Mr. Perwira VS Mantan Preman

Mr. Perwira VS Mantan Preman
Bab 11 " Bara membeku"


__ADS_3

Ceklek..


Sasa membolakan matanya saat melihat siapa yang berdiri menjulang di balik pintu tersebut.


"Kamu??"


Dengan napas yang masih ngos-ngosan seperti habis berlari, Bara membuka lebar pintu apartemen Sasa, dan masuk tanpa permisi dengan memajukan tubuhnya hingga membuat Sasa memundurkan langkahnya.


Bamm..


Suara pintu apartemen tertutup karena Bara menutupnya dengan kuat. Sasa mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya, apa benar yang berdiri dihadapannya ini adalah Bara? Bara api sialan yang selalu mengganggu hidupnya akhir-akhir ini?.


" Ngapain aja kamu dari tadi?" Tanya Bara dingin.


Sasa mengerjap-ngerjapkan matanya,


" Aku telponin kamu dari tadi, kamu kemana aja?" Nada suara Bara sudah lebih tinggi dari yang sebelumnya.


" Jadi nomor tak dikenal itu Lo? Sampe 30 kali panggilan tak terjawab? Gak da kerjaan banget sih"


" Gak ada kerjaan?" Ulang Bara. " Aku telponin kamu karena aku khawatir sama kamu, dan kamu bilang aku gak ada kerjaan?" Ujar Bara dengan sedikit membentak Sasa.


" Denger ya, gue gak pernah minta sama Lo, untuk mengkhawatirkan diri gue. Gue bisa jaga diri gue sendiri" Ujar Sasa tidak mau kalah dinginnya.


" Bisa jaga diri sendiri kamu bilang. Dengan tingkah gegabah kamu tadi, kamu bisa terluka dan berakhir tragis jika aku tidak menolong kamu"


" Aku tidak menyuruhmu untuk menolong ku. oke, terima kasih karena sudah menolong ku, tapi aku harap itu tidak menjadi alasan kamu untuk menyuruhku berhutang Budi"


" Kamuu__" Bara tidak tau kenapa dia mesti marah, karena Sasa tidak terima dengan perasaannya yang mengkhawatirkan dirinya. Sebenarnya Bara juga tidak perlu mengkhawatirkan Sasa.


" Sebaiknya kamu pergi dari sini. Dan aku berharap kamu tidak pernah lagi muncul di hadapan ku, jika pun kita berjumpa, aku harap kita tidak saling menegur sapa" Ujar Sasa dingin.


Bara mengeraskan rahangnya, menatap Sasa dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Bara membalikkan tubuhnya, namun detik selanjutnya Bara menghentikan langkahnya, dan tak berapa lama tubuh Bara terhoyong dan tak sanggup menopang tubuhnya.


Sasa yang melihat Bara hampir terjatuh, dengan cepat menangkap tubuh besar Bara.


"Akhh, berat banget sih ni orang" Sasa berusaha memindahkan Bara dengan menyeret sedikit tubuh Bara.


Sasa merebahkan tubuh Bara di sofa. " Hah, udah tau sakit ngapain juga dia kesini. Nyusahin aja"


Tak berapa lama terdengar suara bel berbunyi. Sasa bergegas membuka pintu, karena Sasa yakin kali ini pasti tukang Pizzia yang datang. Dan benar saja, Pizzia pesanan Sasa pun tiba. Sasa meraih Pizzia tersebut dan membayarnya.


Sasa menatap 2 kotak Pizzia ukuran besar di tangannya. Tanpa fikir panjang, Sasa membawanya ke meja makan, dan membukanya. Soal Bara nanti dulu lah, yang penting perutnya terisi.

__ADS_1


Setelah memakan habis 4 potong Pizzia, Sasa merasa perutnya sudah cukup terganjal. Sasa mendekati Bara dengan membawa air hangat. Sasa memegang kening Bara, Suhu bandannya terasa hangat. Sasa kembali kedapur dan mengambil baskom berisi air hangat, kemudian mengambil handuk kecil dan mulai mengompres kening Bara. Sasa ragu, apa dia harus membuka baju Bara atau tidak, tetapi jaket yang di gunakan Bara cukup tebal. Akhirnya Sasa mengangkat tubuh Bara dan membuka jaketnya perlahan.


Sasa melihat perban yang berada di lengan kanan Bara, kemudian pandangannya beralih ke wajah Bara. Entah apa yang difikirkan nya. Sasa meraih ponselnya, dan menghubungi temannya yang tinggal di sebelah apartemen nya, yang kebetulan bekerja sebagai perawat di rumah sakit.


" Halo, Mel, ada obat demam gak sama Lo?'


"....."


" Bukan buat gue, buat temen gue. Demam dan pingsan di rumah gue dia"


"...."


" Boleh deh kalo gak ngerepotin Lo. gue tunggu ya.."


Sasa meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Tak berapa lama bel berbunyi, dan Sasa sudah menebak siapa yang menekannya.


" Siapa sih yang sakit?" Tanya Mela saat Sasa sudah membuka pintunya.


Mela berjalan mengikuti Sasa kearah ruang tamu. Mela membulatkan matanya melihat ada pria yang tengah tertidur di sofa ruang tamu Sasa. Bukan.. bukan. Bukan pria, tapi pangeran. Ganteng banget.


" Sejak kapan Lo punya pacar?" Tanya Mela.


" Bukan pacar gue, cuma temen aja."


" Silahkan aja kalo Lo doyan." Jawab Sasa cuek.


Mela memeriksa kondisi tubuh Bara, yermausk lukanya.


" Lukanya gak papa, tekanan darahnya juga stabil, cuma demam biasa aja. Mungkin karena kelelahan atau fikiran. Kasih obat aja, nanti juga sadar" Mela menberikan obat penurun demam.


" Makasih yaa"


" Sama-sama, tuh obat di kasih minumin terus, biar demamnya cepat turun"


" Gimana caranya, orangnya aja masih tidur"


" Lo masukin kemulut Lo, kemudian Lo tempelin bibir Lo di bibir si ganteng itu, Lo masukin obat yang di mulut Lo ke mulut dia."


" Jorok banget sih, "


" Ya udah kalo Lo gak mau, atau mau gue yang lakuin?"


" Terserah Lo"

__ADS_1


" Haaahh? Yakin Lo kalo gue yang lakuin? gak rugi Lo?"


" Bodo amat, terserah Lo deh. yang penting obatnya terminum."


" Okey, jangan nyesel yaa"


Mela mengeluarkan obat dari bungkusnya, namun detik selanjutnya ponsel Mela berbunyi, dan menampilkan nama kekasihnya. Mela mengangkat panggilan, dan kemudian dia meletakkan kembali obat yang sudah terbuka ke atas tangan Sasa.


" Pacar gue udah di depan apartemen, gue buru-buru. Mending Lo coba aja deh ya. Bukan rejeki gue bisa nyicip bibir tu cowok ganteng. Selamat mencoba" Mela melenggang pergi dengan membawa perkakasnya.


" Sialan" Gumam Sasa.


Sasa menatap obat yang di tangannya, kemudian menatap kearah bibir Bara. " ogah gue, sama aja dia yang dapat ciuman pertama gue. walaupun secara gak langsung dan tak sadar" Gumam Sasa.


Sasa memiliki ide, Sasa mengulek obat tersebut hingga menjadi butiran, kemudian di campur dengan sedikit air. Sasa memasukkan obat tersebut kedalam pipet, dan kemudian memasukkan kedalam mulut Bara. Pipet pun menjadi perantara antara bibir Bara dan Sasa.


"Untung gue sering sediain pipet di rumah"


Sasa membersihkan meja. kemudian Sasa mengambil kembali air hangat, dan mengompreskannya kepada Bara.


Sasa membuka lemari es nya. Tadinya dia sangat malas masak, namun karena si Bara api sialan itu sakit, jadi Sasa memutuskan untuk memasak bubur dan menu makan malam nya. Lagipula si Bara Api itu sakit sepertinya karena dirinya juga. Efek dari luka yang didapatnya.


Sasa sedang sibuk di dapur, hingga tidak menyadari jika Bara sudah bangun. Bara memegang keningnya yang masih terdapat handuk basah. Bara menoleh keatas meja, mendapati baskom berisi air. Bara melihat jaketnya yang sudah tersandar di pinggir sofa, Bara kemudian menatap kearah tubuhnya. Dia masih menggunakan baju kaosnya.


Bara melihat kearah Dapur. Mungilnya berada di sana, sedang sibuk dengan semua bahan-bahan makanan yang akan di masaknya. Mungilnya terlihat sangat menawan. Bara berdiri dan mendekati Sasa.


Perlahan tapi pasti, Bara sudah berada di belakang Sasa, Sasa membalikkan tubuhnya dan terkejut mendapati Bara yang sudah berada dibelakangnya. Mata mereka bertemu, Bara melangkah maju, dan Sasa memundurkan langkahnya seiring dengan pergerakan kaki Bara. Hingga tubuh Sasa mentok di kitchen set. Bara mengunci gerakan Sasa dengan meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Sasa. Mata mereka masih saling berpandangan dan saling mengunci. Perlahan, wajah Bara mendekat hingga hembusan napas Bara terasa di wajah Sasa. Sasa perlahan memejamkan matanya saat merasakan wajah Bara semakin mendekat. Hingga Sasa merasakan ada benda kenyal dan basah yang tengah menempel di bibirnya.


Bara melihat kearah Sasa, mata Sasa masih setia terpejam, tidak ada perlawanan dari Sasa. Bara mencoba untuk memainkan Bibirnya di atas Bibir Sasa, masih tidak ada perlawanan, Bara melanjutkan aksinya, hingga sebuah suara memaksanya untuk membuka mata.


" Lo udah sadar?"


Bara menatap Sasa yang berdiri di hadapannya dengan memegang spatula. Bara mengerjap-ngerjapkan matanya. Yang tadi itu? Apa dia berkhayal?


Sasa mendekat dan memegang kening Bara, Bara masih diam membeku.


" Demam Lo udah turun, mending Lo minum dulu, sebentar lagi masakan gue siap."


Sasa kembali kedapur dengan meninggalkan Bara yang masih membeku.


*** Readers... Budayakan siap membaca jangan lupa tancapkan Jempolnya ya.. kasih Like biar aku nya semakin semangat...


Salam SaBar ( Sasa Bara )

__ADS_1


__ADS_2