
Sasa menggunakan baju tunic yang terlihat seperti gamis gantung di tunguhnya. Bara terpana melihat Sasa yang terlihat sangat anggun, ternyata bisa juga dia seanggun ini, dengan rambut yang kali ini di biarkan tergerai. Bara meneliti keseluruhan tampilan Sasa, cantik, tapi...
Bara mengulum senyumnya, kemudian dia berdehem untuk meredakan tenggorokannya yang gatal ingin menyemburkan tawa.
" Jelek ya? ya udah deh, tunggu bentar ya, aku ganti baju dulu" Ujar Sasa dan membalikan badannya.
Bara langsung memeluk Sasa dari belakang, membuat Sasa terkejut dan jantung yang tadinya mulai tenang, kembali heboh di dalam sana.
" Kamu cantik "
Satu kata Bara itu bisa di jamin akan membuat Sasa tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
" Jadi kenapa ketawa?" Tanya Sasa dengan suara yang bergetar.
" Kamu seperti memakai gamis yang kependekan. Ha..ha. ha.." Tawa Bara pun pecah.
Sasa kesal, dan kemudian menyikut perut Bara. "Ihh, nyebelin banget sih"
Sasa berjalan kearah kamarnya dengan kesal, dan berencana untuk mengganti pakaiannya. Namun Bara menahan lengannya. Bara memposisikan Sasa menghadapnya. Aksesoris tali pinggang yang di gunakan Sasa, di perketat oleh Bara, dan Bara menaikkan sedikit baju Sasa sehingga panjang baju Sasa sudah berada 5 cm di bawah lutut. Bara meneliti penampilan Sasa.
" Begini lebih baik"
Bara meraih jemari Sasa dan menyatukannya dengan jemarinya. Bara tersenyum saat melihat Sasa menurut saat dirinya menarik dirinya pelan untuk mengikutinya.
Tidak ada pembicaraan yang serius di dalam mobil, Sasa dengan pemikirannya, sedangkan Bara dengan pemikirannya sendiri.
Sesampainya di kediaman Moza, Sasa langsung turun sebelum Bara, dan Sasa langsung berlari sehingga tidak ada yang menyadari kehadirannya bersama Bara.
Bara mendekati Mami Shella, dan Mami Shella melihat jengkel kearah Bara, karena tidak jadi pergi bareng bersama.
Mata Bara selalu tertuju kepada Mungilnya, sedari tadi mungilnya itu selalu berada di dekat Jodi dan Duda. Entah apa yang mereka bicarakan hingga mungilnya itu bisa tersipu malu seperti itu.
" Gak bisa di biarin" Gumam Bara.
Bara pun mulai mendekati mungilnya, dan mengekori kemana pun mungilnya pergi.
Perdebatan kembali terjadi, saat Sasa ingin pulang, dan Arka menyuruh Jodi mengantarkan nya.
Bara bilang, jika dirinya akan singgah ke kantor, jadi arah pulang Sasa sejalan dengannya. Mami Shella dan Daddy Roy merasa semakin curiga dengan sifat Bara. Seolah-olah ada sesuatu di antara mereka.
__ADS_1
Perdebatan yang tak penting pun membuat Sasa akhirnya pulang bersama Bara. Di perjalanan Sasa menekuk wajahnya kesal, karena bisa-bisanya Bara menyuruh Jodi menjauhi dirinya.
" Mungil, kamu kenapa sih?"
Tidak ada jawaban dari Sasa, Bara menepikan mobilnya.
" Mungil, kamu kenapa? Masih marah sama aku?"
" Ck, apaan sih. Mungil.. mungil..nama gue Sasa " Kesal Sasa
Bara meraih tangan Sasa, namun Sasa menepisnya. " Oke, aku minta maaf atas sikap ku tadi. Aku hanya tidak suka jika ada pria lain yang mendekati mu. Aku merasa panas di sini" Bara menunjuk dada nya.
" Gue bukan pacar Lo, dan siapa pun di hidup Lo, jadi terserah gue mau dekat dengan siap mmpppphhhhh"
Bara sudah membukam mulut Sasa dengan bibirnya. "Aku tidak suka mendengar ucapan jika kamu bukan siapa-siapa aku. Kamu adalah calon istri ku. Dan secepatnya aku akan mewujudkan perkataan ku"
" Lo gak tau siapa gue, dan gue yakin, jika Lo tau masa lalu gue, Lo bakal nyesal karena telah mengatakan jika gue adalah calon istri Lo"
Sasa membuka seatbelt nya, namun Bara menahan pergerakan Sasa.
" Aku udah tau siapa kamu, dan aku udah tau tentang masa lalu kamu."
" Lo? se-sejak kapan?"
" Saat kamu pingsan di kantor polisi. Aku mencari tau tentang kamu. Aku tidak tau kenapa aku sangat ingin tahu tentang trauma yang kamu alami. Dan itu membuat aku mengetahui semuanya tentang kamu" Ujar Bara sambil menggenggam tangan Sasa.
Sasa hanya mampu terdiam, dan menatap kosong kearah Bara.
" Lalu, jika kamu sudah mengetahui masa lalu ku, kenapa kamu masih ingin menjadikan ku istri mu?" Tanya Sasa dengan suara bergetar.
" Karena aku mencintai kamu" Ujar Bara sambil merangkum wajah mungil Sasa.
Mendengar ungkapan cinta dari Bara, Mata Sasa memanas, dan rasanya Sasa sudah tidak tahan untuk tidak menjatuhkan air matanya. Sasa membuka pintu mobil dan turun dengan cepat sebelum Bara kembali menahannya.
Bara membuka seatbelt nya, dan mengejar Sasa. Namun Bara terlambat, Sasa sudah keduluan naik taksi yang kebetulan lewat di daerah situ.
" Mungil" Teriak Bara memanggil Sasa.
Dalam taksi, Sasa sudah mengeluarkan air matanya. Isak tangisnya di tahan, agar tidak terdengar.
__ADS_1
" Mbak nya nangis?" Tanya Supir taksi tersebut.
" Gak, cuma kemasukan debu" Jawab Sasa cepat.
Sasa hanya memandang kearah jendela, sambil sesekali menghapus air matanya yang kembali jatuh.
Taksi yang membawa Sasa pun akhirnya berhenti di sebuah taman, yang tak jauh dari apartemen nya. Setelah membayar taksi, Sasa berjalan memasuki taman, dan duduk di salah satu ayunan, di tempat taman bermain tersebut. Sasa mengayunkan pelan ayunan yang di dudukinya, sambil sesekali menghela napas lelahnya.
Dia tidak boleh jatuh cinta dengan Bara, tidak boleh.
" Sa, ini hanya kamuflase, jadi Lo bisa hadapi semua ini. Tenang aja Sa, Lo pasti bisa" Sasa menyemangati dirinya, tanpa Sasa ketahui, jika Bara sudah menunggunya sedari tadi di apartemen.
1 jam Sasa berada di taman. Sasa meraih ponselnya, banyak panggilan tak terjawab dari Bara, dan banyak pula pesan masuk darinya. Sasa yakin, jika Bara pasti menunggunya di apartemen, tempat satu-satunya yang bisa Sasa datangi adalah Greenday cafe.
Sudah pukul 2 dini hari, tapi Sasa juga belum kembali ke apartemen nya. Bara sengaja menunggu di luar apartemen Sasa. 4 jam Bara berdiri, menunggu kehadiran Sasa, namu. yang di tunggu tidak muncul. Akhirnya Bara memutuskan untuk pulang.
Hari ini Bara akan bertemu dengan Lia, dan mengakhiri hubungannya. Bara sampai di rumahnya, dan tubuhnya sangat lelah, tetapi matanya tidak bisa terpejam, karena memikirkan keberadaan mungilnya.
" Mungil, di mana kamu?" gumam Bara sambil membayangkan senyuman Sasa.
Di tempat lain, Sasa tidur di ruang peristirahatan karyawan Greenday. Sasa kembali menangis setiap mengingat ucapan Bara. Kata-kata pujian yang terlontar dari mulut Bara, semuanya terngiang di telinga Sasa.
" Sa, Lo gak pantas sama Bara. Derajat kalian berbeda. Lo dengan dia bagaikan bumi dan langit, Surga dan Neraka. Tidak ada tempat untuk Lo di kehidupan Bara, ataupun keluarganya. Lo seharusnya cukup bersyukur, karena keluarganya udah sangat baik dengan Lo, dan jangan pernah berharap lebih. Lo harus ingat siapa Lo sebenarnya" Gumam Sasa kepada dirinya sendiri.
Sasa mencoba menutup matanya, tetap saja bayangan Bara terus muncul. Sasa bangkit dari tidurnya, dan menunaikan solat malam.
Di tempat lain, Bara juga melakukan hal yang sama, Berdoa, agar dirinya dan Sasa bisa bersama selamanya.
Rencana Bara untuk bertemu Lia harus di undur. Di kantor ada kasus yang harus di selidiki. Bara hanya bisa mendengus kesal, namun inilah pekerjaannya.
" Dad, Mammy pergi dulu ya bareng temen SMA" Ujar Mami Shella.
" Iya sayang, Mau Daddy antar?"
" Boleh, tapi nanti pulangnya jemput ya"
" Apa sih yang gak buat Ratu ku" Ujar Daddy Roy.
Mobil yang di kendarai oleh Daddy Roy pun melaju membelah padatnya jalan. 45 menit menempuh perjalanan, akhirnya Mobil yang di kendarai oleh Daddy Roy sampai di sebuah restoran. Mami Shella turun dari mobil setelah mencium punggung tangan Daddy Roy, dan Daddy Roy mendaratkan ciuman di kening ya.
__ADS_1