
Setelah berpeluh keringat, Bara langsung mengajak Sasa untuk membersihkan diri. Bara tidak mau karena Sasa kelelahan dan terlambat untuk bangun, dan tidak sempat untuk membersihkan diri.
Sasa tidur dengan lelap, karena sangat kelelahan. Saking kelelahannya, Sasa sampai mendengkur halus dalam pelukan Bara.
" Mungil.. mungil.. lucu banget sih kamu.." Bara mengecup kening Sasa dan memeluknya, hingga Bara ikut terlelap.
Suara dentingan Alarm tidak terdengar lagi, karena Bara dan Sasa sangat kelelahan. Entah jam berapa mereka tertidur setelah saling mengejar pelepasan.
" Tumben Sasa belum bangun?" Tanya Daddy Roy yang berniat membantu Mami Shella karena melihat tidak adanya Sasa.
" Sepertinya anak Daddy mesumin Menantu Daddy lagi hingga pagi."
" Biar cepat-cepat nambah Cucu Mi."
"Iya, Biar rame. Untungnya Sasa mau di ajak tinggal di sini. Jadi kalo dia punya anak, rumah kita bakal rame lagi."
" Iyaaa... gak sabar nunggu kehadiran cucu"
Mami Shella dan Daddy Roy pun berdoa dan berharap agar Bara dan Sasa cepat di karuniai anak.
Sasa terlonjak kaget saat Mami Shella mengetuk-ngetuk pintu kamar Bara dan Sasa sambil memanggil-manggil nama mereka.
" Astaghfirullah. Iya... Mi" Sasa sedikit berteriak menyahut panggilan Mami. Sasa panik saat melihat jam yang sudah menunjukkan waktu untuk imsak.
"Mas, bangun.. Udah mau imsak.."
Sasa menggoyang-goyangkan tubuh Bara, Namun Bara malah menarik tubuh Sasa kembali masuk kedalam pelukannya.
" Maass" Pekik Sasa dan mendorong tubuh Bara hingga Bara terjungkal terjatuh dari tempat tidur.
" Mungill..." Bara terkejut saat tubuhnya terjatuh.
" Maaf Mas.. Maaf.. Aku gak maksud dorong kamu sampai jatuh.. Maaf.. "
" Hmm, iyaaa.. aku maafin.. Banguuniinn" Ujar Bara manja.
Sasa turun dari tempat tidur dan membantu Bara bediri. Namun Bara malah memeluk pinggang Sasa hingga mereka kembali terjatuh keatas tempat tidur dengan Sasa berada di bawah Bara.
" Mas, udah mau imsak.."
" Imsak? IMSAAAKK?" Bara langsung menjauhkan dirinya dari Sasa dan melihatnke arah jam dinding.
" Ya ampun mungil, kok kamu baru bangunin aku?"
" Mas, aku juga baru bangun tau. Udah yukk.. gosok gigi dulu.. Biar jangan bau jigong"
Cup..
"Mass.."
" Mau lagii?"
" Dasar Beruang mesum." Sasa berjalan cepat kedalam kamar mandi dan menguncinya.
" Mungil, buka pintunya.."
" Aku lagi pipis Mas.."
" Pipis Bareng.."
" Ogaah.."
"Mungill.."
" Kamar mandi yang di dapur aja Mas. "
Bara menghela napas, dan akhirnya mengalah dari pada dirinya tidak sahur karena waktu yang sangat mepet.
__ADS_1
" Sasa mana?"
" Di kamar mandi Mi." Bara langsung masuk kedalam kamar mandi Yang ada di dekat dapur.
" Maaf ya Mi, Sa telat bangun, dan gak bantuin Mami masak."
" Iyaa, gak pa-pa kok, yang penting cucu Mami harus cepat hadir di rahim kamu."
Sasa menggigit bibir bagian dalamnya, dan menundukkan wajahnya yang tersipu malu.
"Lucu banget siih kamu gitu. Kenapa?"
" Udah, jangan ganggu menantu Mami lagi. Sahur dulu.."
" Mami dan Daddy"
" Udah dari tadi selesai. "
Bara dan Sasa pun menyelesaikan sahurnya, namun Sasa langsung menghentikan makannya saat mendengar sirine / imsak dari mesjid.
"Kok berhenti?" Tanya Bara sambil menyuapkan sisa nasinya.
" Udah imsak Mas." Ujar Sasa denagn menahan rasa kering di tenggorokannya karena belum minum.
Bara dan Mami Shella terkekeh melihat wajah Sasa yang menelan ludah dengan susah payah, sangat lucu.
"Masih bisa kok Sa. Lanjut aja makannya, terus jangan lupa minum. Yang penting belum azan subuh." Ujar Bara dan menyuapkan nasi Yang ada di tangannya, karena Bara makan menggunakan jari tangannya.
Spontan Sasa membuka mulutnya, dan mengunyah makanan Yang ada di dalam mulutnya. Entah karena terhipnotis dengan pandangan Bara yanv teduh, membuat Sasa tidak melupakan keberadaan Mami Shella di sana.
" Duuhh,, so sweet.."
Sasa menoleh dan menangkup wajahnya. Malu.. Karena kembali melakukan adegan romatis di depan Mami Shella.
Kabar Sadarnya Ara membuat Mami Shella menangis karena sangat bersyukur. Mami Shella pun mempersiapkan sambutan hangat untuk kepulangan Ara.
" Iya Mi" Sasa pun mencatat apa saja yang akan mereka beli di pasar.
Sebelum ke pasar, Mami Shella, Daddy Roy, Bara dan Sasa pun menjenguk Ara di rumah sakit.
Ara sudah menjalani pemeriksaan keseluruhan. Ara sudah di nyatakan sehat setelah hasil MRI nya di periksa oleh dokter.
" Ciee, yang besok udah boleh pulang." Goda Bara.
" Ciee, Yang kemarin nangis bombay sambil meluk tepung serba guna, eh sekarang udah pengantin Baru aja nih.." Ara menggoda balik Bara.
" Waahh, sepertinya kamu sudah benar-benar sembuh yaa.."
Ara terkikik melihat wajah Bara memerah. Sasa pun juga terkikik geli.
" Berani kamu yaa ketawain suami. Lihat saja nanti Malam." Bisik Bara di akhir kalimatnya.
Sasa menelan ludahnya kasar. Suaminya benar-benar akan membuat dirinya untuk tidak sanggup bangun sahur lagi.
Kepulangan Ara di sambut dengan acara syukuran kecil-kecilan yang di hadiri oleh keluarga saja. Mereka membuat acara buka puasa bersama.
" Makasih banyak Mami, Daddy. Ara sungguh sangat bersyukur mendapati keluarga yang sayang sama Ara." Ara memeluk Mami Shella dengan air mata yang bercucuran.
" Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar... Lailah hailallahu wallahu akbar.. Allahuakbar.. walilla Ilham."
Takbir sudah terdengar di setiap penjuru mesjid.
" Mi, Aku bantu yaa"
Mami Shella tersenyum manis kepada menantu wanitanya yang sangat manis dan mungil.
" Bara mana? "
__ADS_1
" Mas Bara main sama Anggelina dan Zein di depan."
Mami Shella membawakan cemilan dan minuman ke halaman rumahnya. Melihat Bara yang bermain kembang api bersama Zein dan Anggelina. Vano dan Vina juga ikut bermain di sana, Mega dan Bram juga ikut bergabung.
" Siapa yang masak ini?" Tanya Mega sambil memakan lepat sagu pisang.
" Siapa lagi kalo bukan istrinya Bara."
" Emang gak salah pilih istri si Bara. Pinter Masak."
" Masih enak masakan Mas Bara lagi Tante" Ujar Sasa.
" Oh yaa?? "
" Iyaa, Bara kalo masak memang sedap, tapi dia gak mau masak untuk orang lain. Katanya hanya orang yang spesial yang bisa merasakan masakannya." tambah Mami Shella.
" Waahh, jadi penasaran dengan masakan Bara."
Tak berapa lama Kesya, Arka, Mami Laura, dan Papi farel pun datang.
" Waahh, cucu Oma berani banget sayang main kembang apinya.. Seru yaa.."
" Iya Oma.." Jawab Bara dengan menirukan suara anak kecil.
" Si kembar Opa udah datang?" Daddy Roy mengambil Veer dari gendongan Kesya, sedangkan Mami Shella mengambil Qila dari gendongan Papi Farel.
" Cucu Opa ganteng banget. Mirip Opa Roy kan yaa.."
" Enak aja, Mirip gue ya.." Ayah Nazar datang dengan menggendong Kayla.
" Iihh, mirip gue lah. Gue kan Opa nya."
" Gue juga Opa nya."
" Saya juga kakeknya" Sambung Papi Farel.
Ketiga pria paruh baya itu saling memandang, dan mereka tersenyum lebar sambil tertawa dengan kekonyolan mereka.
" Gimana urusan kantor kamu Bara? Lancar-lancar aja kan?" Tanya Papi Farel.
" Lancar Kek, Alhamdulillah gak ada halangan."
" Jadi kapan resmiin hubungannya secara hukum?"
" Insya Allah seminggu lebaran Kek. Semoga gak ada halangan."
" Amiin.. Kamu tenang aja. Seperti janji kakek waktu itu. Kakek akan membiayai kalian berlibur ke Bali. Jadi, kamu bisa bulan madu bersama istri mu di sana. Leo juga akan bulan madu di sana sebelum mereka ke Maldives."
" Alhamdulillah, makasih kek."
Takbir terus bergema. Bara, Arka, Vano, dan Leo menikmati bermain kembang api bersama anak-anak mereka. Papi Farel, Bram, Daddy Roy, Mega, Mami Shella, Mami Laura, Kesya dan Vina melihat dari kejauhan.
" Ara kok gak di ajak sih" Ara yang baru datang dari berpura-pura merajuk.
" Kamu di panggilin asik telponan dengan Jodi sih."
Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian Ara ikut bergabung bersama Arka, Leo, dan Bara, bermain kembang api bersama Anggelina, Zein, Qila dan Veer.
Sasa sangat bersyukur, di saat dirinya tinggal sebatang kara, Allah memberikan keluarga yang sangat hangat dan menyayangi dirinya sepenuh hati. Tanpa memandang gelar dan status. Yaa, walaupun Sasa bukan orang yang berpendidikan, dan Sasa bukan dari kalangan orang berada. Bahkan masa lalu Sasa terbilang sangat jauh dari nama baik. Namun, Daddy Roy dan Mami Shella tidak mempermasalahkan semua itu. Yang terpenting adalah Masa sekarang dan masa depan, bukan masa lalu. Karena hidup, harus selalu memandanv kedepan, bukan menoleh kebelakang. Yaaa, walaupun terkadang kita memerlukan kenanagan di masa lalu, tapi itu semua demi untuk diri kita agar menjadi yang lebih baik.
Anggap saja masa lalu mi adalah sebuah pertanyaan yang salah jawabannya, maka kamu kedepannya harus memperbaiki semua.
IG : Rira_syaqila
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
Salam SaBar... (Sasa & Bara )