
Sasa mengerjapkan matanya. Tubuhnya masih terasa remuk dan lelah. Sasa merenggangkan otot-otot tubuhnya, matanya langsung membesar saat menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 7 pagi.
" Mampus, kagak sahur dan solat subuh gue.."
Bara yang merasakan pergerakan yang terburu-buru pun membuka matanya.
" Mungil.."
" Aaw... Mas, udah jam setengah 7, gimana nih?, lewat dong subuh. Gak solat subuh dong kita? aduuh.." Sasa mondar mandir di samping tempat tidur sambil menahan sakit di bawah sana.
Bara menghentikan pergerakan Sasa. " Kita solat subuh sekarang yaa.."
" Sekarang? Emang masih bisa Mas? Waktunya kan udah lewat?"
" Bisa mungil. Ayoo, nanti aku jelasin." Bara mengajak Sasa mengambil wudhu, kemudian mereka melaksanakan solat subuh yang sudah terlambat.
" Jadi gini mungil, Kalo kita ketiduran tanpa sengaja dan terlambat bangun serta melewatkan waktu solat subuh. Jam berapapun kamu terbangun, sebaiknya kamu segera melaksanakan solat subuh. Insya Allah, Allah akan menerima dan mengampuni dosa kita."
Sasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ilmu agama Sasa masih terbilang sedikit, jadi Sasa masih harus banyak belajar.
" Oh yaa, kamu tadi pagi gak sahur. Kamu sanggup puasa? Kalo gak sanggup batalin aja. Nanti di ganti puasanya."
" Insya Allah sanggup Mas."
" Kamu yakin? Soalnya tenaga kamu terkuras habis semalam."
" Iyaa Mas, Insya Allah sanggup."
" Ya udah, aku siap-siap kekantor ya.."
"Aaww.." Sasa meringis saat kembali merasakan sakit di bawah sana.
" Masih sakit?" Tanya Bara khawatir.
" Heum.. Perih dan ngilu gitu Mas.. "
" Ya udah ,kamu tiduran aja ya di sini."
" Gak bisa Mas, aku ada janji sama Mbak Kesya."
" Tapi masih sakit?"
" Gak pa-pa, nanti aku pelan-pelan aja jalannya."
Bara memperhatikan wajah Sasa yang meringis saat berjalan kearah toilet.
" Emangnya sesakit itu yaa? Bukannya sakitnya kayak digigit semut?"
Sasa menatap Bara dari kaca rias dengan wajah sebal. " Semut dari Hongkong? Sakitnya kayak di patok sama ular tau." Kesal Sasa.
" Ular? Emangnya kamu pernah di patok ular?"
" Udah semalam. Ularnya gak berbisa, tapi memaksa."
"Duh udah pintar kamu___"
" Aaaaaaaaaaa" Sasa terkejut saat menatap dirinya di depan kaca.
" Mungil, kamu kenapa?" Bara dengan cepat mendekati Sasa.
" Mas, kenapa leher dan dada aku merah-merah gini Mas? Aduuh, kamu itu matoknya gak bawah, gak atas sama aja. Sama-sama ganas tau gak.." Kesal Sasa dan mengusap lehernya kasar, berharap bekas merah-merah itu menghilang.
" Jangan di usap gitu, Yang ada tambah sakit.'
" Jadi ini gimana Mas? Aku udah janji sama Mbak Kesya, kan gak mungkin aku pergi dengan keadaan kayak gini leher aku." Kesal Sasa.
" di tutup Pake foundation aja"
" Aku mana ada foundation Mas." rengek Sasa.
" Aku pesan sekarang ya.."
Bara meraih ponselnya dan mengetik-ngetik sesuatu di sana.
" Ya ampun Mas, leher kamu kok bisa ada juga sih? Kamu cium leher kamu sendiri?"
Bara berdecak, " Mana bisa bibir aku ke leher aku sendiri mungil, Yang ada ini hasil dari patokan kamu."
" Masa sih, Aku mana bisa buat merah-merah gitu Mas. Waktu itu aja aku gak bisa buatnya pas kamu minta."
" Yaa kamu mana sadar saat buatnya, karena lagi keenakan." Ujar Bara sambil mengedip-ngedipkan matanya genit.
" Iih, kamu ini Mas, nyebelin tau gak."
" Nyebelin tapi suka kan?"
" Gak, aku gak suka. Tapi aku cinta." Sasa memeluk tubuh Bara. Bara langsung melepaskan tubuh Sasa yang masih tertutup dengan bathroom.
" Kenapa?"
" Takut Khilaf mungil. Puasa-puasa. Kamu gak tau aja jika ular ini akan segera berdiri jika kamu terus menempel dengan ku saat ini."
" Dasar mesum" Sasa meninggalkan Bara dan membersihkan dirinya.
__ADS_1
" Mungil, nih pakai" Bara memberikan foundation kepada Sasa.
Sasa memaki foundation tersebut dan menatap pantulan dirinya di cermin. " Waah, bisa hilang yaa.. pantas saja orang yang di make up-make up itu mulus-mulus gitu wajah nya. Ini toh rahasianya."
Bara keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya yang sedang menatap pantulan dirinya.
" Kenapa mungil?"
" Hilang Mas, bisa tertutup gini yaa..?"
" Kamu gak pernah pake foundation?" Bara menaikkan alisnya sebelah.
" Gak pernah Mas. Pake pelembab wajah yang 10rb aja aku mah. "
" 10rb? Masa sih?"
" Iya Mas, aku mana ada duit beli gituan. Skin-skin licin yang lagi ngetren sekarang. Handbody aku aja yang 15 ribu udah botol besar."
" Tapi kulit kamu kok halus gini? Wajah kamu juga."
" Oo, mungkin karena luluran pake air tajin."
" Air tajin?"
" Heum. Nenek bilang, orang jaman dulu itu kalo kulitnya mau putih bersih pake air bekas cucian beras. Kalo mau lulusan, berasnya di tumbuk, lalu dicampur dengan air tajin. Gitu loh mas."
" Air tajin itu apa?"
" Mas gak tau air tajin?" Bara menggelengkan kepalanya. " Air tajin itu, saat kita masak beras nih yang mau jadi nasi, kan ada tu airnya yang kental, nah itu namanya air tajin. aku sering pake itu kalo luluran. Kadang pake ampas kopi."
" Ampas kopi? Dapat dari mana?"
" Warung kopi di kampung. Aku sering minta ampasnya buat luluran. Kata nenek supaya bekas kuka-luka di badan aku memudar."
" Luka-luka?"
" Iya Mas, aku kan termasuk anak yang bandel dulu. Suka lari-lari, manjat pohon, terus jatuh, berdarah, luka deh. Nenek nyaranin buat aku luluran. Ya dengan beras atau dengan kopi."
" Pantas aja kulit kamu mulus gitu. Eh, tapi bisa gitu yaa? Dengan bahan dapur bisa buat kecantikan?"
" Buktinya aku bisa. Udah ah, dari tadi ngobrol terus. Kancing baju dampak gak terpasang"
Sasa meraih baju seragam Bara, dan mengancingkannya. " Ganteng banget sih Mas?"
" Suami siapa?"
" Suami aku dong.."
" Oh ya, hari ini aku mau masukin usulan buat menghadap lagi."
" Itu batal, karena pernikahan kita juga batal. Ini harus menghadap lagi, tapi gak seribet dulu lagi kok."
" Ooohh, gak ngerti aku Mas. aku ikut apa kata kamu aja."
" Ya udah, ini kamu mau di antar ke mana? "
" Ketoko kue aja Aja Mas."
Bara sudha ingin bersiap, namun Sasa menahan pergerakan Bara. " Leher kamu gak di tutuo dengan ini?"
" Oh ya lupa.."
Sasa mengoles foundation ke leher Bara yang terlihat memerah keunguan.
Kesya mengatakan jika dirinya terlambat untuk ketoko. Sasa yang sudah mulai aktif di toko pun hanya memeriksa bahan persediaan. Kemudian Sasa mengirim pesan kepada Bara, jika dirinya menuju rumah sakit untuk menjenguk Ara.
" Duh, putri tidur kusam banget sih. Udah berapa lama gak mandi? Gak gerah? Gak malu di cium Bang Jodi tapi kamunya bau?. Bangun dong Ra."
Ceklek..
" Mbak"
Sasa menoleh saat mendengar pintu terbuka.
" Hai Key." Mereka pun cipika cipiki.
" Gimana Ara?"
" Biasa, masih mau tidur."
" Ara, kamu yakin nih gak mau bangun? Nih ya, Mbak bilangin sama kamu. Perawat-perawat di sini itu pada curi pandang dan mendekati Bang Jodi. Kamu gak mau kan, bang Jodi yang udah cinta sama kamu, karena kamu malas bangun jadi berpaling??" Kesya mencoba mengompori Ara, karena Kesya pernah dengar, jika emosi bisa membuat seseorang tersadar dari tidurnya.
" Iyaa nih, pejuang cinta kita yang pantang nyerah mana yaa.. Masih jadi Putri tidur. Udah di cium belum sama pangerannya? Kok belum bangun?" Tambah Sasa.
Saat yang bersamaan Jodi masuk dengan wajah kesal.
" Kenapa?"
" Males banget liat tu perawat, kecentilan banget. Gatal "
" Ya kalo gatal di garok aja" ujar Sasa.
Jodi memutar bola matanya.
__ADS_1
" Om Samsul masih ke sini?" Tanya Kesya.
" Iyaa "
" Febi?"
" Di larang masuk sama pengawal kasat mata"
" Hmm, Om Samsul gak marah-marah lagi kan?"
" Alhamdulillah Gak, katanya dia menyesal udah mengabaikan Ara. Padahal selama ini anak yang tidak pernah membantah ucapannya hanya Ara. "
" Penyesalan memang datang terakhir."
" Kalo di awal namanya Dp"
Mereka pun tertawa.
" Lihat tu Ra, wajah datarnya udah penuh senyum. Kamu gak mau liat Bang Jodi mu ini senyum setiap hari?" Goda Kesya sambil menggenggam tangan Ara.
" Kayaknya Putri tidur minta dicium deh. Bang Jodi udah pernah cium Ara belum? Kok sampai sekarang belum bangun? Putri tidur kan di banguninnya kalo dapat ciuman" Goda Sasa yang mana membuat Wajah Jodi memerah.
Tentu saja Jodi sudah mencoba hal itu. Tapi tetap aja Ara masih betah untuk tidur.
" Apaan sih ngomongnya."
" Duuh, wajahnya merah. Kayaknya udah sering deh. Ya kan Key."
" Iyaaa, ciumannya bukan ciuman maut. makanya Ara gak mau bangun."
" Bahaya ini bahayaa.." Jodi ingin keluar, namun karena mendengar suara Kesya memanggil Nama Ara, dia menghentikan langkahnya.
" Kamu serius Key?"
" Iyaa Mbak, tangannya balas genggaman tangan aku. Nih lihat, dia balas lagi."
" Aku Panggil dokter. " Jodi langsung berlari keluar kamar..
Ara langsung di periksa oleh dokter yang menanganinya.
" Ini suatu kemajuan yang baik. Kita berdoa saja semoga Ara cepat kembali sadar."
Setelah mengatakan itu, Dokter pun keluar.
" Semangat Bang. udah ada kemajuan nih. Harus banyak berdoa ya Bang"
Jodi menatap wajah Ara yang pucat.
" Ara gimana?" Leo langsung datang saat mendapatkan kabar Ara memberikan respon kepada mereka.
" Masih bobok cantik."
" Setidaknya dia sudah memberikan respon untuk kemajuannya."
Tak berapa lama Bara masuk.
" Kok rame-rame, ada apa?"
" Ara kasih respon tadi Mas. dia membalas genggaman tangan Kesya."
" Alhamdulillah"
Leo menatap Bara dengan menggoda. " Mas, Baru buka segel yaa."
Bara langsung menoleh kearah Leo sambil memicingkan matanya. Sasa sudah melotot saat melihat tanda cinta di leher Bara. Seingatnya dia sudah menutup tanda itu dengan foundation milik nya.
" Kayaknya sebentar lagi bakal ada anggota baru nih.. Ya kan Mbak"
Melihat wajah sang istri sudah memerah, Bara langsung memeluk istrinya itu dan menyembunyikannya di dalam dada bidang Bara.
" Jangan goda-goda Istri Mas Key. Kayak kamu gak pernah aja kasih merah-merah di leher Arka"
Kesya mengerucutkan bibirnya. Mas nya ini pintar banget kalo sudah membalas.
" Mas, kok bisa terlihat sih ini? Kan udah aku tutup tadi pagi." Ujar Sasa kesal. Saat ini mereka sedang berada di jalan menuju Toko kue.
" Maaf Mungil, tadi aku ke TKP, ada mayat buangan di tong sampah. Jadi aku merasa baunya lengket di tubuh dan badan aku. Makanya aku pulang dan mandi, serta ganti baju."
" Terus kamu lupa nutup nya lagi?"
" Iya mungil. Oh ya, besok kita menghadap ya. "
" Cepet banget?"
" Lebih cepat kan lebih bagus."
"Iya Mas.. Iya.. Aku nurut apa kata suami aja deh."
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
Salam SaBar... (Sasa & Bara )