
" Mas Bara, Truth or Dare" Tanya Vina dan Kesya serentak.
" Truth"
" Okey, Gimana perasaan Mas setelah putus dengan Lia?" Tanya Gilang tiba-tiba, yang mana membuat Kesya dan Vina kesal. Hingga memukul punggung Gilang.
" Lega. tapi.." Semua mata langsung tertuju kepada Bara, menantikan kelanjutan apa yang akan di ungkapin Bara.
" Tapi saya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang" Bara meraih gitar, dan kembali duduk di sebelah Sasa.
" Mungil, Lagu ini untuk kamu"
Jreeng..
Pagi hari menyapa dengan indah
Ku tersenyum melihat kau masih lelah
Sudah dengan berbagai cara
Agar tak terlewatkan hari yang indah
Banyak hal yang tlah kita lewati
Di setiap harinya
Denganmu ku mengerti arti cinta
Arti cinta sesungguhnya
Tumbuh di setiap saat
Dan mengerti makna cinta
Makna cinta yang abadi
Kan kujaga cinta ini
Sudah dengan berbagai cara
Agar tak terlewatkan hari yang indah
Banyak hal yang tlah kita lewati
Di setiap harinya
Denganmu ku mengerti arti cinta
Arti cinta sesungguhnya
Tumbuh di setiap saat
Dan mengerti makna cinta
Makna cinta yang abadi
Kan kujaga cinta ini
Kita di pertemukan oleh cinta
Kita tak saling ingkar janji
Kita saling melengkapi
Hingga tua nanti
Oh
Denganmu ku mengerti arti cinta
Arti cinta sesungguhnya
Tumbuh di setiap saat
__ADS_1
Dan mengerti makna cinta
Makna cinta yang abadi
Kan kujaga cinta ini
Denganmu ku mengerti arti cinta
Arti cinta sesungguhnya
Tumbuh di setiap saat
Dan mengerti makna cinta
Makna cinta yang abadi
Kan kujaga cinta ini
Suara tepuk tangan bergemuruh, dan siulan Duda membuatnya semakin meriah.
" Wah, Jodi ada saingannya nich" Ujar Vano, yang mana membuat Bara melototkan matanya kepada Vano.
" Jadi, kapan nich Jodi dan Sasa meresmikan hubungan?" Tanya Vina.
Bara tiba-tiba langsung berdiri dan menarik tangan Sasa, Sasa yang tidak siap pun terjatuh kedalam pelukan Bara, untungnya Bara sigap memeluk pinggang Sasa. Sasa langsung mendorong tubuh Bara hingga melepaskan pelukannya. Bara menatap Jodi tajam, sedangkan Jodi sudah berpura-pura bodoh.
Vina, Vano, Arka, Kesya, dan Duda sudah mengulum senyumnya.
Bara menggenggam tangan Sasa dan menariknya untuk mengikutinya. Sasa pun mau tak mau mengikuti langkah Bara setelah berpamitan secara kilat kepada Kesya, Arka, Vina, Vano, Duda, dan Jodi.
Setelah kepergian Sasa dan Bara, Pecahlah tawa mereka yang sedari tadi di tahan. Jodi pun bisa menghembuskan napas nya lega. Rasanya dia baru saja tercekik hingga tidak bisa bernapas.
" Kamu gak beneran suka kan dengan Sasa?" Tanya Vina kepada Jodi.
" Ya gak lah Mbak, Saya sudah menganggap Sasa seperti adik saya."
" Hufff, syukur deh"
Bara mendorong pelan tubuh Sasa untuk masuk dalam mobil.
" Aku gak mau ambil resiko jika kamu harus di antar oleh Jodi. " Bara kembali mendorong tubuh Sasa, namun Sasa masih menahan tubuhnya untuk tidak masuk.
" Gue pulang naik taksi"
" Aku antar, atau kamu aku malam ini bakal tidur di kamar aku. Biar besok kita langsung dia seret ke KUA dengan Mami."
Sasa berdecak kesal, kemudian dia langsung masuk dan duduk manis di bangku penumpang bagian depan. Bara menutup pintu dengan perasaan bahagia.
Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak banyak percakapan di antara mereka. Sasa lebih memilih diam, dan menjawab sekedarnya saja pertanyaan yang di ajukan Bara.
" Mungil " Bara menoleh kearah Sasa, namun mungilnya itu sudah menutup mata, napasnya pun teratus, menandakan jika dia sudah tertidur.
Bara tersenyum, di usapnya pipi mulus Sasa. Sentuhan tangan Bara membuat Sasa perlahan mengernyitkan keningnya, kemudian membuka matanya pelan.
" Kita udah sampai?" Tanyanya dengan suara yang dikeluarkan sekalian dengan menguap.
" Hmm "
Sasa melihat kearah Jam tangannya. Dia melototkan matanya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Dan itu tandanya dia sudah tertidur cukup lama.
" Kenapa gak bangunin gue?"
" Aku cuma ingin menikmati wajah tenang kamu"
Sasa memutar bola matanya malas. Sasa membuka seatbelt nya. " Lo pulang nya hati-hati ya, makasih juga udah antar gue"
" Aku akan melakukan apapun untuk kamu mungil"
" Lebay"
Sasa turun dari mobil, dan di ikuti oleh Bara.
" Kok kamu ikut turun? Udah sana pulang" Sasa menolak tubuh Bara untuk kembali masuk kedalam mobil.
__ADS_1
" Kamu yakin gak mau aku antar sampai depan pintu apartemen kamu?"
" Gak usah modus deh, udah sana pulang"
" Yakin cuma nyuruh pulang aja? gak ada yang lain gitu?"
" Hmm, makasih udah antarin gue"
" Gitu aja? "
" Terus?"
Cup.
" Selamat malam, " Ujar Bara serltelah mengecup pipi Sasa.
Sasa hanya diam mematung saat Bara mengecup pipinya.
" Mau nambah?"
Sasa seakan sadar dari rasa terkejutnya. " Ihh, dasar mesum. Udah sana pulang"
Sasa berbalik badan dan memasuki gedung apartemen nya. Bara hanya terkekeh melihat tubuh mungil itu berjalan cepat, seolah takut akan kembali di tangkap oleh dirinya.
Ahh, memang sebenarnya Bara masih ingin menahannya, namun Bara juga harus mengerti akan perasaan Sasa. Sasa pasti butuh waktu untuk percaya dengannya.
Aroma tubuh Bara masih menempel di Indra penciuman Sasa. Bayangan dia berdansa dengan Bara pun masih terlintas dalam fikirannya.
" Ya ampun Sa. Sadar Sa sadar. Dia itu baru putus, mana mungkin bisa langsung jatuh cnta dengan Lo" Gumam Sasa kepada dirinya sendiri.
Arka membuka kan pintu untuk Bara. Sudha pukul 3 dini hari, Bara baru sampai di rumah.
" Lama amat? Ngapain aja sama Sasa?" Goda Arka.
" Gak ngapa-ngapain, cuma nemenin Sasa tidur aja"
Uhuukk..uhukk..uhuuk...
Terdengar suara batuk di dapur. Bara langsung tidak bergeming, dan berdiri kaku di tempatnya. Sedangkan Arka sudah memasang wajah datarnya.
Daddy Roy menghampiri Bara, dan menatap sengit putranya itu.
" Kamu bilang apa tadi? nemenin Sasa tidur? Maksudnya apa Bara?" Tanya Daddy Roy dingin namun terdengar sangat mengintimidasi.
" Emm, maksud Bara. Sasa ketiduran di dalam mobil, jadi Bara cuma nemeni dia tidur, hingga dia terbangun. Sumpah Dad, Bara gak ngapa-ngapain dengan Sasa." Kali ini Bara memang tidak berbohong. Dia murni hanya menatap wajah Sasa, dan hanya membelai pipi mulusnya.
" Awas saja kalo kamu berani melewati batas"
" Iya Dad, Bara tau kok batasannya."
" Bagus " Daddy Roy menepuk bahu Bara dengan sedikit kuat, membuat Bara meringis. Sedangkan Arka hanya melewati Bara dan naik ke atas, menuju kamarnya dan kamar Kesya.
Cling...
Pesan singkat masuk kedalam ponsel Bara. Bara meraih ponselnya, dan membaca isi pesan dari si pengirim. Bara tersenyum saat melihat ID sipengirim.
Mungil : Baju gue masih di dalam kamar tamu, tolong bawain ya besok"
Bara langsung mendial nomor tersebut, terdengar beberapa kali nada sambung, kemudian terdengar lah suara sang pujaan hati.
" Assalamualaikum"
" Walaikumsalam Mungil. Ada aja ya alasan kamu buat menghubungi Aku. Bilang aja kalo kamu masih rindu"
Di seberang sana, Sasa menatap layar ponselnya tak percaya. Sasa sudah membuat bentuk bibirnya merot-merot mendengar cicitan Bara.
"Gua ngantuk, mau tidur " Sasa memutuskan panggilannya secara sepihak.
Bara menatap layar pipihnya sudah kembali ke wallpaper awal. Bara terkekeh, dalam bayangan Bara, saat ini pasti wajah Sasa sedang memerah, dan dia juga kesal.
****. Jangan lupa pencet tombol like nya ya setelah membaca...
Jangan lupa tinggalin jejaknya di kolom komentar..
__ADS_1
Selamat Berpuasa, semoga amal ibadah kita hari ini, kemarin, dan esok selalu diterima Allah. Jangan sampai batal ya puasanya..
salam SaBar ( Sasa Bara)