Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 132 "Tujuh Bulanan"


__ADS_3

Tak terasa kandungan Sasa sudah masuk bulan ke 7. Seperti Nazar Mami Shella, yang mana akan potong kambing untk anak pertama Sasa dan Bara.


Embeeekkk....


Bara tengah heboh menahan kambing yang baru saja sampai itu.


" Duuh, kenapa gak terima beres sih Mi?" Ujar Bara yang kesal karena kambingnya tidak mau menurut.


" loh, kamu harus mandikan kambing itu Bara. " Mami Shella mengulum senyumnya, kapan lagi bisa kerjain sang putra.


" Mami ada-ada aja deh Nazar nya."


Daddy Roy ikut mengulum senyumnya, rasanya sangat menyenangkan sekali bisa mengerjai Bara.


" Udah, cepat mandikan sebelum besok di sembelih.." Ujar om Nazar yang ikut mengulum senyumnya.


Sasa sudah iba melihat sang suami yang berkali-kali terjatuh karena menahan kambing yang lumayan besar dan kuat itu. Bahkan Tubuh Bara sudah terkena kotorannya yang bulat-bulat.


" Mi, Harus yaa Mas Bara mandiin kambingnya?"


" Hmm, namanya juga Nazar." Jawab Daddy Roy yang tidak tahan melihat Bara dan kambing yang saling adu kekuatan.


Sasa hanya bisa melihat Bara dengan Iba, hingga akhirnya setelah menempuh 4 jam lamanya, Bara selesai memandikan kambing yang besoknya akan di sembelih untuk acara tujuh bulanan Sasa.


" Mas, mandi dulu yaa.. Mas bau kambing." Sasa memberikan handuk kepada Bara.


" Iya mungil, aku harap bau nya gak nempel." Ujar Bara dan meraih handuk yang di berikan Sasa.


Biasanya Bara akan mendaratkan ciuman di pipi Sasa, namun tidak untuk kali ini, Bara langsung masuk kedalam kamar mandi, karena tidak ingin membuat Sasa kebauan gara-gara dirinya.


Bara sudah menghabiskan 1 botol shampo dan menggosok seluruh tubuhnya, namun sedari tadi bau kambing tetap saja masih menempel di hidung Bara.


" Mas.. Masih lama?" Tanya Sasa yang merasa jika sang suami terlalu lama di dalam kamar mandi.


" Bentar sayang, masih bau."


" Coba berendam dengan air hangat Mas."


Bara menepuk jidatnya, kenapa dia tidak melakukan hal itu sedari tadi.


" Iyaa sayang."


Bara pun langsung menampung air di bathtub, dan menarih sabun super wangi hingga busanya meluber.


Bara menikmati hangatnya berendam di dalam bathup, andai saja bisa berendam bersama Sasa, mungkin akan lebih sangat menyenangkan.


Ah, hanya membayangi nya saja sudah membuat Tiger nya terbangun.


Bara keluar dari kamar mandi setelah menghabiskan waktu 40 menit berendam. Bara tersenyum saat melihat Sasa tidur dengan posisi bantal tipis yang menahan perutnya, serta guling yang menahan pinggangnya. Bahkan sering Bara mendapatkan Sasa tidur dengan posisi setengah berbaring, karena merasa nyeri di bagian pinggangnya.


Bara memakai pakaiannya dengan cepat, kemudian menghampiri mungil nya itu. Di elusnya pinggang Sasa dengan lembut. Bara tau, jika Sasa sering merasa nyeri di bagian pinggangnya.


Lihat, Wajah Sasa terlihat sedikit perubahan, yang mana menandakan jika Sasa menikmati usapan di pinggangnya.


Bara mengecup kening Sasa, dan memeluknya dari belakang, tanpa memindahkan guling yang menjadi penyangga pinggang Sasa. Semenjak kehamilan Sasa semakin besar, Bara menahan hasratnya untuk tidak sering-sering menyentuh Sasa, karena setiap mereka habis melakukannya, Sasa terlihat sangat kelelahan. Itu dikarenakan Bara yang tak bisa bermain sebentar.

__ADS_1


" Eeunngh.." Sasa melenguh saat merasakan pegal dengan posisinya saat ini.


Bara yang memang baru saja menutup matanya pun, terpaksa membuka lagi matanya, dan membantu Sasa membenarkan tidur nya.


" Pegel?" Tanya Bara saat melihat Sasa mengeluh pinggangnya.


" Hmm.."


Bara pun mengelua pinggang Sasa, dan memberikan sedikit pijitan pada lengan dan kaki Sasa. Tanpa Sasa bilang, Bara tau jika Sasa sering merasa pegal pada kakinya, terutama telapak kakinya. Bara sering mendapati Sasa memijit tubuhnya sendiri.


Ini lah Sasa, dia tak ingin menyusahkan orang lain, jika lelah, dia akan mengatasinya sendiri. Tapi, bukan Bara namanya jika tidak mengetahui keadaan sang istri. Karena belum lama ini Bara menambah cctv di bagian dapur, dan juga menambah satu lagi cctv di bagian halaman belakang.


Sasa sering melakukan pernapasan Yoga di sana bersama Mami Shella, dan terkadang Tante Rosa dan Vina juga ikut nimbrung.


Bara sering memperhatikan sang istri melalui ponselnya yang tersambung dengan rekaman cctv di rumahnya.


" Udah minum susunya?" Tanya Bara lembut.


" Udah, tadi Mami buatin Mas. " Jawab Sasa dengan suara seraknya.


" Mas tidur aja, aku gak papa kok."


" Udah, kamu tidur ya. Jangan fikirin Mas, besok bakal jadi hari yang melelahkan buat kamu. "


" Iya Mas."


Sasa kembali menutup matanya dan tak butuh waktu lama untuk tertidur. Bara membenarkan bantal yang di gunakan Sasa sebagai penyangga pinggangnya. Setelah merasa Sasa nyaman dengan posisinya, barulah Bara mengistirahatkan tubuhnya.


.


.


Sebenarnya bisa aja nyuruh orang untuk mengerjakannya, namun Mami Shella maunya Bara ikut turun tangan sendiri, karena menanti buah hati mereka bukanlah hal yang gampang, jadi semua itu butuh perjuangan, biar terasa kata Mami Shella.


Yaa, walaupun tak sepenuhnya Bara yang mengerjakan, karena di bantu oleh ahlinya. Bara hanya ikut membantu memegang dan menguliti saja.


Sepertinya Bara harus kembali berendam dengan wewangian.


Mami Shella meminta tolong kepada orang untuk memasak kari kambing, untungnya tempat Mami Shella memotong kambing, juga menerima jasa masak kari kambing, tapi Mami Shella maunya di masak di rumah nya.


Sasa sudah terlihat segar dan cantik dengan pakaian serba putihnya. Bukde dan Pakde pun yang sebelumnya mengatakan tidak dapat hadir, Alhamdulillah pagi-pagi buta sudah hadir di depan rumah Mami Shella. Satu kebahagiaan bagi Sasa sendiri, karena keluarga nya hanya tinggal bukde dan Pakde, walaupun tak memiliki hubungan darah.


" Cantik.." Puji Bara yang sudah berdiri di sebelah Sasa.


Dengan perlahan Bara membantu Sasa untuk duduk di sebuah bantalan sofa yang sudah di sediakan. Akan ada acara pembacaan doa dan tepung tawar untuk Sasa dan calon bayi nya.


Kesya ikut menitikan air matanya saat pembacaan doa, karena Sasa menangis di sana saat ustad bertanya tentang nama orang tua Sasa, dan siapapun yang melihatnya pasti juga ikut menangis.


Tidak hanya Kesya, Ara, Vina, Anggun, Mami Shella, Tante Mega, Oma Laura, dan Tante Rosa pun ikut menangis.


" Perjuangan mereka akhirnya membuahkan hasil yaa.." Ujar Puput yang juga ada di sana dengan bayi mungilnya.


" Iyaa, gak nyangka banget yaa.. Dan siapa sangka kalo mereka berjodoh." Jawab Kesya.


" kak Fadil dari awal udah curiga dengan Mas Bara. Karena Mas Bara tuh sering banget datang k toko dan khusus untuk mengganggu Sasa doang." Pupuy tertawa bersama Kesya.

__ADS_1


" Padahal Mas Bara gak genit ya orang nya, tapi sama Mbak Sa bisa genit gitu."


" Iya ya.."


Mereka mengingat-ingat setiap momen Bara dan Sasa yang selalu seperti Tom and Jerry tersebut. Setiap kisah cinta, selalu memiliki ending bahagianya sendiri. Dan ingat, tidak ada kehidupan yang selalu berjalan mulus, selalu ada ujian di setiap kehidupan. Tergantung kita menyikapinya seperti apa.


" Sasa mau buah apa?" Tanya Mami Shella yang ingin menyuapi Sasa rujak buah.


" Semangka Mi. Dicocol nya yang banyak ya Mi."


Mami Shella tersenyum, kehamilan Sasa cenderung lebih suka dengan buah yang manis-manis, berbeda dengan wanita hamil umumnya, yang lebih suka dengan buah yang asam.


Mami Shella pun mencocol semangka potong ke dalam bumbu rujak kacang, dan menyuapi Sasa. Kemudian di susul oleh Daddy Roy,


" Mau bengkoang?"


" Mau Dad."


Daddy Roy pun mengambil bengkoang potong dan mencocol kedalam bumbu rujak, kemudian menyuapi ke mulut Sasa.


Bukde dan Pakde pun ikut melakukan hal yang sama, termasuk Kakek Farel dan juga Oma Laura. Tante Rosa dan Om Nazar tidak mau ketinggalan, mereka juga menyuapi Sasa, serta Om Bram dan Tante Mega ikut mengantri untuk menyuapi Sasa.


Sasa tersenyum dan tertawa, namun air matanya juga ikut mengalir, melihat betapa ramainya orang yang sangat perduli dan sayang kepada dirinya. Tidak hanya dari keluarga inti Bara, melainkan dari orang-orang yang ada di sekelilingnya.


" Mas, masih ingat waktu Mbak Kesya tujuh bulanan gak?" Tanya Vina.


" Kenapa?" Ujar Bara yang penasaran.


Saat ini mereka tengah mengelilingi piring besar ceper yang berisi buah potong dengan di tengahnya cocokan rujak.


" Gak nyangka aja gitu, kalo saat ini Mas sedang melaksanakan tujuh bulanan sang istri tercinta. Iya kan.."


Bara tersenyum, dan mengangguk setuju.


" Iyaa, Bahkan Mas udah kayak mayat hidup. Gak semangat untuk melakukan apapun. Pinter banget sih sembunyi nya mungil?"


Sasa hanya tersenyum, dan juga merasa bersalah. Karena kata Mami Shella, sepulang dari acara tujuh bulanan, Bara sakit dan harus di rawat. Sasa ingat, saat itu juga dirinya tengah di rawat.


" Kali ini aku gak akan pernah pergi Mas." Ujar Sasa sambil memeluk lengan sang suami.


" Ciee.. udah berani romantis-romantis nih di depan kitaa.." Goda Vina dan Kesya.


Namun, fokus mereka terhenti saat Ara datang dan langsung melahap buah mangga yang ada di hadapannya.


" Kamu hamil?"


IG : RIRA SYAQILA


JANGAN PELIT YAA...


Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...


Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..


Senang pembaca, senang juga author...

__ADS_1


Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....


__ADS_2