
Quin membuka mulut nya tak percaya. Yang benar saja, dirinya, Kayla, Anggel, Raysa, Fatih, Lana, dan juga Zein dihukum untuk membersihkan halaman dan juga kolam renang tanpa bantuan mesin pencabut rumput.
" Papa becanda?" Tanya Quin tak percaya.
" Tidak, Papa serius dengan hukuman yang Papa berikan untuk kalian."
Quin menghela napas, dan mendengkus kesal. Pasalnya hanya dirinya yang tak memiliki pasangan, sedangkan yang lainnya sudah di pasangkan. Quin menatap Abi dengan puppy eyes nya.
" Maaf, aku di larang membantu kamu." Ujar Nya kepada Quin.
*
"Jadi Farhan benar-benar akan melamar mu?" Tanya Fatih yang saat ini sedang memotong rumput bersama Raysa.
"Hmm, Aku sudah mengatakan Iya."
"Tak bisakah kamu berfikir lagi? Aku mencintai kamu, Layca."
Raysa menghentikan pergerakannya. "Maaf, tapi aku terlanjut mengatakan Iya kepada Kak Farhan."
"Keluarga mereka belum datang, Kamu masih bisa membatalkannya."
"Gak mungkin. Lagi pula Om Riko sudah menelpon Bunda dan Daddy."
"Apa tak ada harapan untuk, Layca? tak pernahkah kamu sekalipun merasakan jatuh cinta dengan ku?"
"Fatih, Aku ...."
"Aku akan tetap di sini menunggu kamu "
Raysa menatap Fatih. "Bukankah waktu itu kamu mengatakan jika kamu bahagia bersama Kak Tissa?"
"Apa kamu percaya itu?"
"Aku gak tau, tapi aku pernah melihat kalian berciuman."
Fatih menaikkan alisnya sebelah, seingatnya ia tak pernah berciuman dengan Tissa.
"Kapan?"
"Aku gak mau bahas."
"Kapan Layca?" Ujar Fatih dengan mencengkram tangan Raysa.
Raysa menghela napasnya. Ia melihat sorot mata tajam Fatih, dan itu sedikit membuatnya takut.
"Pertama, saat kamu baru kembali dari Jakarta bersama Kak Tisa. Saat kamu membuka pintu bagasi mobil, Kanu mengecup keningnya."
Fatih mengerutkan keningnya, ingatannya langsung kembali pada saat dirinya tak sengaja membuka pintu bagasi dan mengenai kening Tissa.
"Yang kedua, saat di taman apartemen. Aku gak sengaja lihat kamu dan Kak Tissa sedang lari pagi di sana, aku melihat kamu lagi-lagi mencium kak Tissa. Kemudian kamu mengikat rambutnya yang berterbangan dengan ikat rambut kamu."
Fatih juga ingat dengan kejadian itu. "Lalu?"
"Kamu terlihat bahagia dengan kak Tissa. Sedangkan dengan ku, kamu selalu terluka. Aku senang lihat kamu bahagia." Ujar Raysa. 'Walaupun kebahagiaan itu bukan berasal dari ku.' sambung Raysa dalam hati nya.
"Oke, aku rasa kamu sudah salah paham akan hal ini. Pertama dan kedua alasan kamu itu salah. Aku tak pernah mencium Tissa. Alasan pertama kamu, Aku sedang meniup kening Tissa yang terbentur dengan pintu bagasi mobil. Yang kedua, aku meniup mata Tissa yang kemasukan debu. Aku memang mengikat rambutnya dengan ikat rambutku. Karena ikat rambut milik Tissa putus. Makanya aku menggantinya." Fatih menatap kearah wajah Raysa.
"Apa kamu gak bisa membatalkannya?"
"Maaf, aku sudah terlanjur menerimanya."
Fatih pun menghela napasnya. Anda saja iantak mengikuti saran dokter Faisal untuk semakin menghindar di saat Raysa semakin mendekat dengannya. Maka mungkin saat ini Raysa dan dirinya telah bersama.
Nyatanya, seberapa keras Fatih berusaha melupakan Raysa. Semakin besar cinta Fatih untuk anak gadis Bunda Sasa tersebut. Namun semua sepertinya sia-sia. Usaha Fatih melupakan Raysa juga sia-sia. Raysa seakan tidak mau keluar dari fikirannya. Fatih pun tak lagi menemui dokter Faisal karena merasa semuanya sia-sia. Fatih masih mencintai Raysa setelah apa yang telah ia lakukan dan korbankan.
Papi Arka memanggil mereka untuk beristirahat. Fatih pun membuatkan Macaroni untuk Raysa. Namun, Zein dan Kayla datang meminta dibuatkan lebih, begitupun dengan Lana dan Anggel. Akhirnya Fatih membuat Macaroni untuk semua orang.
*
Pernikahan Quin telah berlangsung dengan kebahagian keluarga dan penderitaan mereka yang mana mengikuti rencana bodoh Quin. Dan saat ini Fatih dan Raysa pun sudah kembali ke Bandung
Fatih bersikeras mengantar Raysa ke Bandung. Walaupun sebenarnya Raysa sudah menolak nya.
Selama di perjalanan, Fatih dan Raysa sedikit pun tak ada berbicara. Mereka hanya mendengarkan musik yang beralun merdu menemani perjalanan mereka. Hingga waktu pun tak terlalu terasa lama.
Setelah menempuh beberapa jam di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai. Fatih langsung turun dan meninggalkan Raysa di belakangnya. Raysa menghela napas dan mengikuti Fatih.
"Aku akan langsung beristirahat, besok aku harus kembali ke Jakarta." Ujar Fatih.
"Jam brapa? akan aku buatkan sarapan."
"Mungkin agak siangan, karena ada yang harus aku kerjakan."
"Hmm, Aku besok kena tugas malam. Jadi aku bisa buatkan masakan yang kamu mau. Kamu mau aku buatkan apa?"
__ADS_1
"Terserah kamu aja."
Pintu lift terbuka, Fatih keluar dari dalam lift dengan di susul Raysa.
"Aku duluan ya, ngantuk banget."
"Hmm."
Fatih masuk kedalam Apartemen nya, dan Raysa juga masuk kedalam apartemen nya.
Keesokan pagi nya, Fatih sudah berada di dalam apartemen Raysa. Seperti janji Raysa, Raysa akan memasak makanan untuk Fatih. Sudah terhidang di atas meja nasi goreng, cumi sambal teri, dan kerupuk udang.
Fatih menikmati sarapannya yang mungkin sebentar lagi gak akan pernah Fatih rasakan lagi.
Setelah sarapan, Fatih mendudukkan dirinya di sofa dan menaikan game online di ponselnya, sedangkan Raysa membereskan peralatan makan mereka tadi.
"Ngapain?" Tanya Raysa saat sudah selesai mencuci piring.
"Biasa, main game."
"Main Ludo yuk." Ajak Raysa.
"Tumben."
"Lagi pingin aja, mau gak?"
"Boleh, yang terpencing kena sentil ya."
"Oke, siapa takut."
Permainan pun berlangsung, hingga Raysa sangat banyak mendapatkan sentilan dikeningnya oleh Fatih.
"Iih, kamu curang."
"Loh, di mana letak curangnya." Fatih terkekeh.
"Gak mau tau, pokoknya kamu curang."
Fatih tertawa melihat Raysa cemberut, dan itu membuat Raysa semakin kesal dan ingin memukul Fatih. Namun siapa sangka, jika kaki Raysa tak tepat berpijak di sofa sehingga membuat Raysa terjatuh di atas tubuh Fatih dengan bibir mereka yang saling menempel.
Jantung Raysa berdegup dengan kencang, begitupun dengan Fatih. Raysa menjauhkan wajahnya dari Fatih, namun gerakan tangan Fatih yang cepat membuat bibir mereka kembali menempel.
Fatih mencium bibir Raysa dengan lembut, tak ada perlawanan dari Raysa. Bahkan Raysa menutup matanya menikmati setiap sentuhan benda kenyal itu yang bermain di bibirnya. Hingga Fatih sendiri yang melepaskan pagutan bibirnya.
Dengan napas yang memburu, Fatih hanya mampu berkata 'Maaf' kepada Raysa dan menjauhkan dirinya dari Raysa.
"Aku tau," Raysa menggigit bibirnya.
"Layca, maaf."
Raysa hanya tersenyum. "Sudah jam setengah 10, bukannya kamu harus bertemu dengan orang jam 10?"
"Layca, aku__"
"Aku gak papa, anggap aja ini gak pernah terjadi."
Raysa berjalan masuk kedalam kamarnya. Ia menutup pintu dan bersandar di sana. Raysa menyentuh bibirnya yang baru saja di cium oleh Fatih. Ciuman pertamanya. Raysa menutup matanya dan kembali membayangkan ciuman itu lagi.
Terdengar suara pintu tertutup, yang mana Raysa menebak jika Fatih telah keluar dari apartemen. Raysa menghela napasnya berat.
*
Fatih telah berada kembali di Jakarta. Lamaran pertunangan pun telah sampai ke rumah Raysa. Karena Raysa sudah mengatakan setuju, maka Kedatangan Om Riko dan Farhan ke rumah Bunda Sasa dan Daddy Bara pun hanya untuk menentukan tanggal pertunangan mereka.
Belum lagi Kabar yang ia dapat dari Arash pun membuat ia semakin marah. Yang mana orang yang ingin mencelakai Quin adalah seorang mafia. Dan ini semua ada sangkut pautnya dengan masa lalu Nafi, istri Veer.
Abash dan yang lainnya sudah berkumpul di tempat mereka janjia. Tak berapa lama Lana datang bersama Fatih dan Lucas.
"Bagaimana? Apa yang terjadi?" Tanya Lucas dengan wajah seriusnya.
"Ini tentang Quin dan Nafi."
Abash menceritakan pokok permasalahannya. Lana dan Fatih menggeram kesal.
"Brengs*k" Maki Lana dan Fatih bersamaan.
"Tenang lah."
"Kenapa harus Quin yang jadi sasaran?" Geram Lana dan meninju meja kayu jati tersebut.
Abash menatap wajah Fatih. Ada hal yang ingin di ungkapkan nya, dan itu akan membuat Fatih tak nyaman.
"Apa? katakan saja." Ujar Fatih yang mengerti tatapan Abash dan sudah menebak kemana akan arah pembicaraannya.
"Aku butuh bantuan Farhan."
__ADS_1
Fatih berdecih kesal, kenapa harus meminta bantuan si cucungud itu sih? Emangnya kurang hebat apa Abash?
"Kurang hebat apa Lo, sampai harus minta bantuan dia?" Tanya Fatih kesal.
Abash menghela napasnya. "Ini bukan Masalah yang sepele. Nyawa Quin dalam bahaya, tidak hanya Quin, Nafi dan Mama Kesya juga dalam bahaya. Dan Aku gak bisa kerja sendiri Bang."
Abash membenarkan duduknya, dan menatap Fatih dengan tatapan yang semakin tajam.
"Untuk menangkap seekor ular besar, mungkin aku bisa dengan kepintaran ku sendiri. Tapi ini seekor belut listrik, kecil memang, tapi ia membunuh secara perlahan. Dan harus ada perisai kuat untuk memusnahkannya dengan tangan kosong."
Fatih menghela napas, menutup matanya dan menenangkan fikirannya.
"Lakukan yang terbaik, yang penting keselamatan Quin, Nafi, dan Mama kesya terjamin."
Abash tersenyum. Inilah Fatih, selalu bisa mengesampingkan masalah dan ego nya sendiri.
*
Fatih harus kembali ke Bandung karena ada urusan yang harus di selesaikan olehnya di sana.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Fatih sudha selesai dengan pekerjaannya. Tak ada wkatu istirahat bagi Fatih, karena setibanya di Bandung Fatih langsung menguras habis otak dan tenaganya. Fatih butuh tempat istirahat yang empuk. Fatih pun memilih untuk pulang ke apartemen nya.
"Fatih?"
Raysa terkejut mendapati Fatih turun dari mobilnya. Ingatan ciuman yang terjadu di anatra mereka masih terbayang di ingatan Raysa. Dan tanpa Raysa ketahui, jika Fatih juga selalu membayangkan akan ciuman manis tersebut.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Fatih yang berjalan mendekati Raysa.
"Mau ke supermarket depan, mau beli beberapa bahan makanan."
"Kamu udah makan?" Tanya Fatih.
"Belum,"
"Makan di luar yuk."
Raysa menganggukan kepalanya. Fatih membatalkan rencananya untuk menikmati tidurnya. Perut Fatih sangat lapar, tadinya ia ingin memesan makanan dari layanan pesan antar, berhubung bertemu dengan Raysa, jadi Fatih fikir tak ada salahnya untuk kembali menghangatkan hubungan mereka yang kembali dingin.
"Jadi Minggu depan acara pertunangan nya?"
Bukannya Fatih tak tahu jika minggu depan adalah pertunangan Raysa. Namun Fatih hanya membuka obrolannya saja. Saat ini mereka tengah menikmati makanan cepat saji yang ada di supermarket tersebut.
"Hmm, Minggu depan."
"Kamu mau hadiah apa di hari pertunangan apa dari aku?"
Raysa menggeleng, "Tidak ada."
"Baiklah, katakan saja jika ada yang kamu inginkan."
Raysa menganggukkan kepalanya.
*
Pagi ini Raysa sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Raysa menoleh saat ponselnya berdering. Dan itu menampilkan nama Desi di sana. Raysa langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Ya Desi?"
Raysa mendengarkan semua cerita Deai, dan menyetuji rencana Deai.
"Oke, aku akan meminta izin dengan komandan."
Raysa pun mematikan panggilannya. Saat Raysa berbalik, sudah ada Fatih di sana. Raysa terkejut dan membeku. Terlalu serius mendengar rencana Dara, membuat dirinya tak menyadari kehadiran Fatih.
"Siapa yang menelpon?" Tanya Fatih dingin.
"Bukan siapa-siapa."
Fatih menarik lengan Raysa kuat dan mencengkeramnya. Raysa tak pernah merasakan tenaga Fatih sekuat ini sebelumnya. Selama ini, Fatih selalu kalah dengannya, bahkan Tenaga Fatih tak pernah sekuat saat ini.
"Katakan siapa?" Tanya Fatih dwngan sorot mata tajam dan dingin.
"De-desi." Jawab Raysa terbata-bata.
"Kamu tetap di sini dan jangan pernah pergi ke Jakarta." Ujar Fatih dan meninggalkan apartemen Raysa tanpa menikmati sarapan buatan Raysa.
"Mereka butuh Aku, Fat. Mereka butuh aku." lirih Raysa menatap kepergian Fatih.
JANGAN PELIT YAA.....
Jangan lupa JEMPOL LIKE, VOTE , RATE ⭐ 5, dan DUKUNGANNYA...
Biar authornya makin semangat gituuhh.. Biar rating nya naik..
Senang pembaca, senang juga author...
__ADS_1
Ayoo, komen-komen....Komen yang banyak yaa....