
Raysa menangis di dalam kamar mandi, ia merasa jijik dengan bagian tubuh yang disentuh oleh pria asing tadi. Raysa sengaja menangis di dalam kamar mandi sambil menghidupkan air shower, agar Fatih tak curiga.
Namun, tanpa Raysa ketahui, jika Fatih memiliki firasat yang kuat, jika saat ini Raysa tengah menangis di dalam kamar mandi. Tanpa Raysa ketahui, jika Fatih sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tangan yang terkepal.
*
Raysa telah selesai dengan mandinya, ia tak melihat Fatih berada di dalam kamarnya. Tak berapa lama, pintu kamar Raysa pun di ketuk, Raysa mengintip dari celah yang tersedia di pintu dan membuka pintu kamarnya saat mengetahui jika Bunda Sasa dan Mami Mili berada di depan pintu kamarnya. Raysa pun langsung membukakan pintu untuk orang tuanya itu.
"Ica, Kamu gak papa?" tanya Bunda Sasa dengan khawatir.
"Gak papa, Bun." ujar Raysa dengan tersenyum. "E-emangnya kenapa Bunda terlihat sangat khawatir?"
Raysa tak tahu, jika seluruh keluarga sudah mengetahui tentang kejadian yang menimpa dirinya.
"Hmm, syukur lah kalo Kamu gak papa. Ya udah, kamu pakai baju dulu, Bunda dan Mami tunggu di sini." ujar Bunda Sasa.
Raysa pun menurut dan segera memakai bajunya. Raysa bingung, kenapa Bunda dan Mami bertanya tentang keadaannya, apa mungkin mereka sudah tau tentang kejadian yang menimpa dirinya? entahlah, Raysa rasanya sangat malu untuk membahas hal itu, dan tak ingin membahasnya.
Raysa kembali menghampiri Bunda Sasa dan Mami Mili yang sedang mengobrol entah tentang apa.
"Bunda sama Mami, tumben samperin Ica? ada apa?" tanya Raysa yang penasaran dengan kehadiran kedua orang tuanya itu.
"Gak papa, Bunda cuma pingin tanya dikit sama Kamu."
"Tanya apa?"
Bunda Sasa pun melirik kearah Mami Mili, kemudian Mami Mili menganggukkan kepalanya.
"Emm, Kamu sama Fatih, minum kan Vitamin yang Oma kasih?" tanya Bunda Sasa.
"Iya, Bun. Kami minum kok vitamin yang dikasih sama Oma, kenapa emangnya?"
"Syukur deh kalo kamu minum vitaminnya, vintamin itu bisa untuk menjaga kesehatan kamu, buat kamu gak cepat lelah, dan juga untuk kesuburan rahim. Emm, kamu dan Fatih gak berencana untuk menunda kehamilan kan?" tanya Bunda Sasa hati-hati di akhir kalimatnya.
Raysa tersenyum malu dengan pipi yang merona, "gak dong Bun. Ica sama Abang, memang berencana untuk kasih Bunda dan Mami cucu secepatnya."
"Alhamdulillah," seru Bunda Sasa dan Mami Mili berbarengan.
"Oh ya, Kamu habis berhubungan, gak langsung bangun kan?"
"Maksdunya gimana, Bun?"
"Itu, Kamu habis berhubungan, masih dengan posisi tidur kan? gak langsung duduk atau kekamar mandi?"
Wajah Raysa semakin memerah, rasanya sangat malu sekali membahas hal ini dengan orang tuanya. Yaa, sebenarnya gak ada yang salah dengan pembahasan mereka.
__ADS_1
"Enggak, Bun, siap 'itu' Abang selalu peluk Ica sambil tidur." jawab Raysa malu-malu.
Bunda Sasa dan Mami Mili pun tersenyum.
"Sering minta tambah gak?" tanya Mami Mili.
Raysa tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya.
Bunda Sasa dan Mami Mili kembali tersenyum.
"Berapa kali?" tanya Bunda Sasa yang ikut penasaran.
Raysa mengangkat tangannya dan menunjukkan 3 jarinya.
"3 kali?" tanya Mami Mili dengan sedikit menaikkan nadanya.
"Semalaman cuma 3 kali? kalo sehari brapa kali?" tambah bunda Sasa.
"Iih, Bunda dan Mami kok tanyanya gitu sih? Ica kan malu..."
Bunda Sasa dan Mami Mili pun terkekeh. "Gak papa, Bunda cuma tanya aja, sehari berapa kali?"
"7 kali," cicit Raysa setelah diam beberapa saat.
"Tujuh kali?" pekik Bunda Sasa dan Mami Mili berbarengan.
"Kamu sanggup, ca? gak capek? gak lemas?" tanya Bunda Sasa penasaran.
Raysa menggelengkan kepalanya, "capek juga kadang, karena Abang mainnya lama, mau sejaman gitu, tapi enak, Bun, Ica ketagihan." jawab Raysa malu-malu.
Bunda Sasa menepuk jidatnya sendiri, "Benar-benar keturunan Daddy, Kamu." seru Bunda Sasa.
Ya, pasalnya Daddy Bara memang kuat saat dalam bercinta. Untungnya Bunda Sasa sanggup menyaingi Daddy Bara. Tapi ya gak tiap hari juga, pegel dong kaki Bunda, mana badan Daddy Bara besar lagi. Untungnya Daddy Bara mengerti dengan keadaan Bunda Sasa.
Masih ingatkan, Bunda Sasa sering sakit karena kelelahan, akibat ulah Daddy Bara. Yaa itu, Daddy Bara gak bisa berhenti untuk olah raga bersama Bunda Sasa. Gemes-gemes gimanaa gitu rasanya.
*
Daddy Bara benar-benar naik pitam mendengar cerita Fatih. Daddy Bara langsung menghampiri orang asing tersebut, dan betapa terkejutnya mereka saat orang asing itu tidak di kurung di penjara kapal.
"Kalian gak tau siapa saya, hah?" pekik Papa Arka kepada manager kapal.
"Panggil kapten kalian," titah Papa Arka.
Manager tersebut masih menatap rendah kearah Papa Arka dan yang lainnya. Dengan santai ia memanggil kapten yang bertanggung jawab atas kapal ini.
__ADS_1
Dan, saat kapten kapal itu muncul, manager dan para awak kapal lainnya langsung terdiam saat mengetahui jika kapal tersebut adalah milik menantu Papa Arka, yaitu Abi. Kapten menyapa Papa Arka dan juga memberi hormat.
Kapten kapal langsung menyuruh polisinyabg bertugas untuk mencari pria tersebut dan mengurungnya.
Tak butuh waktu lama, pria asing yang melecehkan Raysa pun tertangkap saat ia sedang bersenang-senang dengan seorang wanita dikolam renang.
Daddy Bara yang geram langsung melayangkan tinjunya kewajah pria asing tersebut. tak hanya Daddy Bara, Papi Gilang pung menunjang pria asing tersebut dengan kaki panjangnya sehingga membuat pria asing itu tersungkur.
Papi Gilang gak akan melepaskan orang yang telah melecehkan menantunya itu.
"Masukkan dia ke penjara, saya perpanjang kasus ini hingga di daratan nanti," ujar Papi Gilang dengan dingin.
Salah sendiri, siapa suruh bermain-main dengan keluarga Moza. Tak tahukah mereka jika keluarga Moza ber-besan dengan keluarga Subekti? pengusaha sukses yang terkenal dibenua Eropa.
*
Papa Arka, Daddy Bara, Papi Gilang, Papi Leo, Papa Fadil, dan juga Papi Vano beserta Fatih pun duduk di sebuah cafe yang berada di pinggir kolam renang.
"Untung Kamu cepat datang, jika tidak, Daddy Gak tau apa yang terjadi dengan Ica. Hmm, baju itu memang membuat Raysa sulit bergerak, karena tak ada belahan dibagian kakinya." ujar Daddy Bara.
"Maafin Fatih, Fatih yang memilih baju itu, karena tak ingin pria mata keranjang memandang kaki jenjang Layca," ujar Fatih dengan menundukkan kepalanya.
Daddy Bara menepuk bahu Fatih dengan pelan, "Tak apa, yang penting Ica selamat, dan itu berkat Kamu."
Fatih pun menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, namun dalam hatinya masih merasa bersalah kepada Raysa, apa lagi saat mendengar Raysa menangis di dalam kamar mandi.
"Jadi, kira-kira sepulang honeymoon, Kamu bakal dapat cucu gak nih?" goda Papi Leo untuk mencairkan suasana.
Benar saja, hanya satu pancingan kalimat, Papa Arka dan Papa Fadil langsung ikut menggoda Fatih. Bertanya hingga berapa ronde dalam semalam.
Tak mau kalah, Papi Vano pun memberikan beberapa gaya agar permainan lebih mengasyikan. Fatih hanya tersenyum malu dengan wajah yang memerah.
Tak beda di kamar Raysa, Mami Vina, Mama Puput, dan Mami Anggun pun ikut menyusul kekamar Raysa dan Fatih. Mereka pun menbahas permasalahan yang sama, yaitu soal ranjang.
\=\= Hai .. hai.. readers tercinta...
maaf ya, update nya jarang2. akhir tahun membuat aku juga sibuk dengan kegiatan anak yang sedang menghadapi ujian.
Mohon d maklumi ya...
**
Jangan lupa Vote ya setiap hari senin.
Jangan lupa like and komen.
__ADS_1
Salam Bahagia dari FATIH n RAYSA
salam rindu Tissa dan Farhan