Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 85 " Menantu Mami"


__ADS_3

Sepanjang perjalanan keluar dari Apartemen, hingga masuk lift, kemudian di dalam mobil, dan sampai masuk kedalam rumah Mami Shella, Bara masih tetap setia menggenggam tangan Sasa. Seakan takut kehilangan Sasa sedetik pun.


" Mas, Lepasin.. Aku gak bakal ke mana-mana kok."


" Gak mungil, pokoknya kamu gak boleh lepas dari genggaman aku."


" Sasa..." Mami Shella merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sang menantu.


Sasa menghambur kepelukan Mami Shella setelah Bara melepaskan genggamannya secara terpaksa.


" Mami.."


" Menantu Mami yang cantik.. Ayookk.." Mami Shella mengajak Sasa masuk dan membiarkan Bara berdiri di luar.


" Mami.. Kok Bara di tinggal?"


" Kalo mau masuk ya masuk aja. Kayak rumah siapa aja "


Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya Mami nya yang cantik ini akan memonopoli istri nya yang mungil itu.


Benar saja, Bara tidak bisa mengurunh Sasa di dalam kamar. Jangankan mengurunh, mengajaknya masuk kedalam kamar saja Bara tidak memiliki kesempatan. Mami Shella benar-benar membuat Sasa berada di sisinya. Katanya ini sebagai hukuman untuk Sasa yang sudah main pergi tanpa kabar.


" Mami ini udah cukup garamnya?"


Sasa sedang membuat kuah untuk Tahu goreng. Mami Shella mengambil sendok dan mencicipinya.


" Hmm, udah Pas. Memang gak salah deh punya mantu yang pintar masak."


" Mbak Kesya dan Mbak Vina kan juga pintar masak Mi."


" Kalo Vina, masakannya terbilang enak. Tapi kalo Kesya belum seenak Vina dan Bara. Tapi Kesya jago dalam membuat kue."


" Tapi masakan Mbak Kesya enak kok Mi."


" Mana enak dengan masakan Bara?"


" Mas Bara sih Mi."


" Mana enak masakan kamu dengan Bara."


" Mas Bara."


" Nah, kamu pinter masak dan masakan kamu enak. Tapi seenak-enaknya masakan kami, masih ada yang lebih enak lagi kan.? Mami bukannya bilang masakan Kesya tidak enak, tapi memang setiap orang itu ada kelebihan dan kekurangannya. Kayak Vina yang lebih jago masak dari pada Kesya, dan sama halnya seperti Kesya yang lebih jago membuat kue dari pada Vina. Bukannya Vina gak bisa buat kue, namun memang kue buatan Kesya lebih enak dari pada Vina. Walaupun sebenarnya sama-sama enak."


Daddy Roy dan Bara yang mendengar Mami Shella mengobrol banyak dengan Sasa pun tersenyum lebar. Mami Shella yang cerewet dan ceriwis sudah kembali. Kembali nya ceriwis Mami Shella berbarengan dengan kembalinya Sasa. Begitu pun dengan Bara.


" Bara"


" Ya Dad."


" Masih mau peluk-peluk tepung serba guna?"


Mami Shella dan Sasa yang mendengar percakapan ayah dan anak itu pun menoleh memperhatikan. Karena kebetulan Bara memang duduk di meja makan karena tidak ingin jaub dari sang istri yang baru beberapa jam menjadi istrinya.


" Udah ada Sasa Yang asli, buat apa Sasa yang palsu." Bara berjalan dan mendekat ke Sasa


" Jangan peluk-peluk mantu Mami. Sana kami. Ganggu orang masak aja."


" Mami kalo mau di peluk sama Daddy bilang aja."


" Dasar kamu yaa, gak selopan sama orang tua."

__ADS_1


" Sopan Mi.."


" Itu Maksud Mami.."


Tidak berapa lama Vina datang dan memeluk Sasa.


" Rindu banget sama Mbak mungil ku.."


" Saya juga rindu sama Mbak."


" Eeiit,, jangan panggil Mbak lagi dong. Panggil Vina aja. Kan udah jadi kakak ipar."


Sasa hanya tersenyum kikuk. Rasanya sangat mengganjal memanggil Vina tanpa embel-embel depannya.


" Udah, jangan lama-lama peluknya. Mas aja belum peluk-peluk istri Mas dari tadi."


"Ntah iya belum peluk. Belum kawin aja udah main cium-cium"


Blussshh


Wajah Sasa langsung memerah saat diingatkan kejadian siang tadi. Bagaimana tidak malu, Bara seenak jidat nya saja main cium di depan Mami Shella, Daddy Roy, Tante Linda dan suami, Gita, Kesya, Vina, Arka, Vano, Ayah Nazar, dan Mama Rosa. Bara mencium dirinya tepat di hadapan satu keluarga Bara. Bisa di bayangin kan betapa Malunya Sasa. Nah, si biang kerok malah nyengir dan minta kawiin.. Haddeeww....


" Udaah, jangan di ingatin kejadian tadi. Kan menantu Mami jadi malu gini." Mami Shella memeluk Sasa.


" Sa, Bara sering yaa nyosor-nyosor gitu?" Tambah Mami Shella..


" Mamiii" Lirih Sasa dan memeluk Mami Shella semakin erat dan menyembunyikan wajahnya.


Bara mendekat dan memeluk dua wanita tercinta nya. Mami Shella, Daddy Roy, dan Vina terkekeh karena melihat wajah Sasa semakin memerah.


Makan malam berjalan dengan sangat nikmat. Bukan karena masakannya yang memang lezat, namun keberadaan Sasa yang membuat suasana menjadi hangat.


Sasa membersihkan dirinya di dalam kamar mandi yang terdapat di dalam kamar Bara. Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di kamar Bara. Jantung Sasa sudah berdegup dengan kencang. Jangan di tanya lagi bagaimana Sasa harus bolak balik mengatur napasnya.


" Bercak coklat?"


Sasa baru ingat, jika masa menstruasi nya memang di tanggal saat ini. Sasa menggigit bibirnya, panik.. Tentu saja panik, memikirkan Bara yang sepertinya tidak sabar untuk memilikinya seutuhnya. Namun ada rasa lega, karena Sasa masih terkejut dengan status dirinya saat ini.


Sasa keluar dari kamar dan mencari Mami Shella.


" Mi, ada pembalut gak?"


" Kamu lagi dapet?"


Sasa menganggukkan kepalanya. Mami Shella mengulum bibirnya, mengingat betapa menderitanya sang putra malam ini, dan malam-malam selanjutnya..


Mami Shella menuju kamar Ara, dan mencari pembalut di sana. Untungnya Ara sama seperti anak-anak perempuannya, selalu menyetok pembalut di kamar.


" Niih.. "


" Makasih Mi."


" Jadi, ntar malam gagal deh buka segel."


Sasa menutup pipinya yang memerah dan berlari kedalam kamar. Mami Shella sudha terkikik melihat tingkah lucu sang menantu. Ternyata mantan preman bisa seimut ini. Mami Shella jadi penasaran, bagaimana Sasa bisa berkelahi melawan pria berbadan besar.


Membayangkannya saja Mami Shella serem, jangan sampai deh.


" Bara, Mending kamu tidur di luar deh.."


Mami Shella langsung menggoda Bara saat putra nya itu pulang dari mesjid bersama Daddy Roy selesap solat isya.

__ADS_1


" Ngapain? Di kamar ada guling yang nyaman " Bara tersenyum sumringah.


Mami Shella terkikik melihat wajah Bara yang bahagia, pasti sebentar lagi bakal murung dan uring-uringan.


" Kenapa?" Tanya Daddy Roy yang penasaran dengan Mami Shella tertawa bagaikan kuntilanak.


" Ada deh.." Mami Shella kembali terkikik..


" Iihh, serem.. Sepetinya sebentar lagi bakal menjelma terbang ke pohon." lirih Daddy Roy yang ternyata di dengar oleh Mami Shella.


" Apa Daddy bilang?. Tidur di luar.." Mami Shella berjalan cepat dan menutup pintu kamar, serta tidak lupa menguncinya.


" Mami... Mami.. Daddy bercanda... Sayang . Buka pintu nyaa.. " Daddy Roy berusaha menggedor-gedor pintu kamarnya.


Bara memandanh Sasa yang terlihat segar dengan rambut yang masih terbungkus handuk, dan memakai handuk kimono. Sasa belum menyadari keberadaan Bara.


" Masss" Sasa terkesiap saat Bara memeluk nya.


" Wangi banget kamu mungil.." Bara mengendus kepala Sasa yang masih tertutup handuk, dan perlahan turun kearah leher Sasa


" Mass" Sasa bergiidik geli karena Bara terus mengendus kulit terbukanya.


" Kamu akan menjadi milik aku seutuhnha sayang.." Bisik Bara, dan mulai menciumi bibir Sasa.


Ciuman yang awalnya pelan dan lembut, berubah menjadi kasar dan agresif. Bara menarik handuk yang ada di kepala Sasa, dan menggerai rambut Sasa yang basah.


" Masshh" Sasa mencoba menghentikan tangan Bara yang mulai menjelajahi tubuhnya dari balik handuk kimononya.


" Masshh akuuhh" Sasa terpaksa menelan kata-katanya saat Bara kembali menciumi bibirnya.


Ah, sepertinya percuma saja berbicara dengan Bara api ini.. Lihatlah, Sasa tidak di beri kesempatan untuk berbicara ataupun menolak.


" Masshh.."


" Sebaiknya kamu diam dan nikmati sayang, hukuman mu akan segera di mulai." Bisik Bara dengan suara yang serak.


Bara menarik tali kimono Sasa, dan menampilkan gunung kembar yang masih tertutupi oleh Bra. Bara memandangnya dengan takjub.


" Indah.."


Bara menatap wajah Sasa yang sudah memerah, dan kemudian kembali melihat kearah dada Sasa yang terdapat gunung kembar. Dada itu naik turun dengan seiringnya pergerakan napas Sasa yang terdengar berat dan menambah gairah di diri Bara. Bara menatap kembali wajah Sasa, dan menciumi bibirnya kembali.


Sasa terhanyut dalam permainan Bara, walaupun sedari tadi ingin mengatakan jika dirinya sedang menstruasi, tapi seakan kata-kata itu sulit untuk di ungkapkan nya. Bahkan fikiran dan tubuh Sasa tidak berjalan searah. Fikirannya menyuruh Sasa mendorong tubuh Bara agar tidak melakukan lebih karena dirinya yang sedang menstruasi, tapi karena permainan bibir Bara, membuat tubuhnya enggan untuk mendorong diri Bara.


Tangan Bara mulai menjelajah ke gunung kembar, dan meremasnya dengan lembut dari balik Bra.


" Aakhh"


Bara tersenyum, desahan pelan yang lolos dari bibir Sasa membuat di bawah sana semakin sesak. Bara mengecup leher telanjang Sasa dan turun ke gunung kembar, bermain di sana tanpa ingin melepaskan penutupnya. Tangan Bara bergerilya di kulit perut Sasa, dan semakin turun.


Bara mengernyitkan keningnya saat merasakan sesuatu yang tebal di balik CD Sasa, dan Sasa juga terkesiap saat tangan Bara sudah sampai di sana. Sasa menahan tangan Bara cepat.


" Mas aku halangan.." Cepat Sasa mengatakan itu saat fikirannya kembali normal.


Bara mengerjap-ngerjapkan matanya.. Mencerna perkataan yang keluar dari mulut Sasa


" Kamuu??..."


IG : Rira_syaqila


****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..


Salam SaBar... (Sasa & Bara )


__ADS_2