Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
RAYSA VS MR. F 10


__ADS_3

Raysa menatap bunga mawar yang seperti biasa Fatih kirimkan kepadanya. Ada kartu ucapan selamat juga di sana, yang mana tulisannya mengatakan 'Semangat dan Jangan mudah lelah."


"Untuk Bunda aja," Raysa enggan mengambil bunga tersebut dari tangan kurir.


"Kok untuk Bunda?"


Raysa tak menjawab, ia memilih meninggalkan Bunda dan kurir tersebut di teras.


"Makasih ya pak." Ujar Bunda setelah menanda tangani kertas yang di berikan oleh kurir tersebut.


"Mau taruh di mana bunganya?"


Raysa yang sudah kembali duduk di ruang TV menoleh ke arah Bunda Sasa, kemudian ia kembali fokus ke layar datar tersebut.


"Terserah Bunda, Asal jangan di kamar Ica."


Bunda Sasa menggelengkan kepalanya. Ternyata putrinya ini masih kesal dengan Fatih. Tapi Bunda Sasa tak mengetahui apa penyebab sang putri selama ini kesal dengan Fatih. Biasanya mereka langsung berbaikan.


"Ica, semua perlengkapan kamu untuk masuk asrama di cek semua?" Daddy Bara datang dari halaman belakang.


"Udah ..."


"Wah, cantik banget bunganya, siapa yang kirimin bunga?" Daddy Bara sengaja berpura-pura tidak tau karena ingin menggoda sang putri.


"Fatih ..." Bunda Sasa yang menjawab pertanyaan Daddy Bara.


"Duh, Jauh aja romantis gini, gimana dekat yaa?? Gak nyangka tengil-tengil gitu bisa seromantis ini ..."


Raysa seolah tuli dengan ucapan sang Daddy, ia memokuskan mata dan fikirannya ke TV.


Bunda Sasa memberi kode kepada Daddy Bara untuk berhenti menggodanya, karena perasaan sang putri yang sedang kurang baik terhadap Fatih. Daddy Bara mengerti dan menganggukkan kepalanya.


*


Keberangkatan Raysa ke asrama untuk menempuh pendidikan nya pun di antar oleh tangis Bunda Sasa dan Oma Shella.


"Udah dong Bun, jangan buat Ica nangis juga ..." Raysa menahan air matanya yang juga ingin jatuh.


Bunda Sasa sudah sesenggukan karena harus berpisah dengan sang putri dalam waktu yang lama.


"Kamu harus jaga diri baik-baik ... Hikss ... Jangan telat makan ... Jangan begadang ... harus sabar-sabar hadapin orang ... hikss ... sifat manusia itu berbeda-beda, jangan mudah tersinggung. Diemin aja kalo memang masih bisa di diemin ... Hiks ... Jangan buat masalah."


"Iya Bunda ... Ica bakal ingat semua nasehat Bunda. Bunda jangan nangis lagi ya ..."


"Gimana gak nangis? Bunda kalo kangen kamu gimana? gak bisa telponin kam ... hiks ..."


"Nanti kan Ica bakal hubungi Bunda saat libur ..."


"Mas, boleh jengukin Ica gak? nanti kalo Ica udah masuk asrama?"


"Sebaiknya jangan, karena akan buat Ica menjadi sasaran empuk nantinya ..."


"Hikks ... Trus kalo rindu gimana?"


Daddy Bara memeluk Bunda Sasa dengan erat. Ya, beginilah melepas putri semata wayang yang sangat di sayang.


"Emangnya harus nginap di asrama ya? gak bisa di rumah aja? terus pagi-pagi buta udah kembali ke asrama?" Tanya Bunda Sasa yang persis sekali seperti anak-anak saat ini.


Bunda Sasa yang berada dalam pelukan Daddy Bara terus saja sesenggukan, membuat pertahanan Raysa pun runtuh. Raysa ikut menangis dan memeluk Bunda mungilnya itu.


"Hikss ... Bunda jangan buat Ica sedih ... hikss ..."


Daddy Bara memeluk kedua wanita yang berarti di dalam hidupnya. Oma Shella juga ikut menangis melihat pemandangan haru. Bahkan mata Opa Roy juga ikut berkaca-kaca. Seingatnya dulu, saat melepas Daddy Bara untuk menempuh masa pendidikan, Opa Roy tak sampai meneteskan air matanya. Namun Raysa yang sudah di anggap sebagai permata hati nya, membuat Opa Roy juga ikut tak rela melepaskan Raysa.


"Udah dong Mbak, Ca." Mami Vina mengelus punggung Bunda Sasa dan Raysa.


Terdengar panggilan untuk para perwira muda berkumpul. Dan ini adalah perpisahan sementara yang membuat hati Bunda Sasa pilu.


"Bun, udah dong ..."

__ADS_1


Bunda Sasa masih memeluk putrinya dengan erat.


"Hiks ... Bunda jangan nangis ... Hiks ... Doain Ica sehat selalu Bun,"


"Iya, Bunda selalu mendoakan Ica ... hikss ..."


Setelah merayu Bunda Sasa dengan susah payah untuk melepaskan Raysa, akhirnya Raysa pun menjauh dari Bunda Sasa dan yang lainnya. Sedangkan Bunda Sasa, masih dalam pelukan Daddy Bara.


"Mau eskrim?" Tanya Daddy Bara untuk menghentikan tangisan Bunda Sasa.


"Hiks ... Mau ... Tapi yang spesial." Ujar Bunda Sasa dengan manja.


"Iya, yuukk ..."


Daddy Bara pun merangkul Bunda Sasa, dan di ikuti oleh Oma Shella dan Opa Roy.


*


Sudah setahun Raysa mengikuti pendidikan untuk menjadi perwira polisi, tapi Bunda Sasa masih saja menangis bagaikan orang yang putus cinta.


"Udah dong mungil," Daddy Bara sedang membujuk Sang istri tercinta.


"Mas dulu selama ini juga pendidikannya?"


"Iya,"


"Kok lama? anak Buk Wati aja cuma 8 bulanan ikut pendidikannya." Bunda Sasa mengerucutkan bibirnya sambil menghapus air matanya yang mengalir


"Pangkatnya beda. Kalo anak Buk Wati pangkatnya Bripda, sedangkan Ica kan Ipda. Sama seperti pangkat Aku di awal."


"Beda ya emangnya?"


"Ya beda dong. Kalo gak, mana mungkin aku bisa jadi Kapolres dalam umur yang masih muda." Ujar Daddy Bara yang terdengar sombong di telinga Bunda Sasa.


"Dasar sombong." cibirnya.


"Gak sombong sayang, cuma sedikit pamer aja." Ujar Daddy Bara dengan tertawa.


Daddy Bara memeluk Bunda Sasa dan menciumi pucuk kepalanya.


"Mas, makan bakso yuk ..."


" Di mana?"


"Tempat biasa lah, Nostalgia kitanya, mumpung Febrian pulang sore bareng Rayyan dan Ibra."


" Kemana mereka?"


" Iih, masa lupa sih ... Mereka ya ke Dojo lah ... Apalagi sebentar lagi Rayyan dan Ibra mau ada pertandingan, jadi ya wajar aja mereka latihan terus."


"Itu Ibra sekolahnya gimana?"


" Ya selalu sekolah dong dia."


"Maksud Aku, nilai-nilainya."


"Ooh, Pas-pasan. Kemarin ulangannya cuma dapat nilai 64."


"Kamu gak marah? karena cuma dia sendiri loh yang selalu dapat nilai rendah."


"Daddy lihat deh, ntar pas ujian nasional, Ibra itu bakal jawab pertanyaan dengan benar, dan mendapatkan nilai tinggi."


"Iya sih, Daddy ngerasa nya gitu juga."


"Hayoo, mirip siapa?" Goda Bunda Sasa yang sudah melupakan kesedihannya.


"Mirip siapa?"


"Tukang cabut, baju koyak sepulang sekolah karena berantem, bibir sobek, rambut seperti di gigit tikus karena di sekolah kedapatan berambut panjanmmhhpp..."

__ADS_1


Daddy Bara membungkam bibir Bunda Sasa dengan ciuman nya, sedangkan Bunda Sasa hanya pasrah dengan perlakuan Daddy Bara yang tak pernah berubah. Selalu mesum dan semakin mesum.


*


4 tahun Raysa menjalani pendidikan demi mendapatkan pangkat Ipda nya. Dan saat ini adalah hari di mana Raysa menyelesaikan pendidikannya.


Raysa berlari kencang menghampiri sang Bunda. Sesampainya di hadapan Bunda Sasa, Raysa berdiri tegak dan langsung memberi hormat. Bunda Sasa menutup mulutnya dengan tanganya, air matanya jatuh karena terharu melihat sang putri memakai seragam polisi.


Setelah memberi hormat, Raysa menekuk satu kakinya dan di susul dengan kaki satu nya lagi. Raysa bersujud di Kaki bunda Sasa. Pecahlah tangis Bunda Sasa. Daddy Bara juga ikut menangis, ini adalah momen yang paling mendebarkan dan mengharu pilu. Tak hanya Bunda Sasa dan Daddy Bara, Oma Shella, Opa Roy, Mami Vina, Papi Vano, Opa Nazar, dan Oma Rosa pun juga ikut menangis.


Tangis haru memenuhi seluruh halaman besar tersebut, di mana tempat pelepasan para perwira-perwira muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan mereka.


*


"kulit kamu hitaman ya." Bunda Sasa sedari tadi tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Raysa.


"Di jemur Mulu Bun, udah kayak ikan asin." Raysa tertawa mengingat betapa lelah namun serunya pendidikan yang ia jalanin.


"Mas dulu gitu juga?" Daddy Bara tak mau kalah.


"Daddy cowok, ya kalo hitam gak masalah, Ica kan cewek." Rajuk Bunda Sasa.


"Nanti bakal balik putih lagi kok Bun."


"Tapi, walaupun hitam, Ica tetap manis kok Bun."


Raysa tersenyum malu di kala Farhan memujinya.


"Kesya udah kasih kabar nih, mereka sedang menuju ke restoran." Ujar Opa Roy.


"Ooh, ya udah, yuk lah kita segera ke sana, Ica Laper banget. Kangen makanan enak." Nyengirnya.


"Emang di sini makanannya gak enak?" Tanya Bunda Sasa yang sangat khawatir dengan sang anak.


"Enak kok Bun." Raysa tersenyum sambil melirik kearah sang Daddy.


Daddy Bara membalas senyuman Raysa. Jika saja Bunda Sasa tau bagaimana makanan saat di pendidikan, mungkin Bunda Sasa sudah heboh dan kembali menangis.


*


"Ca, ini dari Fatih." Mami Mili memberikan sebuket coklat dan bunga. Kali ini dengan buket yang besar dan penuh dengan berbagai macam coklat yang di selipkan dengan beberapa tangkai bunga mawar."


"Makasi Mi." Raysa menerima buket tersebut dengan tersenyum. Ia sangat yakin, jika Fatih pasti memberikan kejutan seperti saat dulu. Namun, senyum Raysa luntur saat Mami Mili mengatakan jika Fatih tak dapat datang.


"Fatih ke mana?"


"Ada sedikit masalah di kantor, jadi Fatih harus menyelesaikannya."


Raysa mengangguk-anggukkan kepalanya.


Quin sudah heboh dengan Raysa yang memakai seragam. Bahkan, Quin sudah berfoto ria bersama Arash dan Raysa yang ditarik paksa olehnya. Anggel dan Kayla juga sudah ikut bergabung bersama.


"Farhan, ayo sini." Panggil Kayla,


Farhan dan Raysa pun mengabadikan foto mereka berdua. Tak hanya Fatih, Farhan juga memberikan sebuket bunga yang indah. Bunga yang selalu menjadi perwakilan sebuah perasaan cinta.


Di tempat lain, Fatih tersenyum saat melihat foto Raysa yang memakai seragam polisi. Rambut panjang Raysa sudah berubah pendek. Namun, tak mengubah kecantikan Raysa. Di mata Fatih, Raysa tetap yang tercantik.


Jangan lupa follow aq yaa..


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA.....


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...

__ADS_1


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2