan itu berlangsung. Yaa, ada alasannya kenapa Tissa melakukan hal itu, karena hatinya sedang merindukan seseorang. Tissa sengaja mengambil job yang di berikan oleh Dalia, karena tak ingin fikirannya kosong dan tetap memikirkan pria yang tak bisa mencintainya karena cinta yang di miliki oleh pria tersebut hanya milik seseorang.


“Hah ...” Tissa menghela napasnya, ia sudah berusaha untuk fokus, tapi tetap saja hati dan fikirannya tak sejalan. Hatinya begitu kuat merindukan pria yang bernama Farhan.


 *


 Seorang pria dengan perawakan tinggi, manis, dan juga sangat sedikit untuk mengeluarkan senyumnya akhir-akhir ini pun terlihat membenarkan kacamata hitamnya sambil menunggu seseorang.


“Kak Farhaaan ....”


Farhan menoleh kearah sumber suara dan hanya memberikan senyum tipis kepada gadis tersebut.


“Lama tak bertemu Dalia,” Farhan memeluk adik sepupunya itu.


“Kakak yang terlalu sibuk hingga tak sempat mengunjungi ku di sini.”


Farhan hanyak terkekeh mendengar adik sepupunya itu merajuk. Ia memang sibuk, sibuk mencari pujaan hatinya. “Jadi, bagaimana dengan pekerjaan mu?”


“Sudah aku katakan, aku tak ingin di pusingkan dengan orang-orang yang membuat ku repot. Aku lebih suka membuka usaha ku sendiri.”


“Benarkah? Hmm, sepertinya kamu harus bercerita banyak tentang hal itu nanti.”


“Ya, aku akan menceritakan apa yang aku kerjaan saat ini. Aku akan membuka cafe ku sendiri.”


“Ceritakan itu nanti, kakak mu ini benar-benar lelah.”


Ya, Farhan sangat lelah karena baru saja mendarat dari Indonesia ke Paris. Ini sudah yang ke 4 kali nya Farhan ke sini dan mencari tahu keberadaan Tissa. Namun seakan di telan oleh bumi, jejak Tissa tak dapat dilacak oleh Farhan. Seseorang telah membuat Farhan tak menemukan Tissa. Semua identitas Tissa di rahasiakan, siapa lagi kalo bukan bantuan dari Tn. Paul Benzema, dan itu atas permintaan Tissa.


Farhan hanya mengetahui jika Tissa bekerja dengan salah satu perusahaan hebat di Paris, namun Farhan tak mengetahui perusahaan apa itu. Farhan sudah bertanya kepada Fatih, namun Fatih enggan membuka mulutnya. Farhan tau, jika Fatih sedang marah dengannya, dan ini menyangkut tentang Tissa. Entah apa yang telah gadis


itu ceritakan, tapi Fatih tetap lah Fatih. Fatih akan tetap profesional dan tak ingin ikut campur dengan apa yang terjadi kepada Farhan dan Tissa.


Dalia dan Farhan telah tiba di apartemen Dalia. Gadis itu sengaja membawa Farhan kesana karena tak ingin kehilangan Farhan di saat hari pentingnya membuka caffe nya. Dalia adalah sepupu Farhan dari Papi Riko, Diantara sepupu-sepupu Farhan yang lain, Farhan lebih dekat dengan Dalia.


“Jadi kamu membawa ku ke apartemen mu?”


“Aku tak ingin Kakak menghilang tiba-tiba seperti beberapa bulan lalu, dua hari lagi aku akan mengadakan pembukaan cafe, jadi kakak adalah tamu terhormatku. Kakak wajib datang.”


“Hmm, tapi aku sedang sibuk.”


“Sibuk mencari gadis itu?” Dalia mencebikkan bibirnya.


“Ayolah, katakan siapa gadis yang telah membuat kakak ku berubah menjadi dingin seperti ini.”


 “Apa jika aku mengatakannya kamu bisa membantu ku?”


 “Tentu saja tidak, kakak tau, Papi sudah marah kepada ku karena mengundurkan diri dari perusahaan dengan cara yang kurang sopan. Jelas saja semua akses di tutup untuk ku.”


Farhan mengelus kepala Dalia dengan sayang. “Bagaimana kabar tunangan kamu?”


“Dia baik, Paul juga sedang terjun ke bisnis yang baru.”


 "Oh ya, apa itu?”


Ponsel Dalia berdering sehingga membuat Dalia mengurungkan niatnya untuk mengatakan jika tunangannya sedang terjun dalam dunia seni.


“Aku angkat telpon dulu, ini dari ibu nya Paul.”


Farhan memberi waktu untuk Dalia berbicara dengan calon mertuanya itu. Farhan pun menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel. Ia membuka sosial media Tissa yang sudah lama sekali tak ada satu pun postingan dari gadis itu.


“Kamu di mana Sa?”


 “Kak, maafkan aku, aku harus pergi. Ibu nya Paul mengajak ku untuk makan malam bersama dengan koleganya. Kau tak apa kan jika aku tinggalkan sendiri?”


“Hmm, tak apa. Lagipula aku ingin beristirahat sebentar.”


“Baiklah, aku pergi dlu. Bye.”


Setelah kepergian Dalia, Farhan pun merebahkan tubuhnya di sofa. Rasanya malas sekali untuk bergerak membersihkan diri. Hingga Farhan pun terlelap dalam tidurnya.


*


Besok adalah hari pembukaan caffe baru milik Dalia, Farhan penasaran bagaimana bentuk caffe tersebut. Farhan pun meminta alamat caffe Dalia untuk melihat-lihat dekorasinya. Mungkin Farhan akan membeli sesuatu yang masih kurang di sana. Karena kata Dalia, caffe miliknya itu bernuansa Indonesia. Agar warga Indonesia yang ada di Paris, merasakan pulang ke negaranya sendiri.


Dalia mengatakan jika di dalam Caffe nya ada seorang temannya yang sedang mengerjakan sesuatu hal di dalam caffe nya. Jadi Dalia meminta kepada Farhan untuk tidak mengganggu privasi temannya itu.


Seorang pelayan terlihat menyambut kedatangan Farhan karena telah di beritahukan oleh Dalia sebelumya. Farhan mengikuti pelayan  tersebut untuk melihat-lihat caffe yang akan segera di buka oleh adik sepupu kesayangannya itu.


Farhan meraih ponselnya dan menghubungi Dalia.


“Bagaimana?” tanya Dalia dari seberang panggilan.


“Tidak buruk, tapi aku merasa kamu butuh sedikit beberapa perabotan di dekat jendela menuju balkon.”


 “ya, aku sudah memikirkan untuk mengisi sesuatu di sana, tapi aku belum tahu apa yang cocok untuk di isi disana.”


“Hmm, bagaimana dengan tanaman kaktus?”


 “kaktus?”

__ADS_1


“Ya, aku pernah melihat di sebuah caffe bernuansa jadul namun kekinian. Ada sebuah  rak dengan tananam kaktus di sana, aku rasa itu sangat cocok.”


 “Baiklah, aku serahkan itu kepada mu, oh ya, bagaimana dengan meja untuk pembuatan kopinya, apa menurutmu sudah bernuansa Indonesia?”


“Sebentar, aku sedang berjalan kearah sana.”


Sayup-sayup Farhan mendengar suara seoorang gadis yang ia rindukan di sebuah sudut ruangan . Farhan pun melangkahkan kaki nya kearah sumber suara.


“Ya, Ma. Aku sudah makan. Mama tenang saja, aku juga tidak meminum minuman soda kok.”


Jelas sekali gadis itu berbohong karena di mejanya terdapat sebuah botol minuman soda. Tidak, itu bukan soda, melainkan wine. Dan gadis itu?


“Bagaimana?” tanya Dalia dari balik panggilan telpon dan menyadarkan kembali Farhan jika ia masih tersambung dengan Dalia.


“Dalia, aku akan menghubungi mu lagi nanti.” Farhan memutuskan panggilannya secara sepihak.


Farhan berjalan mendekati gadis yang masih sibuk bertelpon ria bersama sang Mama. Ya, Farhan mengetahuinya karena gadis itu memanggil teman bicaranya dengan sebutan Mama.


“Baiklah, nanti aku hubungi lagi. Mama harus jaga kesehatan, oke.”


Gadis itu memutuskan panggilannya dan menghela napasnya pelan sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Gadis itu kembali menegakkan tubuhnya dan menuang minuman beralkohol itu kedalam gelas sloki nya.


“Sejak kapan kamu meminum minuman itu?”


 Byuurr .....


Tissa menyembur minuman yang baru saja ia masukkan ke dalam mulut. Matanya melotot saat melihat sosok Farhan berada di hadapannya sambil memasukkan kedua tangannya kedalam kantong.


‘Tampan.’ Batin Tissa.


 Tissa menggeleng cepat, ia masih berfikir jika itu hanyalah khayalannya saja. Apa minuman yang di berikan oleh Paul mengandunag alkohol? Tapi Paul katakan jika minuman itu tak mengandung alkohol.


Tissa kembali memeriksa botol tersebut, dan benar saja jika minuman itu tak mengandung alkohol. Lalu, tak mungkin ia saat ini sedang mabukkan? Tissa menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Mungkin ini efek dari terlalu merindukan Farhan, fikirknya.


Tissa abaikan pria yang masih berdiri sambil menatapnya dengan rindu dan juga? Emm .... entahlah. Tissa tak ingin berfikiran jauh untuk sebuah khayalannya.


Tissa kembali menempelkan gelas sloki tersebut ke bibirnya. Namun ia terlonjak kaget karena tiba-tiba saja gelas itu sudah berpindah tangan.


Lagi, Tissa membolakan matanya hingga ia pun refleks berdiri.


“Kamu nyata?” tanya nya dengan tak percaya.


Farham mengangkat tangannya dan menyentik kening Tissa.


“aww ...” Tissa meringis dan mengelus keningnya.


Ini nyata, bagaimana bisa Farhan berada di sini?


“Kamu mabuk?” Farhan sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Tissa sambil mengendus. Tissa pun refleks memundurkan tubuhnya.


Farhan tak mencium bau alkohol, ia pun memeriksa botol minuman yang ada di aats meja. Benar, minuman tersebut tak mengandung alkohol.


“Bagaimana bisa kamu di sini?” tanya Tissa setelah menemukan kembali kesadarannya.


Farhan menoleh kearah Tissa. “Karena takdir yang mempertemukan kita."


*


“jadi, kamu bekerja sama dengan Paul?”


  “Hmm, “


Farhan terkekeh, Tissa begitu dekat dengannya, namun ia tak dapat menemukan keberadaan Tissa. Wajar saja, orang yang menyembuyikan Tissa adalah Paul, sudah pasti Paul tahu jika dirinya mencari keberadaan Tissa. Maka dari itu Farhan sulit menemukan Tissa.


“Ini kamu yang melukisnya?” Farhan menunjuk kearah dinding yang sudah di gambar dengan sebuah bunga-bunga yang indah. Lukisan bunga yang khas dengan Indonesia.


 “Hmm,“


“Kamu sudah makan?”


Tissa menunjuk kearah meja, di mana terdapat makanan cepat saji di sana.


 “Hmm, itu tidak baik untuk kesehatanmu.”


 “Aku terlalu sibuk, jadi aku hanya memesan makanan yang simple.”


 Tidak, Tissa berbohong, selama ini Tissa selalu menjaga kesehatannya. Ia juga tidak meminum minuman soda lagi. Tapi tidak untuk malam ini, Tissa yang sangat lapar memilih makanan cepat saji untuk mengisi perutnya, dan wine non alkohol itu, itu adalah pemberian Paul. Jadi, Tissa fikri tak ada salahnya untuk meminumnya sesekali, lagi pula cuaca juga terasa dingin jika malam.


“Aku harus kembali bekerja, besok pagi ini semua harus sudah selesai. Tak apa kan jika aku membairkan mu sendiri, lagi pula kamu ke sini hanya ingin melihat-lihat caffe kan?”


 “Ya, silahkan lanjutkan pekerjaan mu. Aku akan melihatnya dari sini.”


Sebelah alis Tisa terangkat, namun ia tak ingin mengambil pusing. Tissa kembali memakai celemeknya dan  mengambil kuasnya untuk mewarnai hasil karyanya.


Farhan meraih ponselnya dan mengarahkan ponselnya ke arah Tissa. Diam-diam Farhan mengambil video Tissa yang tengah serius melukis.


“Cantik ...” gumamnya dan tersenyum.


 Farhan berdiri dan mendekati Tissa. “Apa ada yang bisa aku bantu?”


 Tissa terkejut mendengar suara Farhan yang tiba-tiba berbicara di dekatnya, sehingga membuat nya tak sengaja mengarahkan kuas kearah Farhan dan mengenai bajunya.


“Eh, sorry ... sorry ... aku gak sengaja.”


 Farhan melihat kerah bajunya dan tersenyum. Benar-benar hasil karya yang indah. Padahal hanya sebuah goresan tak sengaja yang di berikan oleh Tissa, tapi goresan itu sangat indah terlihat di kemeja putih milik Farhan.

__ADS_1


 “Tak  apa, ini sangat indah.” Farhan tersenyum memandang wajah panik Tissa.


“Yaa?”


“Em, apa ada yang bisa aku bantu?”


 “Kamu mau bantu aku?”


“Hmm, Aku bosan jika hanya duduk saja,” Farhan tersenyum manis. “Aku ingin berada di dekat kamu dan melihat kamu dari dekat, bukan dari belakang.” Tambah Farhan dalam hati.


“Emm, kamu yakin tak akan merusak karya ku?”


 “Aku yakin, jika kamu pasti akan mengajari ku dengan baik.”


“Hmm, baiklah.” Tissa mengambil sebuah kuas yang agak kecil dan meminta Farhan untuk mengusapkan kuas tersebut di bagian yang ia tunjukkan.


 “Seperti ini?”


“Yups, pintar banget anak Mama.” Canda Tissa sambil mengacak rambut farhan.


 Farhan menoleh dan menatap Tissa yang tertawa dengan sangat cantiknya.


 “Eh, maaf.” Cicit Tissa saat menyadari jika Farhan menatapnya.


 “Tak apa, aku menyukainya.”


“Hmm?” Tak ingin mengambil pusing, Tissa pun melanjutkan pekerjaannya.


 Tak terasa sudah satu jam mereka mewarnai dinding itu bersama, interaksi mereka pun  tak secanggung awal pertemuan mereka tadi.


 “Huuf, akhirnya selesai” seru Farhan dan duduk di lantai sambil meluruskan kakinya.


 “Gimana? Sulit gak?”


 “Banget, ternyata melukis dan mewarnai itu tak segampang yang aku fikir. Awalnya aku fikir hanya menarik garis lurus apa susahnya sih, tapi ternyata setiap coretan itu sungguh sulit. Tangan ku kaku untuk melakukannya.”


 “Benarkah? Aku penasaran, apa kamu bisa mengetik sepuluh jari? Atau sebelas jari?”


 “Sebelas jari?”


Tissa memperagakan cara mengetik sebelas jari, dengan menggunakan jari telunjuk kanan dan jari telunjuk kiri. Ya, hanya jari telunjuknya saja yang bermain di atas keybord.


 Farhan tertawa lepas. Yaah, seumur hidupnya baru bersama Tissa lah Farhan bisa tertawa lepas. Tissa membawa dirinya menjadi orang yang baru dan menjadi dirinya sendiri. Farhan sadar, jika cinta yang sebenarnya adalah dimana tempat kamu berada merasa kamu menjadi diri kamu sendiri. Selama ini, Farhan hanya selalu ingin


terlihat baik dan menjadi yang terbaik untuk Raysa, tapi Farhan tak tahu, jika dalam hubungan di perlukan nyarasa nyaman dan aman. Dan Raysa tak menemukan itu pada Farhan, begitu pun sebaliknya.


Bersama Tissa, Farhan merasakan semua hal tersebut. Nyaman, percaya diri dengan segala kekurangannya, tersenyum dan tertawa tanpa beban, dan yang terpentin, Farhan menjadi dirinya sendiri.


 “Apa kamu mengetik sepeti itu?”


 Tissa menganggukkan kepalanya dan tertawa. Farhan pun seakan terhipnotis dengan tawa Tissa sehingga ia ikut tertawa. Farhan mengangkat tangannya dan menepikan anak rambut Tissa yang menutupi keningnya.


 Tissa terdiam membeku mendapatkan perlakuan manis dari Farhan. Tak ingin terbawa suasana, Tissa pun mencari ide untuk mencairkan kembali suasana canggung tersebut.


 Sruut ...


 Tissa mencoret wajah Farhan dengan kuas kecil yang ada di dekatnya.


 “Kamu terlihat tampan jika ada tahi lalat di sini.” Tissa terkekeh di saat melihat wajah Farhan sungguh lucu.


 Tissa menaruh tanda titik hitam besar dengan kuas di pipi Farhan.


 “Benarkah aku tampan jika seperti ini?”


 “Hmm, bagaimana kalo di tambah ini sedikit?”


Tissa mengusapkan kuas kecil dengan warna putih di bagian bawah hidungnya dengan berbentuk garis lurus tiga buah baris di sebelah kiri dan kanan. Tissa terkikik geli melihat wajah Farhan yang semakin lucu.


 Sreet ...


 Tissa terkejut saat Farhan mencoret wajahnya tiba-tiba. Gantian Farhan yang tertawa saat ini. Merasa kesal, Tissa kembali mencoreut hidung Farhan dengana warna merah. Tissa berdiri dan menjulurkan lidahnyakearah Farhan di saat Farhan tak berhasil membalasnya.


“Awas ya kamu, Sa.”


Farhan berdiri dan mengejar Tissa, hingga terjadi lah kejar-kekajaran di antara dua manusia dewasa tersebut yang sudah seperti anak-anak.


 Farhan berhasil membalas Tissa dan mencoret hidung Tissa dengan menggunakan kuas yang ia pegang. Tissa mengerucutkan bibirnya, kemudian ia menari kemeja Farhan, namun sialnya Farhan yang tak berdiri dengan seimbang pun oleng dan jatuh menimpa Tissa. Untungnya mereka jatuh di atas sofa.


Jarak yang sangat dekat membuat Tissa dapat mencium aroma napas Farhan yang terasa segar. Jantung Tissa kembali berdegup. Mata mereka bertemu, sehingga secara tiba-tiba Farhan mencium bibir Tissa, Tissa yang terkejut pun perlahan menutup matanya dan membalas ciuman Farhan. Tissa mengalungkan tangannya di leher


Farhan di saat Farhan mulai menyusupkan tanagnnya di balik tengkuk Tissa.


 Dan, itu adalah malam pertama dan terakhir Farhan bertemu dengan Tissa setelah dua bulan ini Tissa tak bisa ia temui. Malam itu, Tissa menghentikan ciuman panas mereka dan pergi tanpa kata. Farhan tak bisa menemui Tissa lagi saat malam itu, dan di sinilah Gadis itu berada. Di pernikahan Fatih dan Raysa.


Tissa benar-benar membuat Farhan gila.


**


 Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.


Jangan lupa like and komen.


 Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA.


Salam Rindu dari FARHAN n TISSA

__ADS_1


__ADS_2