
Cekleek ...
Terdengar suara terbuka dan tertutup. Raysa menggenggam sendok yang di pegang nya sedari tadi hingga buku-buku jari nya memutih. Air matanya jatuh bersamaan dengan suara pintu yang tertutup. Raysa tak pernah tau, jika rasanya akan sesakit ini.
"Kamu bisa, Ca. kamu pasti bisa."
Raysa menarik napasnya, dan membuang nya secara perlahan. Berulang kali Raysa lakukan itu untuk menghalau rasa sesak di dada nya.
Semakin kuat Raysa menahan tangis nya, maka air mata Raysa semakin deras mengalir, hingga Raysa tak sanggup menahan nya dan menumpahkan nya dalam tangis pilu nya.
*
Fatih berjalan gontai menuju apartemen nya. Sebelum nya ia sudah pernah mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa jika suatu saat Raysa pasti akan mengatakan jika ia hanya menganggap Fatih hanya sebagai Abang. Fatih pernah memantapkan hati nya untuk mendengar itu.
Namun, rasa nya sangat berbeda sekali di saat Raysa benar-benar mengatakan nya sendiri. Raysa pada akhri nya mengatakan hal tersebut.
Bukan gelas lagi yang pecah, namun sebuah gedung bertingkat yang roboh lah yang terdengar. Itu lah suara hati Fatih. Ia tak tau sudah sehancur apa hati nya saat ini. Jika saja. Fatih bisa melihat nya, mungkin saat ini hati Fatih sudah penuh dengan lem penyambung hati nya untuk berbentuk lagi.
Fatih masuk kedalam apartemen nya. Ia duduk di sofa yang ada di depan tv. Pandangan Fatih kosong entah menatap apa. Hingga tanpa sadar akhirnya air mata itu pun keluar. Air mata yang selama ini Fatih tahan dan tak ingin mengeluarkan nya.
Fatih menekuk lututnya dan menenggelamkan wajah nya di sana. Menumpahkan tangis nya yang begitu pilu. Isakan tangis Fatih yang sangat menyayat hati siapa pun. Fatih tak pernah menangis, berapa kali pun raysa menghancurkan Hati nya, Fatih tak pernah menangis.
Fatih menangis hanya saat ia takut kehilangan Raysa. Air mata Fatih keluar karena rasa takutnya untuk kehilangan Raysa. Jika begini, sanggupkah Fatih membiarkan raysa jatuh kepada pria lain?
"Aaaaaaaa ......."
Teriakan menggema itu memenuhi seluruh ruangan Fatih. Fatih benar-benar meluapkan rasa sesak di dada nya.
Segini sakitkah cinta sepihak? atau bahkan bisa lebih sakit? Fatih tak ingin membayangkan nya.
*
Raysa menyeka air mata nya. Ini adalah keputusan yang sudah ia buat. Jadi, bagaimana pun Raysa harus bisa dan siap menerima jika Fatih tak lagi peduli kepada nya.
Raysa menarik napas nya, dan menghela nya. Raysa membersihkan piring dan gelas yang ada di atas meja. Raysa tersenyum perih di saat makanan Fatih masih banyak tersisa, dan minumannya hanya berkurang sedikit.
"Seharusnya aku tak mengatakannya sekarang. Seharusnya aku mengatakannya setelah ia kenyang."
Sebenarnya bukan hanya Fatih saja yang patah selera makan, namun Raysa juga. Raysa akhirnya memutuskan untuk memasak makana yang simple. Fatih harus makan, ia tak ingin Fatih sakit. Ya, Fatih gak boleh sakit.
Dengan cekatan Raysa memasak sop ayam, karena itu adalah masakan yang mudah dan cepat. Fikiran raya hanya terfokus kepada Fatih.
"Aawwwhh ..." Raysa terpekik saat tangan nya terkena pisau.
Sakin terburu- buru nya, Raysa sampai tak sengaja mengiris tangan nya sendiri. Raysa mencuci tangan nya hingga bersih dan darahnya tak mengalir lagi. Raysa menahan pedih saat ia memeras jeruk nipis untuk di baluri kedalam ayam dan juga garam. Raysa selama tak merasakan perih di tangan nya.
Setelah hampir satu jam, akhirnya Raysa selesai membuat Sop ayam untuk Fatih. Raysa berencana akan mengantarkan nya. Raysa mengambil namoan dan meletakkan semangkuk sup keatas nampan, dengan perasaan yang bercampur aduk Raysa mengantarkan sup tersebut.
Saat Raysa baru saja keluar dari apartemen nya, Raysa melihat kearah lift, di mana Fatih sedang memasuki lift tersebut. Fatih mententeng tabung sketsa nya di bahu. Apa Fatih akan lembur? Jika Fatih lembut, maka itu tanda nya Fatih berada di kantor nya. Baiklah, Raysa akan mengantarkan sup ini ke kantor Fatih.
Raysa kembali kedalam apartemen nya, kemudian ia bergegas mandi dan mengganti pakaiannya. Raysa memasukkan sup tersebut kedalam wadah stanlees. Raysa melangkah dengan lebar seakan sedang di buru waktu.
Raysa yang tak memiliki kendaraan pun harus menggunakan taksi untuk menuju kantor Fatih. Di dalam perjalanan, Raysa meremas tangan nya karena gugup. Bagaimana jika Fatih mengusir nya?
Masa bodo' akan hal itu, yang penting Raysa harus mengantarkan sup ini segera. Sesampainya di depan kantor Fatih, Raysa turun dan membayar taksi. Raysa memang tak minat mobil Fatih di parkiran, karena Raysa sempat melihat mobil Fatih masih berada baseman. Dengan langkah pasti Raysa mendekati satpam Yang sedang berjaga.
__ADS_1
"Maaf pak, apa pak Fatih nya ada?"
Satpam yang mengenali Raysa pun tersenyum.
"MBak Raysa?"
Raysa menganggukkan kepalanya.
"Aduh mbak, hari ini kan hari Minggu. Pak Fatih nya gak kerja loh. Mas Mbak gak tau?"
"Jadi Bang Fatih gak ada di kantor?"
"Gak ada Mbak "
Raysa menghela napasnya pelan. Ia menggigit bibir nya kemudian berbalik setelah permisi dengan satpam tersebut.
Raysa berjalan dengan lesu keluar perkarangan kantor Fatih. Nasib Raysa sepertinya sedang sial hari ini. Tak ada taksi yang kosong saat ia memberhentikan nya. Raysa juga baru sadar jika ponsel nya tertinggal.
Raysa berjalan sedikit lagi, namun sepertinya takdir sedang menertawakan Raysa. Hari yang cerah tiba-tiba saja mendung, dan tak lama hujan pun turun dengan deras nya. Raysa menatap langit dan mendesah lelah. Sepertinya Tuhan sedang menghukum nya.
Raysa yang sedang berfikiran kacau pun akhirnya memilih berjalan kaki, membiarkan tubuh nya di guyur hujan kebasahan. Hingga kaki Raysa terhenti di sebuah bangunan yang sedang di rehap. Di sana, Raysa melihat Fatih. Yaa, Fatih berada di sana. Fatih sedang tersenyum, namun senyum itu seakan sedang di paksakan oleh nya. Hingga mata Raysa bersitatap dengan mata Fatih, yang mana hanya sebuah kaca yang memisahkan mereka.
*
Fatih berteriak sekencang-kencangnya, hingga suara ponsel mengambil alih perhatian nya. Di usap nya kasar air mata nya, dan menerima panggilan dari sahabatnya, Tissa.
"Gue ke sana sekarang."
Fatih membereskan kertas-kertas yang ada di atas meja. ia masukkan kedalam tabung kertas milik nya. kemudian Fatih masuk kedalam kamarnya dan membersihkan diri nya. tak butuh waktu lama bagi fatih untuk bersiap. Hingga akhirnya Fatih sudah rapi dengan pakaian casual nya.
Fatih sengaja tidak membawa mobil nya, karena ia tahu jika tak baik bagi nya untuk membawa mobil dengan fikiran kacau seperti ini. Papi, Mami, Steva dan Sofi pasti akan sangat sedih jika terjadi apa-apa pada diri nya. Fatih pun memilih menggunakan taksi sebagai alat transportasi nya menuju galeri milik Tissa yang berada di dekat kantor nya.
Sesampainya di galeri, Tissa langsung bertanya apa yang terjadi kepada Fatih. Tissa tau jika Fatih baru saja menangis.
"Jangan banyak bertanya, atau aku tak akan mengerjakan galeri mu " Ujar Fatih ketus.
Tissa lebih memilih diam dari pada terlalu memaksa rasa keingintahuan nya itu. Tissa dan Fatih pun membahas tentang sketsa yang sudah di buat oleh Fatih. Hanya ada perubahan sedikit dari Tissa, dan itu bukanlah suatu masalah bagi Fatih.
Tissa tertawa di saat melihat Fatih tak seperti biasanya. Tissa pun sebagai sahabat yang baik mencoba untuk menghibur sahabat nya itu.
"Ayo lah, senyum. Senyum ..." Ujar Tissa sambil menunjukkan gigi nya.
"Gigi mu kuning, apa kamu tak ada duit untuk membersihkan nya?" Ujar Fatih dengan jutek.
Tissa tertawa terbahak-bahak, Fatih nya hampir kembali. Yaa, setidak nya Fatih mulai membuat sesuatu yangucu untuk nya.
"Hah ,aku sangat lapar. Apa kamu lapar?'
"Tidak, aku baru makan macaroni."
Fatih tersenyum miris saat mengingat hanya tiga suap yang masuk kedalam mulut nya. Raysa memang benar-benar kejam.
"Baik lah, aku akan pesankan kamu kentang goreng saja." Tissa memainkan ponselnya, membuat sebuah pesanan di aplikasi online.
Fatih menatap kearahuat jendela, menatap hujan yang tiba-tiba turun, dan tanpa sengaja Fatih menangkap sosok siluet yang sangat ia kenali.
__ADS_1
"Layca?" Gumam nya.
Fatih menatap mata Raysa, begitu pun sebalik nya. Mata Fatih turun kepada tangan Raysa Yang sedang memegang sebuah wadah stanlees. Apa itu untuk seseorang? atau dirinya?
Ponsel Fatih berdering, ia memandang layar ponselnya yang menampilkan nomor perusahaannya. Fatih pun mengangkat panggilan tersebut, mana tau itu penting. Dan saat itu lah Fatih memutuskan kontak mata nya dengan Raysa.
Raysa menghela napasnya. Ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya di kala melihat sepertinya Fatih tak peduli dengan diri nya yang kebasahan.
"Maaf pak, tadi nona Raysa kemari mencari bapak."
Begitulah kira-kira laporan yang diterima oleh Fatih dari seorang satpam nya yang sedang bertugas.
Fatih menatap kearah luar jendela. Raysa tak lagi berada di sana. Fatih bertanya kepada Tissa apa ada payung? Tissa menunjuk kearah meja di belakang, dan Fatih pun mulai mencari nya.
Fatih sudah berada di luar, namun Raysa tak terlihat. Fatih melanjutkan langkahnya lebih jauh lagi, dan siluet tubuh Yang sedang basah kuyup dan kedinginan pun terlihat oleh Fatih. Fatih melangkah dengan besar agar lebih cepat sampai meraih Raysa nya.
Raysa terkejut saat ada sebuah patung yang melindungi nya. Raysa menengadah melihat kearah payung, kemudian ia berbalik. Hingga mata nya bertemu dengan netra yang sangat menenangkan milik Fatih.
"Kenapa gak telpon baku jika kamu ke kantor?" Tanya Fatih dengan lembut.
Raysa langsung terisak. Hanya kata maaf yang bisa terlontar dari bibir nya. Fatih merengkuh tubuh basah Raysa, iantak peduli jika baju nya juga akan ikut basah.
"Maaf .. hiks .." Isak Raysa.
Fatih mengelus punggung raysa, setelah merasa Raysa sedikit tentang, Fatih menarik tangan Raysa dan kembali kedalam galeri milik tissa.
"Raysa? Fatih?" Lirih Tissa dan mulai mencari kain untuk menghangatkan tubuh Raysa.
Untungnya Tissa sering tidur di galeri nya. tepanya di bagian atas galeri nya adalah kamar Tissa. ruangan yang biasa digunakan oleh Tissa untuk membuat karya-karau hebat nya.
Tissa berlari keatas dan mengambil handuk serta baju ganti untuk Raysa. Tissa berikan itu kepada Fatih.
"Ganti baju dulu, nanti kamu masuk angin." Ujar Fatih lembut.
Raysa mengangguk dan masuk kedalam kamar mandi. Raysa menuruti apa yang Fatih perintahkan.
Tak berapa lama Raysa keluar dengan menggunakan baju Tissa.
"Eemm, ada yang harus aku kerjakan di atas. gak papa kan kalo aku tinggal?" Ujar Tissa seolah ingin memberi Fatih dan Raysa waktu.
Fatih mengangguk dan memberikan kode intim meninggalkan kunci mobil nya. Tissa pun mengerti dan meletakkan kunci mobil nya Di atas meja.
"Kenapa ke kantor aku?" Tanya Fatih sambil menggenggam tangan Raysa dan mengusap nya agar hangat.
Jangan lupa follow aq yaa..
IG : RIRA SYAQILA
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....